
'Oh Tuban rasanya aku ingin memeluk tubuh kecil ini tapi apa daya tangan pun tak mampu untuk menggapainya. Gumam Tania.
Wanita yang terbaring itu hanya Memandang anak kecil menangisi sesenggukan di atas perutnya.
"Papi, mommy pasti sembuh kan?" Tanya Andhra memandang sendu wajah seorang ayah yang berdiri di sampingnya.
Seorang ayah tak mampu menjawab pertanyaan putranya. Ia hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan pelan, bulir bening air mata mengalir tak terbendung. Dada nya terasa sakit setalah tahu kenyataan istri cinta dalam diamnya harus menelan kenyataan kalau ia mengalami penyakit yang sulit untuk di sembuhkan.
"Papi boleh kan Andhra menemani mommy disini?" Ucap nya lagi Andhra sambil berlinang air mata memohon pada ayahnya.
"Andhra harus sekolah sayang, nanti setelah sekolah Andhra boleh keisni kapan saja, kalau Andhra tidak sekolah mommy pasti sedih melihat Andhra menjadi anak pemalas."Tutur Rendra.
Saat ini Rendra berkecamuk dengan pikiran balas dendam atas apa yang sudah Abercio lakukan pada istrinya.
"Andhra temani mommy sebentar papi ada urusan."
Andhra menganggukkan kepalanya dengan cepat. Rendra pun Keluar dari ruangan.
CKLEK!.
Nampak Tomi sendang duduk di depan pintu. "Rendra kamu mau kemana?"
"Aku akan mencari Abercio Dady 'dia harus membayar semua ini."
Tomi mengerutkan keningnya, ia tidak mengira kalau putranya bisa semerah ini."Tidak usah Dady sudah menyuruh mereka mencari Abercio sampai ketemu."
Tapi bersikeras untuk pergi, ia ingin menghabisi dengan tangan nya sendiri.
"Tidak Dad aku ingin menghabisi Abercio dengan tanganku sendiri."
"Jangan 'bodoh Tania dan Andhra masih membutuhkan mu, Dady sudah minta seseorang mencari dia, kalau pun dia kenapa-kenapa Dady akan menjamin semua keluarga, kita memiliki pembunuh darah dingin yang hebat mati tak berjejak, serahkan semuanya sama Dady."
Tak tak tak. Nada sepatu haihels begitu nyaring terdengar gadis cantik melangkah dengan anggun. Mata membulat tak berkedip memandang pria yang sedang duduk sejajar dengan pria separuh baya itu.
'Helen?.
'Yap aku Helen kau sudah melupakan ku kah?"
"Kapan tiba di Indonesia?"
"Baru saja kak, setelah aku mendengar kak Tania sakit aku langsung terbang ke Indonesia, kakak pasti kerepotan kan urus Andhra?"
"Ya betul sekali Helen, Om sangat senang atas kehadiran kamu."Saut Tomi.
"Ponakan ku mana kak?"
__ADS_1
"Ada di dalam, masuk saja sekalian kamu tengok kakak kamu."
"Oke siap."
Ting.
Ponsel Tomi menyala.
"Dady angkat telepon dulu ya."
Rendra menganggukkan kepalanya mengiyakan. Lalu Tomi pergi menerima telepon dari seseorang.
"Tuan Tomi, saya maaf, kerena belum berhasil menemukan Abercio"
"Bodoh kalian mecari satu orang saja kalian tidak mampu, percuma saya bayar 'kalian mahal kalau tidak ada hasilnya."Ucap Tomi dengan Nanda berbisik.
Bola mata Rendra melebar penuh harap. Ia menatap seorang papa penuh harap, lalu Tomi menggeleng kepalanya dengan cepat.
Orang suruhan papanya adalah harapan satu-satunya untuk menemukan seorang pria yang paling ia benci di dunia ini, kerena sudah berani menyakiti istrinya. Sementara tangannya mengepal dengan erat di atas pangkuannya.
"Maafkan Dady, tapi Dady janji akan menemukan pria bejat itu."Ucap Tomi dengan yakin.
Tomi merasa sudah tidak muda lagi yang kini usianya beranjak 70 tahu, Tomi hanya mampu mengandalkan orang-orang suruhan nya, tapi bukan Tomi kalau tidak bisa menemukan Abercio.
Rendra menangkup wajahnya dengan kekecewaan yang tidak mendapatkan hasil dari kabar orang suruhan Tomi.
'Andhra!. Rendra dan Tomi langsung menerobos pintu ruangan VIP tempat Tania di rawat.
"Ada apa?"
"Mommy sadar."
"Panggil dokter Rendra cepat."Titah Tomi.
"Iya Dad"
Rendra memencet tombol pemanggil dokter. Tidak berapa lama Dokter datang."Keluarga tunggu di luar dulu ya"
"Baik Dok"
Rendra tersenyum mengembang di bibirnya, ada harapan walaupun itu kecil, Namum Rendra selalu optimis, ia rela merawat istrinya walau berapa tahun lamanya, asalkan sang istri masih bisa menemani hari-harinya.
Satu bulan kemudian.
Tania sudah di perbolehkan pulang, kondisinya semakin membaik walaupun ketergantungan dengan obat. Sekarang perusahaannya semakin berkembang pesat meskipun hanya bekerja di rumah tapi semua investor percaya kalau Tania mampu bekerja dengan baik.
__ADS_1
Andhra putra sulungnya yang memiliki wajah tampan mewarisi papa nya, dengan telaten menjaga ibu nya yang sedang sakit.
"Mommy makan ya, jangan sampai terlambat makan." Kata Andhra sambil menutup Leptop Tania yang sedang bekerja.
"Andhra mommy sedang bekerja, nanti mommy makan oke."
"Sekarang mommy kalau tidak mau makan, aku telpon papi."
Tania mendengus kesel. Anak sama bapak sama saja. Gerutu Tania.
Maafkan Andhra Mom, Andhra hanya tidak ingin kehilangan mu. Gumam Andhra berlalu pergi.
Di tempat lain, Rendra tidak sengaja berhenti di tepi jalan untuk membeli sesuatu untuk di rumah, makanan kesukaan Tania, martabak keju, kebetulan jalan pulang melintasi si penjual martabak manis yang terkenal enaknya. Rendra menepikan mobilnya. Lalu turun untuk membeli beberapa bungkus martabak.
"Martabak 3 porsi rasa keju"
"Mohon di tunggu ya pak." Kata si Mba penjual.
sambil menunggu martabak jadi. Rendra duduk di kursi yang sudah di sediakan. Mata pun tertuju pada 3 orang pria yang duduk di meja ujung belakang.
Seperti Abercio. Gumam Rendra sambil mematikan kalau dia benar Abercio. Tidak lama datang seorang wanita yang wajahnya tidak asing lagi, bahkan sangat mengenal gadis itu. Jesika.
Rendra pun segera merapikan topinya agar tak nampak, rasa penasaran Rendra ia pindah duduk yang tak jauh dari mereka agar obrolan mereka terdengar.
"Saya sudah pastikan apartemen itu aman, dan tidak ada satu orang pun yang tahu." Tutur salah satu pria yang duduk di meja itu.
"Lalu kamu Jesika bagaimana apa kau berhasil mendekati Rendra?"
Jesika menggeleng pelan."Aku akan kembali ke Jerman mungkin aku tidak akan kembali ke Indonesia, aku tidak mau melakukan kesalahan lagi."
Brak!
Abercio menggebrak meja dengan keras sehingga semua pengunjung menengok ke arah mereka. Sementara Rendra masih memasang pendengaran nya di atas obrolan mereka.
No 22. panggil si operator.
'Sial! saya tidak bisa lagi mendengarkan obrolan mereka, lalu Rendra bergegas berdiri menundukkan topinya agar tak nampak wajahnya oleh mereka.
Setelah mengambil pesanan Rendra menjinjing kantong plastik itu lalu keluar masuk ke dalam mobil, ia diam sejenak menunggu mereka keluar hanya ingin tahu dimana Abercio tinggal.
Tidak berapa lama mereka pun keluar, sementara Rendra segera memundurkan mobilnya agar tidak di ketahui.
Abercio dan juga kawan-kawan melajukan mobilnya, Rendra pun mengikuti mobil yang di kendarai Abercio.
Tak ingin melepaskan Abercio yang sudah buat hampir kehilangan istrinya. Rasa geram itu. Mengobrak-abrik hatinya, ingin segera menabrak mobil yang di kendarai pria yang telah di anggap musuh baginya, namun Rendra tidak ingin gegabah dalam bertindak.
__ADS_1
...----------------...
Terimakasih ya sudah mampir