
Tania berdiam tanpa suara selama perjalan ia tidak ingin melawan Suaminya pasalnya jika Tania melawan tentunya Rendra tidak akan main-main dengan ucapannya.
Tiba di rumah Tania melangkah masuk kedalam rumah langsung menuju kamar putranya.
Tok..Tok.., Andhra...., tok tok.
Mommy!. Andhra bergegas membuka pintu.
"Mommy...," Andhra menghampur pelukannya pada Tania.
"Hai sayang, kamu baik-baik saja kan?."
Andhra mengangguk kepalanya tanda ia baik-baik saja saat melihat Tania di bekap seseorang memakai topeng Andhra bersembunyi di kolong ranjang.
"Mommy siapa mereka?, yang sudah membawa mommy pergi Andhra takut mommy."
"Jangan takut lagi, sekarang mommy sudah kembali oke."
Rendra melihat anak dan ibu begitu hangat rasanya tidak mungkin memisahkan mereka apa aku jujur saja kalau selama ini aku masih menjalin hubungan dengan Jesika. Tapi aku tidak ingin kehilangan Tania, tapi kalau aku tinggalkan Jesika kemungkinan besar Jesika tidak akan tinggal diam seperti apa yang dia ucapkan.
"Papi...!," Andhra membuyarkan lamunannya.
"Hai my son." Rendra mengangkat tubuhnya dengan penuh kasih sayang.
Tak bisa terbendung lagi air mata itu lolos begitu saja tanpa bisa dicegah. Keduanya pria yang paling aku sayangi, kalau pun harus tersakiti biar lah aku yang merasakan sakitnya satu atap tanpa ada cinta, tapi setidaknya Mas Rendra begitu sangat menyayangi Andhra.
Ya Tuhan apa kah harus seperti ini selamanya tidak kan ada ruang untuk aku di hati di hati mas Rendra.
"Ngapain diam disitu?, siapkan makanan aku sudah lapar." Ucap Rendra di tengah lamunan Tania.
"Iya Mas.., sebentar aku siapkan dulu."
Tania berlalu pergi menuju ruang makan, menghangatkan makanan yang sudah dingin lalu menata menu makanan di atas meja.
"Mas makanan nya sudah siap."
"Hemm." hanya Hemm yang keluar dari mulut Rendra.
Rendra masih dengan pendiriannya menyimpan cintanya dengan rapi, tanpa ada orang lain yang mengetahui isi dalam hatinya.
Dengan wajah datar Rendra melangkah menuju ruang makan sembari menggendong Andhra yang masih bermanja-manja di atas dada Papanya.
"Andhra habiskan makanya ya, lalu pergi belajar."titah Tania
"Mommy, Andhra boleh ke rumah opa tidak?, Andhra kangen sama Opa." Rengek Andhra ingin menemui Tomi.
"Boleh tapi setelah pulang sekolah ya."
"Hore! aku ketemu Opa Andhra mau minta di belikan sesuatu sama Opa."
"Emang Andhra mau di belikan apa sama Opa??" Saut Rendra.
"Ada deh!, rahasia besok aku minta pak Mang Oman hantar ke kantor Opa."
Andhra begitu semangat ingin bertemu dengan Opa nya selain itu Andhra pun ada yang ingin dia sampaikan dengan opa nya mengenai orang nya yang semakin lama semakin jauh, Andhra berniat untuk menyatukan orang nya namun ia tidak tahu apa yang ia harus lakukan selain minta pendapat Kakek.
Makan malam pun selesai Andhra masuk kedalam kamar Tania lebih dulu masuk kedalam kamar, Rendra masih bergeming dengan menggunakan metode yang sudah ia rencanakan.
Saya harus segera menemukan orang yang sudah berani masuk kedalam rumah dan menyekap Tania.
Rendra mulai memencet tombol ponselnya ia segera menghubungi seseorang.
[Segera temukan orang yang sudah berani menyekap istri saya.]
__ADS_1
[Baik tuan saya akan segera mencari orang yang sudah berani menculik istri tuan.]
["Bagus']
Klik.
Rendra mengakhiri telponnya dengan seseorang.
Di tempat lain.
Abercio Sanjaya gebrak meja dengan keras.
"Bodoh! kalian urus satu wanita saja tidak becus!."Sungut Abercio mengretek gigi nya.
"Maaf tuan kami ketiduran setelah makan bakso lalu wanita itu sudah tidak ada lagi di ruang penyekapan."Ucap orang suruhannya membela diri.
Suara dentingan marmer terdengar nyaring di tengah malam yang sunyi Tania keluar dari kamar itu pun setelah melihat Rendra tidak ada di sampingnya.
Tap
Tap
Tap
Di tiga tangga Tania celingukan mencari sekeliling tak nampak Rendra, Tania pun keluar teras.
Tania menarik nafas panjang melihat mobil Rendra tidak ada di garasi.
Kemana Mas Rendra. batin Tania
Sementara Rendra menyempatkan diri untuk menemui Jesika, ia ingin menyelesaikan masalahnya, walaupun sedikit kemungkinan besar untuk Rendra bisa lepas dari Jesika.
Tiba di Apartemen Rendra memencet tombol Bell's di sebelah pintu.
Jesika bergegas membuka pintunya, mengenakan gaun tidur yang sangat ****, sehingga paha mulus pun terekspos dengan jelas.
"Hai Rendra!, tumben malam-malam kemari ada apa?."
Tanpa menjawab pertanyaan Jesika Rendra menerobos masuk lalu membanting tubuhnya di atas sofa.
"What is it, honey, kok sepertinya sedang banyak pikiran?, kamu boleh ceita sama aku." ucap Jesika menggelayut di bahu Rendra.
Rendra menepis tangan Jesika dengan kasar, mendapatkan perlakuan buruk dari Rendra Jesika menarik nafasnya lalu menghembuskan nya ke udara.
Wajah yang tadinya ceria seketika menjadi murung, ia sadar kalau tidak ada lagi tempat di hati Rendra.
Dan pada akhirnya Rendra tidur dengan posisi bersandar di sofa. Wajah lelaki hidung mancung itu terlihat sangat lelah.
Di tempat lain Tania menunggu kepulangan Rendra hingga ia pun tidur di sofa hingga menjelang pagi Tania mengerjepkan matanya, seperti mimpi saat bibi membangun kan tidurnya.
"Non Tania kenapa tidur disini?." ujar Bibi yang akan beberes rumah.
Tania mengucek matanya." Iya bi ketiduran Mas Rendra belum pulang?."tanya Tania
"Saya belum lihat Den Rendra Non." jawab Bibi
"Ya sudah Bi, saya ke kamar dulu."
Tania pun masuk kedalam kamar untuk mandi sepertinya Tania sedikit enggan, ia masih memikirkan suaminya setalah satu malam tidak pulang.
Sisi lain Jesika mengusap bahu Rendra untuk membangun kan tidurnya.
"Rendra..., Rendra."
__ADS_1
Hemm. Rendra memeluk Jesika ia merasa berada di kediamannya dan yang membanggakan tidurnya adalah Tania.
Jesika begitu senang mendapat perlakuan baik dari Rendra. Tapi itu hanya beberapa saat saja stelah membuka matanya melihat sosok Jesika seketika Rendra mendorong tubuh Jesika hingga terpental dan terbentur kaki kursi mengakibatkan luka di lututnya.
Aw! Jesika meringis kesakitan.
"Jesika!, sorry sorry kamu tidak apa-apa?." tanya Rendra
Jesika masih mengusap lututnya yang memar, luka itu di manfaatkan oleh Jesika dengan begitu Jesika semakin mudah untuk membuat Rendra semakin bersalah.
"Biar aku ambilkan obat ya biar di obati luka yang ada di lutut kamu."
Jesika mengangguk kepalanya."Kotak obat nya di kamar, Rendra...," panggil Jesika.
"Iya." Rendra menengok ke arah Jesika.
"Kaki ku sakit bisa minta tolong aku mau ke kamar saja." kata Jesika.
Mengangguk Rendra. Lalu memapah Jesika kamar, Jesika mengalungkan tangannya ke leher Rendra kepalanya bersandar di dadanya.
Tiba dikamar Jesika meminta Rendra untuk tidak meninggalkan nya dengan alasan ia akan kesulitan jika membutuhkan sesuatu yang di inginkan.
"Ren, kaki aku sakit sekali, bagaimana nanti jika kamu pulang, dan aku lapar atau apa siapa yang akan membantu ku." Lirih Jesika dengan wajah yang di buat-buat.
"Maaf aku tidak bisa, Tania pasti menunggu ku pulang." tolak Rendra.
"Tania! Tania! Tania! terus saja Tania, kamu tidak memikirkan aku, akibat kamu aku tidak bisa berjalan!." Sungut Jesika.
"Jesika cukup! aku sudah tidak tahan dengan sikap kamu, jangan buat aku tambah merasa bersalah dengan Tania atas semua kekonyolan kamu!, semua sudah aku penuhi kebutuhan dan yang lainnya tapi tolong jangan ganggu waktu ku bersama keluarga ku,"
Rendra pun pergi meninggalkan Jesika tanpa mendengar lagi keluhannya semakin bertahan semakin tidak tega meninggalkan Jesika.
Ia melajukan mobilnya dengan cepat agar segera tidak di rumah, lagi-lagi Rendra Menengok jam tangan yang melingkar di tangannya.
Kesiangan!.
Wus!
Tiba di depan gerbang Rendra memasukkan mobilnya di garasi. Melihat bibi sedang nyapu halaman rumahnya."Bi Tania sudah bangun?."
"Iya den, non Tania tadi malam tidur di sofa sepertinya."Ungkap bibi.
Tania tidur di sofa?, suami macam apa aku ini membiarkan istriku tidur di luar menunggu aku pulang sementara aku berada di rumah wanita lain. Gumam Rendra.
Rendra membuka pintu kamar melihat Tania berbaring. Tania menengok ke arah pintu, rupanya Rendra sudah pulang.
"Ngapain kamu tidur di sofa?."Tanya Rendra dengan nada ketus.
"Dari mana saja kamu Mas, tidak pulang semalaman, saya tidur luar nunggu kamu pulang!, kalau kamu mau pergi kemana pun Mas sebaiknya kamu bilang agar aku tidak menjadi satpam kamu!." Sungut Tania tidak mau kalah.
"Bukan urusan kamu!" jawab Rendra sembari masuk ke dalam kamar mandi.
"Tentu ini urusan ku, Karana kamu masih suamiku, kalau kamu anggap ini bukan urusan ku ceraikan aku!." tantang Tania.
Deg! Terasa ada pisau yang menusuk hatinya rasanya begitu sakit mendengar ucapan Tania yang ingin bercerai.
"Lebih baik menjadi seorang janda tidak pernah merasakan sakit hati melihat suamiku setiap hari mengacuhkan istrinya, tidak pernah di anggap oleh suamiku sendiri untuk apa aku memiliki semuanya tapi aku mendapat kebahagiaan." Teriak Tania Hiks...Hiks..Hiks.
Rendra berdiri di bawah kucuran air shower ia pun merasakan sakit di dadanya, di sisi lain Ia merasa bersalah, tidak ingin kehilangan istrinya tapi ia bingung harus melakukan apa, aku bukan pria yang romantis bahkan aku tidak bisa mengungkapkan perasaannya.
Rendra tertegun beberapa saat lalu Rendra keluar dari kamar mandi ia hanya diam tidak ingin melanjutkan perdebatannya. Bagaimana pun Rendra tetap lah salah, sekian tahun tidak pernah mendapatkan perlakuan baik oleh Rendra hanya karena menyembunyikan hatinya Rendra tidak ingin terluka lagi seperti yang sudah pernah ia rasakan bersama Jesika.
...----------------...
__ADS_1
Mampir yuk dukungan dari kalian itu sangat berharga aku berharap mau memberikan like dan komentar nya ya kak Terimakasih 🙏