
"Pamit ke kamar kecil dulu."Saut Tania seraya tersenyum tipis sambil mengelap mulutnya dengan tisu yang ada di atas meja.
Gadis cantik itu melangkahkan kakinya menyelusuri lorong kecil menuju kamar kecil.
Tania membasuh wajah nya, suaminya hari ini benar-benar buat hatinya kesal. Selang beberapa menit setelah Selesai membasuh wajah nya Tania keluar dari kamar mandi, nampak Rendra memangku tangannya di depan dadanya.
"Sedang apa disini?."Tanya Tania ketus kalau mengingat saat Presentasi rasanya ingin mencakar monster itu.
Rendra memepetkan tubuh Tania dia mengunci nya dengan kedua tangannya. Rendra sangat mengagumi wajah cantik istrinya tubuh ideal yang bola mata yang indah kecoklatan.
Tania menatap Rendra sedikit gusar, apa kah Rendra menghampirinya ke kamar kecil untuk memarahi nya, apa lagi Rendra menatap dengan tatapan dingin.
"Mas jangan gila." Ucap Tania ketika wajahnya semakin mendekat hembusan nafas hangat menyembur wajah cantiknya.
"Lain kali jangan pakaian seperti ini, akan mengundang para lelaki hidung belang mengincar mu." Ucap Rendra berbisik.
Rendra terlihat senang saat melihat wajah Tania memerah, bagi Rendra istrinya itu sangat menggemaskan.
Rupanya pakaian Tania lah yang membuat Rendra sedikit kesal Selain itu kepemilikan Rendra yang tidak pernah bisa mengerti.
SIT!
Tegangan tinggi mulai meronta-ronta, Rendra segera melepaskan Tania, masuk ke dalam kamar mandi.
Sebelum menampakkan diri ke depan sekertaris nya Tania merapihkan rambutnya terlebih dulu agar terlihat tidak ada apa-apa.
"Sekertaris Lidia semua sudah selesai kita harus segera kembali ke kantor."
Lidia mengangguk kepalanya"Baik Bu."
Tidak lama Rendra datang mengerutkan keningnya, melihat Tania menyampirkan tas di bahunya.
"Kalian mau kemana?."
"Maaf pak Rendra kami harus segera kembali ke kantor."Jawab Tania.
"Jangan lupa, nanti malam Dadan yang cantik." ucap Rendra berbisik di telinga Tania membangun kan bulu kuduk berdiri.
Tania membelalakkan matanya membulat mendengar kata-kata dari Rendra, ada rasa geli dan risih dengan sikap perubahannya.
"Sudah minum jamu belum?, kalau belum tidak usah berharap." Melengos pergi menyembunyikan senyumnya. Rasanya ingin tertawa meledek.
Rendra yang di buat melongo oleh Tania. Mendengar kata-katanya seketika wajah nya berubah merah.
Gadis itu tiba-tiba punya nyali untuk melawan Suaminya. Rendra.
Di perjalanan Tania tertawa puas melihat wajah suaminya yang memerah.
Mobil yang membawa Tania tiba di perusahaan Trans property. Tania keluar dari mobilnya, sosok pria bertubuh kekar nyaris taman itu berdiri tegak di depan lobby memangku tangannya di depan dada.
Mau apa dia kemari?. Gumam Tania.
Abercio Sanjaya pewaris tunggal keluarga Sanjaya CEO perusahaan Agraha kompeni grup. Mata nya menyorot tajam menatap Presdir cantik yang baru saja keluar dari mobil.
Sejak kuliah Tania sangat membencinya sifatnya yang sombong dan juga angkuh, selalu mengandalkan kekayaan orang tuanya, tapi tidak jadi penghalang buat Tania untuk menolak cintanya berulang kali.
'Halo Tania apa kabar lama tidak jumpa.' Ucap Abercio mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Mau apa datang kemari?."
"Aku hanya ingin memastikan kalau perusahaan Trans property ini milik Tania Putri Sapto." kata-kata itu di iringi senyuman nakal yang membuat Tania seketika merinding.
Tania tidak menggubris perkataan Abercio Sanjaya, Ia terus melangkah memasuki lift khusus, Ikuti Abercio yang terus mengajak nya bicara.
'Tania ayolah kita bisa kerja sama dengan perusahaan ku.' Abercio terus merengek.
Sementara Tania masih terbayang-bayang wajah suaminya yang meragukan kemampuan bisinis nya.
Tania mendengar ucapannya, kenapa dia bisa begitu ragu padanya. Dia berpikir kenapa sulit sekali mendapatkan hati Rendra walaupun kini sudah ada Andhra di tengah-tengah kehidupannya.
"Abercio' bisa diam tidak?." Amarah yang dia pendam untuk Rendra ia pelampiasan kan untuk Abercio Sanjaya.
Abercio seketika mengatupkan bibirnya, ternyata Tania masih saja seperti dulu sifat yang jutek dan tegas masih melekat dirinya.
Tania pun duduk di kursi kebesarannya," Silahkan duduk." titah Tania pada Abercio.
Jangan harap Abercio aku akan bekerja sama dengan mu, setelah kau menolak kerjasama dengan perusahaan ku. Batin Tania akan sedikit jual mahal untuk orang seperti Abercio yang sudah meremehkan kemampuan Tania.
Abercio mendorong berkas di atas meja untuk mempelajari tentang kerjasama dengan perusahaan nya.
Tania mengangkat gagang telepon yang ada di mejanya.
[Sekertaris Lidia, segera ke ruangan saya.]
[Baik Bu.]
Prek
Tania menutup telponnya.
Masuk.
"Permisi Bu,"
"Ya silahkan masuk, Lidia tolong pelajari berkas ini." Perintah Tania menyerah kan Map kuning pada Lidia.
"Baik Bu, saya permisi dulu."
Di anggukan oleh Tania.
"Tania kenapa tidak kamu sendiri yang membacanya." Geram Abercio Sanjaya merasa di remeh kan oleh Tania.
Tania hanya tersenyum tipis, agar Abercio mengingat apa yang sudah dia perbuat atas dirinya sewaktu Tania dan Sekertaris Lidia mengunjungi perusahaan, bahkan di lihatnya pun tidak bagaikan kertas kosong yang tak perlu di baca.
Tamparan kecil bagi Tania yang cukup menyakitkan beruntung Perusahaan mertuanya bisa menolong Tania hampir menyerah.
Abercio Sanjaya mengangkat wajahnya Ia bisa mengalami apa yang di rasakan Tania tapi rasa amarah Abercio juga akan membawa Tania dalam masalah besar' Abercio juga menyembunyikan kepalkan tangannya sekuat tenaga.
Seorang Abercio yang memiliki perusahaan besar tentu nya merasa di kucilkan, bergumam dalam hati acaman demi acaman itu terlontar di benak Abercio perlahan yang akan menghancurkan perusahaan Trans property.
"Permisi." hanya itu yang terlontar dari mulut Abercio.
Tania hanya mengangguk kepalanya, seakan tidak perduli kepergian Abercio dari ruangan Tania menatap punggung Abercio keluar dari ruangan dengan senyum sinis.
Selang beberapa hari muncul kabar media foto suaminya bersama Jesika, ternyata Abercio menggunakan Jesika menjadi umpan licik Abercio.
__ADS_1
BRAK!
Rendra menggebrak meja kerjanya.
Kurang ajar! siapa yang sudah berani menyebar foto bersama Jesika.
"Romi!." teriak Rendra dari dalam ruangannya.
"Rendra, kabar ini sudah menyebar, dan itu akan pengaruh untuk loncing produk kita."
"Bodoh!, cepat selesaikan."
"Baik," Romi menutup pintu ruang kerja Rendra.
Tania membuka akun sosial media nya sudah di penuhi dengan hujatan dari para netizen.
[Perebut pacar orang, nggak tau malu]
[Kaya dari hasil merebut pacar orang.]
Dan masih banyak lagi kata-kata yang menyakitkan.
Maya: Sabar Tania gue akan batu lu, sekarang lu tenang ya.
Tania: Terimakasih May lu memang sahabat gue yang selalu ada buat gue.
Tania hanya memikirkan putranya ia pasti berdampak pada putra semata wayangnya, yang menjadi kekuatan Tania dengan Rendra.
Tania menghubungi Rendra.
[Mas apa kamu sudah mendengar kabar media?.]
[Kamu tenang saja, semua itu pasti akan berlalu, jangan biarkan Andhra membuka ponselnya.]
Klik.
Rendra menutup telponnya sebelumnya Tania selesai bicara.
Tania mendengar suara mobil memasuki gerbang, Tania segera mengintip dari cela gorden.
Terlihat Andhra pulang sekolah lebih awal.
Andhra! kenapa sudah pulang bukanya. Ah!.
'Mommy....!, teriak Andhra membanting tas nya.
"Sayang kenapa sudah pulang?."
Andhra nangis kencang setelah di olok-olok sama temannya anak pelakor. Ia merasa malu dan memutuskan untuk pulang lebih awal.
"Cup..Cup, sayang jangan nangis ya. Andhra kan anak cowok harus kuat." Tania coba menenangkan hati anak nya.
"Andhra malu Mommy!." ucap Andhra keras sambil lari masuk mengunci diri di kamar.
...----------------...
Sampai disini dulu ya.
__ADS_1
Like komen Rate
Terimakasih