
Beberapa menit kemudian sebuah mobil memasuki halaman rumah, klakson berbunyi berulang kali.
Pak Damar lari kecil mendorong gerbang. Dokter Ayunda pun menyapa sembari membuat kaca mobilnya."Selamat malam pak Damar?" sapa Dokter Ayunda.
"Selamat malam Bu dokter." Pak damar menjawab dengan lembut.
Begitu turun dari mobil Dokter langsung menuju pintu utama.
Tok...Tok..Tok.
Mendengar ketukan pintu Rendra segera keluar dari kamar membuka pintu siapa yang datang.
"Dokter?, hayo silahkan masuk."
"Terimakasih Rendra, siapa yang sakit?" tanya dokter Ayunda.
"Mari ikut saya dokter."
Dokter pun mengekor di belakang Rendra, kamar tamu lantai satu Rendra membuka pintu mempersilahkan dokter masuk.
"Dia siapa Rendra?" Tanya Dokter Ayunda mengerutkan keningnya, sebelumnya dokter tidak pernah melihat, sebab sebelum menjadi dokter pengganti Jery Tania sudah tidak ada lagi di kediaman keluarga Wiratama.
"Dia ibu dari anakku."Lirih Rendra.
Cantik sekali wajar saja jika Rendra tidak mencari penggantinya, dia benar-benar sempurna." Batin Dokter mengagumi kinerja tuhan menciptakan manusia.
"Rendra, kenapa kamu biarkan dia berendam terlalu lama, sebaiknya jangan di ulangi lagi, jika terulang lagi, akan mengakibatkan dampak yang sangat fatal."
"Baik dokter, Terimakasih sudah di ingatkan."
"Baik lah saya permisi dulu, ini obat nya harus di minum secara rutin, kalau masih belum turun juga panasnya langsung bawa ke rumah sakit saja ya."
"Baik dok, mari saya hantar keluar."
Setelah dokter pergi dari kediaman, Rendra kembali ke kamar.
Rasa yang dulu pernah kehilanganmu seseorang yang paling dia sayangi, dan tiba-tiba muncul rasa kecewa Rendra pada Tania itu semakin besar, untuk menghapus semua itu mungkin tidak mudah. Tanpa usaha Tania untuk mengambil kembali hati Rendra dan Andhra.
Tania pun tersadar dari pingsan nya. Ia memegangi kepalanya yang pusing. "Mas...," Lirih Tania.
"Ada apa kau memanggilku kurang kah hukuman yang aku berikan?"
Dengan cepat Tania menggelengkan kepalanya, mendengar semua itu membuat bergidik ngeri.
"Ada apa?"tanya lagi Rendra.
"Tidak, lupakan saja."Tania memalingkan wajahnya, langsung mengatup bibirnya tak lagi bertanya.
Padahal Tania merasakan tenggorokan yang sangat kering sekali menelan air ludahnya membayangkan air masuk ke dalam rongga-rongga rasanya sejuk sekali.
Terpaksa aku harus menahan haus, dari pada aku harus meminta tolong pada pria yang nggak punya hati seperti dia!.
"Cepat katakan?" kata Rendra.
"Sudah ku bilang tidak lebih baik kamu keluar saja dari kamarku."Tutur Tania.
"Apa kau bilang kamar mu, ini rumah ku, tempat mu bukan disini."Timpal Rendra tidak mau kalah.
__ADS_1
"Oke, setelah ini aku akan pergi."tantang Tania.
"Silahkan, aku harap kau tidak akan kembali."
"Aku tidak akan menyerah untuk mengambil anakku."
"Jangan pernah bermimpi." Ucap Rendra berlalu pergi membanting pintu kamar.
Dasar pria arogan, masih saja egois, kenapa kau tidak menghilang saja dari muka bumi ini. Dasar brengsek!" Sumpah serapah keluar dari mulut Tania.
"Aaaahk!" Tania melempar bantal ke arah pintu.
"Dasar perempuan bodoh!, tidak bisa di mengerti, beruntung sudah aku tolong kalau tidak sudah di makan buaya disana." Gerutu Rendra.
Keesokan paginya tubuh Tania jauh lebih baik. Ia memasak dengan hati suka ria sambil nyanyi kecil di dalam dapur.
"Selesai." Seru Tania sendiri di dalam dapur.
Setelah siap menata sarapan untuk anaknya dan suaminya Tania membuka celemek dari tubuh nya, kemudian Tania pergi ke kamar untuk mandi.
Rumah interior design Eropa sangat tertata rapi berbagai Gucci mewah terletak di berbagai tempat. Alunan musik kelasik bersenandung irama menemani pagi harinya.
Pria blasteran indo Jerman itu mengayun langkah kakinya menuruni tangga.
"Pagi den?" Sapa bibi.
"Pagi Bi, Andhra sudah bangun?." tanya Rendra.
"Sudah Den, hanya belum keluar dari kamar."Ujar Bibi.
Rendra manggut-manggut kepalanya."Permisi den bibi ke belakang dulu."Sambung bibi.
Ada rasa curiga kalau sarapan pagi ini Tania yang sudah menyiapkan untuk mengambil hatinya dan anaknya. "Apa mungkin dia yang sudah memasak-masakan ini. gumam hati Rendra.
"Pagi pih."Saut Andhra membuyarkan lamunannya.
"Hai pagi, sini sarapan."Ajak Rendra.
Andhra pun menarik kursi di depan papi nya."Wah!, kali ini sarapan pagi yang sudah lama Andhra rindukan."Celetuk Andhra buat Rendra tersedak makanan.
Andhra memberikan air putih pada papinya."Pelan-pelan pih."kata Andhra.
"Andhra apa kau merindukan ibu mu?" tanya Rendra.
Andhra tidak menjawab hanya mengangkat kedua bahunya, menandakan ia sendiri tidak tahu. Apa kah merindukan sosok ibu nya atau tidak.
Obrolan antara anak dan bapak pun begitu seru, tiba-tiba terhenti saat kedatangan Tania. Andhra mantap tajam Tania seakan ia tidak suka kehadirannya di rumahnya.
Andhra meletakkan sendok dan garpu lalu pergi sekolah.
"Pih Andhra sekolah dulu." Pamit Andhra pada Papi nya.
Rendra tersenyum Kemenangan melihat Tania bagai tersayat.
"Puas kamu melihat anakku membenci ku?"Ucap Tania pelan.
Rendra tertawa,"Jangan salah kan aku, jika anakmu membenci mu, kau harus bisa mengambil hati anakmu jika kamu masih ingin dekat dengan anakmu." Tutur Rendra.
__ADS_1
Kemudian Rendra meraih jas nya yang tersampir di kursi.
Mas..., panggil Tania.
"Ada apa?"
Tania mendekati Rendra menyentuh dadanya berniat merapihkan dasinya.
Sial nya jantung sang pemilik itu tidak bisa berhenti berdetak kencang. Perasaan ini masih sama seperti dulu. "Sial!." batin Rendra lalu Rendra segera menepis tangan Tania.
"Aku bisa sendiri."Tepis Rendra.
Mas..., panggil lagi Tania.
"Apa lagi sih?" tanya Rendra kesal.
"Tas nya."
Rendra memejamkan matanya sejenak, hari ini hari yang tidak berpihak pada Rendra, perasaan grogi buat Rendra mati kutu di hadapan Tania.
Rendra melanjutkan langkahnya.
"Mas..." panggil lagi Tania.
"Apa lagi tania!." Greget Rendra.
"Hari ini meeting jam 11 jangan lupa."
"Apa lagi."
Dengan cepat Tania menggelengkan kepalanya.
"Hati-hati."
Tania pun puas menggoda Rendra yang terlihat gugup, lalu Tania melajukan sarapan seorang diri di meja makan.
"Mbok.." panggil Tania.
"Iya Non?" Mbok menghampiri Tania ke meja makan.
"Sini mbok makan bareng."Ajak Tania.
"Tidak usah Non, mbok makan di dapur saja."tolak Mbok.
"Mbok, hayo makan bareng."Tania sedikit memaksa.
Akhirnya Mbok pun menuruti permintaan Tania makan bersama di meja makan, Tania sedikit mengorek-ngorek keseharian Rendra selama tania tidak ada di rumah.
"Mbok tidak tahu Non, tuan selalu setia sama Non Tania, walaupun sudah meninggalkan anak dan suaminya"
Kata-kata Mbok itu, mampu membuat Tania membeku. "Hemm.., Mbok lanjutkan makanya ya saya ke kamar Dulu"
"Baik Non"
Didalam kamar Tania memecahkan tangisnya. Ia menangis sesenggukan, sangat menyesali perbuatannya yang sudah menyia-nyiakan keluarga kecilnya, dan sekarang putra semata wayangnya telah membencinya. Membutuhkan perjuangan yang tidak mudah untuk mengembalikan kehidupan nya yang dulu.
...----------------...
__ADS_1
Terimakasih 🙏 yang sudah mampir