Menikah Dengan Pria Arogan

Menikah Dengan Pria Arogan
Bab 82


__ADS_3

"Apa hubungan Jesika dan Abercio" batin pria yang nyaris tampan memiliki bulu-bulu halus di pipinya.


Tapi tidak pergi meninggalkan mereka begitu saja Rendra memantau dari dalam mobilnya.


Tiba-tiba ponsel itu berdering.


Tania.


Rendra menghembuskan nafas, mau tidak mau ia harus pergi dan mengakhiri pengintaian. Karena Tania kini prioritas utama bagi Rendra.


Rendra menyalakan mobilnya, tiba-tiba Jesika keluar dari apartemen itu bersama anak kecil berusia 3 tahun. 'Ia dia anak Jesika bersama Abercio, putri kecil yang lucu dan gembul dia begitu menggemaskan. Jesika keluar menggandeng tangan anak kecil itu.


"Siapa anak kecil itu, dan mau kemana Jesika, kenapa dia membawa koper besar sekali." Gerutu Rendra sambil menetapkan pandangan nya dari dalam kaca mobilnya.


"Lebih baik aku ikuti saja kemana dia pergi, bagaimana dengan martabak ini, nanti terburu dingin."


Taksi yang di tumpangi Jesika berlalu pergi meninggalkan apartemen.


"Apa itu anakku ku?" Rendra mendecak timbul banyak pertanyaan di kepalanya.


Ponsel Rendra kembali berdering.


"Mommy kemana?" tanya Andhra yang sedang menunggu martabak kesukaannya.


"Mommy tidak tahu sayang, ponsel papi masih belum juga di angkat, Mungkin masih dalam perjalanan."Tutur Tania.


"Andhra ngantuk Andhra ke kamar dulu ya Mom, nanti papi datang panggil Andhra Mom."Kata Andhra.


Sementara itu Rendra menikung mobil yang di tumpangi Jesika.


Cittttt!


Seketika pak supir ngerem mendadak, 'Au ada apa pak?" tanya Jesika.


"Tidak tahu buk, tiba-tiba mobil itu menghalangi jalan, tunggu Bu saya lihat dulu."Ujar pak supir.


'Rendra mau apa dia." gerutu Jesika lalu mengikuti pak supir keluar dari mobil.


"Rendra mau apa kamu?, kenapa menghalangi perjalanan ku?."


"Jesika anak kecil itu siapa?"


Jesika menengok ke arah dalam mobi."Dia anak ku Vanessa, ada apa dengan anakku?" tanya Jesika penasaran.

__ADS_1


"Apa itu anak yang kau bilang anakku?" tanya lagi Rendra.


Jesika menarik nafasnya, ia bingung harus mulai dari mana menjelaskan bahwa anak yang duduk di dalam mobil itu anak dari hasil nikah sirihnya dengan Abercio.


"Maaf Rendra aku buru-buru, aku harus ke bandara takut terlambat."Tepis Jesika.


"Jesika kau berutang penjelasan, aku tidak ingin berdosa pada anakku jika benar itu anakku."


Jesika menggeleng kepalanya, dalam hati kecilnya bicara kalau Vanessa bukan lah anak dari hubungan nya dengan Rendra. Tapi rasa takutnya pada Abercio menjadikan Jesika membungkam mulutnya seribu bahasa.


"Oke kalau kau tidak ingin mengatakannya tak masalah, tapi satu yang aku ingat kan pada mu Jes, jangan pernah mengganggu rumah tanggaku." Ucap Rendra berlalu pergi.


"Jangan terlalu percaya diri, aku tidak akan datang mengemis cinta lagi, tapi Ingat Rendra kau harus jaga istrimu baik-baik jika tidak musuh di belakang mu akan merebut Istrimu."Ucap Jesika mengingat kan Rendra.


Rendra menghentikan langkahnya."Tak usah perduli kan keluarga ku."


Jesika pun masuk ke dalam mobil melanjutkan perjalanan nya ke bandara, sementara Rendra pulang dalam keadaan pikiran berkecamuk dengan kata-kata Jesika untuk menjaga Tania.


Perasaan itu tak lagi sama, Rendra selalu menjaga Tania dengan tangan nya sendiri, kesalahannya yang dulu buat Rendra jera akan kehilangan yang kedua kalinya.


'Astaga aku lupa hubungi Tania. Rendra pun mengambil ponselnya dari dalam sakunya, lalu menghubungi Tania.


Tut..Tut..Tut.


Halo Mas.., kamu kemana saja 'sih dari tadi aku telpon tidak ada jawaban.


"Ya sudah cepat pulang, Andhra sudah nunggu pesanan nya dari tadi.


"Matikan telepon ini lagi di jalan, sebentar lagi sampai."


Wanita yang dulu pernah ia sia-siakan kerena selalu mengekang dan pencemburu, berlebihan, tandanya dia begitu mencintainya, wanita yang dia anggap baik dia bangga dengan wanita membiarkan pria itu bersama wanita lain, saat wanita itu lelah dengan perhatian nya kecemburuan nya ia pergi menghilang, setelah ia kembali takan membiarkan sang wanita pergi lagi dari hidupnya.


Rendra tiba di kediaman, lampu ruang tamu terlihat sudah gelap, Rendra masuk kedalam sambil menjinjing kantong plastik makanan yang sudah di pesan dari sore.


Ruang tamu sunyi senyap tak ada satu orang pun yang masih melek termasuk art sepertinya sudah berada di dalam kamar masing-masing. Rendra langsung menuju kamarnya.


CKLEK!.


Tania menengok ke arah pintu, nampak Rendra menjinjing kantong plastik.


"Dari mana saja?, jam segini baru pulang?"


"Tidak usah marah dulu, nanti aku jelaskan kenapa aku pulang terlambat"

__ADS_1


"Tidak usah kamu pasti sudah menyiapkan penjelasan itu, jadi tidak usah lebih baik kamu makan saja itu martabak sendiri."


Rendra mendengus kesel."Ya sudah kalau tidak di makan kasih saja hewan di luar."


Jbred!


Rendra keluar sambil membanting pintu. Lalu Tania mengunci pintu kamar nya.


Orang lagi capek juga malah di marahin, belum juga di jelasin sudah langsung marah-marah. Gerutu Rendra sambil menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu.


"Kenapa pi?, nggak di bukain pintu ya?" ucap Andhra sambil cekikikan menutup mulutnya.


"Anak kecil tahu apa sih."


Andhra pun menghampiri Rendra duduk di sofa, sambil menggoda papi nya.


"Papi capek mau tidur, kamu juga tidak sudah malam."


Rendra pun melangkah kan kakinya menuju kamarnya, rasa lelah itu tempat tidur terasa memanggil-manggil segera merebahkan tubuhnya.


Krek, Rendra mengerutkan keningnya, ia coba ulangi memutar kenop pintu sambil mendorong.


'Kok di kunci. gerutu Rendra.


Tok..Tok..Tok.


Tania buka doang pintunya. Tok Tok Tok, sayang buka dong.


"Tidur saja di luar" Teriak Tania.


'Hah di luar yang bener saja."Protes Rendra.


Huf tidur di luar lagi.


Tok Tok Tok


Andhra buka pintunya.


Andhra menutup telinga nya dengan headset agar tak mendengar ketukan pintu kamarnya. Ia asik main game di dalam kamar sambil menggoyangkan-goyangkan kaki nya ia begitu asik mendengarkan musik.


Aaaahk! Mak sama anak sama saja. Gerutu Rendra.


Terpaksa Rendra harus tidur di sofa ruang tamu, itu lagi dan lagi setiap Rendra pulang terlambat ia pasti kan menerima hukuman tidur di ruang tamu, bahkan Andhra pun sudah di peningkatkan jangan sampai membuka pintu untuk papi nya. Dan itu di kabulkan oleh Andhra.

__ADS_1


...----------------...


Terimakasih yang selalu dukung karya ku, terimakasih juga yang sudah mampir untuk membaca.


__ADS_2