
Mengenakan pakaian mengalungkan dasi di lehernya tanpa satu kata pun yang keluar dari bibirnya, bergegas keluar dari kamar.
"Den mau sarapan dulu?." tanya Mbok.
"Tidak usah mbok nanti di kantor saja, Andhra ayo berangkat sekolah sama Papi."
"Iya Pi." Lirih Andhra.
Orang tuanya pasti sedang bertengkar lagi. Andhra menepuk jidatnya.
"Kamu kenapa?."tanya Rendra melihat anaknya tepuk jidatnya.
"Orang dewasa emang ribet ya."
Rendra menganga mendengar ucapan putranya, sedikit menyunggingkan senyumnya, ia terasa beku Rendra melonggarkan sedikit dasi nya.
Gadis itu berdiri di depan kaca jendela ia menatap keluar ia merasakan seperti tertusuk jarum namun entah apa yang harus ia lakukan selain menahan diri untuk bersabar.
Bayang itu terus mengusik ketenangan Gadis cantik beranak satu itu. Ia bahkan tidak mampu membayangkan apa jadinya kalau sampai bercerai dengan Rendra, apa kah apa berdampak buruk atau entah saat ini otakku sangat tidak stabil untuk bekerja.
Tania merasa tubuhnya kaku mana kala teringat semua janji yang pernah Rendra ucapan untuk berubah hingga pernikahan nya 9 tahun janji itu berlalu memudar tanpa membekas.
Lamunan itu hingga jarum jam bergerak di angka 9. Tania teringat akan ada meeting, ia bergegas menuju lemari pakaian mengambil beberapa potong pakaian kerjanya lalu, bersiap-siap berangkat kerja.
Di kantor Rendra sepertinya sedang tidak baik hatinya dia memarahi semua pegawai nya yang dia anggap tidak becus kerja.
Mendengar suara bos besar, bukan hanya Rendra di Landa cemas tapi juga semua pegawai, suara itu menggelegar sangat nyaring.
MENYERAHKAN TANIA ATAU HANCUR. Semua komputer perusahaan tertera di setiap layar komputer pegawai.
Brak! Tomi menggebrak meja meeting.
Andhra!. Ceplos Rendra.
"Maksudnya Andhra?." Tanya Tomi mengerutkan keningnya rapat.
"Dad kalau kita tidak bisa menemukan orang yang ahli dalam hacker di Indonesia Andhra mampu melakukan semua itu dad."Kata Rendra.
"Aku tidak yakin." Ucap Tomi ia tidak yakin kalau cucu kesayangan mampu melakukan itu semua.
"Dady lupa dulu siapa yang kunci komputer perusahaan kita?."
"Ya kamu benar..," Tomi menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Rendra.
"Kamu jemput' Andhra sekarang." perintah Tomi pada Rendra.
"Tidak usah Dad, nanti juga dia datang, tadi malam Andhra merengek minta ke rumah Dady." Ujar Rendra.
"Bagus lah, dia memang cucu kesayangan ku." Ucap Tomi bangga memiliki cucu seperti Andhra.
Di kantor Tania mengadakan meeting dadakan mengenai perubahan perusahaan yang berkembang pesat.
"Bu Tania apa kita bisa pembangunan capat dengan waktu berdekatan bersama proyek pembangunan Mall?."
Tok tok tok.
"Masuk."
"Maaf buk, Tania di depan ada yang ingin menemui anda."kata Sekertaris Lidia.
"Siapa Lidia?." Tanya Tania seingat Tania hari ini tidak ada janji dengan siapa pun.
"Seorang wanita Buk, katanya penting."
__ADS_1
"Baik, sampaikan sebentar saya akan menemui nya."
"Baik buk, saya permisi dulu."
Tania mengangguk, kepalanya
Wanita mencari ku seingat ku aku tidak memiliki janji dengan siapa pun, kalau pun ada dari perusahaan Cakra. Gumam Tania.
"Baiklah meeting hari ini kita sudahi dulu, terimakasih, selamat siang semuanya selamat istirahat."
"Siang Buk." jawab serentak
Tania menutup leptop nya lalu merapikan bekas-bekas yang ada di meja kemudian dia menemui seseorang yang sudah menunggu di ruangan tunggu.
Tak Tak Tak
Langkah sepatu haihels Tania berbunyi nyaring Ia menghampiri seorang wanita yang duduk membelakanginya.
Selamat siang apa anda mencari ku.
Wanita itu menengok Tania.
"Kamu?, mau apa kamu kesini?."
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu?."
"Maaf aku lagi sibuk, sebaiknya kamu pergi dari sini." Ucap Tania ngleos pergi.
"Tunggu Tania, aku mohon 5 menit saja." Menarik tangan Tania hingga langkah itu terhenti.
Tania tidak menjawab, sedikitnya Tania sudah bisa menebak kedatangan nya pasti ada hubungannya dengan Rendra.
"Ikut ke ruangan kerja saya." Tania membuka pintu ruangan di ikuti oleh Jesika.
Tania memijat pelipisnya mendengar ucapan Jesika yang ingin mengajukan permohonan untuk menyetujui Rendra kembali padanya.
"Kamu tahu kan bagaimana?, sikap Rendra dia begitu arogan dia sangat egois. Aku datang untuk minta bantuan mu, agar Rendra kembali seperti dulu."
Apa selama ini sikap Mas Rendra juga tidak baik dengan Jesika, Dasar pria Gila. Gumam Tania.?
"Apa kamu tidak berpikir sebelum datang menemui ku?, aku masih istri Mas Rendra, maaf Jes aku tidak bisa membantu kamu, harusnya kamu lebih tahu bagaimana sifat Mas Rendra, karena kamu mengenal dia lebih dulu di banding aku, kalau pun Mas Rendra sekarang berubah, menurut kamu kenapa?." tanya Tania.
Jesika seketika mengatupkan bibirnya, Bahakan tidak mampu menjawab semua pertanyaan Tania.
"Kamu egois Jesika, apa kamu tidak memikirkan perasaan anak saya?, dia butuh sosok ayahnya yang bisa menemani dia hari-hari nya, sementara kamu tidak memiliki Hak apa pun, kamu sudah berusaha dengan segala cara tapi mana hasilnya?, kamu pernah mikir tidak?, mana ada istri yang mau membantu suaminya dekat dengan wanita lain, kamu memang wanita yang lebih dulu mengisi hatinya, tapi sekarang kamu hanya bagian masalalu nya tidak ada ikatan apa pun!, jadi tolong jangan pernah lagi ganggu suamiku, satu lagi bukan kah kamu sudah ada anak dari pria lain?, kalau aku kembalikan posisi ku sama kamu bagaimana perasaan anak mu?, jika ayahnya jarang pulang selalu di rumah wanita lain atau di rebut wanita lain bagiamana perasaan kamu?." Tania pun tersulut emosi
Deg! hati Jesika terasa di pukul kata-kata Tania pelan tapi menyakitkan.
"Tapi Tania."
"Tidak ada tapi sekarang kamu boleh tinggalkan ruangan saya, waktu lima menit sudah habis."
"Baik, ingat Tania aku tidak akan tinggal diam untuk mendapatkan kembali Rendra."
"Aku tunggu, waktunya kalau kamu mampu mengembalikan Mas Rendra bersama mu, aku janji tidak akan pernah menampakkan lagi wajah ku di hadapan Mas Rendra." Tania menantang kata-kata Jesika.
Jbret!
Jesika membanting pintu ruangan.
Astaga. Tania mengelus dada menghembuskan nafas ke langit-langit
Brengsek! Tania awas kamu sudah berani main-main dengan ku. Aaaahk! Jesika memukul stir mobil.
__ADS_1
Tania meraih tas lalu keluar dari ruangan kerjanya.
"Lidia, kalau ada yang mencari ku bilang saya sudah pulang, kamu Handle ya, saya mau ke kantor Mas Rendra."
"Baik Buk."
Tania mengendarai mobilnya menuju kantor Rendra Ia ingin menyelesaikan semua urusannya, Tania tidak ingin berlarut-larut dengan masalah Jesika Tania harus segera membicarakan nya dengan Rendra.
Kemeja putih lengan panjang di gulung ke atas sedikit membiarkan dua kancing terlewati hingga sedikit menonjolkan gundukan besarnya.
Semua mata terpana melihat kedatangan Tania wajahnya yang cantik menunjukan lesung pipinya saat tersenyum menyapa semua pegawai.
"Siang Buk." Sapa buk Indri sebagai sekertaris baru Rendra usianya yang jauh lebih tua dari Rendra Tania sengaja memilihkan sekertaris yang sudah berumur untuk Rendra.
"Siang Buk, Mas Rendra ada di ruangannya?." Tania tanya lebih dulu sebelum walaupun kantor suaminya Tania tetep mengunakan ititud bertamu.
"Masuk saja Buk, kebetulan ada Aden kecil di dalam." Yang di maksud buk Indri adalah Andhra.
Andhra sudah di mari. gerutu Tania.
Lalu Tania mengetuk pintu ruangan kerja Rendra.
Tok Tok Tok.
"Masuk." terdengar suara Rendra menjawab ketukan pintu Tania.
Tania mendorong pintu nya nampak Andhra sedang makan.
Rendra memicingkan matanya melihat kedatangan Tania.
"Ada apa?." tanya Rendra singkat.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, sebaiknya nanti saja." Tania melirik Andhra dan Rendra mengerti yang di maksud Tania.
"Mommy makan lah dulu, aku sudah kenyang." kata Andhra.
"Nggak sayang, mommy sudah makan kamu habiskan makan nya ya."
Sebaiknya tunggu Andhra selesai makan, aku tidak ingin Andhra mengetahui masalah orang tuanya.
Rendra menelan salivanya gunakan montok yang di miliki Tania sungguh sangat menggoda, apa lagi Rendra sudah dua Minggu tidak Tania berikan Hak nya. Kalau saja tidak ada Andhra mungkin Tania sudah di terkam oleh Rendra.
Sial!, tidak melihat kondisi. Rendra membenarkan celananya yang sedikit menonjol.
"Andhra kalau sudah makan nya kamu ke ruangan Opa dulu ya,"
"Baik Pih."
Setelah Andhra keluar Rendra segera menutup pintu dan menguncinya.
Rendra mendekati Tania duduk di sofa, mengalungkan tangannya lehernya.
"Kamu mau apa Mas?, jangan macam-macam ini kantor kalau ada yang datang bagiamana?."
Rendra mengangkat tubuhnya ke dalam kamar biasa Rendra istirahat.
"Mas..., lepas." tania memukul-mukul dada Rendra yang kekar dan berotot.
Kemejanya koyak tak terselamatkan kancingnya berserakan di lantai, sejenak Rendra memandangi wajah Tania memuji kinerja tuhan menciptakan luar biasa cantik, sekarang ia menjadi istrinya dan melahirkan anak laki-laki yang yang sangat tampan juga cerdas.
...----------------...
Akhirnya sampai juga
__ADS_1
'