
Seorang gadis baru saja masuk perusahaan Wiratama group, berjalan lenggak-lenggok menyelusuri lorong ruangan CEO.
Deg!
Gadis itu melihat kehadiran istri dari CEO tampan yang memiliki hidung mancung perawakan kekar, ya itu Rendra Wiratama. Dia bersembunyi di balik pembatas dinding ruangan.
Sial!. gerutu Vania.
Aku harus pergi dari sini, jangan sampai merek mengetahui kehadiran ku.
Sekilas Tania melihat bayangan wanita menyelip diantara pegawai yang keluar makan siang.
Vania?.
Tania mengejar gadis yang sekilas dia lihat.
"Sayang mau kemana?."panggil Rendra.
"Sebentar Mas..," kata Tania
Tania lari-lari kecil mengejar Vania Larissa.
"Permisi.." Ucap Tania.
Tapi Lift itu terburu tertutup Tania menghembuskan nafasnya. Aku yakin dia Vania aku tidak salah lihat. gumam
"Sayang ngapain disini?." tanya Rendra mengalungkan tangannya ke pundak Tania.
"Mas tadi aku seperti melihat Vania, sekilas tapi saat aku kejar dia menghilang."Seru Tania.
"Tidak mungkin lah, untuk apa dia kemari?, mungkin karena kamu terlalu banyak memikirkan dia, jadi terbawa bayang dia." kata Rendra.
"Tidak mungkin Mas aku yakin dia."
"Sudah lah.., hayo kita makan, aku sudah lapar." Ujar Rendra sembari menarik tangan Tania.
Vania nampak pias dia menunggu taksi sedikit jauh dari perusahaan Wiratama. Menutupi wajahnya dengan Syal agar tidak di ketahui penyamaran nya.
Saat mobil yang di kendarai Rendra dengan sigap Vania jongkok.
Mau kemana dia?, aku harus ikut mereka, Vania menyetop taksi minta si pengemudi mengikuti mobil yang seri B: 1226:TRA.
"Pak ikuti mobil itu." Vania menunjuk Mobil Rendra.
"Baik Non." Si pak supir pun manut mengikuti mobil Rendra.
Laki-laki yang sedang bersamamu itu dia lelakiku, yang akan menjadi memilikku selamanya, sementara ini aku pinjam kan dia padamu,, Vania tersenyum sinis.
Mobil Rendra masuk area parkir Restoran biasa Rendra kunjungi. Rendra menggandeng tangan istrinya memasuki ruangan restoran yang penuh dengan pengunjung. Rendra memilih meja stout dengan hidangan panas di bawah kloning dekat jendela.
Vania sementara masih mengintai dari kejauhan. Rendra dan Tania menikmati hidangan yang disajikan, Rendra begitu lahap menyantap makanan.
"Mas aku ke toilet dulu ya." pamit Tania pada Rendra.
"Iya sayang jangan lama-lama ya tidak enak kalau sudah dingin."Kata Rendra.
Tania tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Lalu Tania meninggalkan Rendra sendiri.
Vania menghampiri meja."Pak Rendra?." seru Vania seolah-olah tidak sengaja bertemu di restoran yang sama.
"Vania sedang apa disini?." sontak Rendra melihat kehadiran Vania.
"Pak Rendra sendiri?." tanya Vania.
"Tidak saya bersama Tania, tapi sepertinya dengan ke toilet." Jawab Rendra singkat sembari menyantap makanan tanpa menoleh Vania.
Tania menarik pintu toilet tiba-tiba pintu itu terkunci Tania menarik-narik pintu namun pintu itu tetap tidak bisa di buka.
Dor...Dor.. Dor.
"Ada orang kah di luar." Tania sedikit berteriak.
"Pak Rendra apa saya boleh gabung di meja ini?." Tanya Vania yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
"Maaf Vania, bukan tidak boleh hanya saja, aku tidak ingin nanti Tania berpikiran bahwa aku sengaja mengajak mu."
Tania kemana si kok lama sekali ke toilet. Batin Rendra.
Vania menggeser tubuh Rendra lalu Ia duduk di samping Rendra. Sontak Rendra menyikut tubuh Vania dan hampir jatuh.
"Apa-apaan sih! Vania tolong menyingkir lah dari sini." Usir Rendra.
"Kalau aku tidak mau?, pak Rendra mau apa?." kata Vania
Tak tahan dengan gadis yang ada di sampingnya itu Rendra meninggalkan Vania mencari Tania.
Dor... Dor...Dor. Ada orang kah di luar saya terkunci di dalam. Teriak Rendra.
"Mas permisi.., apa lihat isteri saya keluar dari toilet ini?." tanya Rendra.
"Tidak pak, sepertinya tidak ada wanita yang keluar dari toilet ini."
"Apa bisa tolong cek semua toilet." pinta Rendra pada salah satu pegawai.
"Baik, pak saya akan minta pegawai wanita yang mengecek semua kamar toilet.
"Terimakasih." Ucap Rendra.
Kemudian si pegawai berbisik pada salah satu pegawai wanita. Lalu wanita itu menghampiri Rendra."Sebentar ya pak saya cek dulu." katanya.
Beberapa saat kemudian Tania muncul dari toilet wajahnya penuh dengan peluh bercucuran.
"Sayang..., kamu dari mana?." tanya Rendra panik melihat wajah Tania keringat bercucuran.
"Aku terkunci di dalam Mas...," kata Tania.
Rendra mengelap keringat yang ada di wajahnya dengan sapu tangan memilikinya.
"Maaf jika restoran kami kurang memberikan kenyamanan untuk pelanggan yang datang." Si pegawai meminta maaf pada Rendra.
"Lain kali harus perhatikan." sungut Rendra.
"Iya pak maafkan pihak restoran kami pak, untuk menebus kesalahan restoran, kami akan grartis kan yang bapak makan." kata si manager.
Setelah membayar Rendra mengajak Tania keluar dari restoran itu.
"Mas makanan kita dimana?." kata Tania.
"Sudah tidak usah, kembali ke meja itu, disana ada virus yang datang."Ucap Rendra.
"Maksudnya siapa?." tanya Tania mengerutkan keningnya.
"Sudah lupakan saja, tidak usah dipikirin, mending kita kembali ke kantor." Ujar Rendra.
"Aku pulang saja ya Mas.., takut kalau Andhra mencari ku." sambung Tania.
"Tidak usah Andhra ada bersama Dady, di kantor."
Menikah dengan pria yang latar belakang keras Tania harus banyak mengalah, walaupun pernikahan di jodohkan berjalanya waktu pasangan yang penuh dengan komplik ini saling mencintai.
Untuk menghilangkan rasa jenuh selama perjalanan Tania membaca buku yang ada di box laci mobil nya.
Sementara itu Rendra fokus mengemudi mobilnya. "Mas ini kan arah ke kantor?." tanya Tania.
"Kita ke kantor Lexsi." jawab Rendra.
"Oh." Tania membulatkan bibirnya seperti lingkaran O.
Matahari mulai terik di siang hari membelah kota Jakarta menuju perusahaan milik Lexsi. Membelokan mobilnya di sebuah gedung pencakar langit. Perusahaan itu cukup besar bertingkat kisaran 25 lantai.
Tap tap tap.
Pasang suami istri ini berdiri tepat di depan lift menunggu lift terbuka.
"Mas perusahaan ini cukup megah apa ini perusahaan milik kak Lexsi?."
"Tepatnya perusahaan ini perusahaan keluarga, tapi tidak kalah megah dengan perusahaan Dady yang di Jakarta selatan." kata Rendra tidak ingin di saingi.
__ADS_1
"Selamat siang pak, apa ada yang bisa saya bantu?." kata bagian informasi.
"Ya saya ingin bertemu dengan pak Lexsi apa pak Lexsi ada di kantor?." tanya Rendra.
"Apa bapak sudah buat janji?." tanya lagi wanita itu.
"Tolong sampaikan pak Rendra ingin bertemu."
"Baik pak, sebentar saya hubungi pak Lexsi nya."
Rendra menarik Tania untuk duduk di sofa ruang tunggu tapi tidak berapa lama Lexsi meminta sekertaris pribadi nya untuk mempersilahkan masuk.
"Pak Rendra silahkan masuk sudah di tunggu pak Lexsi." katanya.
"Oh ya terimakasih."
Rendra memutar kenop pintu ruangan kerja Lexsi."Hai Rendra, lu kenapa nggak langsung masuk saja sih?."begitu lah cara Lexsi menyapa sahabat nya.
"Gue takut lu ada temu."kata Rendra.
"Silahkan duduk, ada tumben ke kantor biasanya juga telpon lu."
"Ada yang gue mau tanyain sama lu?."
"Ada apa sih..?, kok serius banget lu?."
"Soal Vania."
Deg! kaget Lexsi mendengar nama Vania.
"Ada apa dengan Vania?, apa dia masih mengganggu hubungan ku Ren?."
"Ya begitulah dia sekarang tinggal di rumah gue, sebelum nya gue minta maaf nih sama lu, apa benar dia hamil sama lu?."
"What?" sontak Lexsi.
Lexsi mulai gusar karena saat itu Lexsi pernah melakukan hubungan bejatnya dengan Vania.
Sementara Tania lebih memilih diam dan menyimak obrolan antara sahabatnya.
"Apa bisa gue bantu Ren?."
"Lu bis bawa dia keluar dari rumah gue, gue bener-benar takut, andai saja ada Romi yang bisa saya suruh, kan lu tau Romi di tugas kan di Jerman sama Dady, dia juga pergi sama intan." Ungkap Rendra.
"Oke deh lu tenang aja, gue pasti akan bantu." kata Lexsi.
Kurang ajar!, dia berani nya buka suara. Batin Lexsi.
Aku tidak mungkin menikahi wanita macam dia, cantik sih tapi apa kata Mami gue menikah dengan wanita yang tidak jelas.
Hai...! Hai...! Hai.!
Sontak semua menengok Helena masuk ke dalam ruangan kerja Lexsi.
"Helena?." Lexsi menepuk jidatnya.
"Kak Rendra, kak Tania.., rupanya di sini?." ucap Helena malu-malu.
"Sekarang mainan lu ABG." ucap Rendra berbisik.
"Diam lu, gue pusing tau datang setiap hari." balas berbisik.
"Cekakak." ngakak Rendra.
"Mas pulang yuk." ajak Tania.
"Ya sudah gue pamit ya Lex, selamat bersenang-senang cekakak!."
Lexsi melotot menatap tajam Rendra, sementara Rendra masih tertawa terbahak-bahak.
"Mas senang banyak ledekin orang."protes Tania.
Apes banget gue.., Vania hamil, ini manusia aneh datang di saat yang tidak tepat apa kata Rendra gue. Deket sama ponakannya, Ogah banget gue sama cewek otaknya separuh. Batin Lexsi.
__ADS_1
...----------------...
Mampir yuk Kepoin isi dalam cerita ini, jangan lupa like komen ya terimakasih.