
Matahari mulai terbenam mobil mini Cooper warna kuning melaju kencang menuju kediaman putranya. Tiba di sana pria tampan bertubuh kekar itu berdiri tegak memangku tangannya di depan dada.
Pria kecil tampan berusia 11 tahun itu tubuhnya meringsut ketakutan.
"Tenang lah, aku akan menghadapi papi mu." Gadis itu berusaha menenangkan hatinya.
Pria kecil itu mengangguk pelan, seakan meragukan kemampuan gadis yang ada di sampingnya.
"Hayo turun..., tidak usah takut aku akan melindungi mu."
Tania mengandeng tangan putranya, Andhra merasa ketakutan di bersembunyi di balik tubuh gadis cantik itu.
"Dari mana saja kalian?." tanya Rendra dengan wajah datar.
"Rendra jangan kau marahi dia, ini salahku."Tania berusaha membela putranya.
"Tidak usah ikut campur, Andhra masuk ke kamar."
Andhra pun lari dengan wajah ketakutan, sementara Tania mencoba menenangkan Rendra.
"Gara-gara kamu anak saya jadi membantah."
"Apa salahnya dia keluar buktinya dia senang bisa tertawa lepas, apa kau selalu melarang dia keluar?"
"Saya melarang dia keluar untuk kebaikan dia, kamu tau apa tentang dia."
Aku tidak akan membiarkan Tania membawa Andhra keluar sesuka hatinya, aku tidak ingin kehilangan anakku. Batin Rendra.
"Sekarang kamu pulang, jangan pernah lagi menjemput Andhra di sekolah paham."
"Mas... tapi dia juga anakku, aku ibu nya aku yang melahirkan dia."
"Sekarang kamu bilang ibunya, kemarin kamu kemana saja, apa pernah kamu tahu dia sakit apa pernah kamu tahu dia menangis? satu hari ful Tania. Sekarang kamu bilang anak, nonsense lebih baik kamu urus pacarmu saja jangan pernah ikut campur lagi urusan anakku."
Jbred!
Astaga.
Mas.. Rendra.! Dor....Dor...Dor.
Tania menggedor pintu utama, Rendra yang masih berdiri balik pintu Rendra juga merasa terpukul dengan kondisi seperti ini.
Maafkan aku Tania aku hanya tidak ingin kamu mengambil alih Andhra dan membawa nya pergi jauh dariku, seperti kamu meninggalkan kita selama 3 tahun aku menunggu momen seperti ini, tapi sepertinya kau sudah memiliki pria lain di hatimu, pantas saja kamu selalu cuek dan tak pernah perduli dengan kami disini.
Mas..., harus dengan cara apa lagi? agar kamu bisa maafkan aku. Ucap Tania lirih.
Rendra menemui Andhra di dalam kamarnya."Dari siapa itu?."
Sontak Andhra menyembunyikan Gadget di balik bantal.
"Coba papi lihat."
Andhra menggelengkan kepalanya tertunduk ketakutan.
"Jangan papi rusak Andhra mohon pih"
Rendra menarik nafasnya panjang,"Cepat tunjukkan papi mau lihat."
Perlahan Andhra menarik Gadget itu dari bawah bantalnya, dan menunjukkan nya pada Rendra.
"Jangan pernah lagi menerima apa pun dari wanita asing, kalau kau butuh apa-apa tinggal bilang sama papi, apa pernah papi tidak membelikan nya untuk mu?."
__ADS_1
"Aku sudah lama menginginkan barang ini, tapi papi selalu saja sibuk dan nanti-nanti."
"Siapa yang mengajari kamu melawan papi?"
Andhra menggelengkan kepalanya."Tidak ada pih, tapi itu faktanya papi selalu sibuk dengan pekerjaan papi, Andhra juga ingin Nonton seperti tadi dengan Tante cantik."
Andhra!.
Hampir saja tamparan itu menjurus ke wajah putranya.
Papi jahat!.
Andhra teriak sambil tengkurap menangis menenggelamkan wajahnya ke bantal.
Papi keluar dari kamar Andhra!.
Ini semua gara-gara Tania anakku jadi melawan, dia banyak berubah sejak kehadiran Tania.
Rendra pun segera mengambil benda pipih dari dalam kantong nya.
[Halo temui saya sekarang.]
[Saya sedang sibuk maaf lain kali saja]
Klik.
Gadis itu mengakhiri telponnya dengan seseorang disana.
Kurang ajar kamu Tania. Lihat saja kau akan mendapat balasan dari saya.
Waktu pukul 7 malam Rendra keluar mengendarai mobilnya. Di sebuah Club' Rendra merilekskan pikiran nya.
Di temani gadis-gadis cantik di sampingnya, sifat Rendra kembali seperti dulu.
"Serena kamu lihat deh, bukan kah itu Rendra Wiratama pria duda yang di tinggalkan Istrinya."
"Uhuk."
"Pelan-pelan Serena."
"Permisi ke toilet dulu."
Tania pergi meninggalkan teman-temannya. Tania memilih duduk di meja lain sambil perhatikan Rendra di kelilingi gadis-gadis.
Pasti dia senang sekali di kelilingi gadis-gadis, dasar pria mesum. Gerutu Tania.
Aku kerjain aja. Tania tersenyum menutup mulutnya.
Tania berjalan lenggak-lenggok membawa Gelas di tangannya. Tepat meja Rendra Tania pura-pura keseleo kakinya.. sehingga air yang di tangannya tumpah.
Byur.. air pun tertumpah di pakaian Rendra.
****!
Punya mata nggak?. bentak Rendra
"Maaf Maaf." Tania mendongak kepala.
"Kamu?, sedang apa disini sama Om Om ya?"
Plak!
__ADS_1
"Itu tamparan buat pria lemes seperti kamu."
Rendra memepetkan tubuh Tania dia mencekik lehernya.
Lepasin mas..., Tania sulit untuk bernafas.
"Ikut saya." Rendra menarik tangan Tania dengan paksa.
Lalu menghempaskan tubuhnya ke dalam mobil.
Mas...Buka pintunya.
"Bisa diam tidak!"
Mobil hitam sport itu melaju dengan cepat, membelah kota Jakarta di malam hari terlihat sunyi pengendara.
"Mas..., jangan ngebut aku masih mau hidup." teriak Tania ketakutan.
Tania memang fobia kecepatan tinggi. Aaaahk!!!.
Mobil yang di kendarai Rendra pun belok kiri masuk area hotel.
"Capat keluar."Titah Rendra.
Dengan capat Tania menggelengkan kepalanya. Rendra pun menarik tangan Tania dengan paksa.
"Siapkan kamar VIP sekarang."perintah Rendra.
"Baik pak. Akan kami segera siapkan"
Beberapa menit menunggu, pegawai pun datang.
"Kamar nya sudah siap pak silahkan."
"Terimakasih"
Rendra menodong tubuh Tania masuk kedalam kamar."Kamu mau ngapain bawa aku kemari, kalau kau merindukan ku, kita bisa melakukan nya di rumah."Ucap Tania sedikit menggoda membelai wajah Rendra.
Rendra mencengkram pergelangan tangan Tania."Tidak usah menggoda ku, cepat pijit badan ku capek."
Seketika mata Tania membelalak lebar. "Jauh-jauh kemari hanya untuk di jadikan tukang pijit."Gumam Tania.
"Cepat."
"Iya...iya."
Tania mulai memijat tubuh Rendra yang polos hanya menggunakan bokser, Rendra pun mulai menikmati pijatan Tania yang sudah lama tidak dia rasakan, menggelinjang di stiap sentuhan jemari lentik Tania. Tak tahan Rendra membalik tubuhnya.
"Ada apa?, apa pijitan ku kurang enak?"
"Tidur lah, besok pagi kita ada meeting."
Rendra mematikan semua lampu kamar lalu menyelimuti tubuhnya. Mereka pun tidur saling membelakangi.
"Bagaimana kabar pacar mu apa kau akan melakukan pernikahan?"tanya Rendra.
"Pacar?, aku tidak ada pacar bagaimana aku akan menikah secara kita belum bercerai."
Bener apa kata Tania kita belum bercerai. Sikat.
Rendra memeluk tubuh Tania dari belakang menciumi leher Tania. Meraba area sensitif Tania mulai menggelinjang. Perlahan Rendra membalik tubuhnya kini Tania berada di dalam Kungkungan, satu persatu membuka pakaiannya, membuang ke sembarang arah, Tania pun mulai hanyut dalam permainan Rendra. Melepaskan kerinduan yang mendalam malam ini kerinduan itu telah terbayar lunas.
__ADS_1
...----------------...
Terimakasih yang sudah mengikuti terus karya ku banyak-banyak terimakasih.🙏