
Gadis berambut cokelat itu lari mengejar Mobil Rendra, kini Vania tersungkur menangis karena menurut dirinya kesempatan itu tidak akan datang dua kali.
Lexsi menyentuh pundaknya membantunya berdiri." Tidak perlu kau mengejar pria yang tidak mungkin menjadi memiliki mu, dia pria yang sudah berkeluarga."
"Jangan sentuh saya brengsek!, semua ini ulah kamu, kalau saja kamu tidak salah masuk kamar mungkin pak Rendra sudah pasti menjadi memiliki ku."
Lexsi menarik nafasnya panjang tidak habis pikir gadis di seusianya dia memiliki ambisi untuk mendapatkan pria yang sudah beristri.
Lexsi angkat tangan setelah mendapat penolakan dari Vania."Terserah kalau semalam disini?, kalau mau ikut pulang bareng dengan ku hayo, kalau tidak ya sudah saya pamit pulang duluan." ucap Lexsi berlalu pergi.
Vania celingukan sekeliling parkiran nampak sunyi."Hai, tunggu!"Vania meneriaki Lexsi.
Lexsi terus pergi dengan langkah gagah wajah kedepan.
"Hai!, tunggu."
Visual Vania.
Visual Lexsi.
Lexsi mendapatkan julukan sebagai playboy diantara mereka iya itu Rendra Romi Hendro dan terakhir Lexsi.
Empat sekawan ini adalah pria Casanova yang di gemari para wanita.
Back.
Vania Larissa. Nampak gugup saat Lexsi membuka pintu mobilnya untuk Vania."Masuk lah."
Dengan langkah cepat Vania masuk kedalam mobilnya, duduk didepan berdampingan dengan Lexsi.
"Kenapa?, kau begitu mudah untuk mengikuti atasan mu?." tanya Lexsi.
"A-aku sangat mencintai atasanku, itu lah alasanku untuk datang ke hotel." jawab Vania menunduk.
"Tapi dia sudah berkeluarga, dan dia pun sama sekali tidak mencintai mu Nona, saran ku, jual mahal sedikit untuk pria yang baru kau kenal, apa lagi itu atasan mu, apa yang kamu inginkan dari pria macam Rendra?."
"Sudah ku bilang, tidak usah ikut campur urusan saya, ini semua karena kamu mengacaukan segalanya."
"Dimana tinggal kamu?, biar saya hantar."
Kemudian Vania menunjukkan alamat rumah nya. Dan Lexsi mengantarkan Vania sampai kediamannya. Tiba di depan kediamannya Lexsi memberikan kartu nama.
"Ini kartu nama ku, jika kau membutuhkan pekerjaan hubungin saya." Ucap Lexsi
Kemudian Vania keluar dari mobilnya." Terimakasih."
Lalu Lexsi melanjutkan perjalanan kembali ke apartemen miliknya, di perjalanan Lexsi menghubungi Rendra, berulang kali menghubungi Rendra namun tak ada jawaban panggilan ke tiga Tania menerima panggilan telpon dari Lexsi.
"Halo..," jawab Tania
"Halo.."
Kok suara perempuan, apa gue salah sambung.
__ADS_1
"Halo..." Tania penasaran siapa yang sudah menghubungi suaminya, pasalnya nomor telepon tidak tersimpan di kontak.
"Apa benar ini nomor Rendra Wiratama?." tanya Lexsi.
"Iya betul, ini dengan siapa?, Mas Rendra sudah tidur, ada perlu apa?, biar saya sampai."
"Oh.., sampai kan saja dari Lexsi."
"Baik nanti saya akan sampaikan setelah suamiku bangun."
"Terimakasih." ucap Lexsi lalu mengakhiri telponnya.
Gila!, Rendra-Rendra sejak kapan dia jadi suami pasutri, hari gini sudah tidur. gerutu Lexsi.
Hingga menjelang pagi Rendra masih tidur pulas, disisi lain Rendra pun malas-malasan untuk bangun, Ia memeluk tubuhnya dengan Erat."Mas hayo bangun sudah pagi."
"Nanti saja sayang."
"Oh ya tadi malam ada yang telpon katanya dari Lexsi."
"Hah! Lexsi, terus dia bilang apa?." kata Rendra.
"Tidak ada, kok Mas Rendra sepertinya ketakutan gitu."
"Siapa yang ketakutan, sudah aku mau mandi dulu."
Sementara menunggu Rendra mandi Tania menyiapkan segala keperluan kerjanya, lalu membuatkan sarapan pagi, sambil menengok Andhra, di kamarnya.
"Pagi, Non."Sapa Mbok.
"Suster Heny sudah berangkat hantar Aden sekolah Non?," jawab Mbok.
Tania mendengak ke atas melihat jam dinding sudah pukul 7 pagi." Astaga, aku ternyata kesiangan mbok." kata Tania.
Tidak lama Rendra keluar dari kamar menuruni tangga lalu melangkah ke arah meja makan, menarik kursi duduk berhahapan dengan Tania.
"My son sudah siap?."
"Sudah berangkat ke sekolah Mas, kita bangun kesiangan."
"Tumben sekali tidak ganggu kita?."
Tania mengangkat dua bahunya. Setelah sarapan Tania menghantar Rendra sampai ke mobil, berdiri sampai mobil suaminya tak terlihat lagi dari pandangannya. Lalu Balik badan kembali ke dalam menaiki tangga menuju kamarnya.
Lexsi siapa Lexsi, sepertinya saya baru mendengar nama itu, Mas Rendra tidak pernah cerita sebelumnya. Tania pun melepaskan pakaian lalu Ia masuk ke dalam kamar mandi, menggosok tubuhnya dengan busa sabun, dari atas sampai tumit kaki.
Setelah mandi Tania mengeringkan rambut selesai itu Tania sedikit memoles wajahnya dengan bedak tabur memakan parfum lalu keluar mengendarai mobilnya untuk belanja bulanan.
Di sebuah supermarket, Tania belanja bulanan keperluan rumah yang sudah habis. Tania mengitari supermarket.
Brak!
Au...!.
Maaf Mbak, saya tidak sengaja Lexsi membantu memungut belanjanya yang terjatuh dari tangannya.
"Iya Mas.., tidak apa-apa, lain kali kalau jalan hati-hati."
__ADS_1
Cantik, Anggun sempurna, saya harus bisa mendapatkan gadis itu. Batin Lexsi.
Tania ke kasir untuk membayar belanjanya, Lexsi menghampiri Tania.
"Untuk menebus kesalahanku, biar saya yang bayar semua belanjanya, berapa Mba?." Tanya Lexsi pada si petugas kasir.
Tania menahan tangan Lexsi."Tidak usah Mas, biar saya bayar sendiri saja." Tolak Tania.
"Tidak apa-apa aku ikhlas kok." Lexsi sedikit memaksa.
Tapi tetap mendapatkan penolakan dari Tania. Kemudian Tania melangkah keluar dari supermarket itu, Lexsi mengejar Tania.
"Hai Nona tunggu."
"Ada apa ya Mas?."
"Apa saya boleh minta nomor yang bisa di hubungi?."
"Maaf ya Mas saya buru-buru, permisi."
Lalu Tania masuk kedalam mobilnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Lexsi pun pergi menemui Rendra ke kantor, Lexsi banyak cerita tentang Vania Lexsi juga menceritakan pertemuannya dengan seorang gadis di sebuah Supermarket mini.
"Lalu apa kau melepaskan nya, ingat Bro usiamu sudah 35 tahun sampai kapan lu sendiri terus?." Kata Rendra.
Setelah bercermin tentang gadis yang di temui nya tadi, Lexsi gigit jari melihat foto keluarga Rendra yang terpajang di dinding ruangan kerjanya.
"Ren siapa yang ada di foto bersama lu?." tanya Lexsi.
"Mana?." kata Rendra.
"Itu anak lu kan, lalu di sebelahnya siapa?." tanya lagi Lexsi.
"Oh! itu bini gue, kenapa?."
"Tidak apa-apa, boleh juga istri lu, pantas saja lu takut sama istri lu."
Sial benar gue baru dapat yang cocok eh punya teman gue. batin Lexsi.
Tidak sampai disitu Rendra sambil mengetik laptop melirik Lexsi yang terus menatap foto keluarga yang Terpampang di dinding ruangan kerja Rendra.
Untuk mengalihkan perhatian Lexsi menceritakan tentang Vania tadi malam."Ren gue boleh main ke rumah lu, gue pengen banget bertemu dengan Andhra."
"Boleh, tapi jangan lama-lama." jawab Rendra ketus.
"Ya elah, kenapa gitu, kan gue mau main sama anak lu."
Kenapa Lexsi mau ke rumah, nanti bini gue dia godain baru lihat fotonya saja di Sudah nggak kedip apa lihat langsung. gumam Rendra
Rendra menarik nafasnya."Boleh lah."
Gue hanya ingin memastikan bahwa perempuan yang ada di foto bersama lu, bukan lah Istrimu, gue harap dia adik ipar lu.
...----------------...
…. …Update.lagi ya
__ADS_1