
Jam 7 malam pun tiba pria kecil itu dengan gagah mengenakan pakaian layaknya orang dewasa.
Pria berwajah tampan hidung mancung itu tertawa membungkam mulutnya. Pria kecil yang tidak suka melihat papanya seperti sedang menertawakannya, Andhra memicingkan matanya memberikan tanda tidak suka di tertawakan.
"Papi kenapa kau tertawa seperti itu?" Andhra menegur papa nya.
"Kau itu mau makan malam atau mau main sirkus"
"Sudah lah diam saja, ayo kita berangkat" ajak Andhra.
Pada intinya Rendra tidak bisa menahan tawanya, akhirnya tawa pun pecah di ikuti bibi dan Mbok pun menertawakannya.
"Diam kalian! papi ayo kita berangkat nanti terlambat."
"Tunggu, maksudmu terlambat? kita mau makan malam bukan bertemu dengan siapa-siapa" protes Rendra.
Aduh! hampir saja keceplosan, kalau sampai ketahuan bisa gawat. Gumam Andhra.
"Oke yuk kita berangkat."
Andhra pun berangkat dengan menyimpan rencana untuk menggagalkan makan malam Tania. Ia tidak percaya kalau pria itu tidak berbuat macam-macam dengan ibu nya.
"Wanita licik saya tidak akan biarkan malam ini lolos dari jeratan ku." Bergumam Abercio dengan otak liciknya.
Di ruang VIP Abercio sudah menyiapkan beberapa minuman anggur beralkohol tinggi.
Sementara itu Tania baru saja tiba di restoran xx, disertai rasa curiga. Tania sendiri berpikiran buruk ia tidak bisa menjamin kalau Abercio tidak akan berbuat macam-macam. Sebelum turun dari mobil Tania lebih dulu mengatur nafasnya lalu menghembuskan ke udara.
Tania mencoba meyakinkan hatinya kalau pertemuannya dengan Abercio tidak seperti yang ada dipikirannya. Tania pun segera menepis pikiran buruknya terhadap Abercio.
Saat itu Rendra tengah mengendarai mobilnya bersama Andhra mereka berbincang hangat layaknya anak dan ayah pada umumnya.
"Cepat dong pih"
"Kamu kenapa sih buru-buru?"
"Aku sudah lapar pih" tepis Andhra.
Mobil yang mereka tumpangi memasuki kawasan restoran, Rendra menuju tempat parkir. Andhra yang sudah tidak sabar ingin segera turun. "Ayo pih cepat" Andhra menarik tangan papa nya dengan paksa.
"Sebentar"
Andhra sangat semangat dalam hatinya semoga saja ia bertemu dengan Tania yang ia anggap Tante baik itu, tapi ikatan batin anak dan ibu begitu erat.
Dalam gandeng tangan Rendra memasuki ruangan restoran, meskipun agak sedikit aneh bagi Rendra. Ini pertama kalinya Andhra begitu rukun.
'Ini kan tempat restoran yang terkenal dengan penghujungnya 'ah sudah lah, tapi dari mana dia tau tempat ini. Rendra pun celingukan matanya mengitari seluruh ruangan.
Sementara Andhra mencari meja kosong untuk dia tempati.
Dan di tempat lain Tania duduk melipatkan satu kakinya ke atas, ia begitu anggun dengan pakaian warna merah jambu. Abercio perlahan menggeser posisi duduknya sedikit lebih mendekat.
"Apa yang ingin kau katakan, sekarang aku sudah ada disini, cepat katakan aku tidak bisa lama-lama masih banyak urusan yang harus aku selesaikan." ucap Tania sambil menepis tangan nakal Abercio.
"Santai dulu minuman lah dulu tidak usah buru-buru."Ucap Abercio sambil memangku kedua tangannya di depan dada.
Bagaimana ini minuman yang tersedia hanya minum keras tidak mungkin aku meminum minuman yang tidak pernah aku sentuh. bagaimana jika aku mabok. Tania mulai gusar.
"Tuan dimana toilet?"
"Mari aku hantar" Abercio menawarkan diri untuk menghantar Tania.
"Tidak usah tuan, aku bisa sendiri tuan tunjukkan saja tempatnya."
"Baik lah keluar belok kiri."
"Terimakasih, saya permisi dulu."
Setelah mendapatkan anggukan dari Abercio, Tania pun bergegas bangkit dari duduknya lalu ia keluar dari ruangan VIP untuk mencari ide pergi dari Abercio.
Seketika terlintas dipikiran Tania. 'Mas Rendra. Tapi kurasa tidak mungkin.
Brugh!
'Andhra?"
"Tante sedang apa disini?" tanya Andhra.
__ADS_1
Tanpa banyak bertanya lagi Tania menarik tubuh mungil itu kedalam kamar mandi. Ia segera menguncinya.
"Tante mau apa? kenapa aku di bawa kemari?"
"Husst!" tania membungkam mulut Andhra.
"Kamu bisa bantu aku?"
Andhra menganggukkan kepalanya.
"Tante tenang saja aku akan membantu mu, cepat katakan apa yang harus aku lakukan untuk membantu mu."
"Denger kan baik-baik, aku harus keluar dari tempat ini tapi aku tidak tau cara untuk keluar dari sini."
Hemm Andhra berpikir sejenak. 'Ah aku tahu bagaimana caranya.
"Sini Tante aku bisikin."
Tania pun menjajarkan tinggi nya agar Andhra mudah berbisik di telinga nya.
"Anak pintar, baik lah Tante harus kembali ke sana."
Andhra menganggukkan kepalanya.
Sementara Andhra di dalam kamar mandi bersama Tania, disisi lain Rendra celingukan mencari Andhra. Matanya mengitari ke semua arah. Namun tak menemukan sosok putranya.
Kemana tuh bocah, ke kamar mandi lama sekali apa aku samperin aja kali. Gerutu Rendra.
Tapi sebelum menghampirinya, Andhra lebih dulu muncul dari arah lorong kamar mandi.
"Lama sekali ke kamar mandi?"
"Tadi antri pih, 'Oh ya pih Andhra boleh tidak pinjam ponsel papi sebentar."
"Untuk apa? kamu kan ada ponsel Kenapa mesti punya papi?"
"Ayo lah sebentar saja." Andhra sedikit memaksa.
"Pakai lah." Rendra memberikan ponselnya tanpa rasa curiga sedikitpun.
Andhra pun membawa ponsel Rendra keluar dari restoran tersebut. Agar tidak di ketahui oleh Rendra.
"Pak tolong belikan kembang api Asep segera bawa ke restoran xx ini perintah dari papi."
"Baik tuan kecil akan segera hantar ke tempat tuan."
"Bagus capat jangan lama."
Klik
Andhra tersenyum mengembang di bibirnya. Kemudian Andhra kembali ke dalam ruangan, Andhra melangkah masuk kedalam.
"Makan lah kau sibuk sekali, nanti terburu dingin tidak enak lagi dimakan, setelah makan kita langsung pulang papi sudah ngantuk sekali."
Aku harus bisa mengulur waktu, sebelum datang pesanan ku. Batin Andhra.
Aura sekitar ruangan mendadak seram ruangan menjadi gelap hanya terlihat bola mata Abercio yang terpancar.
"Kenapa gelap sekali?" Tanya Tania pada Abercio.
"Seperti ini aku rasa lebih baik, suasana romantis untuk kita berduaan."Ucap Abercio.
Rasanya ingin muntah mendengar kata-kata romantis. Namun Tania berusaha biasa saja agar tidak di curigai.
Tubuh Tania mulai gundah, dan Tania sedikit meragukan kemampuan Andhra untuk membantu nya.
Aku tidak yakin Andhra akan berhasil membuat kekacauan di tempat ini. Gumam dalam hatinya.
"Andhra capat makan nya ini sudah malam kita harus pulang.
"Tunggu papi aku masih lapar apa aku bisa pesan makanan satu lagi?"
Rendra mengerutkan keningnya.
"Apa lagi? kamu dari makan banyak apa tidak penuh perut kamu?"
"Ayo lah Pi boleh ya, Andhra masih lapar" Rengek Andhra.
__ADS_1
Andhra mencoba mengulur waktu, sebelum orang suruhannya datang membawa kembang apa asap.
Beberapa menit kemudian Andhra melihat seseorang datang membawa kantong plastik, sebelum Rendra melihatnya Andhra segera menghampirinya.
"Andhra kamu mau kemana?"
"Tunggu Pi sebentar" Jawab Andhra sambil lari.
Ia menemui seseorang di luar."Cepat kau pergi dari ini."
"Baik tuan kecil."
Setelah menerima kantong plastik dari tangan orang itu. Kemudian Andhra diam-diam melangkah dengan sembunyi-sembunyi melalui pintu darurat. Ia akan melakukan aksinya.
Asap mulai mengepul dari dua penjuru.
Beberapa menit kemudian salah satu pegawai berteriak kebakaran.
Sehingga semua pengunjung pun berhamburan keluar termasuk Tania, lari meninggalkan Abercio. Melihat Tania Andhra mengedipkan matanya.
Dengan begitu Andhra merasa puas sudah membantu Tania keluar dari sarang buaya.
"Andhra capat masuk mobil."Bentak Rendra.
Sementara itu Rendra yang tidak mengetahui kehadiran Tania, Ia percaya kalau ini murni kebakaran.
Begitu pengunjung berhamburan keluar hingga tak tersisa di dalamnya, begitu pegawai cek terdapat kembang api asap yang mengepul, bukan dari kebakaran konslet listrik pada umumnya.
"Siap yang melakukan ini?" si pemilik pun murka akibat usahanya mengalami kerugian besar.
Semua pegawai terdiam menunduk, ia memasang telinga di setiap bentakan dari sang owner.
"Jangan diam saja kalian cepat cek cctv." Teriak sang pemilik.
"Baik tuan" ngleos pergi.
Setelah mengecek cctv terdapat wajah Andhra yang sudah membuat kerusuhan di tempat tersebut. Tidak segan-segan sang pemilik restoran pun melaporkan Andhra.
"Anak kecil ini sudah berani mengacaukan tempat usaha ku." Si pemilik tempat mengeraskan giginya.
Baru tiba di kediaman. Rendra dan Andhra pun bersantai di ruang keluarga, menikmati teh hangat buatan mbok.
Mereka saling diam, disisi lain Andhra berkecamuk dengan kejadian di tempat tadi. Lebih tepatnya Andhra sedikit resah dengan ulah yang di buatnya.
Ting.
Ponsel Andhra menyala, dengan cepat Andhra membuka pesan itu.
[Andhra apa kau baik-baik saja sekarang dimana?]
[Aku baik-baik saja kau tidak usah mencemaskan ku.] balas Andhra.
Rendra melihat Andhra serius dengan ponselnya ia mengerutkan keningnya, Rendra sedikit aneh dengan perubahan sikap Andhra.
Rendra pun bergegas bangun dari duduknya menuju kolam renang, ia merendam kedua kakinya. Menikmati semilir angin sayup-sayup menerpa tubuhnya.
Ia bahagia melihat Andhra bisa ceria seperti dulu, yang sempat hilang setelah kepergian Tania, dan kini ia kembali seperti dulu dengan kehadiran Tania sebagai Serena. Tapi Rendra sedikit khawatir dengan kehadiran Tania. Ia takut jika tidak bisa membawa Tania kembali ke rumah, Tania akan membawa Andhra tinggal bersama Tania.
Di tempat lain mata Tania melotot melihat wajah Andhra menjadi trending topik di semua media.
Anak seorang pengusaha besar telah membuat kerusuhan di restoran xx akibat ulahnya restoran tersebut mengalami kerugian besar.
'Sial!. Siapa yang sudah berani menyebar berita ini. Tania mengepalkan tangannya.
'Ini tidak bisa di biarkan aku harus cepat bertindak.
Tania meraih kunci mobilnya ia melaju kencang menuju restoran xx.
Cittttt!
'Woy! hati-hati. teriak bapak-bapak yang hampir terserempet mobilnya.
"Maaf mas saya buru-buru"
Selama mengemudi Tania pun sibuk menghubungi media untuk menghapus semua berita mengenai putra semata wayangnya itu. Tapi permintaan nya di tolak Walaupun Tania akan mengganti semua kerugian. Tapi usaha nya nihil media hanya mengikuti perintah pemilik restoran.
Ia harus bisa menghapus berita terkait Andhra, jangan sampai Rendra mengetahui berita tersebut, kalau sampai Rendra mengetahui berita yang sedang beredar, sudah pasti Rendra bakal marah besar.
__ADS_1
...----------------Maaf ya… jika masih ada typo...
saling mengingatkan lebih baik. Terimakasih.