
Sebenarnya Tania tidak puas hukuman untuk Rendra setelah apa yang sudah Ia perbuat atas dirinya, Tania segera menepis air matanya dari pipi nya.
Rendra memeluk tubuh Tania Ia takut akan kehilangan lagi, bagi Rendra Tania adalah wanita satu-satunya yang Ia cintai, disisi lain Tania juga ibu dari anaknya, kalau saja tidak menikah dengan Tania entah apa jadinya, mungkin bisa hancur atau pun kehilangan masa depannya, karena sosok Jesika yang selalu menguras kantong di setiap bulannya.
Keesokan harinya Tania melangkah anggun menghampiri suaminya, Rendra sedang duduk bercakap-cakap dengan seorang kakek.
"Pagi.. Mas.., pagi kek, aku bawakan gorengan pisang dan kopi."
"Pagi sayang." jawab Rendra.
"Pagi Ndok ayu, gimana?, masih sakit pinggang nya." tanya kakek.
Astaga! kakek buat malu saja. gumam Tania.
"Hehe iya kek, sudah lebih baik setelah di oles minyak tawon." kata Tania.
Si kakek comot pisang goreng bangkit dari duduknya."Ya sudah kakek pamit dulu, temani suami kamu kakek mau ke ladang."
"Baik.., kakek hati-hati ya."
Assalamualaikum..,
"Waalaikumsalam..," jawab Rendra dan Tania.
Setelah si kakek pergi wajah Tania terlihat murung, pandangan lurus ke depan mata indah yang di tumbuhi bulu-bulu lentik dimatanya itu nampak sedikit berkaca-kaca.
"Kamu kenapa sayang, aku lihat sepertinya sedang menyimpan kesedihan?."
"Mas.., aku merindukan anak kita, satu bulan sudah aku disini, tanpa komunikasi dengan Andhra."Lirih Tania.
"Bagaimana kalau nanti siang kita kembali ke Jakarta, kasihan Andhra dia selalu mencari mommy nya." Kata Rendra.
"Tania.., kau itu kah?." seorang menyapanya dengan ramah.
Tania mengerutkan keningnya melihat pria menyapanya yang tak lain adalah sahabat kecilnya.
Kirain di hutan tidak ada pria, ternyata sama saja. Gerutu Rendra.
Tania melirik Rendra seketika membungkam mulutnya.
"Oke Tania, aku permisi dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kamu kenapa Mas...?, dia itu teman kecil aku, nama nya fajar, dia guru loh Mas di desa ini."
"Nggak nanya, dan aku juga tidak mau tahu." Jawab Rendra ketus berlalu pergi.
"Mas...., Mas, kamu mau kemana?."
Rendra tersenyum dengan remeh dengan apa yang Tania katakan seolah Rendra tidak percaya.
Rendra meninggalkan Tania. membanting pintu kamar mengepak pakaian ke dalam koper. Lalu keluar kamar menarik kopernya, dengan wajah gusarnya.
"Mas kamu mau kemana?." tanya Tania mengikuti langkah Rendra.
"Pulang ke Jakarta kamu mau Disini kan?, pantas saja betah ada pria yang menemani mu Disni." Jawaban Rendra sangat ketus.
"Kamu bicara apa sih Mas..?, oke kita pulang ke Jakarta tapi tunggu sampai kakek pulang rasanya tidak etis kita pulang tanpa pamit kakek." Ucap Tania mengalah untuk menghindari pertengkaran.
Semakin lama semakin posesif terhadap Tania, sementara Tania sedikit pun tidak boleh curiga kalau Rendra bersama dengan wanita di luar sana, walaupun kenyataannya tidak ada hubungan apa-apa.
Rendra menghentikan langkahnya, balik badan menghadap Tania,"Kamu bilang tidak mau kembali ke Jakarta, lalu untuk apa aku disini, anakku pasti menunggu aku pulang."
"Anak kita!."
__ADS_1
"Kalau kamu merasa itu anak kita?, harus nya kamu berfikir sebelum kamu pergi dari rumah." Tutur Rendra.
"Mas kalau Kemari hanya untuk lebih baik aku tidak pulang, kamu bilang mau berubah mana?, kamu masih saja sama seperti ini."
"Kruk...Kruk...Kruk.
"Lapar?." tanya Tania.
Rendra menganggukkan kepalanya."Tunggu sebentar aku masak."
Tania melangkah pergi ke dapur masak seadaanya yang ada di dalam kulkas, sayur sawi ikan goreng dan sambal goreng kesukaan Rendra, Tania mulai menumis sayuran, tiba-tiba, Rendra datang memeluk tubuhnya, menyangga dagunya di pundak Tania.
"Mas ngagetin saja, sudah tunggu saja di ruang makan sebentar lagi selesai." Ucap Tania.
Tubuhnya mulai bergidik tangan Rendra mulai merayap kemana-mana masak pun jadi tidak konsen, Tania balik badan."Mas....."
"Hemm...," Rendra semakin nakal seketika tubuh Tania menggeliat ketika hidung Rendra mengendus leher jenjang putih Tania. Suara itu lolos dari bibir Tania.
Hem...!.
Mas.... Gosong!. Tania segera mematikan kompor nya.
Ish...!. suara berat Rendra kesel.
Wajah tampan itu seketika berubah menjadi merah.Tania mengelus wajahnya, Rendra pun segera membopong tubuh Tania ke dalam kamar, melanjutkan aksinya.
Di kotak Jakarta kini Andhra demam tinggi panggil-panggil mommy papi nya. Suster menghubungi Rendra tidak aktif, lalu menghubungi Tania juga tidak aktif.
"Ya Allah den, sabar ya suster, hubungi opa ya." Suster pun panik dengan kondisi Andhra yang di asuhnya.
Tut...Tut...Tut. Terhubung dengan nomor ponsel Tomi Opa nya.
"Halo tuan besar."
"Halo Suster Lulu, ada apa?," tanya Tomi dari saluran ponselnya.
"Apa! demam?, sebentar saya hubungi dokter Jery, jaga Andhra, sebentar saya datang." Ucap Tomi.
Bagaimana bisa Andhra sakit tidak ada Rendra, Tania pun kemana. gerutu Tomi
Tomi meraih kunci mobil lalu keluar dari rumah melajukan mobilnya dengan cepat menuju kediaman putranya.
Tomi tiba di kediaman Rendra, memarkir mobilnya tergesa-gesa melangkah cepat.
"Suster....!," panggil Tomi dengan Nanda keras.
"Saya tuan besar."
"Mana Rendra?, pada kemana yang lain Tania juga kemana anak sakit tidak ada di rumah."Pekik Tomi.
"Tuan muda, sama non Tania tidak ada rumah tuan besar, Tuan muda menyusul Non Tania ke desa tempat kakeknya." jawab suster gugup.
"Apa! ke desa?."
Suster Lulu hanya bicara pelan menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah. Apa lagi Suster tahu kalau Tomi kalau sudah marah. Seperti keluar taringnya.
"Andhra cucu kakek, sabar ya sayang sebentar Dokter Jery akan datang."
"Mommy..." Andhra selalu menyebut nama Mommy nya.
"Suster apa sudah hubungi Andhra atau Tania?."
"Sudah tuan besar, ponselnya tidak bisa dihubungi." jawab Suster.
Tidak lama dokter Jery datang lalu memeriksa kondisi Andhra, stelah memeriksa kondisi Andhra. Dokter Jery menjelaskan bahwa Andhra tidak ada sakit apa pun.
__ADS_1
"Jagoan pintar ini, mungkin hanya rindu saja sama Mommy nya."
"Tuan Tomi, cucu anda tidak ada sakit apa pun sebaiknya segera pertemukan dengan ibu nya, saya kasih resep nya."
"Terimakasih dokter Jery."
"Sama-sama Tuan, kalau begitu saya permisi dulu."
"Suster tolong hantar dokter."
"Baik, tuan saya permisi."
Tomi begitu marah saat mendengar cucu nya sakit, keadaan orang tuanya tidak ada di rumah, Tomi berpikiran lain bahwa Tania sangat tidak perduli kan anaknya. Di sisi lain Tomi pun tidak bisa marah dengan wanita yang notabene merupakan menantu kesayangan nya.
"Sekarang Andhra makan ya?."
"Nggak mau kek, Andhra mau mommy."Rengek Andhra.
"Ya Andhra makan dulu, kalau tidak makan mommy tidak akan pulang."
"Iya Opa Andhra mau makan."
Rasanya begitu menyakitkan begitu mendengar putra tunggalnya sakit. Makian pun terlontar dari mulut sang papa mertuanya. Demi apa pun Tania menyesali kepergiannya, mendadak lumpuh ambruk di hadapan putranya.
"Sayang maafin Mommy." lirih Tania terisak.
Tania menuruni tangga Ia menghampiri pria paruh baya itu yang duduk di ruang tamu mengangkat satu kakinya menompang di lututnya.
"Dad maafin Tania.., tidak ada maksud untuk membuat putra ku sakit." Tania berlutut dihadapan Tomi.
Tomi memalingkan wajahnya, seakan tidak perduli alasan apapun dari Tania.
Tomi membungkam seribu bahasa.
Gadis yang mengorbankan kebahagiaan nya demi keluarga Ia rela melakukan apapun untuk keluarga kecilnya, saat ini hati Tania hancur lebur, rasanya sakit di acuhkan oleh orang yang paling Ia hormati. Ya itu papa mertuanya.
"Dad" Tania menyentuh kakinya namun seketika Tomi menepis tangan Tania.
Tomi bergegas bangkit, menepis tubuhnya dengan kasar hingga Tania terhempas.
Rendra menyentuh pundaknya membantu Tania berdiri.
"Sayang.., sudah saat ini Dady masih marah, biarkan Dady sendiri."
"Tapi Mas..,"
Rendra menggelengkan-gelengkan kepalanya, Rendra menghapus air matanya.
Apa Dady segitu marahnya sama aku, sampai-sampai menatap wajah ku pun seperti tidak Sudi. gumam Tania.
Tania menangis sesenggukan di samping putra yang terbaring sakit. Sambil memikirkan ucapan Papa mertua nya yang akan mencarikan isteri keduanya untuk Rendra.
Rendra menemui Dady nya di kamar, meyakinkan bahwa Tania pergi atas kesalahannya.
"Kalau datang minta Dady membatalkan niat Dady untuk menjodohkan dengan putri sahabat Dady, Dady rasa percuma saja Dady tidak akan membatalkan niat Dady, istri kamu itu sudah tidak pantas lagi mendampingi kamu Rendra."
"Bukan kah Tania juga pilihan Dady?, aku bertahan dan pada akhirnya aku mencintai gadis pilihan Dady, sekarang Dady juga akan menghancurkan nya lagi?, cukup hubungan ku dan Jesika Dady hancurkan, tapi jangan dengan Tania Dady dia ibu dari anakku."
Tomi terdiam, dengan mencerna kata-kata Rendra.
"Pikirkan lagi Dady, kalau Dedy akan menjodohkan aku dengan gadis lain, lebih baik Rendra tidak pernah perduli dengan semua tentang Dady."
Kemudian Rendra keluar dari kamar tersebut sepertinya Tomi pun tidak bisa berkata apa-apa, menatap punggungnya Rendra keluar dari kamar.
...----------------...
__ADS_1
Terimakasih ya yang sudah mampir