
Malam itu mendung sangat gelap sepertinya akan turun nya hujan Disebuah gazebo halaman belakang rumahnya, Tania duduk bersandar wajah menatap lurus pandangan kosong.
Nampak raut wajah yang sangat Rasa kesal, marah, sedih, kecewa menyelimuti hati tatkala musuh itu adalah papa mertuanya sendiri', bagiamana mungkin aku kuat melawan orang yang masih berharga dalam hidupku, mereka tidak tahu apa yang aku rasakan saat aku jauh dari kalian hanya untuk mendapatkan cinta dari suamiku, apa aku tidak pantas mendapatkan cinta dari suamiku.
Saat pikiran sedang kacau tiga orang bertubuh kekar datang lalu membekap mulut Tania di belakang dengan obat bius.
Hemmm!. Tania berusaha berontak, tapi terburu tidak sadarkan diri, tiga orang pria itu membawa Tania ke dalam mobil kijang Innova.
Dalam perjalanan salah satu penculik Tania itu menghubungi seseorang.
"Target sudah berada dalam mobil kami."
"Bagus!, cepat kalian bawa ke tempat yang sudah saya sediakan, letaknya di sebelah barat pesisir pantai."Perintah Jery.
"Baik bos!."Jawab orang suruhannya itu.
Jery tersenyum tipis kepuasan, ia berfikir Tania sudah berada dalam genggaman tangannya.
Tiba di tepi pesisir pantai dua orang suruhan Jery memapah Tania, masuk ke sebuah villa yang cukup besar, tempat yang di bilang cukup mewah.
Hemmm..., Tania baru saja sadar kalau ia berada di tempat lain.
Mata yang masih tertutup tentunya Tania tidak bisa melihat siapa mereka yang berani menyekap.
Dad apa kah belum puas setelah menghancurkan bisinis ku, dan sekarang kau menyekap ku. Batin Tania.
Hemm..., tania berusaha untuk bersuara, namun dua orang bertubuh kekar itu membentak Tania.
"Diam!, atau kau mau mati?."Kata dua orang suruhannya Jery.
Tania berubah menjadi takut, dengan ancaman mereka. Seketika mengatupkan bibirnya.
Tidak lama kemudian mobil memasuki halaman vila tersebut.
Mereka pun menyambut kedatangan nya."Bos wanita itu sudah ada di dalam."Mereka memberi laporan pada Jery.
"Bagus!, sekarang kalian jaga di luar."perintah Jery.
"Baik bos."
Jery melangkah masuk dalam meninggalkan mereka, langkah gagal Jery tersenyum sumringah rencana nya berhasil berjalan dengan mulus.
Jery membuka pintunya, melihat Tania masih dalam keadaan tertutup, mendengar suara pintu terbuka Tania mengerutkan tubuhnya.
Jery menyentuh pundaknya.
Hemmm..., Tania pun berontak namun apa daya semua tubuh dalam terikat.
"Tenang lah sayang, kamu disini pasti baik-baik saja."Ucap Jery berbisik di telinga Tania.
Kurang ajar!, kamu Jery. gumam dalam hati Tania.
Ternyata tuduhan nya salah, dalang semua ini bukanlah Tomi.
Jery tertawa puas, melihat wajah Tania yang penuh dengan ketakutan. Jery menyelusuri wajah Tania dengan satu jarinya.
Brengsek! kamu Jery. Hemmm...,
"Besok pagi kita sudah pergi meninggalkan kotak sialan! ini, dan kita hidup bahagia selamanya..., tanpa ada satu orang pun yang mengganggu hubungan kita, hahaha." Ucap Jery sambil membungkuk kan tubuhnya di depan wajah Tania.
Cintanya yang begitu besar pada Tania. Kini Jery telah halang akal sehatnya. Ia tanpa berpikir panjang dengan status nya sebagai dokter.
Di tempat lain bibi sedang panik mencari Serena pasalnya ponsel Serena masih tergeletak di Gazebo tempat Tania tadi malam bersantai.
"Ponsel non Serena masih disini sementara no Serena tidak ada Semua ruangan pun tidak ada." Panik bibi.
"Bagaimana ini, tidak mungkin non Serena pergi tanpa membawa ponsel nya." Bibi semakin panik.
Jo...Bejo...., panggil bibi teriakan.
__ADS_1
"Ada apa mun?."tanya pak Bejo.
"Kamu lihat Non Serena tidak?." tanya lagi bibi.
"Lah, dari tadi pagi aku tidak lihat non Serena, mobilnya ada, Mungkin di kamar bi." Ujar pak Bejo.
"Tidak ada aku sudah mencari ke semua tempat tapi tidak menemukan Non Serena." Timpal bibi.
Pak Bejo mulai penasaran, apa mungkin non Serena kabur, Kasihan non Serena di tambah masalah nya yang sekarang. Batin pak Bejo.
"Mun, ayo kita cari."
"Ayo Jo."
Bi Mumun dan pak Bejo pun mencari Serena di sekeliling kediamannya.
Tiba-tiba melihat sendal jepit kesayangannya tergelak sebelah di depan gerbang pintu belakang.
"Mun..., sini." panggil pak Bejo.
"Apa Jo?." Bi Mumun menghampiri pak Bejo.
"Ini kan sendal Non Serena, apa mungkin non Serena ada yang menculik."Ucap pak Bejo sembari menunjukkan sendal jepit kesayangannya.
"Ya ampun non Serena...., Jo ayo kita lapo polisi."Ucap bibi seru.
"Mun sabar dulu, kita tidak bisa lapor kalau belum 24 jam, kecuali kita ada bukti baru bisa."Tutur pak Bejo.
"Lah trus gimana Jo, kalau ada apa-apa dengan Non Serena bagaimana?."Kata bi Mumun khawatir.
Bi Mumun dan pak Bejo pun mulai bingung harus minta bantuan siapa.
"Dokter Jery Jo."Kata bi Mumun.
"Maksudnya dokter Jerry?" kata pak Bejo.
"Kita Hubungi dokter Jery minta bantuan."sambung bi Mumun.
"Tapi aku tidak punya nomor dokter Jery Jo."Lirih bi Mumun.
"Lah apa lagi aku."Kata pak Bejo.
Sementara itu istri dari seorang dokter Jery memiliki firasat buruk pada suaminya setelah ia membawa koper besar keluar dari rumah nya.
JPS ponsel milik jery Amira telah menyadap nya sehingga semua pesan masuk Amira telah mengetahuinya.
"Aku harus melaporkan semua ini pada tuan Tomi, aku tidak ingin Suamiku menjadi seorang kriminal."Batin Amira.
"Tapi bagaimana?, aku tidak punya nomor untuk menghubungi tuan Tomi, lebih baik aku datang langsung ke kediamannya, jangan sampai Jery telah membawa non Tania pergi jauh, mumpung belum terlambat."
Amira meraih kunci mobil yang ada di laci lemari, pakaian kemudian ia pergi menemui tuan Tomi.
Dengan kecepatan tinggi Amira mengendarai mobilnya, menempuh perjalanan kediaman tuan Tomi, butuh waktu 1jam. Kurang lebih 4 Kilometer.
Amira pun tiba di depan gerbang menjulang tinggi, penuh dengan penjagaan. Amira menarik nafasnya, seorang pria Sepertinya salah satu penjaga kediamannya menghampiri mobil Amira, yang sedang parkir di depan gerbang.
Tok...Tok...Tok.
Pria itu mengetuk kaca mobil Amira. Kemudian Amira menurunkan kacanya.
"Anda mencari siapa Nona?."tanya pria itu.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Tomi, apa saya bisa menemui nya?."Kata Amira gugup.
"Apa Anda sudah buat janji?."kata pria itu.
Amira menggelengkan kepalanya, sepertinya sulit untuk menemui Tuan Tomi.
"Maaf Nona Anda harus buat janji dulu, kembali lah jika sudah buat janji."tutur pria bertubuh besar.
__ADS_1
"Tuan tolong lah, ini penting sekali."Rengek Amira memohon pada pria itu.
Tin...Tin..Tin.
"Nona mobil mu menghalangi jalan, tolong pindahan kan mobilmu."
Amira menengok kebelakang sepertinya mobil itu tidak asing aku harus mengehentikan mobil itu.
Amira mengetuk mobil itu, Tok..Tok..Tok., tuan.., namun tubuh Amira di tarik oleh pria bertubuh kekar itu.
"Singkirkan mobil mu Nona."Ucap pria itu masih menggenggam lengan Amira.
Rendra yang merasa penasaran ada apa istri Jery datang ke kediaman nya.
"Amira, ada apa?." Ucap Rendra keluar dari mobil.
"Maaf tuan muda nona ini memaksa masuk menemui tuan besar."
"Lepas kan dia, buka gerbangnya dan biarkan dia masuk,"kata Rendra.
"Terimakasih Rendra."Ucap Amira.
Akhirnya Amira berhasil menemui tuan Tomi dan Rendra. Amira hanya tidak ingin suaminya telah melakukan kesalahan besar.
"Silahkan duduk Amira, sebentar saya panggilkan Dady."
Amira mengangguk dengan wajah penuh kekhwatiran, biar bagaimanapun Rendra adalah sahabat kecil Jery, sementara wanita yang suaminya cintai adalah istri dari sahabatnya sendiri, dalam hukum Tania masih sah istri Rendra, Amira hanya ingin menolong Tania, jika nanti Jery tidak terima apa yang sudah Amira lakukan Amira siap diceraikan.
Tap tap tap.
Tomi melangkah menuruni anak tangga rumahnya. Tomi melihat Amira seakan enggan untuk menemui nya.
"Ada apa kamu kemari?." ucap Tomi ketus.
"Tuan saya datang kemari hanya ingin menyampaikan kalau non Tania dalam keadaan bahaya."
"Tania?, dimana dia?" Saut Rendra.
"Aku tidak percaya, kalau Tania masih hidup." Tepis Tomi.
"Tuan percaya lah non Tania sekarang di sekap di sebuah villa, tepatnya di tepi pesisir pantai.
Tomi sepertinya tidak gentar dengan ucapan Amira, setelah Tomi bernegosiasi dengan Tania, tapi Tania menepis semaunya, sejak itu Tomi merasa kecewa.
Rendra segera melangkah pergi.
"Rendra mau kemana kamu?." Tomi mengejar Rendra.
"Dad aku harus menyelamatkan Tania."Ujar Rendra.
"Tidak Rendra, Dady tidak mengijinkan kamu pergi."Sungut Rendra.
"Dady, Tania masih istriku, siapa pun yang berani menyentuh Tania dia akan berhadapan dengan ku."
Rendra berlalu pergi, mengabaikan Semua ucapan Dady nya.
"Rendra aku ikut!" kata Amira.
"Oke!, kamu boleh pergi tapi tidak sendiri, pengawal ikuti Rendra, pastikan semua baik-baik saja."perintah Tomi.
Mulut Tomi mengatakan kalau ia sangat membenci Tania, tapi hatinya tidak ingin Tania kenapa-kenapa.
Tomi mengretak kan rahangnya.
"Kurang ajar Jery!, Tania tidak akan melawan ku jika tidak pengaruhi oleh mu, sekarang saya pastikan kau tidak akan bisa tugas rumah sakit mana pun. Kau sudah berani masuk dalam keluarga Wiratama, berarti kau juga sudah siap menanggung akibatnya."Gumam Tomi.
Diam-diam Tomi mengikuti Rendra dari belakang ia akan memastikan semua baik-baik saja, Tomi juga di kawal oleh beberapa beberapa orang polis, Rendra sendiri tentunya bukan hal yang mudah untuk menghadapi penculik itu.
...----------------...
__ADS_1
Terimakasih.