Menikah Dengan Pria Arogan

Menikah Dengan Pria Arogan
Bab 69


__ADS_3

Rendra menyipitkan matanya seolah tidak percaya apa yang sudah Amira katakan. Rendra terdiam sesaat. Perasaan jadi was-was ia takut kalau Jery akan melakukan hal bodoh yang akan merugikan sendiri.


"Rendra sebaiknya kita parkir di tempat yang jauh dari lokasi." Amira menyarankan Rendra.


"Ya sebaiknya seperti itu."Jawab Rendra singkat.


Rendra memarkirkan mobilnya di tempat yang jauh dari lokasi, Rendra dan Amira keluar dari mobil, dengan langkah pelan-pelan menuju lokasi vila yang letaknya di pesisir pantai, buah batu. Rendra tidak mengira kalau ia akan bertemu dengan Tania di tempat ini, setelah Rendra tahu kalau itu mobil Jery, Rendra segera bersembunyi di balik mobilnya.


"Rendra disana banyak penjaga, kita tidak mungkin bisa menyerang kita harus cari bantuan."Ujar Amira bisik-bisik.


"Tunggu aman saja, kita tidak boleh gegabah, kalau kamu berisik seperti ini, pasti mereka akan tahu kehadiran kita."


Seketika Amira Mengatup bibirnya.


"Kamu diam disini, aku akan menghadapi mereka."kata Rendra.


Amira mengangguk kepalanya. Kemudian Rendra melangkah membawa senter kepala memakai peci layaknya tukang kebun.


Sementara itu di dalam sana Jery sedang bernegosiasi dengan Tania, Jery memberikan dua pilihan, dia akan pergi bersama Jery atau tidak akan pernah lagi melihat orang-orang paling ia sayangi.


Hemm...., tanya menggelengkan kepalanya.


Sialan!, kamu Jery ternyata kau menjebak aku. Gumam Tania.


Tania mendengus kesel, awalnya Tania pikir berlindung pada Jery karena Jery adalah sahabat kecil Rendra, dengan begitu Tania mudah mempercayai Jery dengan perintah-perintah nya yang kadang konyol dan tidak masuk akal.


Rendra menyoroti wajah penjaga villa tersebut


"Siapa disana?" ucap penjaga yang sudah di atur oleh Jery.


Penjaga itu menghampiri Rendra di luar pagar.


"Saya penjaga vila sebelah pak, apa disini sedang ada pengunjung?."Tanya Rendra.


"Bukan urusan kamu, pergi sana."Usir penjaga itu.


Batu yang di lemparkan Rendra mengenai pipi penjaga, sontak pria itu menjerit. Ia meraung memegangi pipinya kesakitan. Mendengar teriakannya beberapa orang pengawal itu bergegas keluar, melihat apa yang terjadi.


"Woy! kamu siapa?."


Mereka membuka gerbang lalu menonjok wajah wajah Rendra, tapi Rendra segera menepis tangan pria itu dan melintir tangan pria itu.


"Katakan dimana, Jery?."


Bug! punggung Rendra terkena hantam balok kayu, dan tersungkur tak berdaya, saat ini Rendra entah apa yang harus dia lakukan, bahkan untuk berdiri saja tidak mampu.


"Bagus!. Kalian kerja yang bagus bila perlu buang saja ke pantai tubuh pria ini." Ucap Jery menunjuk Rendra.


Mereka pun tertawa dengan puas.


Sementara Amira menganga lebar begitu melihat Rendra tersungkur. Amira kebingungan mencari bantuan. Jangan sampai mereka buang Rendra ke laut. Amira sudah berpikiran yang tidak-tidak.


"Tunggu!, sebelum kau Lempar dia sebaiknya berikan salah terakhir pada istrinya."


"Oke bos" Mereka mengacungkan jempol.


Kemudian mereka memapah tubuh Rendra ke dalam ruangan tempat Tania di sekap. Mereka pun masuk kedalam, menghempaskan tubuhnya di bawah kaki Tania.

__ADS_1


Sontak Tania melebarkan matanya membulat sempurna, Aaaahk!.


"Oh!, kamu ingin bicara?, baiklah akan aku kasih waktu lima menit untuk kamu bicara."Kata Jery.


"Buka lakban nya."perintah Jery.


"Berengsk! lu, sinting lepaskan Mas Rendra atau kau akan menyesal Jery!." Pekik Tania.


Sumpah serapah pun keluar dari mulut Tania.


Ucapan Tania itu mendapat kan sambutan tawa dari mereka.


"Tania...Tania..., suamimu itu sudah tidak bisa apa-apa, bahkan untuk menolong kamu saja tidak sanggup.., Hahaha."


Mas..., Rendra bangun..., Mas...!, teriak Tania. Tolong....!.


Jery tidak ingin teriak Tania ada yang mendengarnya kemudian Jery perintahkan mereka untuk menutup kembali mulut Tania.


Bulir bening air mata Tania mengalir tiada henti.


Sementara Tuan Tomi memacu mobilnya dengan cepat, Ia tidak sabar ingin tahu kabar Rendra, sebab berulang kali menghubungi Rendra Ponsel Rendra di luar jangkauan.


Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan.


"Boy, cepat sedikit saya tidak mau Rendra kenapa-kenapa."Ucap Tomi cemas.


"Baik tuan besar."


Beberapa menit kemudian Amira menghadang mobil yang sedang melaju.


STOP...!, pak.


Amira melebarkan sayap tangannya.


Ciiiit!


Boy menahan rem Mobil nya mendadak.


Tomi segera membuka pintu mobilnya lalu keluar menemui Amira.


"Amira?, mana Rendra."tanya tuan Tomi dengan wajah yang tidak bisa di artikan.


"Tuan, Rendra di hantam mereka, Tuan." Ucap Amira panik.


Tomi segera perintahkan pak polisi itu mengepung vila tersebut.


Rendra yang sudah sadar dari pingsannya, dan sontak setelah melihat Serena di depannya bukan Tania.


"Bajingan kamu Jery!, mana Tania?, jangan pernah sentuh sedikit pun, kalau kau berani menyentuh Tania, akan ku patahkan tulang mu."


"Haha. Sorry Rendra kali ini kita satu selera wanita yang memiliki kriteria yang sama."Ucap Jery mencibir tersenyum tipis.


Rendra tidak bisa berbuat apa-apa selama tubuh masih dalam keadaan terikat.


"Vila ini sudah ada kepung." Pak polisi itu mengucapkan dengan toa nya.


DEEG!

__ADS_1


Mereka mulai panik."Sialan! lu Rendra rupanya kau membawa polisi."


"Sebentar lagi kau akan mendekam di penjara, reputasi mu sebagai dokter tidak akan bisa lagi."kecam Rendra.


Bug! Bug! Bug!


Tonjokan mendarat ke wajah tampan Rendra, saat itu Rendra tidak bisa melawan, hanya bisa pasrah dengan keadaannya. Darah mengalir dari ujung bibirnya.


Hemmm! Tania berontak kursi yang di duduki Tania pun terjengkang tepat depan Rendra.


Saat itu Rendra belum mengenali wajah Tania, yang perubahan yang jauh berbeda.


Jery menarik tubuh Tania dengan paksa, menjambak rambutnya. Menodongkan pistol di leher jenjang Tania.


Rendra berusaha keras menarik tangan Tania, namun jari Tania lolos. Mas....,"Batin Tania.


Mereka keluar dari pintu belakang, tapi dengan cepat polisi menangkap salah satu dari mereka.


Jangan bergerak!.


Salah satu orang suruhan Jery mengangkat kedua tangannya ke atas.


Dan beberapa orang polisi masuk ke dalam membuka semua pintu, terdapat Rendra yang masih keadaan terikat.


"Pak tolong selamatkan istri saya."


"Anda tenang tuan muda, kami akan segera menangkap mereka."Kata pak polisi.


Kemudian mereka berpencar mencari keberadaan mereka. "Sepertinya mereka belum jauh dari sini Ndan."


"Baik cepat kalian berpencar."


Sementara Jery masih bersembunyi di balik pintu dapur tangan tak lengah dari menodongkan pistol nya.


Brak!


Tubuh Jery terjepit pintu. Polisi memastikan kalau di balik pintu itu tidak ada orang.


Ia mendorong dengan tubuhnya."Jangan bergerak!."


"Mundur atau dia akan mati!."Ancam Jery.


"Jery menyerah lah."Lirih Amira sambil menangis.


"Amira?." Jery terkejut melihat keberadaan istrinya.


Amira yang merasa di balik semua ini adalah cara Amira untuk mempertahankan rumah tangga nya, Amira begitu mencintai Jery sejak kematian orang tuanya, dan Jery merawat Amira dari sejak Amira masih kuliah lambat laun mereka saling sinta lalu menikah, hidup nya selama ini cukup bahagia walaupun tanpa di karuniai seorang anak Jery begitu menerima keadaan Amira.


"Kak, Jery.., apa kau lupa kalau kita berjanji saling melengkapi tanpa ada orang ke tiga."Amira menangis pilu.


Disitu Jery melemah menjatuhkan pistol nya. Dia juga menyerahkan diri pada polisi. Sebelum Polisi membawa Jery, dia minta ijin untuk memeluk istrinya.


Dan Tania berhasil di selamatkan oleh Tomi, ia memapah tubuh Tania ke dalam mobilnya.


Sementara Rendra ada rasa senang bisa bertemu kembali dengan Tania, tapi disisi lain Rendra terlihat kesal terhadap Tania yang sudah membohonginya.


...----------------...

__ADS_1


Terimakasih ya yang sudah mampir ya kakak.


__ADS_2