
Pltak! suara petir pun menggelar bersautan dengan kilat. Wanita beranak satu itu teriak dari dalam dapur.
Aaaahk!
Tania! sontak membuat Rendra terjengkelit dari duduknya, dia hafal betul suara sang istri.
Kek...Kakek....!,. Tok...Tok...Tok.
"Ada apa anak muda?." kata si kakek sembari membuka pintunya.
"Kek..., tadi saya mendengar suara istri saya apa dia ada disini?, apa kakek ini kakek nya Tania?."ujar Rendra.
"Mungkin..., hanya perasaan mu saja, kamu terlalu banyak memikirkan Istrimu." Ucap kakek lagi.
Kakek Hanya ingin kamu merasakan kehilangan Istrimu, agar kamu bisa lebih menghargai Istrimu. Batin kakek.
Apa benar aku terlalu memikirkan Tania, tapi suara itu jelas sekali itu suara Tania. gumam Rendra.
Mendengar kalau suara istrinya yang Ia cari seketika tubuhnya pria berwajah tampan itu ambruk di depan pintu.
Masyallah. kaget si kakek melihat Rendra tergeletak di depan pintu.
"Tania..., Ndok..!, kemari cepat." panggil si kakek.
"Iya kek." jawab Tania menghampiri si kakek nya.
"Masyallah...!, kek. Ini siapa?" tanya Tania kerena depan rumah sangat gelap.
"Cepat bantu kakek, angkat dia ke kamar kamu." ucap lagi kakek.
"Loh!, kok kamar aku kek." protes Tania.
Dengan ragu-ragu Tania mengangguk kepalanya. Menolak pun tidak mungkin karena si kakek kalau sudah ucap nya itu harus.
Semakin hujan deras Tania membantu angkat kakinya wajahnya berpaling, pertama kalinya Tania menyentuh pria yang bukan muhrimnya. Tiba di kamar berukuran kecil si kakek membuka penutup kepala Rendra.
Mas Rendra!, kakek dia suamiku kek. Kek dia kenapa kek!., ucap Tania panik
"Benar dia suamimu?." tanya kakek pura-pura tidak tahu.
Dengan sigap Tania mengangguk kepalanya. Tania mengusap kepala suaminya. Tania juga menggosok tangannya lalu menempelkan ke wajahnya agar sedikit lebih hangat.
Mas..., bangun Mas. Lirih Tania.
Rendra membuka matanya sayup-sayup terdengar suara Tania.
"Tania..., sayang ini benar kamu?."
Tania menitikkan air matanya mengangguk kepalanya,"Iya mas ini aku, Mas Rendra kenapa sampai disini?."
Rendra memeluk tubuh Tania, dia menangis sesenggukan minta maaf atas kesalahannya.
"Maafin Mas sayang.., mas sudah keterlaluan sama kamu, sekarang kamu boleh tampar Mas, boleh hukum Mas..," Rendra memegang tangan Tania memukul-mukul wajahnya.
"Mas..., aku sudah maafin Mas Rendra sekarang aku tanya?, sama Mas kenapa Mas Rendra bisa bicara seperti itu, kalau aku ada salah Mas Rendra bisa bicara kan sama aku." Tutur Tania.
Apa aku harus menjawab pertanyaan Tania, tidak lebih baik aku diam, kalau pun aku bicara bisa-bisa Tania tertawa kan aku.
__ADS_1
"Mas..., tidak ingin kamu penampilan terbuka di lihat semua pria." jawab Rendra.
"Astaga, Mas Rendra kenapa bisa berpikiran bahwa aku datang untuk menggoda pria lain, tidak pernah terlintas dipikiran aku untuk tebar pesona pada pria lain."
"Ya maafin Mas."
"Sekarang makan dulu." Ucap Tania.
Rendra menyantap bubur ayam, tubuhnya masih terlihat lemas.
"Nggak enak ya buburnya?."
"Enak.., cuma malas makan aja."
"Mau di suapi nggak?."
"Boleh."
Tania tersenyum sumringah..,"Kenapa nggak minta di suapi Vania?."
Rendra merampas mangkuk dari tangannya."Kalau tidak mau suapi tidak usah." Ucap ketus Rendra.
Aku lupa cerita, Vania sudah aku pecat.
"Kenapa? bengong, masih memikirkan wanita di luar sana?."
"Wanita yang mana?, selama kamu pergi dari rumah, Andhra terus nangis, kapan aku ada waktu buat pergi, kalau bicara di pikir, suamimu ini memang tampan, masih saja kaku."
Tania mencibir, tersenyum."Ya deh, PD nya juga kuat, besok pagi Mas pulang saja sementara aku ingin disini dulu."
"Nggak bisa!, kamu harus ikut pulang, apa menunggu Lexsi untuk menjemput kemari?."
"Ya Lexsi begitu mencintai mu."
"Cukup! ya Mas.., aku tidak serendah itu untuk dekat dengan pria lain apa lagi itu teman kamu." Kesal Tania.
Rendra memeluk tubuh Tania dari belakang melingkar tangannya di perut Tania.
"Aku hanya tidak ingin kamu terlalu welcome sayang, Mas tahu betul bagaimana Lexsi."
Tania balik badan menghadap Rendra."Mas.., seandainya suatu saat nanti kita berpisah, aku tidak akan pernah dekat dengan pria yang notabene adalah sahabat."
"Kok, doa nya berpisah?."
"Bisa saja kan, kalau kamu tidak bisa berubah, pasti aku minta pisah, dari pada harus terus makan hati, lebih baik aku pergi, biar kamu puas dekat dengan wanita mana pun, aku capek berjuang sendiri sementara kamu terus berhubungan dengan mantan-mantan kamu, Mas."
"Demi Allah!, aku tidak pernah berhubungan dengan wanita mana pun."
"Berisik! berisik! kakek tidak bisa tidur, kalau mau berantem silahkan di luar." Saut si kakek teriak.
Tania terus mengomel ketika mulut Tania terbungkam dengan bibir Rendra menciumnya dengan rakus. Tubuhnya terhempas di ranjang. Terbuat dari kayu.
Brak!
Aaaahk! Mas Rendra pinggang ku sakit...!.
Auw..!
__ADS_1
Tok...Tok..Tok.
Ndok...,
Iya kek.., saut Tania dari dalam kamarnya.
Tania merapihkan pakaiannya dan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Ono opo toh Ndok?." tanya si kakek sembari tengak-tengok matanya mengitari seluruh kamar.
"Ranjang nya rubuh kek." ucap Tania malu-malu.
"Kan kakek sudah bilang, kalau mau berantem di luar, ranjang jadi sasaran, Yo wis kakek tidur lagi, kira kakek ada apa."
"Iya kek, hehe."
Rendra tertawa terbahak-bahak. Pertama kalinya jeblos ke bawah.
Melihat Rendra tertawa tidak henti-hentinya Tania pun tersenyum.
"Kamu si Mas, jadi jatuh ke bawah."
"Sebentar aku benerin dulu."
Malam-malam Rendra perbaiki ranjang, sementara Tania ke dapur buat kopi untuk Rendra.
Semalaman Rendra tidak bisa tidur pulas, Rendra menghela nafasnya berat, rasanya ingin pulang sesegera mungkin, desa ini benar-benar menyeramkan, banyak terdengar suara binatang bersautan. Betapa menyeramkan nya suara anjing hutan melolong panjang.
Rendra mendekap tubuh Tania."Kenapa, takut?.
Rendra menganggukkan kepalanya, menunggu pagi serasa lama, sunyi pun mulai mencekam karena itu Rendra menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Kenapa mau tinggal di tempat seperti ini?."tanya Rendra.
"Ini tempat aku kecil, mungkin Mas tidak terbiasa dengan hal seperti ini, tapi kalau sudah biasa ya biasa saja, disini teduh nyaman dengan sendirian." Tutur Tania.
"Lalu kenapa kakek tinggal disini?."tanya lagi Rendra.
"Kakek, tinggal di rumah ini atas permintaan aku, kakek ada rumah di kota sana, karena aku jadi kakek disini, sembari jaga sarang walet, kamu harus tahu sarang walet yang kakek punya itu jumlah nya cukup banyak, dan menghasilkan keuntungan yang besar." Ungkap Tania.
"Wah! serius?."
Tania menganggukkan kepalanya."Serius, kalau Mas berminat Mas boleh join sama kakek, aku dengar sih disana ada tanah yang akan di jual, Mas bisa bangun untuk sarang walet."
"Apa disini? warga nya semua bekerja?."
"Disini warga semua petani, jarang sekali ke kota, selain itu juga warga disini sulit untuk mencari pekerjaan, apa lagi khusus nya kaum ibu-ibu."
"Aku ada ide gimana kalau kita buka pabrik garmen?."
"Pabrik garmen ya?."
Rendra mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Nanti coba kita tanya kakek, gimana kalau desa ini ada pabrik, sekarang Mas tidur besok kita pikirkan lagi." Kata Tania.
Tania pun menyelimuti tubuh suaminya, lalu mematikan lampu yang ada di kamar.
__ADS_1
...----------------...
Yuk mampir lagi ya.