
Mobil mendarat di sebuah rumah sakit besar Jakarta, Tania segera turun dari mobil minta bantuan suster.
"Sus di dalam mobil saya ada orang sakit tolong bantu saya."Ucap Tania menghampiri suster.
"Baik, Bu." Dengan sigap suster mendorong brankar, ke arah lobby.
Kemudian Suster dorong ke IGD, Tania segera menghubungi dokter Jery agar cepat di tangani.
[Halo Jery aku ada di rumah sakit xx apa kamu bisa datang?.]
[Siapa yang sakit Tania?.]
[Sudah dulu ya nanti kita bicarakan disini.]
Klik.
Tania mengakhiri hidupnya, lalu masukkan kembali ponsel nya delam tasnya.
Tania menghampiri Marissa yang sedang kebingungan, prihal yang tidak sedikit biaya yang harus di keluarkan, sementara Marissa uang yang selama ini ia tabung mungkin belum cukup untuk membayar semua biaya rumah sakit ibu nya.
"Kamu kenapa Marissa?, apa yang kamu pikirkan?."tanya Tania.
"Bu, Serena apa tidak sebaiknya ibu berobat jalan saja," kata Marissa.
Tania menarik nafasnya sejenak, lalu ia duduk di samping Marissa."Ibu mu sudah parah sakitnya, apa kamu tidak kasihan jika kaki ibu harus di amputasi?." Tania menjabarkan pada Marissa.
Marissa menggelengkan-gelengkan kepalanya,"Tapi bagaimana saya mendapatkan uang sebanyak itu untuk biaya rumah sakit ibu, oh ya saya lupa Bu, sebentar aku akan urus BPJS untuk ibu."Seru Marissa seakan ia telah menemukan solusinya.
Tania menarik tangan Marissa,"Duduk lah."
Marissa pun kembali duduk di kursi ruang tunggu.
"Tidak usah kemana-mana, cukup kamu rawat ibu mu, soal biaya sudah aku lunasi semua sampai ibu mu sehat."Ujar Tania.
"Tapi Bu, saya tidak enak selalu merepotkan ibu, aku pun baru satu bulan kerja di perusahaan ibu,"
"Maka dari itu, kamu harus semangat mengejar karir mu, untuk ibu mu, untuk masa depan mu. Paham kan yang aku bilang?."
__ADS_1
"Paham Bu, terimakasih atas kebaikan ibu, pada ibu saya."
Tania memeluk tubuh Marissa, untuk menyemangati Marissa, kalau hidup ini tidak semudah yang kita jalani, kalau mau sukses ia harus bekerja, jangan pernah menyepelekan pekerjaan, kerena tanpa bekerja dan usaha kamu tidak akan pernah menjadi apa pun.
Tidak lama kemudian dokter Jery datang, lalu Tania menyambut kedatangan dokter Jery.
"Hai, selamat sore dok, bagaimana kabarmu?."
"Seperti yang kamu lihat, aku baik dan sehat, oh ya Tania, ah..!, maksudku Serena."
"Aha!., Kamu suka ceroboh dokter." Ucap Tania berbisik sambil mencubit pinggang Jery.
"Siapa yang sakit Serena?, tadi saya sudah ijin untuk mengecek kondisi pasien saya."Ujar dokter Jery.
"Oh ya mari ikut saya Dok."Tania mengajak Dokter Jery masuk ke dalam ruangan tempat ibu Marissa di rawat.
Jery mengerutkan keningnya, melihat satu kaki wanita paruh baya itu merah membengkak, hampir membusuk, kerena gula yang cukup tinggi.
"Menurut ku, ibu ini harus di rawat makanan yang harus di kontrol, kalau di biarkan ibu ini harus menjalani amputasi satu kakinya." Kata dokter Jery.
"Lakukan yang terbaik Jery."pinta Tania pada dokter Jerry.
Jery menarik tangan Tania, keluar ruangan,"Tania apa kau sadar ini rumah sakit siapa?."Tanya Jery berbisik.
"Ya i now, aku tadi bingung Jery harus bawa kemana, aku hanya mencari pertolongan pertama."
"Ya sudah sekarang kamu urus surat rujukan dari rumah sakit ini ke rumah sakit tempat aku tugas. Ini bahaya' Tania kalau sampai ada yang mengenali mu. Do not be careless." Jery tidak percaya kalau Tania akan melakukan hal senekad ini.
"Oke thanks, aku akan segera urus, kamu tunggu disini."
Marissa mengalihkan pandangan pada dua orang yang sedang bicara serius. Dengan sorot tajam Marissa mengagumi kebaikan Tania.
Saat Tania keluar untuk mengurus izin kepindahan ibu Marissa, seketika Tania menghentikan langkahnya. Rendra berjalan dengan gagah wajah nya seperti biasa, dingin arogan membuat siapa pun melihatnya merasa ketakutan.
Ekspresi wajah Tania berubah menjadi menciut,"Siapa yang sakit." Batin Tania.
Tania berinisiatif untuk mengikuti Rendra, tanpa sepengetahuan Rendra Tania dari kejauhan ia mengikuti langkah Rendra.
__ADS_1
Ruang VIP.
Deg!.
Tania menyipitkan matanya, ia memastikan apakah itu putranya yang terbaring di ranjang ruangan itu.
"Hai sayang.., gimana keadaan mu?." tanya Rendra sambil mengacak rambut Andhra.
Ternyata apa yang di lihat nya benar, putra semata wayangnya. Tubuh Tania bergetar hebat, rasanya ingin menerobos masuk, tapi saat satu kaki melangkah tangan Tania di tarik oleh Jery, mulut Tania di bungkam dengan satu tangan Jery. Jery menyeret jauh dari ruangan putranya di rawat.
Dokter Jery, melihat Tania mengintip ruangan tersebut. Saat Jery tahu kalau yang ada didalam putra dan suaminya. Seketika Jery membungkam mulutnya.
"Tania lu gila ya?, ini bukan saat nya yang tepat untuk menemui Andhra." ucap Jery berbisik.
"Tapi aku tidak bisa Jery melihat putraku terbaring lemah, aku ini ibu nya."Sungut Tania.
"Aku paham Tania, tapi belum saatnya, jika kamu sekarang ungkap kebenaran nya, bukan cuma kamu yang di salah kan tapi aku juga, Reputasi gue terancam Tania."
Kebimbangan ini kembali melanda hati Tania, sekarang pikirannya sangat kacau, Tania sangat menyayangi putranya, sebenarnya Tania juga tidak ingin menyakiti hati Rendra, ia melakukan hal ini hanya ingin dicintai Rendra seperti Rendra mencintai Jesika. Tania menggigit bibir, betapa bodoh ia tidak mempercayai cinta Rendra, pria yang memperjuangkan putranya, ia menyingkirkan egonya demi putra semata wayangnya.
Seandainya Rendra tahu kebohongan Tania, mungkin tidak akan pernah bisa Rendra maafkan, sejak kepergian Tania, sampai saat ini Rendra tidak pernah ada wanita lain, ia pun berharap Tania akan kembali, walaupun tidak mudah untuk memaafkan istrinya, kerena terlalu besar kebohongan yang Tania rahasiakan pada Rendra, bahkan Rendra beranggapan kalau Tania sudah tidak pernah perduli dengan keluarga kecilnya.
Tangan satu kiri di tarik oleh Jery, tapi pandangan Tania tak lepas dari ruangan yang tertutup tempat putranya di rawat.
"Lepasin!, lu nggak ngerti gimana perasaan ku, aku ini seorang ibu status nya masih istri Mas Rendra, apa aku tidak boleh menemui mereka?."
Jery melepaskan tangan Tania dengan kasar."Gue paham, sebelumnya gue sudah bilang apa lu sudah siap melakukan ini?, lu bilang siap, ini lah resiko nya yang harus lu tanggung."
Gue sebenarnya mencintai lu Tania, gue seneng dengan perbedaan lu, tapi sepertinya lu masih tidak bisa lepas dari Rendra. Lirih batin Jery.
Sekuat apapun aku menanam benih cinta di hatimu, tetap saja hasilnya tidak akan tubuh dengan cara ku yang salah, jika ini sudah menjadi keputusan dia aku akan lepaskan kamu, dan akan membantu kamu kembali pada Rendra, walaupun harus nama baikku yang menjadi taruhannya.
Tuan Tomi sebelumnya sudah mengancam Jerry jika kepergian Tania ada campur tangan dengan Jery, tuan Tomi tidak akan akan menghancurkan reputasi Jery, tuan Tomi pasti tidak akan main-main dengan ucapannya, ia pasti akan menepati ucapannya.
Rumah sakit. Menjadi canggung Jery pergi mengiringi ambulance yang membawa ibu Marissa, Jery tetap profesional sebagai dokter, tidak mencampur adukkan dengan masalah pribadinya.
Bersambung.
__ADS_1
...----------------...
Terimakasih yang sudah mampir