Menikah Dengan Pria Arogan

Menikah Dengan Pria Arogan
Bab 48


__ADS_3

Membayangkan saja aku tidak pernah untuk hidup bersama wanita yang tidak memiliki pendirian seperti Vania, aku pernah mengagumi keindahan sosok gadis yang sangat sesuai kriteria, tapi aku sadar akan pentingnya persahabatan dan aku menghapus semua rasa yang ada di hati ini, kerena bagi aku sahabat adalah segalanya, kalau pun aku tahu kalau Tania istri sahabatku tak mungkin aku mencintainya, aku memang terkenal pria Casanova yang di cintai banyak wanita dan aku begitu mudah untuk mendapatkan nya, tapi aku tidak segila itu harus mencintai wanita yang memiliki suami apa lagi itu wanita yang sudah di nikahi sahabatku. Pantang bagi ku. Dalam hati lamunan Lexsi.


Dor!


"Astaga! kamu lagi?." Ngedumel kesel


"Ih.., kak Lexsi kenapa sih..., kok gitu sama Helen." Lirih Helena menundukkan kepalanya.


Huf! kalau bukan keponakan Rendra sudah aku usir. Gerutu Lexsi.


"Ya ada apa?, aku sibuk banyak kerjaan." Ujar Lexsi.


"Ya sudah Helen pulang saja, assalamualaikum."ucap Helena


"Waalaikumsalam." jawab Lexsi singkat.


Helena keluar dari ruangan kerja ia melangkah kan kakinya menundukkan wajahnya menahan Air matanya agar tidak jatuh namun air mata itu mengetes begitu saja.


Helena memiliki paras cantik namun usianya terpaut jauh dengan Lexsi. Kadang kekanakan itu membuat Lexsi berpikir ulang untuk dekat dengan Helena di sisi lain Lexsi memikirkan kabar konon katanya Vania hamil, otak Lexsi tak mampu berpikir untuk saat ini, di tambah Helena yang terus mengganggu ketenangan Lexsi


Bagaimana caranya gue bisa membawa Vania keluar dari kediaman Rendra, gue juga nggak mau sampai rumah tangga Rendra dan Tania terganggu dengan kehadiran Vania di rumahnya. Apa aku sudah menghamili dia?, kalau iya aku harus bagaimana?.


Setelah itu Lexsi menepis semua beda yang ada di atas mejanya.


Aaaahk!, brengsek kamu Vania, lu bilang urusan kita selesai, tapi lu melanggar semua itu!, teriak Lexsi di dalam ruangan kerjanya.


Dan setelah itu juga Helena datang ke kediaman Rendra, membawa wajah sedihnya.


Teng....Tong.


Bibi lari kecil membuka pintu, nampak Helena dengan wajah sedihnya.


"Non Helena?, mari masuk Non." bibi mempersilahkan Helena masuk kedalam.


"Terimakasih mbok." Helena pun masuk kedalam rumah langkahnya lesu dan Ia menanyakan keberadaan Tania atau Rendra.


"Kak Rendra kemana?, Bi?." tanya Helena.


"Tuan muda di kamarnya, sebentar bibi panggil." kata bibi.


Bibi pergi memanggil Rendra tapi bibi heran melihat Helena yang biasanya setiap datang selalu ceria dan Helena tipe gadis yang periang tapi tiba-tiba saja Helena menjadi gadis yang pendiam.


Tok..Tok.


"Tuan ini bibi.." saut Bibi.


"Iya Bi." Jawab Rendra.


Kemudian Rendra membuka pintunya setelah itu Rendra fokus dengan wajah bibi yang kebingungan.


"Ada Bi?." tanya Rendra penasaran dengan expresi bibi gugup.


"Itu tuan anu...," ucap bibi gugup.


"Apa sih bi itu anu apa?." tak sabar menunggu jawaban bibi Rendra pun keluar dari kamar.


Rendra menengok ke bawah melalui pembatas tangga."Helena?." gerutu Rendra, lalu menuruni tangga menemui Helena.


"Woy...!, ngapa lu bengong?, ke sambet lu entar."Ucap Rendra sambil mengacak rambutnya.


"Ih! kakak, ngagetin aja!." Kesel Helena.


"Lagian lu datang-datang melamun, bukannya tadi di kantor Lexsi?." tanya Rendra.


"Kan tadi sekarang disini." ucap lagi Helena ketus.

__ADS_1


"Oh." Rendra membulatkan bibirnya.


"Kak Tania mana?." seperti itu Helena bertanya dengan nada ketus.


Ini anak kenapa ya?, kok tumben banget dia jutek biasanya juga cerewet. Batin Rendra sembari berdiri mengangkat dua bahunya.


"Di kamar, masuk aja." kata Rendra.


Helena pergi menemui Tania di kamar menaiki tangga satu persatu menuju kamar Tania dan Rendra.


"Kak.." panggil Helena.


"Hai Helena, dari tadi?."


"Hem..." hanya Hem.. yang di ucapkan Helena.


"Ada apa sih?, cerita dong siapa tahu kak bisa bantu."


"Kak bantuin aku dong." Rengek Helena.


"Bantuin apa?." tanya Tania.


"Jodohkan aku sama kak Lexsi." kata Helena.


"Astaga..!, Helena kamu yakin?, kak Lexsi itu usianya lebih dewasa dari kamu." ujar Tania.


"Emang kak nggak?." protes Helena.


Seketika Tania membungkam mulutnya. Ish! anak ini. batin Tania.


Bukan hanya itu Helena tapi kak Lexsi telah menghamili Vania, walaupun belum tahu kebenaran. Batin Tania.


"Mau...ya kak ya..ya..ya." Rengek Helena.


"Nggak janji ya, nanti kakak coba bicara sama mas Rendra, yang tahu persis kak Lexsi kan Mas Rendra."


Tania menganggukkan kepalanya. Kemudian Helena pamit pulang setelah suasana hatinya kembali ceria.


"Kak Rendra Helen pulang ya." Helena teriak pamit pulang.


"Yo hati-hati." jawab Rendra.


Seberapa kuat memperjuangkan pria yang sudah menjadi milik orang, pasti tidak akan memuaskan Hasilnya. Tak memberi kabar Vania pergi dari kediaman Rendra, hingga jam 9 malam Vania tidak menampakkan batang hidungnya.


"Mas.., Vania tidak pulang ya?."


"Bagus lah, kalau bisa tidak usah datang sekalian."


"Tapi Vania itu sedang hamil mas."


"Cukup Tania, dia disini hanya buat kamu marah dan tidak akan bisa berubah, sekarang tidur sudah malam, nggak usah mikirin yang bukan merupakan hal penting, oh ya bagaimana perusahaan kamu apa kemarin menang tender?." Tanya Rendra sembari ngetik di laptop nya.


"Perusahaan berkembang dengan cepat." Jawab Tania.


"Kamu nggak aneh-aneh kan?."


"Aneh-aneh apa sih Mas..?, aku bekerja bagaimana semestinya tidak anah-aneh kok."


Sebenarnya Rendra tahu karena Rendra sudah memasang cctv di ruang kerja Tania, jadi apa pun yang terjadi dengan Tania, Rendra memantau perkembangan kantor cabang nya itu melalui seluler yang tersambung dengan cctv ruang kerja Tania.


Melirik Tania sudah tidur pulas Rendra segera menyelimuti tubuhnya, Rendra pun menutup Laptopnya lalu kemudian Ia menemani Tania tidur di sampingnya memeluk tubuhnya.


Matahari mulai terbit sorot cahaya pun menembus tirai menusuk wajah pasangan suami-istri yang masih terlelap dalam tidur.


Tania membuka matanya lalu membangun kan Rendra."Mas..., bangun sudah pagi." Tania membangun kan tidurnya.

__ADS_1


"Hem...," Rendra mengerjepkan matanya lalu ia bangun.


"Aku buatkan sarapan dulu sekalian menengok Andhra takut belum bangun."


"Ya sudah aku mau mandi dulu."


Tania keluar dari kamar menuruni tangga menuju dapur, menengok kamar tamu terkunci, mengerutkan keningnya.


"Mbok...Bi.." panggil Tania.


"Iya non." bibi menghampiri Tania.


"Kok kamar ini terkunci dari dalam?, siapa di kamar ini Bi?."tanya Tania.


"Itu Non, mba Vania tadi malam jam 2 malam baru pulang tapi sepertinya dia mabok Non." ungkap Bibi.


"Oh..." Tania manggut-manggut.


"Ya udah bi bibi bole kembali ke belakang."


"Baik Non." ucap bibi berlalu pergi.


Tania geram dengan Vania tidak bisa menghargai keberadaannya, dia juga memperlakukan orang rumah Tania seenaknya. Tania mengepalkan tangannya.


"Mbok siapa yang buat sarapan?."


"Neng Vania Non." jawab Mbok.


"Singkirkan semua makanan yang ada di meja, mbok kasih saja yang lain."


"Apa-apaan ini?." saut Vania


"Di rumah ini tidak ada yang bisa buatkan sarapan kecuali saya." jawab Tania.


"Tapi aku buatkan sarapan untuk semaunya, lagian kamu jadi Istri jam segini baru bangun istri macam apa!?."


Deg!


Vania menyulut emosi Tania, wajah Tania merah."Mau apa kamu Vania?"


"Mau aku?, suami kamu menjadi suamiku seutuhnya kamu juga tidak becus kan jadi istri." ucap Vania berlalu pergi.


"Vania tunggu!."


"Apa lagi gue ngantuk."


Plak!.


Vania memegangi pipinya meringis kesakitan.


"Sekarang lu keluar dari rumah ini, sekarang!." Bentak Tania.


"Nggak usah di usir!, gue juga bakal pergi kok, nggak sudi satu rumah sama orang yang sama sekali tidak menghargai tamunya." Ucap Helena mencibirkan bibir.


"Bagus..! kalau gitu, bibi ikuti dia siapa tahu bahwa barang-barang yang bukan miliknya."


"Siap! Non."


Astaga! ku pikir dia sudah berubah. Gumam Tania.


"Sudah Non, sabar biarkan dia pergi kalau dia tetap disini membawa pengaruh buruk buat hubungan Non sama den Rendra." Saut Mbok.


Tania menjatuhkan tubuhnya di atas kursi meja makan, walaupun hatinya hancur Tania telan bulat-bulat atas sikap Vania yang sudah terang-terangan ingin merebut Rendra dari tangannya.


...----------------...

__ADS_1


Kembali lagi yuk mampir Kepoin isi cerita ini, like komen Rate ya All terimakasih.


__ADS_2