
Bulan tidak akan redup kalau mendung tidak menutupi seluruh awan, wanita tidak akan menangis jika hatinya tidak karena goresan luka.
Orang pertama yang mengejud wanita yang katanya dia mencintai dan menyayangi So, dengan mudah mengucapkan kata yang tidak pernah wanita sukai dengan sebutan pelacur hanya karena dia berpenampilan pakaian gres tanpa lengan, niat hati ingin terkesan di mata suaminya.
Mas..., apa kah aku ini tidak pernah ada di hati kamu, sampai kamu tega mengatakan aku ini pelacur, salah aku pa Mas, Hiks...Hiks..Hiks.
Menangis bukan cara untuk menyelesaikan masalah. Suara itu terdengar dari balik punggung nya.
Tania segera menghapus air matanya, dengan kedua telapak tangannya.
"Kakek?, aku tidak nangis."
"Tidak menangis kok berair matanya kalau kangen telpon." pekik Kakek.
"Apaan sih kakek." Jawab Tania malu-malu.
Satu bulan sudah Tania diam di sebuah pedesaan, mulai nyaman dengan sendirian melampiaskan semua kekesalannya dengan banyak aktifitas membantu sang kakek.
Rendra mau pun bodyguard nya tidak akan bisa menemui Tania. Dan pada akhirnya Rendra mendapatkan kabar dari Sang bunda, orang tua Tania.
"Kamu cari di tempat Abah, disana Tania biasa memenangkan dirinya." Ujar Erni.
"Dimana itu Bun?." tanya Rendra.
"Di daerah solo, tempat Papa bunda menghabisi masa tuanya." Kata Erni.
"Terimakasih Bun informasi nya." Rendra menutup telponnya.
Tidak lama kemudian Rendra menarik koper dari atas lemari, dan mengepak pakaian untuk pergi ke pedesaan menjemput Tania. Rendra keluar menarik koper, dengan tergesa-gesa Rendra memasukkan koper ke bagasi mobilnya.
Tuan muda mau kemana?, ya kok bawa koper segala.gumam bibi.
Hari itu Rendra menempuh perjalanan jauh lebih dari satu hari untuk menembus desa yang di tuju, hujan petir namun itu tak menjadi penghalang untuk Rendra menembus desa yang di tuju nya.
Hujan rintik-rintik menambah kesunyian malam itu Tania duduk termenung di depan rumah menyaksikan jatuhnya tetesan air hujan.
Tes...Tes...Tes. bersamaan dengan air matanya yang terus mengalir.
Suara bintang melolong panjang merinding semua bulu kuduk berdiri di tambah dingin nya angin malam. Wanita cantik beranak satu itu bergegas bangkit namun langkah nya terasa berat, Tania melanggar namun terus menengok ke belakang.
Sementara Rendra terjebak dalam lumpur yang mengharuskan Rendra jalan kaki meninggalkan mobilnya di tengah-tengah pedesaan yang tak bisa di lalui dengan mobilnya. Rendra memakai jas hujan hitam menutup kepalanya, di temani senter LED yang mampu menerangi jalan Ia terus berjalan mengempis jalan setapak, kalau saja Rendra tidak salah jalan mungkin dia sudah sampai tempat yang di tuju.
Mungkin tahu bagaimana babi hutan mengejar Rendra lari berliku-liku lalu bersembunyi di balik pohon besar.
Huf! seram sekali desa ini, bagaimana bisa Tania betah di desa seperti ini. batin Rendra.
Aku harus melanjutkan perjalanan, sebentar lagi sepertinya keluar desa. gerutu Rendra.
__ADS_1
Kemudian Rendra melanjutkan pekerjaannya memotong jalan menyisihkan tumbuhan agar bisa di lalui.
Sudah jam 11 malam, disini sudah sepi aku harus cepat sampai di rumah kakek.
Auuuung!
Suara apa itu, ya Allah semoga tidak ada apa-apa, rasa takut pun mulai menghantuinya.
ada yang menepuk pundaknya menggetarkan seluruh tubuhnya, tak sadar celana pun basah kerena gemetar.
Aaaahk! teriak Rendra.
"Kamu mau kemana anak muda?."
"Bapak siapa?." sontak Rendra
"Ini sudah malam, hujan juga kamu mau kemana?, disini bahaya kalau sudah malam, biar bapak hantar." kata di pria paruh baya itu.
"Saya mau ke alamat ini pak?" Rendra menunjukkan secarik kertas dari dalam sakunya.
"Ada tujuan apa anak muda ingin ke tempat alamat itu?." tanya si kakek yang tak lain adalah kakek Tania habis dari gedung sarang walet.
Si kakek mengerutkan keningnya menebak kalau dia cucu menantunya."Ikuti saya.."
Rendra pun menurut mengikuti kakek menempuh perjalanan kurang lebih setengah kilo.
"Sudah tahu jauh kenapa kamu ke desa ini, bagaimana bisa kamu tahu alamat ini?." kata si kakek.
"Kakek sendiri dari mana malam-malam apa tidak takut?."
"Apa yang di takuti, disini desa saya, kamu saja yang salah jalan..,"
"Mobil saya kejebak disana kek, saya tidak tahu kalau ini jalan setapak di tengah hutan saya hanya mengikuti peta lokasi." Ujar Rendra.
Setelah keluar hutan, Jalan mulai sedikit ramai, Rendra merasa lega, lalu kakek belok ke rumah model minimalis lama, luas dengan pekarangan rumah banyak pepohonan di tanam di depan rumahnya.
"Ini rumah siapa kek?."
"Sudah kamu duduk saja dulu, Kakek akan buatkan minuman untuk menghangatkan tubuh mu, duduk lah dulu."
Rendra pun duduk di kursi kayu depan rumah, tubuhnya menggigil kedinginan.
"Kakek sudah pulang?, Tania buat kan minuman hangat ya kek?."
"Iya Ndok buat dua ya." Pinta kakek pada Tania.
"Dua untuk siapa kek?."
__ADS_1
"Kakek ada anak muda yang tersesat di desa ini, biar kakek temui dulu, kalau sudah letakan saja di meja biar kakek yang ambil. Kamu jangan keluar."
"Baik kek."
Si kakek pun keluar menemui Rendra, dan duduk di samping Rendra mengajaknya bicara.
"Anak muda ada tujuan apa kamu datang alamat itu?."
"Saya mencari istri saya kek, dia pergi dari rumah." ungkap Rendra.
"Pasti ada alasan dia pergi dari rumah, apa kamu benar-benar mencintai istri mu, kalau tidak sebaiknya kamu pulang saja, biarkan dia hidup tenang." Tutur Kakek
"Kalau saya tidak mencintai nya tidak mungkin saya mencari istri saya sejauh ini kek."
"Kalau kamu mencintainya kenapa kamu biarkan dia pergi, seharusnya kamu bisa tahan dia sebelum pergi meninggalkan rumah kalian."
"Mungkin kata-kata saya sudah menyinggung perasaannya kek, tapi sebenarnya saya tidak bermaksud untuk menyakiti hatinya. Mungkin saya terlalu cemburu dia berpenampilan seksi bukan untuk saya kek tapi untuk pria lain, ya itu Sabahat ku sendiri."
"Kamu kenal berapa lama dengan Istrimu?."
"Sudah 6 tahun kek."
"Sudah 6 tahun tapi kamu belum mengenal sifat Istrimu?, sungguh bodoh!, bagaimana kalau semua tuduhan mu itu tidak benar?."
Kenapa kakek ini seperti sedang menyidang ku. batin Rendra.
"Kalau kamu ketemu apa yang akan kamu lakukan?."
"Saya akan minta maaf sama istriku, dan aku pastikan itu tidak akan terulang lagi." Kata Rendra.
"Tunggu Kakek akan ambilkan minum."
Si kakek meninggalkan Rendra di luar, Tania penasaran dengan siapa kakek nya berbicara.
Tania mendengarkan dari balik pintu, sontak saat si kakek membuka pintu.
"Ndok, sendang apa kamu di situ?."
"Saya penasaran kakek siapa sih yang bersama kakek?."
"Kasih di handuk, kasihan dia kedinginan."
"Baik kek."
Tania ke belakang mengambil handuk dan juga pakaian ganti seadanya.
...----------------...
__ADS_1