Menikah Dengan Pria Arogan

Menikah Dengan Pria Arogan
Bab 38


__ADS_3

Malam itu Lexsi bertemu Vania di tepi jalan, entah kenapa malam-malam Vania jalan sendirian wajahnya seperti sedang banyak pikiran. Lexsi pun menepikannya mobilnya tepat hadapannya. Lexsi membuka kaca mobilnya.


"Vania.." panggil Lexsi.


Vania mengerutkan keningnya, melihat Lexsi Ia mempercepat langkahnya.


"Vania tunggu." kata Lexsi


Lexsi mengejar Vania, lalu menarik tangan Vania, akhirnya Vania menghentikan langkahnya.


"Mau apa lagi?, belum puas kamu sudah menghancurkan semuanya."Pekik Vania.


"Oke gue minta maaf, gue akan tembus semua kesalahan gue, lu ikut gue sekarang.., please gue ingin selesai kan semuanya." Sambung Lexsi.


Vania pun dengan langkah berat mengikuti Lexsi masuk ke dalam mobil, duduk di samping Lexsi mengemudi, tak ada suara diam menggigit kuku panjangnya.


selamanya perjalanan Vania Larissa yang memiliki tubuh seksi itu, tidak tau kemana tujuan Lexsi membawa dia pergi, Vania seperti pasrah dengan keadaannya, di sisi lain Vania Larissa hatinya miris melihat orang tuanya yang masih membutuhkan biaya pengobatan yang mahal, dengan begitu Vania mencari jalan pintas untuk mendapatkan Pria kaya untuk mencukupi kebutuhannya.


Lexsi membelokan mobilnya ke sebuah tempat yang penuh dengan musik, apa Vania protes?, jawabannya tidak. Vania enjoy dengan irama Hose musik, pengunjung yang ramai, lampu disko berkrlipan alu-lalang pengunjung yang datang untuk berpesta ria.


"Minim lah." Lexsi memberi satu gelas kecil minum beralkohol.


Seketika Vania menenggak minuman yang di berikan oleh Lexsi. Minuman itu membawa Vania dalam ketenangan dia berjoget tanpa memandang sekelilingnya.


"Gimana lu sudah bisa happy?." tanya Lexsi sedikit teriak karena suara musik yang begitu keras.


"Gue...!, Happy banget terimakasih, Aaaahk!." Vania memeluk tubuh Lexsi.


Di tempat lain tepatnya di sebuah pedesaan jauh dari rumah hanya ada pondok kecil yang pemiliki nya sudah tua, dia adalah kakek Tania yang sudah lama tidak pernah di kunjungi.


Tania mengadu kan semua masalahnya pada kakeknya.


"Aku sudah capek Mbah, sepertinya aku ingin berpisah dengan suamiku saja." Lirih Tania.


"Pikirkan dulu sebelum bertindak, tanya kan dulu permasalahannya, jangan sampai setelah bercerai dengan suamimu nanti kamu akan menyesal di kemudian hari, Allah tidak menyukai perceraian tapi di perbolehkan jika suami sudah tidak memberikan lahir dan batin, kamu boleh meminta cerai." Ungkap kakek Tania.


Tania berderai air mata, tidak bisa menjawab apa-apa selain mendengarkan nasehat kakeknya.


"Kata-kata yang diucapkan oleh suamiku sungguh sangat tidak ironis karena aku sendiri saja tidak tahu apa kesalahan ku kek."


"Sing sabar Ndok, coba kamu selesaikan dengan suamimu, apa penyebab dia sampai segitu marahnya sama kamu, pasti ada alasannya." Ujar kakek Tania.


"Baik lah kek, aku akan pikiran lagi, tapi boleh kan aku sementara tinggal disini?."


"Boleh saja, kakek senang kamu ada disini, Kakek akan ijinkan kamu pulang jika suamimu menjemput kemari, sekarang tidur sudah malam."


"Iya kek."


Tania merebahkan tubuhnya yang terasa rentak setelah perjalanan jauh.

__ADS_1


Alkohol membawa Vania hilang kesadaran, langkahnya merayap di olah tuntun Lexsi menuju parkiran.


Hai! kamu perduli apa dengan ku. Vania memukul wajah Lexsi.


"Vania Are you alright?"


Hahahaha! bodoh aku telah tertipu oleh ketampanan mu Rendra!.


Lexsi tidak tahu harus membawa Vania kemana, alhasil Lexsi membawa Vania ke sebuah hotel, melihat Vania yang sudah tidak sadarkan diri Lexsi terpaksa membawa Vania ke sebuah hotel.


"Selamat malam pak ada yang bisa saya bantu?." kata mba penjaga Resepsionis.


"Mba saya minta kamar VIP, lantai dasar masih ada?." tanya Lexsi pada mba penjaga Resepsionis.


"Sebentar saya cek dulu ya pak."


Tidak lama menunggu Lexsi mendapatkan jawaban dari si Mba nya."Kebetulan masih ada tersisa satu kamar apa bapak mau?."


"Iya mbak, sebentar saya bawa teman saya dulu masih ada di dalam mobil." kata Lexsi.


"Baik pak, saya akan siapkan dulu kamar nya silahkan mbak tunggu dulu atau bapak langsung saja ke nomor 123."


"Baik terimakasih, pembayaran langsung saya debit card ya Mba?." Ujar Lexsi.


Selesai urus pembayaran Lexsi menjemput Vania yang masih berada di dalam mobil. Lexsi kembali merangkul Vania yang sudah tidak sadarkan diri. Di hantar si pegawai Hotel menuju kamarnya yang sudah disiapkan.


Lexsi merebahkan tubuh Vania di kasur, Vania memuntahkan cairan di pakaian Lexsi.


Au! sit menyusahkan sekali. gerutu Lexsi dan terpaksa Lexsi membuka pakaiannya


Karena Lexsi pun pengaruh minuman tanpa sadar Vania memeluk tubuhnya Lexsi terkejut dengan pemilikannya yang tiba-tiba terbangun Lexsi mulai menyentuh tubuhnya.


Singkat cerita Lexsi terkejut kalau Vania masih gadis belum pernah ternodai.


Ternyata dia masih gadis. Bagaimana kalau dia minta pertanggung jawaban dari gue. Aaaahk! Lexsi menjambak rambutnya prestasi.


Sementara Vania hanya duduk menekuk tanpa ada penyesalan.


"Kenapa kau begitu santai?." kata Lexsi.


"Aku harus jawab apa semua sudah terjadi, sekarang kamu harus membayar sejumlah uang yang aku butuhkan." Ujar Vania.


Lexsi menyodorkan ponsel nya."Kamu ketik nominal yang kau butuhkan."


Jumlah yang Vania ketika cukup besar." Gila?, apa kau ingin memeras ku?."


"Kau transfer atau kau nikahi aku?."


"Gue tidak mungkin menikahi mu."

__ADS_1


"Kenapa tidak mungkin usia mu, sudah cukup matang, bahkan aku sangat tua."


"Hai! kau bilang apa aku sudah tua?."


"Iya tua, disana ada cermin sebaiknya kau bercermin, apa kau masih muda atau sudah tua."


"Aku menyesal telah membawa mu kemari, kalau tahu seperti ini, sudah aku tinggal di diskotik tadi."


Seratus juta bukan lah jumlah yang sedikit, Vania benar-benar memanfaatkan Lexsi Bahakan dia tidak terlalu mabok, cairan darah itu bukan darah yang keluar dari pemilikannya, tapi sebuah cairan darah yang sudah dia siapkan pada saat Vania akan menjebak Rendra, banyak sekali di jual belikan di toko online.


Terpaksa Lexsi menansfer uang yang sudah Vania Larissa ketik ATM bengking nya.


"Saya tidak ingin sampai awak media mengetahui kejadian ini. Kalau sampai bocor, habis riwayat keluarga mu." Ancam Lexsi lalu pergi meninggalkan Vania si sebuah hotel.


Sial! enak sesaat, kemudian pahit. Gerutu Lexsi kesel.


Dunia Rendra seakan runtuh dalam sekejap kemudian mengisi penyesalan. Andhra masuk ke dalam kamar melihat Rendra mengurung diri di kamar, seharian penuh Rendra tidak makan tidak masuk apa pun ke dalam perutnya.


"Papi, Mommy mana?." rengek Andhra.


"Iya boy, besok pagi papi cari mommy lagi ya?, sekarang tidur lagi sudah malam."


"Aku tidak mau tidur aku mau mommy."


"Iya Boy, papi pasti akan bawa mommy pulang, tapi sekarang tidur ya papi hantar ke kamar oke."


"No Papi!."


Aku terlalu egois, Tania kamu dimana?. Lirih Rendra.


Tania berusaha memejamkan matanya, tapi tetap saja tidak biasa, teringat putranya Andhra, apa disana baik-baik saja. Tania mengambil ponselnya ternyata ponsel itu tidak berfungsi kendala internet yang tidak ada jaringan.


Tidak ada jaringan, apa separah ini tidak ada jaringan. Tania mencari jaringan naik ke atas.


"Tania..., nanti kamu jatuh, turun lah." kata si kakek.


"Sebentar kek cari jaringan, apa desa ini sulit internet?."


"Kalau kamu cari jaringan kamu naik ke atas gunung baru dapat?."


"Hah! gunung, kenapa kakek begitu betah disini?, semua serba sulit disini."


Rumah mewah yang berbeda di tengah-tengah pedesaan itu, hanya satu rumah warga yang terbilang cukup besar ya itu rumah kakek nya Tania, walaupun begitu Kakek tua itu memiliki banyak pohon karet dan juga sarang walet yang gedungnya melebihi tinggi menara.


"Kalau mau kamu pergi ke gedung walet disana pasti ada jaringan, kalau di sini jangan harap kamu mendapatkan internet lagi pula sekarang sudah malam, lebih baik kamu istirahat besok lagi." Ujar kakek.


...----------------...


Yuk mampir lagi ya.

__ADS_1


__ADS_2