
Rendra menelpon orang kepercayaan nya, Rendra menempatkan mereka yang jauh dari kediamannya.
Kembali nya dari kantor Rendra melihat kondisi rumahnya, setelah melihat keadaan aman baru lah Rendra masuk ke dalam, nampak sepi. langkah lamban kaki, mata mulai mengitari seluruh ruangan hingga tiba di sebuah kamar nampak tertutup.
Tania!.
Sejak kejadian tadi siang di sebuah hotel Rendra takut akan terjadi sesuatu pada istrinya. Tania.
Rendra menerobos pintu tak terkunci, tak nampak Tania di dalamnya.
Tania!. panggil Rendra.
Tania!. Rendra nampak panik.
Tania...!. Teriak Rendra sembari menjambak rambutnya mata pun mulai berkaca-kaca, sekuat hati untuk menahan air matanya, namun bulir bening air mata itu lolos begitu saja.
Di balik pintu yang sedikit terbuka ada mata yang memperhatikan Rendra nampak gusar karena kehilangan Tania.
Rendra menghubungi seseorang melalui ponsel nya.
[Cepat cari istri saya sampai dapat!]
Klik.
Sebelum seseorang menjawab Rendra sudah mengakhiri telponnya.
Sabar sayang Mas pasti akan menemukan mu. gerutu Rendra.
Ada kekhawatiran terselip di hati Rendra atas kehilangan Tania.
Wanita itu mengerutkan keningnya "Begitu besar cinta mu pada Tania sampai kau melupakan akan semua kenangan manis bersama ku, dan janji mu untuk menikahi ku."Gadis itu mengepalkan tangannya entah siapa yang sudah berani mengijinkan dia masuk tanpa seijin Rendra.
Kemudian Rendra bergegas keluar dari kamar gadis itu segera bersembunyi di balik dinding sebelah kamar Rendra. Kemudian Rendra menutup kembali pintu nya lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, bermaksud ingin mencari keberadaan Tania, dengan usahanya Rendra yakin akan menemukan Tania.
Melihat jam tangan sudah pukul 10 malam, Rendra mengretak kan rahangnya bagaimana pun caranya malam ini dia harus menemukan Tania, tapi sampai saat ini orang-orangnya suruhannya belum juga mengabari nya.
Wajah cemas Rendra telah di perhatikan oleh seseorang yang memantau nya dari kejauhan, dengan cara ini, Ia yakin kalau Rendra tidak akan fokus mengurus perusahaan otomatis perusahaan itu akan pengaruh dengan kehilangan Tania.
Ting!. Pesan masuk.
Rendra segera membaca pesan tersebut sepertinya dari Andhra yang mengirim lokasi keberadaan Tania.
Rendra segera menghubungi putranya. Andhra.
[Halo sayang, kamu tidak sendang bercanda kan?.]
[Tidak, papi segera selamatkan Mommy.]
[Oke sayang terimakasih.., kamu emang anak yang bisa di andalkan.]
Klik.
Rendra menutup telponnya.
Andhra memang menguasai akses internet dia juga bisa mendeteksi keberadaan siapa pun melalui GPS tracker pelacak keberadaan Tania dengan begitu Rendra dengan mudah menemukan Tania.
__ADS_1
Rendra melaju dengan kencang mengikuti RUTE lokasi yang di tuju, tanpa pengawalan Rendra bertekad untuk tidak memberi tahukan siapapun, karena petunjuk dari putaran belum tentu benar, Rendra masih saja meragukan kemampuan putranya.
Demi untuk mendapatkan Rendra, ia rela bekerja sama dengan Abercio Sanjaya yang jelas-jelas dia pasti akan membohonginya. "Cih! wanita bodoh mau saja dia aku bodohi mana mungkin aku akan sia-sia kan uang ku untuk memberi mu." Batin Abercio tersenyum puas atas apa yang sudah dia info kan keberadaan Tania.
Tiba di lokasi Rendra melihat gedung tua yang sudah rusak warna cet pun hampir pudar tapi disana sepertinya di jaga ketat.
Tapi Rendra sedikit pun tak menjurus pada Abercio Sanjaya, dalang dari penculikan Tania.
"Aku tidak akan bisa masuk sendiri, aku harus cari akal agar bisa menerobos masuk kedalam gedung itu." gerutu Rendra.
Rendra memundurkan mobilnya jauh dari lokasi, tiba-tiba saja ada tukang bakso melintasi tepat depan mobil Rendra.
Teng... Teng.. Teng.
"Bang bakso." panggil Rendra lalu keluar dari mobil menghampiri si Abang tukang bakso.
"Bakso pak?." kata si Abang tukang bakso.
"Pak saya beli semua bakso nya boleh?, tapi saya pinjam gerobak nya Sebentar."
"Wah maaf pak Mas tidak bisa kalau gerobak tidak kembali bagaimana?." ucap si tukang bakso.
Rendra menawarkan sejumlah uang yang cukup besar, kemudahan si Abang tukang bakso berpikir sejak.
"Bapak tunggu disini jangan kemana-mana ya pak, saya kan segera kembali."
Rendra pun mendapatkan anggukan dari si Abang tukang bakso. Sementara Rendra mencari apotek yang masih buka.
Kemudian Rendra mendapatkan apa dia mau lalu kembali menghampiri Abang tukang bakso. Sebelum membawa gerobak Rendra sudah mengisi di setiap mangkok nya dengan obat tidur dengan dosis yang cukup tinggi.
Teng...Teng...Teng.
Salah satu penjaga itu menelan ludah melihat bakso yang malam itu kebutuhan lewat.
Wajah Rendra yang memakai topi dan mengalungkan handuk kecil di lehernya penjaga itu tidak akan mengenalinya.
"Bakso bang." panggil si penjaga itu.
Rendra menghentikan gerobak nya tepat gedung.
"Berapa bang?." tanya Rendra sembari menundukkan kepalanya mengelap mangkok yang sudah di isi bumbu oleh si penjual bakso.
"Satu bang." katanya.
"Hanya sendirian pak, tidak takut di tempat sunyi ini, Bahakan jarang ada orang yang berani lewat gedung ini." Rendra sedikit menakuti-nakuti.
"Tunggu saya tanya teman dulu di dalam ada 5 orang."
Penjaga mulai terpancing dengan kata-kata Rendra barusan.
Si penjaga kembali dengan 5 orang temannya dan mereka tertarik dengan bakso di tengah malam sepertinya mereka sudah mulai kelaparan.
Dengan lahap menyantap bakso yang sudah di beri obat tidur, Rendra pura-pura mengelap keringat di dahinya dengan handuk yang melingkar di lehernya. Walaupun sedikit geli karena milik si tukang bakso tapi demi menyelamatkan Tania rasa geli itu telah di singkirkan oleh Rendra.
Tak..Tak..Tak, jam terus bergulir 5 menit setelah makan bakso si penjaga itu bersandar di tiang besar gedung, mereka memposisikan dirinya masing-masing tidak lama kemudian mereka tertidur, dengan keadaan bersandar.
__ADS_1
Rendra melambaikan tangannya di wajah penjaga satu-persatu setelah mereka tidak sadar kan diri Rendra segera menerobos masuk membuka setiap ruangan yang tertutup.
Kosong
Kosong
Kosong
Hanya tersisa satu ruangan tapi sepertinya sulit di buka, Rendra pun mendobrak pintu tersebut.
Nampak Tania dengan keadaan mulut di lakban dan tangan terikat.
Tania!, sayang Hayo kita segera keluar dari tempat ini.
Hemm..!,
Rendra membuka lakban dan ikatannya dengan sigap Rendra harus segera membawa Tania keluar dari gedung tersebut.
"Mas....," Lirih Tania.
"Nanti saja ceritanya, kita harus segera keluar dari tempat ini."
Tania mengangguk kepalanya bergegas bangkit melangkah dengan gandengan tangan Rendra.
Rendra segera menghampiri Abang tukang bakso dan meminta si Abang nya segera membawa gerobak nya lalu berjualan kembali.
Mobil Rendra pun segera melaju kencang.
"Aku takut Mas.." Lirih Tania bersandar di bahu Rendra yang sedang mengemudi.
Rendra mengusap pucuk kepala Tania dengan lembut, tapi tiba-tiba wajah Rendra berubah dia sengaja memposisikan dirinya sebagai pria yang mencintai istrinya.
"Saya sudah bilang kamu harus lebih waspada persaingan bisnis itu lebih kejam dari apa pun!."
Sontak Tania kenapa Rendra tidak-tiba berubah menjadi monster yang buas.
"Kalau tidak ikhlas menolong kenapa harus datang untuk menolong ku?."
"Kerena Andhra yang meminta ku tuk membebaskan kamu itu ibu dari anakku!."
Tania sudah tidak tahan dengan kata-kata Rendra yang sudah melampaui batas.
"Turun kan aku disini!!."
Tapi tak di hiraukan Rendra terus menginjak gas nya sehingga mobil itu lebih cepat sebelumnya.
"Mas stop aku bilang!" teriak Tania kesal
"Bisa diam tidak?, kalau tidak bisa diam aku kembalikan ke tempat tadi!."
Tania segera mengatupkan bibirnya, ia tidak ingin kembali ke tempat tadi.
...----------------...
Minal aidzin faidzin mohon maaf lahir dan batin semuanya
__ADS_1