
"Aku tidak minta apa pun mbok, aku hanya ingin Mas Rendra bisa lebih tegas terhadap Vania yang terus mengganggu ketenangan rumah tangga kami." Celoteh Tania matanya sembari berkaca-kaca saat ini hatinya sangat hancur.
"Sangat paham Mbok mengerti perasaan Non Tania, tapi Mbok minta jangan mudah terpengaruh oleh semua kata-kata neng Vania." Ujar Mbok mengusap punggung Tania.
Sudah satu minggu Tania tak banyak bicara alasan Vania Larissa lah Ia mendiamkan Rendra tak ada sarapan setiap paginya Tania selalu pergi ke kantor pergi lebih awal. Tanpa tahu suaminya alasan Tania berubah menjadi pendiam.
Rendra pun memutuskan untuk datang ke kantor cabang yang di pimpin oleh Tania, gusar karena saat Rendra terbangun dari tidurnya sang istri sudah tidak ada lagi disampingnya. Bahakan untuk membangun kan tidurnya atau mengajak nya sholat subuh pun suara merdu sang istri tak pernah lagi di dengar selama satu minggu belakang ini.
"Selamat siang pak Rendra." itu lah sapaan dari para pegawai yang menyambut kedatangan Rendra sebagai suami CEO perusahaan tempat Ia bekerja.
"Siang, apa Bu Tania ada di kantor?." tanya Rendra pada salah satu pegawainya.
Terlalu terburu-buru bahkan sampai lupa melihat mobil sang istri di area parkir.
"Sepertinya Bu Tania keluar makan siang." katanya.
Sampai lupa mobil Tania tidak ada di tempat dia parkir. batin Rendra.
"Terimakasih." Ucap Rendra singkat.
Sementara Tania pergi makan siang bersama teman-teman masa kuliahnya, di kafe yang tidak Rendra tahu, lokasinya persis sebrang depan jalan raya kefa, Tania asik bercanda dengan para sahabatnya, suasana sangat hangat tiba-tiba saja suasana itu menjadi panas melihat kedatangan Vania yang sudah berani memakai barang, tas milik Tania.
"Kurang ajar!." Gerutu Tania mengepalkan tangannya.
"Lu kenapa Tania?." tanya Maya dan Santi juga Iqbal semua terdiam saling menatap satu sama lain.
Santi mengangkat kedua bahunya menandakan bahwa ia tidak tahu ada yang terjadi pada salah satu sahabatnya itu.
"Hai!, guys menurut kalian aku cantik atau tidak?." tanya Tania penuh penekanan sembari melirik Vania yang sedang duduk di meja depannya.
"Yap siapa sih yang tidak mengenal Tania Putri Sapto terkenal dengan julukan Miss universitas Indonesia yang berhasil mewakili kampus kita ya nggak?, guys." Jawab Maya yang mengerti permasalahan Tania.
"Maka dari itu karena gue cantik, gue si ogah disebut merampas hak milik orang lain." Sindir Tania.
Dan! itu mampu membuat Vania berdiri dan menghampiri meja Tania.
Byur. air minum itu mengguyur tubuh Tania.
Kurang ajar lu ya!.
Plak!
Plak!."Ini buat orang macam lu tidak tahu diri. Tania masih menggenggam rambutnya.
__ADS_1
Vania menyerang balik tapi itu tidak sampai terjadi para teman-teman Tania membekapnya.
Kafe hari itu hancur berantakan pengunjung pun berhamburan keluar. Pemilik kafe marasa di rugikan Ia teriak.
Stop!. Manager pun meneriakinya.
Melihat tubuh Vania yang berantakan Tania merampas tas miliknya.
"Kalian kalau mau ribut jangan disini, akibat kalian saya mengalami kerugian besar." kata pak manager.
"Maaf pak, total semua kerugian yang sudah saya rusak." kata Tania.
Lain dengan Vania yang diam-diam kabur dari tempat tersebut.
Setelah totalan yang sudah Tania rusak jumlah yang sekian juta, pemilik restoran pun memanfaatkan kejadian itu.
"Itu nggak salah pak jumlah yang sudah bapak hitung?." protes Maya.
"Ya sudah kalau tidak mau saya bawa masalah ini ke Rana hukum."kaya si pak manager.
"Sudah-sudah.., berikan nomornya biar saya transfer ke nomor rekening siapa harus transfer?."
"Rekening saya Mbak." dengan sigap bapak manager menjawab.
Tania celingukan mencari Vania yang sudah pergi dari tempat itu.
Tiba-tiba saja Tania dikagetkan dengan kedatangan Rendra."Tania..." panggil Rendra dengan langkah gagah Rendra menghampiri Tania.
"Mas kamu tahu dari mana aku disini?."
"Itu tidak penting aku tahu dari mana, sekarang ikut aku pulang." Rendra menarik tangan Tania.
"Nggak!." Tania menepis tangan Rendra.
"Mas.., lepas tangan aku sakit."
"Kamu harus pulang." Rendra mendorong tubuh Tania masuk kedalam mobilnya.
"Kamu mau nya apa sih?, semakin tidak mengerti dengan perubahan sikap kamu." Ucap Rendra
Tania tidak menjawab semua Celotehan suaminya. Dia asik duduk mendengarkan musik. Tania menaikkan volume music nya.
Cittttt!
__ADS_1
Hampir terpental tiba-tiba Rendra mendak ngerem.
"Keluar kalau tidak mau mendengar kan aku." Ucap Rendra.
"Baik, ini kan rasanya tidak di hargai?, sama Mas.., rasanya saat aku tidak di hargai oleh suamiku sendiri." Jawab Tania meraih tas nya lalu keluar dari dalam mobilnya.
Jbret! banting pintu mobil.
Pria bertubuh kekar yang berstatus sebagai suaminya itu menarik nafasnya panjang.
"Tania..." Rendra mengejar Tania.
Rendra menarik tangan Tania."Sayang maafin aku, meskipun aku tidak mengerti dimana letak kesalahan aku, masuk lah ke mobil kita bicarakan di rumah."Kata Rendra.
"Sudah lah mas aku capek berdebat terus-menerus aku tidak mau sampai Andhra mendengar semua perdebatan kita."
"Oke...oke, kita pulang ke rumah Dady kita bicarakan disana."
Tania pun mengikuti permintaan suaminya, masuk kedalam mobilnya, Tania diam menatap kaca samping mobil, dengan kecepatan mobil Tania mulai meredam emosinya, Ia takut akan kehilangan kendali Tania mengalah walaupun hatinya masih terasa sakit."Bahkan Mas Rendra tak bertanya kepada mengenai wajahnya dan pakaianku yang basah oleh minuman yang sudah Vania tumpahkan ke wajahku."
Tubuh Tania membeku sebelum Rendra menghentikan mobilnya di tepi jalan raya. Ia mengambil tisu mengelap wajahnya penuh kelembutan. Rendra mendapati Tania wajah dan tubuhnya basah kuyup."Apa apaan ini?." Rendra segera menyingkirkan tangannya dari wajahnya.
Tania memalingkan wajahnya rasanya enggan menyentuhnya pakaian tipis yang membalut tubuh istrinya Rendra mengamatinya, rasanya berat untuk menegur Tania.
Dalam perjalanan pulang Tania menceritakan kejadian bagaimana Vania menyiram wajahnya.Ya tuhan seperti ini kah suamiku tidak perduli kan aku. Gumam Tania.
Sementara Rendra menyimpan kebencian terhadap Iqbal yang notabene nya merupakan pria yang diam-diam mencintai Tania, di sisi lain Tania mengenakkan bagi atasannya Dengan pakaian tipis dengan sedikit belahan di dadanya.
Tania menyentuh dagunya menatap wajahnya.
Beberapa lama kemudian mereka sampai di rumah. Rumah terlihat sepi, sepertinya semua orang sudah tidur siang karena semua asisten rumahnya Rendra maupun Tania meminta asistennya untuk tidur siang. Tania masuk ke kamarnya segera mengganti pakaiannya.
Rendra berbaring menyandar kan kepalanya di bahu rajang mengenakan pakaian santai menghubungi orang kepercayaan untuk mengurus pekerjaan nya hari ini.
Tania keluar dari kamar mandi mengenakan pakaian gaun setengah pahanya. Benar saja dugaan Rendra di balik gaun tidurnya Tania tidak mengenakan apa-apa.
Rendra menelan ludah dengan perasaan hampa, Ia segera merapikan celananya pendek yang di kenakan untuk membetulkan posisi miliknya. Sementara Tania dengan sengaja memakai handbody dengan mengangkat satu kakinya di atas meja riasnya.
Lagi-lagi Rendra menelan ludah nafas Rendra terengah-engah."Uhuk.!' Rendra terdesak air liurnya sendiri dan terbatuk dengan keras.
"Mas.., kenapa?." tanya Tania sembari memberikan air mineral pada suaminya Tania menyeringai puas.
...----------------...
__ADS_1
Mampir lagi yuk.