
Jakarta di juluki kota yang tidak pernah mati di malam hari, lampu gemerlapan di sepanjang jalan. Malam itu jakarta sempet di guyur hujan. Di sela-sela berhentinya hujan malam ini lumayan dingin.
Di sebuah Balkon atas, Rendra mendekap erat kedua kakinya, dengan wajah menunduk. Pikirannya berkecamuk dalam kesunyian. Semua orang meninggalkan nya, ia beranggapan ini tidak adil buat Rendra, di saat Ia sedang terpuruk dalam dilema besar keluarga kecilnya, orang tuanya pergi jauh meninggalkan nya.
Rasa dingin itu memicu timbulnya berbagai macam pertanyaan, apa kah orangnya membencinya, Oh tidak. Itu tidak akan pernah terjadi, aku hanya memiliki satu orang tua tunggal.
Tania Andhra kalian dimana?, Papi sangat merindukan kalian. Bulir-bulir bening dari dua matanya lolos begitu saja, sepertinya ini bukan Rendra yang harus menahan sakit hatinya karena seorang wanita.
Di negara lain, Tania harus menjalani perawatan di rumah sakit terhebat di Jerman Dokter Andreas, sudah 20 tahun berpengalaman dalam melayani berbagai macam karakter pasiennya saat ini. Tomi memiliki rekomendasi dari dokter Jery psikolog terbaik di Jerman yang bukan sembarang psikolog, tempat diseleksi dengan ketat dan dipastikan selalu memberikan layanan terbaik.
"Opa Mommy baik-baik saja kan?," tanya Andhra khawatir dengan kondisi ibu nya.
"Mommy baik-baik saja sayang, kamu tenang saja mommy pasti sembuh seperti dulu."Ujar Tomi memberikan pengertian pada Cucu nya.
"Tapi kenapa mommy di pindahkan?." tanya lagi Andhra yang di seusianya serba ingn tahu.
"Mommy di pindahkan agar mendapatkan perawatan yang jauh lebih baik, di rumah sakit ini dokter tidak bisa menangani sakit Mommy."Sambung Tomi.
Andhra berpikir sejenak sepertinya dia belum mampu untuk berpikir sejauh yang di katakan kakeknya, Apa itu Psikolog. Andra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Walaupun tidak paham anggap saja paham yang maksud kakeknya itu.
"It's fine if it's best for mommy"
"Yes, of course Grandpa will look for a great doctor in this country"
Apa saya harus memberitahu kan Rendra, sepertinya saya orang tua yang egois, tapi ini juga karena ulah nya. Gumam dalam hati Tomi.
Di sela-sela pemindahan Tania dari rumah sakit ini ke rumah sakit lain, di samping dokter Jery yang akan menjadi dokter pendamping Dokter Andreas, atas persetujuan Tomi.
Berita mancanegara pun muncul di salah satu stasiun televisi. Menantu deretan orang hebat di Indonesia telah menjalani perawatan di rumah sakit CVTD. Sepertinya berita mengenai Tania bocor dan tersebar di media.
"God damn it! siapa yang sudah berani menyebarkan berita menantuku." Gerutu Tomi memijat pelipisnya.
Tomi menghubungi Jeri. [Temui saya sekarang.]
[Baik Tuan saya segera menemui tuan.]
Klik.
Tomi menutup telponnya, wajahnya murka bagaimana kalau sampai Rendra mengetahui berita ini, rencananya akan sia-sia setelah sekian lama di susun dengan rapi. Tomi mengretek kan rahangnya.
Tok Tok Tok. Permisi tuan.
"Ya silahkan masuk."
__ADS_1
"Tuan manggil saya?."
"Ya silahkan duduk Jery, ada beberapa pertanyaan yang mengganjal di pikiranku."Ucap Tomi sambil mengisap sebatang cerutu termahal.
Asap itu mengerumuni seluruh ruangan, namun harum cerutu termahal itu semerbak aroma kopi.
"Jery bisa kamu jelaskan kenapa berita mengenai Tania tersebar di media?." tanya Tomi berharap Jery akan mengetahui kebocoran sakitnya Tania.
"Jujur saja, saya juga tidak paham Tuan, tapi saya akan cari tahu siapa yang menyebarkan berita ini."Jawab Jery santai.
"Baik, saya percaya sama kamu, kamu tahu kan kalau sampai Rendra mengetahui berita ini, dia pasti membenci saya yang beranggapan saya sudah menyembunyikan rahasia Tania."
Jery mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda Ia mengerti apa di khawatir kan Tuan Tomi.
"Baik tuan saya akan segera mencari tahu di rumah sakit sebelumnya Tania di rawat, saya permisi dulu Tuan."
Flashback
Di tempat lain tepatnya di rumah sakit Tania di rawat sebelum di pindahkan. Ada beberapa orang suruhan Abercio Sanjaya yang yang mengetahui keberadaan Tania dan berpisah nya Tania dan Rendra, Ia ingin menghancurkan hubungan Rendra dan Tania, mereka menghubungi wartawan media tentunya orang penting ada seperti Tomi akan berdampak hubungan anak dan orang tuanya.
"Bagus!, cepat kalian hubungi media sebarkan berita mengenai Tania. Hahahaha." Tertawa puas Abercio Sanjaya.
Abercio Sanjaya, merasa berada di atas angin dengan rencana ini ia pastikan Rendra akan beranggapan Papanya selingkuh di belakangnya dengan istri tercintanya.
Ting.
Ponsel Rendra menyala, saking sibuknya meeting Rendra mengabaikan pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Rendra memencet tombol merah untuk mematikan ponselnya.
Romi diam-diam menyodorkan ponsel miliknya terdapat Tania yang dengan terbaring di ranjang rumah sakit.
Deg!
"Berita kapan itu?" tanya Rendra berbisik pada Romi.
"Sepertinya sudah tiga bulan Tania di rawat, tapi beritanya baru beredar."Tutur Romi.
Rendra mengepalkan tangannya, bergegas meninggalkan meeting hari itu. Ia segera menghubungi Papanya, Rendra pikir papanya pasti tahu.
Tut..Tut.
Rendra!.
Saya sudah philing kalau Rendra akan cepat ini mengetahui berita beredarnya Tania sakit.
__ADS_1
Dengan ragu-ragu Tomi menggeser tombol hijau yang tertera di layar ponselnya.
"Dad jelaskan apa benar yang ada di berita?" Tanya Rendra sembari bergetar bibirnya menahan emosi.
"Benar, gara-gara kamu Tania depresi dia harus menjalani perawatan Psikolog Dady tidak ingin Tania semakin tertekan dengan masalahnya."
"Dad!, tapi saya masih suami Tania saya berhak tahu mengenai perkembangan Tania, Dad tolong ijinkan saya merawat Tania."Rendra memohonkan pada papa nya.
Tomi terdiam tidak bisa menjawab semua pertanyaan Rendra, ada benarnya Rendra masih suami Tania, tapi kalau tapi kalau saya kasih tahu Rendra apa tidak berdampak buruk dengan keadaan Tania yang sekarang mengalami depresiasi berat.
"Dad jawab!." cecar Rendra
Tomi menarik nafasnya panjang, rasanya berat untuk menyembunyikan rahasia ini dari Rendra.
"Dady akan bicarakan dulu dengan dokter apa boleh kamu menengok Tania."
"Kenapa mesti ijin Dad, kasihan Andhra kalau tidak ada yang menjaganya."
"Sabar dulu."
Klik
Tomi mengakhiri telponnya.
Aaaahk! Rendra menyapu meja kerjanya hingga benda yang ada di atas meja berserakan dimana-mana ruang kerja pun hancur oleh amarah Rendra.
Rendra mengangkat gagang telepon yang ada di atas mejanya.
[Romi siapkan tiket penerbangan saya ke Jerman.]
[Tapi Ren, besok ada peluncuran produk baru kita membutuhkan kamu disini."
[Bodoh! kamu bisa atur jadwal selanjutnya.]
Romi yang hanya sebagai karyawan biasa tentunya dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti perintahnya.
"Baik, akan ambi penerbangan bisnis."Ujar Romi
Aku tidak peduli Dady mengijinkan atau tidak aku akan datang untuk kamu Tania, maafkan Mas.., sabar sayang Mas pasti menemukan kamu. Gerutu Rendra penuh dengan keyakinan.
...----------------...
Mampir lagi yuk
__ADS_1