
Kenan yang baru saja sampai Kota B mereka langsung memesan 2 kamar hotel untuk 2 hari kedepannya, Azi dan Kenan langsung menuju kamar masing-masing.
"Rindu pada Alice hu, padahal baru sebentar berpisah."Kenan membaringkan tubuhnya di kasur empuk.
Kenan mengirimkan pesan pada Terry kalau dia berada di kota B dan ingin bertemu dengan mereka.
Kenan
β Terry, aku berada di Kota B.
Terry
β Benarkah?π€
Kenan
β Benar bisa aku ke rumah mu?π
Terry
βBisa malam ini datanglah.π
Kenan
βBaiklah, tapi aku akan membuat sedikit Kekacauan.π
Terry
β Sudah tidak apa.π
Kenan
β Sampai jumpa malam ini.π
Di dalam kamar Azi ia sangatlah cemas, bagaimana tidak cemas ia akan bertemu cinta pertamanya, dan sampai sekarang masi tetap di hatinya.
Azi penasaran Kenan sudah membuat janji apa belum dengan Terry. Azi mengambil ponselnya dan mengirim kan pesan pada Kenan.
Azi
π Ken.π
Kenan
π Ada apa Zi?π€
Azi
__ADS_1
πKau, sudah menghubungi teman mu?
Kenan
πSudah tunggulah sampai malam hari.π
Azi langsung senang ia mulai membersikan dirinya, Azi mencukur semua bulu-bulu halus di wajahnya, ia juga memotong rambut agar terlihat lebih muda.
Azi Memakai masker wajah agar ia terlihat lebih segar ketika bertemu dengan Lidiya nanti.
π Rumah Kenan Alfaroπ
Alice terkejut karena tubuhnya di senggol oleh Riska. Alice tertidur di kamar tamu ia terbangun saat Riska datang.
"Ce!" teriak Riska membuat Alice spontan bangun dan melompat.
"Eh, dasar teman laknat." ucap kesal Alice ia menoyor tubuh Riska. Namun Riska justru mala tertawa-tawa.
"Elo Ce gue cariin dari tadi, eh rupanya dia malah molor." ucap Riska yang tersenyum melihat wajah cemberut Alice.
"Gue ketiduran." ucap Alice lemas ia langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Riska ikut menidurkan tubuhnya di samping Alice.
"Elo kenapa enggak kuliah lagi Ce? " tanya Riska yang memandangi kamar tamu. Ia tidak pernah menempati kamar seindah ini.
Riska yang hidupnya pas-pasan, ia tidak pernah mengeluh sebab itulah ia kuliah di Kota, agar ia bisa membantu keluarganya kedepannya.
"Gue hamil Ris males kalau kuliah lagi." ucap Alice dengan santai.
"Ya udah terima aja." ucap Alice.
"Iya, tapi dua bulan lagi sesudah gue tamat Ce." ucap Riska dia sangat menyukai kamar tamu Alice, Riska tinggal di kosan yang tidak ada kasur sama sekali.
Alice dan Riska saling mengobrol dan tertawa bersama mereka sangatlah dekat dari awal masuk Kuliah.
Riska sangat senang mendapat teman seperti Alice meskipun Kaya tapi Alice tidak pilih-pilih teman.
.
.
Malam hari di Kota B Kenan yang sudah bersiap dia menunggu Azi dibawah. Kenan sudah lama menunggu Azi yang tak kunjung datang.
Dasar tua bangkeh, kalau bukan mertuaku sudah ku Pecat dia lama sekali dia datang. Batin Kenan.
Kenan yang sudah memasang wajah cemberut akhirnya Azi turun, terlihat Azi sangatlah tampan malam ini dan terlihat lebih mudah.
"Ayo kita berangkat menantu tersayang ku." ucap Azi yang berlalu pergi, Kenan hanya bisa membuka mulutnya ia tidak percaya akan penampilan Azi yang sangat jauh beda seperti biasanya.
__ADS_1
Setelah mereka menaiki Mobil, Kenan melajukan mobilnya menuju kediaman Terry setelah 15 menit mereka telah sampai.
"Ayo turun, kita sudah sampai Zi." ucap Kenan yang hendak keluar, namun Azi masih saja terdiam.
"Ken, jantung ku berdebar sangat kencang." ucap Azi sembari memegang dadanya.
Kenan Tersenyum."Sudahlah ayo turun kita temui anak mu." Kenan langsung turun dan Azi mengikuti Kenan.
Setelah mereka turun Kenan membawa Azi kedalam dan terlihat Terry sudah menunggu mereka.
Deg.!
Lidiya Kau masi terlihat seperti dulu. Batin Azi.
"Ken. Aku senang kau datang kesini lagi." ucap Terry yang memeluk Kenan.
Mata Lidiya langsung mengeluarkan air mata ia tak kuasa melihat wajah Azi, rasa di hatinya masi sama seperti dulu.
"A-Azi."ucap Lidiya terbata-bata sungguh ia tidak sanggup melihat wajah yang selalu dirindukannya.
"Lidiya ... "ucap Azi yang memandang Lidiya. Terry melihat Istrinya menangis langsung mendekati Lidiya.
"Ma ada apa, mengapa Mama menangis?" ucap Terry yang memeluk Lidiya.
"Dimana anak kita Lidiya?" ucap Azi membuat Terry membulatkan matanya. Lidiya langsung menangis begitu sakit hatinya mendengar Azi menanyakan dimana anak mereka.
"Anak, maksud mu apa?"ucap Terry.
"Anak ku dan Lidiya."ucap Azi dengan
bangganya.
Hati Terry seakan remuk selama ia menikah dengan Lidiya ia sangat ingin memiliki buah hati, namun takdir berkata lain. Terry yang di vonis tidak bisa memiliki keturunan.
.
.
.
...****************...
Bersambung.
Hay, teman-teman jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like Vote Favorit dan Komen.
__ADS_1
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.π