
Azi menatap wajah Riska.
"Om tidak tau sayang, nanti kita tanyakan kepada Alice."ucap Azi.
"Masi lama Om, kenapa om Kenan belum sadar."ucap Riska.
"Entahlah, dasar pengecut dia. Bisa-bisanya dia pingsang."ucap Azi.
"Sudah Om, sebaiknya kita jaga mereka saja."ucap Riska yang menunjuk bayi kembar yang masi didalam box bayi.
Riska sangat senang melihat bayi kembar tersebut, sama dengan Azi yang sangat bahagia ia sekarang sudah menjadi seorang Kakek.
Kenan perlahan membuka matanya ia melihat samping Alice tertidur lemas, Kenan perlahan mendekati Alice ia langsung menangis.
"Maafkan Mas sayang, ini semua adalah salah Mas."Kenan mengais tersedu-sedu dan para Suster melihat kearah Kenan.
Kenan mengais sejadi-jadinya ia tidak peduli di lihat banyak orang disana, hingga Alice tersadar.
"Mas, kenapa menangis?"ucap Alice pelan.
"Ini semua salah Mas sayang, kalau saja Mas tidak membuat mu hamil, kamu tidak mungkin berada didalam situasi ini."ucap Kenan dalam isak tangisnya.
Ya ampun, om Kenan bikin malu saja kalau aku sanggup memukulnya aku sudah menghajarnya, aku sangat malu di lihat banyak orang. Batin Alice.
"Mas, sudah kita di lihat banyak orang."ucap Alice pelan.
"Tapi sayang ... "ucap Kenan terputus.
"Mas, sudah."ucap Alice.
"Baiklah."ucap Kenan.
Perawatan datang ia memeriksa keadaan Alice.
"Sebentar lagi Ibu akan di pindahkan ke ruang rawat."ucap Perawat tersebut.
"Terimakasih."ucap Alice pelan.
Perawatan tersebut membawa Alice ke ruang rawat, setelah Alice memasuki ruangannya ia melihat Azi menggendong bayi kecil dan Riska juga menggendong bayi kecil.
Alice meneteskan air matanya, sebelum ia berbicara ia mendengar Kenan sudah menangis tersedu-sedu lagi.
"Sayang, maafkan Mas, kalau saja Mas tidak menghamili mu tidak mungkin kamu seperti ini."Kenan menangis tersedu-sedu ia bahkan tidak peduli adanya Azi dan Riska disana.
Ya ampun, aku sungguh tidak bisa menahan amarahku bisa-bisanya om Kenan tidak berhenti dengan kata-kata itu. Batin Alice.
"Hay, kau tidak malu dengan ucapan mu itu."ucap Azi ketus.
"Kau ini kenapa Ayah, aku sungguh sangat bahagia dan sedih saat ini."ucap Kenan yang mencium anak laki-laki yang di gendong Azi.
"Kau ini laki-laki, kau tidak malu di lihat orang, bahkan kau di lihat ibu tirimu."ucap Azi yang melirik Riska.
"Aku tidak peduli."ucap Kenan.
"Mas, hentikan. Tadi Alice sangat malu saat di rungan operasi, Mas selalu menangis sampai meraung-raung, dan banyak yang melihatnya."ucap Alice pelan.
"Ya ampun Kenan, kau sudah pingsan saja membuta orang yang didalam ruangan operasi panik dan membuat ku malu, di tambah kau mengais meraung-raung?"ucap Azi.
"Kalian ini kenapa, apa salahnya dengan ku, aku tidak sanggup melihat istriku di operasi dan aku sangat terharu melihat anakku."ucap Kenan.
__ADS_1
"Kau tidak salah, caramu yang salah mempermalukan nama laki-laki saja kau ini."ucap Azi.
Kenan mengambil anaknya yang di gendong oleh Azi, ia mendekati bayi laki-laki tersebut kepada Alice.
"Siapa nama mereka sayang?"ucap Kenan.
"Bayi laki-laki ini namanya, Dilan. Dan yang perempuan Dilara."ucap Alice.
"Namanya hanya itu saja?"ucap Kenan.
Alice tersenyum."Dilan Alfaro. Dilara Alfaro."
"Wah, indah sekali namanya sayang."ucap Azi.
"Benar sekali, Dilara kamu sangat cantik."ucap Riska.
Mereka sangat bahagia akan kelahiran bayi kembar Alice.
.
.
Bastian berada di pantai bersama dengan Saras mereka tidak menunggu kelahiran Alice sebab Saras merasa sangat takut, Bastian membawa Saras berjalan-jalan untuk menenangkan Saras.
"Sayang, lihatlah ini"ucap Bastian yang memperlihatkan ponselnya dan Saras melihat bayi kembar Alice.
"Lucu sekali sayang."ucap Saras.
"Benar, lihat nama mereka."ucap Bastian.
"Wah naman yang indah, Dilan Alfaro. Dilara Alfaro."ucap Saras.
"Bahkan kamu sayang bisa bermain dengan anak kita nanti."ucap Saras.
"Kamu ini, aku sangat menyayangimu."ucap Bastian.
Bastian dan Saras sangat bahagia melihat anak-anak Alice, mereka segera pergi dari pantai agar mereka bisa segera sampai rumah sakit.
Setelah mereka sampai rumah sakit mereka langsung menuju ruang rawat Alice, mereka masuk dan melihat Alice sedang menggendong bayi kecil dan lucu.
"Alice, selamat atas kelahiran anak kembar mu."ucap Saras.
"Terimakasih Tante."ucap Alice.
"Bas, lihatlah. Kau sudah memiliki adik."ucap Kenan.
Bastian mendekati Kenan dan memeluk Kenan.
"Tapi, Papa masih menyayangi ku bukan?"ucap Bastian yang bergelayut manja.
"Kau ini, kau sudah menjadi seorang Ayah dan masih saja manja. Berikan adik-adikmu mendapatkan kasih sayang Papa."ucap Kenan.
Seisi ruangan tertawa melihat tingkah Bastian yang seperti seorang anak kecil.
"Bastian, kau sudah besar."ucap Azi.
Bastian langsung menoleh kearah Azi.
"Om, maafkan kesalahan Bastian."ucap Bastian.
__ADS_1
"Kemari lah Nak."ucap Azi.
Bastian memeluk Azi dan Saras hanya melihat mereka saja.
"Om, sudah memaafkan mu. Dan kamu sekarang adalah cucuku."ucap Azi.
"Terimakasih Om."ucap Bastian.
"Hey, Bastian sekarang aku adalah Nenekmu."ucap Riska.
Sontak yang berada di ruangan itu semua tertawa melihat tingkah Riska ia memang terkenal suka membuat lucu.
"Elo ya Ris."ucap Alice.
"Hay, ingat aku Ibu tiri yang kejam."ucap Riska.
Alice langsung tertawa kecil ia sangat senang bisa merasakan kebahagiaan seperti ini, ia tidak membayangkan bisa merasakan kebahagiaan luar bisa seperti ini.
Hari-hari yang di lalui oleh Alice dan Kenan sangatlah bahagia mereka merawat Beby Dilan dan Dilara bersama.
Tak terasa waktu cepat sekali berlalu kini anak kembar mereka sudah berumur tiga bulan, wajah anak kembar mereka semakin gemas sebab tubuh mereka sangat gemuk.
Pagi ini Azi bersama dengan Riska datang untuk menjenguk Beby Dilan dan Dilara.
"Cucu-cucunya Kakek, semua sudah besar dan sangat menggemaskan."ucap Azi yang menggendong Dilan.
"Ayah juga akan memiliki anak lagi."ucap Alice yang tertawan.
"Tidak apa, ibu mu sangat menginginkan. Padahal Ayah sudah bilang tidak usah memiliki anak."ucap Azi.
"Om gimana si, Riska kan belum pernah punya anak."ucap Riska yang mengelus perut buncitnya.
"Baiklah tidak apa, sayang dimana Dilara?"ucap Azi.
"Oh, dia bersama om Kenan sedang mandi."ucap Alice.
"Oh, apakah cucu Kakek ini sudah mandi?"ucap Azi yang mencium wajah Dilan.
"Sudah Kakek."ucap Alice yang menirukan suara anak kecil.
Kenan datang bersama dengan Dilara yang sudah terlihat cantik dan wangi.
"Ada Kakek."ucap Kenan yang memberikan Dilara kepada Alice.
"Em."ucap Azi ketus.
Dasar tua bangkah, kalau bukan mertuaku sudah ku hajar dia. Batin Kenan.
.
.
.
Bersambung.
Hay, teman-teman jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.
Like Vote Favorit komen.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.