
Setelah berlama-lama di rumah Kenan, Aliya dan juga Riska bergegas pulang ke rumah, sebab sudah semakin sore yang artinya sang suami akan segera pulang, dia takut suaminya pulang mereka belum sampai di rumah.
Selama di perjalanan, Aliya terus-menerus diam, karena dia memikirkan bagaimana cara memberitahu sang ayah, akan pernikahannya dan juga Joni. Akankah sang ayah marah atau justru malah mendukung hubungan mereka? hal itu terus menjadi beban pikirannya.
'Jika ayah marah padaku dan tidak merestui hubunganku dan juga Joni, maka aku akan pulang ke rumah mama, aku rasa mama akan merestui hubunganku dan Joni. Tidak masalah jika aku harus pergi dari sini,' batin Aliya.
Aliya tidak memikirkan kemarahan sang ayah, karena ia berpikir hanyalah pernikahannya dan juga Joni harus bertahan sampai mau memisahkan mereka, jika semua orang tidak merestui hubungannya maka dia akan pergi bersama pria yang sangat ia cintai.
Setelah sampai di rumah, Aliya langsung bergegas masuk ke dalam kamar saya ingin berhenti baju terlebih dahulu barulah ia menjumpai sang ayah yang belum pulang ke rumah.
Sesudah ia bersiap ia pun ke luar kamarnya dan melihat ayahnya tengah duduk di ruang tamuz bersama dengan Riska dan juga Agam dia pun langsung menghampiri mereka dan duduk di tengah-tengah.
"Anak ini kebiasaan duduk di tengah-tengah. Kenapa tidak duduk di belakang?!" ucap Azi sambil mendorong Aliya maju ke depan.
Aliya pun pindah duduk ke samping Riska, karena dia kesel sama ayah menyuruhnya bergeser dan, menatap tajam pria itu dengan mata elangnya.
"Ayah, sebenarnya ada sesuatu hal yang sangat penting ingin Aliya sampaikan kepada Ayah dan juga Ibu," ungkap Aliya.
"Katakan saja! Kenapa harus meminta izin jika ingin memberitahu hal yang penting kepada kami?" sahut Azi.
"Benar sekali, jika ada hal yang sangat penting sampaikan saja kepada kami kenapa harus meminta izin?" tambah Riska.
"Sebenarnya Aliya sudah menikah," ungkap Aliya.
Sontak saja membuat Azi dan Riska saling menata dan membuka mata mereka lebar-lebar, sebab mendengar kenyataan bahwa Putrinya yang sudah menikah dengan pria tanpa sepengetahuannya.
"Apa yang kamu katakan?!" tanya Azi dengan sangat emosi.
__ADS_1
Sebab ia sangat kesal mendengar sang anak sudah menikah dengan siapa putrinya itu menikah.
"Aliya memang sudah menikah dengan Joni sudah hampir satu tahun," jawab Alia tanpa rasa takut sedikit pun.
Azi langsung memukul meja yang ada di hadapannya. Sontak, membuat Agam terkejut dan Riska pun cepat-cepat membawa Agam masuk ke dalam kamar.
"Apa maksudmu menikah dengan pria sampah itu?!" tanya Azi dengan sangat emosi sambil menunjuk ke arah Aliya.
"Siapa yang Ayah katakan sampah? Pria itu yang sangat Aliya cintai, tidak pantas Ayah menyebutnya sampah karena dia juga bekerja keras tidak pengangguran," sahut Aliya yang tak kalah emosi.
Karena sang ayah mengatakan suaminya adalah pria sampah. Padahal Joni adalah pria yang bekerja keras.
"Ck, katamu bukan pria sampah! Lalu, apa pekerjaannya halnya Asisten ayah! Kamu tahu bukan? Kamu adalah putri dari Prananda!" ucap Azi yang emosi.
Aliya hanya diam tidak menjawab perkataan sang ayah, kemudian dia pun bangun dan menatap wajah pria itu dengan tajam.
Aliya hanya diam sambil menatap kepergian sang ayah, karena dia sangat mencintai Joni dan tidak bisa melihat pria itu tersakiti apalagi sama dengan ayah kandungnya
'Apa yang harus aku lakukan sekarang jika aku tetap memilih bersama Joni, maka dia akan dilenyapkan oleh ayah. Tapi, jika aku pergi maka aku akan kehilangannya," ucap Aliya lirih.
Aliya bergegas masuk ke dalam kamar sambil menghempaskan dirinya ke ranjang, kemudian dia menangis terus. Gadis itu pikir dengan memberitahu sang maka semua masalah akan selesai. Namun, dia salah besar masalah semakin bertambah besar.
. . .
Azi sangat kesal mendengar putrinya sudah menikah dengan asistennya yang ia tahu gaji pria itu perbulan hanya berapa, sedangkan dia adalah konglomerat di kota ini, mana mungkin dia menerima menantu yang hanya menjadi asistennya.
"Aku sama sekali tidak mengetahui kalau dia sudah menikah dengan anakku, artinya mereka membohongiku mentah-mentah!" gram Azi.
__ADS_1
Pria itu melemparkan semua benda yang ada dihadapannya, karena dia kesal sang anak menikah tanpa memberitahu dirimu yang seharusnya dia menjadi wali untuk sang anak.
Namun, Aliya sama sekali tidak memberitahukan hal itu. Bahkan, hampir setahun baru ia mengetahui hal tersebut mungkin, karena dia terlalu sibuk dengan urusannya sampai tidak mau memperhatikan anaknya.
"Aku harus menyelesaikan Joni, agar tidak mengganggu putriku lagi mana terima aku menantu sampah seperti dia!" gram Azi.
Pria itu langsung menghubungi seluruh anak buahnya untuk mengurus Joni, karena dia tidak ingin suami anaknya itu tahu kalau yang membuat huru-hara adalah dia, apalagi ia ingin berniat melenyapkan sang menantu agar tidak mengganggu anaknya lagi.
Tanpa disadari oleh Azi, ternyata Riska mendengar apa yang akan dilakukan dan ia pun langsung pergi, takut keberadaannya ketahui sang suami dan, dia ingin memberitahu hal tersebut pada Aliya.
Sesampainya di dalam kamar Aliya, Riska langsung masuk dengan terburu-buru, kemudian mengunci pintu kamar. Sontak saja membuat sang empunya langsung terkejut dan bangun melihat ibu sambungnya ada di hadapannya.
"Maaf aku tidak bisa mengatakan kenapa aku terburu-buru. Tapi, kemarilah aku ingin bicara sesuatu yang sangat penting kepadamu," ucap Riska dengan cemas.
Aliya semakin penasaran kenapa ibu sambungnya itu cemas dan, mereka pun menuju ke balkon, Riska langsung menceritakan apa yang ia dengar dan lihat tadi membuat Aliya sangat terkejut.
Sebab, suaminya yang sangat dicintai akan dilenyapkan sang ayah. Tidak menunggu lama lagi, dia langsung bersiap-siap untuk menghampiri sang suami dan menceritakan apa yang sudah terjadi.
"Kak Riska, aku mohon jangan beritahu ayah aku pergi ke mana dan bilang saja aku ada di dalam kamar. Tolong kunci pintu kamar ini jika aku kembali aku akan membuka pintu ini," ucap Aliya dengan lirih.
"Baiklah, kamu hati-hati di jalan jangan sampai anak buah ayahmu tahu kalau kamu pergi menemui dia," jawab Riska lembut.
Aliya mengganggukan kepalanya, kemudian dia pun bergegas pergi dari sana dengan mengendap-endap, agar sang ayah tidak mengetahui kepergiannya dan menghancurkan semua rencana yang sudah ia susun.
Aliya mengendarai motor miliknya menuju rumah sang suami dengan kecepatan tinggi, sebab dia takut dia keduluan oleh anak buah ayahnya.
"Aku harus cepat sampai di rumah Joni, karena aku takut ayah pasti akan melenyapkan dia agar aku tidak berhubungan lagi dengannya," ucap Aliya lirih.
__ADS_1
BERSAMBUNG.