
"Om, Riska pulang ya ... "secepat kilat Riska berlari dan ia berhasil keluar dari kamar hotel Azi.
Sedangkan Azi ia sudah tidak sadar sebab ia merasa sabat pusing akibat Bir yang ia minum tadi.
Sesampainya Riska di luar ia langsung menaiki motornya, ia melajukan motornya menuju kosan yang sudah beberapa tahun ini ia tinggali.
Tobat deh gue, besok gue putusin aja om Azi taku gue kalau dia perkosa gue bisa bunting gue ... Batin Riska.
Setelah sampai Kosan Riska langsung masuk kedalam kamarnya ia menidurkan tubuhnya di tempat tidurnya, Riska menatap langit-langit kamarnya.
"Kalau Alice tau ayahnya gue manfaatin pasti dia gak mau berteman lagi sama gue ... "ucap Riska lirih.
Riska dan Alice susah bersahabat selama Alice kuliah di kampus yang sama dengan Riska.
.
.
Pagi hari telah tiba Saras merasa sangat pusing sebab ia menangis sepanjang malam ia sangat sakit hati, Saras berpikir akan mengurus anak yang di kandungnya seorang diri tanpa adanya seorang suami.
Pagi ini Saras meminta cuti kepada Azi, ia tidak ingin orang mengetahui keadaannya saat ini.
"Aku bisa menjalani ini semua tanpa adanya bastian, aku juga sangat yakin dia tidak mengakui anak yang aku kandung saat ini, dan mungkin ini semua karma untukku selama ini aku sangat nakal ... "ucap Saras lirih.
.
.
Kenan sudah rapi memakai jas dan sudah mengenakan sepatu ia duduk di sofa yang berada di kamarnya, ia meminum segelas kopi hangat buatan Alice.
"Sayang, besok kita akan mengunjungi ayahmu bagaimana?"ucap Kenan yang melirik Alice.
"Tidak usah Mas, paling juga nanti malam ayah sudah datang kesini ... "ucap Alice yang sedang merapikan tempat tidur.
"Benar juga, apa kamu tidak merindukan ayahmu itu?"ucap Kenan.
"Rindu sedikit saja ... "ucap Alice.
"Kamu bisa saja, Mas pergi dulu ya kamu dan anak-anak kita baik-baik jangan terlalu lelah ... "ucap Kenan yang mencium kening Alice dan perut buncit Alice.
"Iya Mas ... "ucap Alice.
Kenan bergegas pergi setelah ia sampai depan rumah ia langsung masuk kedalam mobilnya, ia mengemudi sendiri sebab supirnya sedang cuti ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah ia sampai kantor ia langsung masuk ke ruangan Bastian sebab ia ingin mengambil berkas, namun saat ia masuk tidak ada Bastian didalam.
"Kemana anak itu, biasanya dia selalu datang awal?"ucap Kenan.
Kenan langsung mengambil ponselnya dan menelfon Bastian.
๐Bastian.
"Halo Pa."ucap Bastian dengan sangat lemas.
__ADS_1
"Kamu kenapa Bas?"ucap Kenan mulai cemas.
"Tidak apa Pa, hanya saja tidak enak badan dari semalam Bastian muntah terus-menerus."ucap Bastian dengan sangat lemas.
"Pergilah ke Dokter Bas."ucap Kenan.
"Sudah Pa, tapi kata Dokternya Bastian baik-baik saja."ucap Bastian.
"Ha, lalu kenapa kamu muntah terus menerus?"ucap Kenan merasa sangat heran.
"Mungkin kelelahan Pa, hari ini Bastian tidak masuk Kantor ya Pa."ucap Bastian lema.
"Baiklah, beristirahatlah semoga cepat sembuh."ucap Kenan yang memutuskan sambungan telfon.
Setelah Kenan memutuskan sambungan telfon ia mengambil berkas yang ia ingin ambil tadi.
.
Alice sedang memakan sarapannya dengan sangat santai hingga ia di kejutkan oleh kedatangan Amira.
"Sedang makan calon menantu yang gagal, atau mantan maduku ... "ucap Amira sontak Alice menghentikan aktivitasnya.
"Apa maksud Tante?"ucap Alice yang berdiri dan berhadapan dengan Amira.
"Jangan pura-pura tidak tau."ucap Amira.
"Lebih baik Tante pergi dari sini."ucap Alice.
"Sudah berani melawan rupanya, dasar plakor!"bentak Amira.
"Kau melawan sekali."Amira hendak menampar Alice namun Alice langsung menahan tangan Amira.
Alice memutar tangan Amira hingga Amira merasa kesakitan.
"Lepaskan Aku!"teriak Amira. Alice semakin menguat putaran tangannya.
"Jangan Tante pikir saya tidak berani melawan Tante, kalau om Kenan mau kembali kepada Tante saya dengan senang hati melepas om Kenan untuk Tante ... "Alice melepaskan tangan Amira hingga Amira terjatuh kelantai.
Ternyata dia kuat juga tidak seperti dugaan ku, sial lihat saja nanti Alice aku akan membuat mu menyesal telah membuat ku seperti ini ... Batin Amira.
"Kau lihat saja nanti, aku akan membuatmu menangis darah ... "ucap Amira yang berlalu pergi.
Setelah kepergian Amira Alice masuk kedalam kamar ia ingin segera menghubungi Ayahnya.
Setelah sampai Kamar Alice langsung menelfon Ayahnya melakui video call.
Saat Azi menerima panggilan dari Alice, betapa terkejutnya Alice melihat Ayahnya tidur di kamar hotel dengan keadaan yang sangat kacau.
"Ayah, apa yang Ayah lakukan?"ucap Alice.
Seketika Azi langsung tersadar dan melihat sekelilingnya.
"Tidak apa-apa sayang."jawab Azi dengan sangat gugup.
__ADS_1
"Apa yang Ayah lakukan?"ucap Alice.
"Tidak ada sayang, Ayah tutup dulu telponnya ... "Azi langsung memutuskan sambungan telfon dengan secara sepihak saja.
Apa yang ayah lakukan disana, apa ayah melakukan hal semacam itu. Batin Alice.
Azi mengambil bareng yang ia bawa lalu ia langsung keluar menuju mobilnya ia berniat akan menemui Riska, sebab ia tidak ingat apa semalam dan ia juga berpikir ia sudah meniduri Riska.
Setelah ia sampai depan Kos Riska ia menunggu orang sepi sebab ia berada di kos wanita, setelah menunggu selama setengah jam akhirnya tempat itu sepi juga Azi langsung turun dan langsung membuka pintu kamar Riska.
Riska yang sedang bermain ponsel sangat terkejut melihat Azi masuk kedalam kamarnya.
"Apa yang Om lakukan disini, nanti kita bisa di fitnah orang Om."ucap Riska panik.
"Kamu tenang saja, Om ingin menanyakan semalam kita berbuat apa?"ucap Azi.
"Tidak ada Om, semalam Riska pergi dari sana dan Om kenapa mengajak Riska untuk ke hotel?"ucap Riska.
"Tidak ada hanya untuk bersenang-senang saja."ucap Azi ia duduk di tempat tidur Riska.
"Om sebaiknya Om pergi saja dari sini, dan Riska mau kita putus ... "ucap Riska.
Sontak Azi membulatkan matanya ia langsung bangun dan menatap wajah Riska.
"Putus?"ucap Azi.
Jarak mereka sangatlah dekat hingga nafas Azi dapat menyentuh wajah Riska.
"I-iya Om ... "ucap Riska dengan gugup.
"Setelah semuanya Om berikan kepadamu, putus yang Om dapatkan, Om tidak pernah menyentuhmu seharusnya kamu sudah melayani Om setiap malam."ucap Azi yang menatap wajah Riska dengan tatapan kesal.
Riska menelan ludahnya sebab ia sangat takut akan tatapan dari Azi.
"Ma ... "terputus Azi langsung menyambar bibir Riska.
"Tidak ada kata putus ingat ... "ucap Azi yang melepaskan ciumannya.
Bagaiman ini om Azi tidak mau di putusin ... Batin Riska.
.
.
.
Bersambung.
Hay, teman-teman jangan lupa untuk Like Vote Favorit Komentar.
Jika ada saran dan kritikan komen saja.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.๐