
Riska tersadar dan langsung melepaskan pelukannya, sedangkan Miko hanya diam, sebab dia tahu wanita yang ada di hadapannya sangat rapuh. Namun, entah kenapa ia juga tidak tahu hal tersebut.
Miko memberikan sapu tangan miliknya dan Riska langsung menerima, karena air matanya sudah mengalir deras. Sudah tidak ada kata malu lagi saat ini, sebab pria yang sangat dia cintai tega selingkuh di belakangnya.
'Apa salahku padanya? Kenapa om Azi tega selingkuh. Padahal aku sangat mencintainya?' batin Riska lirih.
Riska semakin terisak-isak saat mengingat kembali kejadian tadi, di mana sang suami menggandeng tangan wanita lain yang terlihat seperti ja-lang.
"Kenapa kamu bersedih?" tanya Miko.
Sebab, dia sangat penasaran kenapa wanita yang ada di hadapannya menangis tersedu-sedu. Padahal ia sama sekali tidak berbuat apapun.
"Itu masalahku. Jadi, tidak usah ikut campur!" sahut Riska ketus.
Sontak, membuat Miko tersenyumlah karena wanita yang dihadapannya sangat galak. Padahal sangat cantik di matanya.
"Ternyata kau galak sekali, aku tertipu akan kecantikan mu," kekeh Miko.
Riska hanya diam, kemudian dia bergegas pergi dari sana tanpa mengatakan apapun, sebab dia sangat kesal akan ucapan Miko barusan yang mengatakan dirinya galak. Padahal dia lemah lembut.
"Dasar pria aneh. Padahal aku ini wanita lemah lembut. Tapi, dia malah mengatakan aku galak!" gram Riska sambil berjalan.
Riska berjalan dengan perlahan menuju rumah, karena dia mengingat sang anak yang di rumah bersama beby sister, sebab dia tadi ingin pergi menemui temannya. Namun, malah melihat pemandangan yang menyakiti hati dan jiwanya.
Riska sama sekali tidak menyangka kalau sang suami selingkuh. Padahal mereka berdua berjanji untuk selalu setia. Namun, semua itu hanya tinggal janji, sebab Azi sudah mengingkari janji mereka berdua.
"Aku harus bersikap seperti apa? Karena hatiku sangat sakit. Aku juga tengah mengandung anak keduaku, mana mungkin aku meminta cerai," ucap Riska lirih.
Wanita itu terus berjalan sampai di rumah dan, dia langsung masuk ke dalam kamarnya menghampiri Agam yang tengah tidur di box bayi. Riska memeluk sang anak dan menangis tersedu-sedu, karena sedih mengingat kembali kejadian tadi.
"Ya ampun, aku harus seperti apa? Aku benar-benar tidak sanggup seperti ini!" teriak Riska lirih.
Sontak, membuat Agam terbangun dan menangis tersedu-sedu, karena mendengar tangisan sang ibu. Riska cepat-cepat memberikan susu untuk Agam agar bayi kecil itu diam. Entah mengapa, hatinya sangat sakit dan merasa akan terpisah dari Agam.
__ADS_1
Namun, dia membuang pikiran itu jauh-jauh karena tidak mau semua itu menjadi kenyataan. Sebab, dia tidak bisa terpisah dari anak pertamanya.
. . .
Alice tersenyum, karena Aliya sekarang sudah bahagia dengan Joni dan ayah mereka tidak akan mengusik hubungan mereka lagi. Sebab Lidiya dan Terry mendukung hubungan mereka.
"Aliya, aku sedih kamu tidak kembali ke kota A," ucap Alice lirih.
Aliya langsung menatap wajah sang kakak yang terlihat sangat sedih. Jujur, dia juga sedih. Namun, mau buat apa lagi, ayahnya tidak suka pada sang suami.
"Kak, kita masih bisa berjumpa di sini, atau kami yang ke sana," jawab Aliya lembut.
Alice tersenyum, kemudian mereka berdua saling berpelukan satu sama lainnya dengan sangat haru. Sebab akan berpisah lagi. Padahal mereka baru satu tahun setengah bersama, dan sekarang harus berpisah lagi.
"Sudahlah, bukankah masih ada panggilan video?" sahut Kenan.
Sontak, Alice langsung mencubit lengan suaminya karena sudah berbicara seperti, sebab mereka tengah bersedih.
"Ada apa?" tanya Kenan sambil menatap wajah sang istri.
Kenan bingung, apa yang salah dari ucapannya? Padahal ia hanya mengucapkan kebenaran, bahwa mereka masih bisa video call.
'Entahlah, aku tidak mengerti dengan wanita. Ucapku selalu saja salah,' batin Kenan bingung.
Kenan memilih diam, karena dia tidak mau disalahkan lagi oleh Alice seperti tadi. Padahal dia hanya mengatakan yang sebenarnya. Bahkan Aliya juga setuju akan usul Kenan.
Namun, Alice sama sekali tidak suka akan ucapan sang suami tadi, karena dia sangat sedih akan berpisah dari adik kandungnya.
"Ma, Pa, Alice masuk ke kamar dulu ya, Dilan sudah mengantuk," pamit Alice lembut.
"Iya, Dilara juga sudah mengantuk," jawab Lidiya lembut.
Kenan mengambil Dilara dari gendongan sang mertua, kemudian dia dan Alice bergegas masuk ke dalam kamar mereka. Sedangkan Aliya dan Joni, mereka masuk ke dalam kamar juga.
__ADS_1
Sebab, Joni ingin segera memiliki anak karena dia sudah menjadi CEO. Ya walaupun jabatan itu bukan hasil kerja kerasnya. Namun, dia juga akan bekerja keras demi keluarga kecilnya.
Saat di dalam kamar, Joni melihat pesan masuk, ternyata Azi mengirim uang gajinya yang belum dia ambil. Pria itu menghela nafas panjang, sebab berpikir sang mertua belum bisa menerima dirinya.
'Om Azi belum bisa menerima aku. Tapi, aku akan tetap berusaha agar dia merestui hubungan kami. Ya walaupun itu akan sangat sulit,' batin Joni lirih.
Pria itu langsung menghapus pesan dari sang mertua, takut Aliya melihat dan gadis itu akan sedih. Joni pun mulai bergegas menuju gua lele yang sangat indah. Walaupun ada sedikit hutan rimba yang ia lalui agar sampai ke gua lele.
"Sayang, matikan lampu dulu," ucap Aliya.
Sontak, membuat Joni diam, sebab Jaka Tarub miliknya sudah berdiri tegak. Namun, dihentikan oleh Aliya yang memintanya mematikan lampu.
"Astaga sayang, biarkan lampu ini menyala agar anak kita putih seperti dirimu," ucap Joni.
Aliya hanya diam, karena jujur dia malu bila berhubungan lampu masih menyala. Namun, ini keinginan sang suami dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain menuruti.
Joni kembali melanjutkan perjalanan menuju gua lele yang indah dan damai, agar mereka segera memiliki momongan. Sebab sudah satu tahun mereka belum juga diberikan anak.
. . .
Kenan terus menatap sang istri yang tengah memberikan susu pada Dilara, karena Dilan sudah tertidur pulas. Alice hanya diam, sebab tidak mau menatap sang suami.
Sebab, dia tahu apa maksud suaminya. Sedangkan Kenan terus-menerus menatap gunung kembar istrinya dengan pikiran kotornya.
"Anak papa, cepatlah tidur papa mau mengambil jatah," ucap Kenan pelan.
Sontak, membuat Alice langsung memukul lengan sang suami karena sudah berbicara seperti itu pada anak mereka. Sedangkan Kenan hanya tertawa melihat tingkah istrinya.
"Jangan bicara seperti itu, anak kita masih kecil," ucap Alice lembut.
Kenan menganggukan kepalanya, kemudian dia memindahkan sang anak ke box bayi. Setelah itu, ia berjalan mendekati Kenan dan.
"Alice masih datang bulan," ucap Alice lembut.
__ADS_1
Kenan diam, karena dia baru ingat istrinya datang bulan yang artinya ia harus menahan nafsu selama beberapa hari lagi.
BERSAMBUNG.