
Tidak tunggu lama lagi, Azi langsung bersiap-siap untuk pergi ke kota B menemui Aliya. Sebab ia masih sangat kesal kepada sang anak yang sudah menikah dengan secara diam-diam, tanpa memberitahunya ataupun keluarganya.
Pria itu memberikan pesan kepada Riska agar tidak menunggunya, karena mungkin ia akan lama berada di kota B sampai semua urusan selesai. Riska pun tidak keberatan karena ia juga tenang mengandung. Jadi ia tidak bisa ikut serta.
"Kamu jangan khawatir selama aku pergi semua anak buah akan menjaga rumah, dan kamu bisa tenang tidak memikirkan apapun. Jika ada hal yang sangat mendesak kabari aku," ucap Azi.
"Iya Mas, jika ada apa-apa Riska akan memberitahu. Tapi, kalau bisa diselesaikan dengan sendiri maka Riska akan selesaikan tidak perlu memberitahu Mas, karena takut masalah ini tidak selesai," jawab Riska lembut.
Pria itu langsung bergegas pergi dari sana, karena ia sangat terburu-buru tak sabar ingin segera bertemu dengan Joni dan menghajar pria itu.
Sebab, ia merasa sangat kesal sudah ditipu mentah-mentah oleh anak dan asistennya, bukan karena masalah sepele, hal itu sudah menjadi masalah besar dan, ia merasa tidak dianggap sebagai orang tua.
Azi ke rumah Lidiya dengan menggunakan taksi, sebab tadi ia naik pesawat agar ia segera sampai ke rumah mantan istrinya, dan menghajar menantunya habis-habisan.
Setelah sampai di rumah Lidya, dia pun langsung mengetuk pintu rumah wanita itu dengan kencang, sebab ia tidak sabar ingin memberi buah bogem mentah untuk Joni, karena sudah berani membawa kabur putrinya. Ya walaupun membawa kaburnya ke tempat yang aman.
Pintu terbuka, Kenan membuka pintu rumah . Sebab dia sudah tahu sama tua akan sang mertua akan datang, karena hal itu dia membuka pintu rumah, takutnya Azi akan marah jika Joni yang membuka. Azi langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun kepada Kenan, sebab dia sangat kesal kepada menantunya itu yang tidak memberitahunya apapun tentang Aliya.
"Joni! Aliya! Di mana kalian!" teriak Azi sambil mengelilingi ruang tamu.
Semua orang langsung bergegas ke luar, dan Joni menghampiri sang mertua, kemudian Azi memberikan buah bogem mentah kepadanya, kontak saja membuat semua orang ada di rumah itu terkejut termasuk Terry.
"Jika kau bertamu, bersopanlah sedikit kepada pemilik rumah!" bentak Terry dengan kesal.
__ADS_1
Terry membantu Joni bangun, kemudian membawa pria itu duduk di sofa, sedangkan Azi menatap tajam ke arah mereka berdua, karena merasa sangat kesal.
"Lalu, apa maksud kalian menyembunyikan Aliya di sini dan pria sialan itu?!" tanyaan Azi dengan sangat kesal.
"Siapa yang kau sebutkan menyembunyikan Alya? Bukankah dia putriku juga, lalu kenapa kau berbicara seperti itu kepadaku?!" tabya Terry yang tak kalah emosi dari Azi.
Lidya dan Alia menghampiri Joni dan Terry, kemudian mereka duduk di samping pria itu sambil menatap ke arah Azi.
"Mas, jangan berbicara seperti itu, Aliya putri Mas Terry juga, sebab selama ini Mas Terry yang membesarkan Aliy,a bukan kamu, baru sekarang kamu membesarkan dia. Aku minta kepadamu jangan terlalu kasar kepada anakku ini, dia sudah besar," ucap Lidya.
Azi langsung tersenyum simpul, karena semua orang membela Joni dan Alia sama sekali tidak membelanya. Padahal ia sama sekali tidak suka jika putrinya menikah dengan pria biasa bukan dari golongan konglomerat.
"Aku hanya ingin dia berpisah dari Joni, karena pria itu hanya pria sampah bukan apa-apa sedangkan putriku dia adalah ratu Prananda," ucap Azi angkuh.
Sebab, dia kesal lihat Aliya menangis tersedu-sedu hanya karena pria itu. Ya memang benar Azi adalah orang tua kandung Aliya. Namun, dia juga sudah membesarkan alias sejak bayi. Jadi dia sakit jika melihat putri kecil yang ia rawat bersedih.
"Kau mengungkit hal itu! Aku bisa mengganti rugi semua uang yang sudah kau keluarkan untuk putriku dan kembalikan putriku!" sahut Azi.
Terry sangat emosi akan ucapan Azi, Sebab dia juga tidak membutuhkan uang yang sudah ia keluarkan untuk membesarkan Aliya.
"Dasar kau bajingan! Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum aku menghabisimu di depan putrimu!" ancam Terry.
Azi hanya diam, kemudian dia mendekati Aliya dan menarik anaknya membuat Joni langsung bangun menarik tangan istrinya.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu dari tangan putriku!" teriak Azi dengan kesal.
"Dia istriku Tuan," jawab Joni.
Azi melepaskan tangan Aliya, kemudian mendekati Joni dan hendak memberikan big mentah. Namun, tangan ditahan oleh seseorang yang ada di belakangnya dan dia pun langsung berbalik.
"Ayah tidak malu bersikap seperti ini di rumah orang? Menganggap rumah ini sebagai rumah ayah sendiri? Bersihkanlah bijak Ayah, karena seperti ini ayah mempermalukan diri sendiri. Aliya sudah bisa memutuskan jalan hidupnya sendiri, bukankah Joni itu pria yang baik walaupun dia tidak konglomerat. Tapi setidaknya putri ayah akan bahagia bersamanya, percuma saja jika konglomerat tapi menyakiti hati Aliya," ucap Alice bijak.
Azi terdian sambil menatap wajah Alice, karena anak pertamanya itu selalu berkata bijak tidak seperti dirinya yang masih kekanak-kanakan.
"Apa Ayah tidak malu akan sikap Ayah yang seperti kanak-kanakan ini? Percuma saja Ayah lulusan sarjana di manapun. Tapi, jika bertamu dan bersikap seperti ini di rumah orang lain," ucap Alice.
Lagi-lagi Azi terdiam karena ucapan Sang Putri, yang memang benar adanya dia sama sekali tidak dewasa bertamu. Namun bersikap seperti rumah sendiri.
"Maafkan aku jika sikapku seperti ini. Tapi aku tidak menyukai putriku menikah dengannya, masa depannya tidak terjamin, karena dia hanya seorang asisten gajinya saja hanya sepuluh juta dalam satu bulan. Bayangkan anakku mau makan apa jika hidup bersamanya?" ucap Azi menatap ke arah Joni.
Terry langsung bangun, kemudian dia menghampiri pria itu, dia sudah sangat kesal karena menantunya dihina habis-habisan olehnya.
"Jika kau ingin anakmu terjamin kehidupannya, maka aku akan memberikan satu perusahaanku untuk Joni. Jadi kau tidak usah cemas lagi mereka akan hidup dengan terjamin. Bahkan dirimu juga bisa memberikan salah satu perusahaan untuk mereka, tidak usah mempersulit keadaan!" gram Terry.
Joni sudah tidak bisa diam lagi, karena dia tidak bisa melihat kedua mertuanya bertengkar, dan ia pun menghampiri sang mertua kemudian berkata, "Jika Ayah tidak merestui hubungan kami, maka aku akan meninggalkan Aliya. Tapi, jika Putri Ayah itu ingin ikut bersamaku? Aku harus seperti apa? Bisa tanyakan kepadanya dia memilih aku atau Ayah?"
"Tidak! Jangan tinggalkan aku!" teriak Aliya lirih.
__ADS_1
BERSAMBUNG.