Menikahi Calon Mertua

Menikahi Calon Mertua
54 > Hamil


__ADS_3

Setelah selesai muntah Saras kembali duduk disamping Azi, ia melihat semua mata tertuju padanya.


"Ada apa?"ucap Saras.


"Kau hamil?"ucap Kenan.


Hamil, apakah aku hamil ... Batin Saras.


Saras hanya diam dan ia menatap wajah Bastian.


"Sudah-sudah, kita mulai lagi perbincangan kita ... "ucap Azi.


Mereka melanjutkan meeting dengan sangat serius, sesekali Bastian menatap wajah Saras.


Apa dia hamil anakku, tapi bisa saja dia hamil dengan orang lain ... Batin Bastian.


Setelah selesai meeting Saras kembali ke ruang kerjanya sebab ia sangat mual dan pusing, Bastian sangat pemasaran akan kehamilan Saras ia berpamitan untuk keluar sebentar.


Kenan sudah kembali ke Kantornya sedangkan Bastian ia menuju ruangan Saras, ia langsung masuk kedalam dan mengunci pintu sontak Saras terkejut melihatnya.


"Apa yang kau lakukan disini?"ucap Saras yang menatap wajah Bastian.


"Aku ingin bertanya, kau benar-benar hamil?"ucap Bastian yang mendekati Saras.


"Sebaiknya kau pergi dari sini, kita tidak memiliki hubungan."ucap ketus Saras.


"Aku akan pergi setelah kau menjawab pertanyaan ku."ucap Bastian yang berhadapan dengan Saras.


"Aku tidak hamil, dan kalau aku hamil kau tidak akan bertanggung jawab bukan?"ucap Saras yang tersenyum sinis menatap wajah Bastian.


"Aku hanya bertanya saja, dan jika kau hamil anakku makah aku akan bertanggung jawab."ucap Bastian cepat.


"Cik. Kalau ku katakan aku sedang mengandung saat ini apa kau akan bertanggung jawab?"ucap Saras.


"Kalau itu anakku aku akan bertanggung jawab."ucap Bastian.


"Kau pasti meragukan ku bukan, lalu untuk apa bertanya kalau kau sudah tahu bawaannya?"ucap Saras.


"Terserah mu saja, dan ingat kita sudah cerai."ucap Bastian yang berlalu pergi.


Setelah kepergian Bastian Saras mulai menangis.


Apa saat ini aku hamil, di usiaku yang sudah tidak muda lagi tidak mungkin aku hamil, nanti aku akan membeli tespek untuk memastikan ... Batin Saras.


Setelah seharian bekerja akhirnya Saras pulang ia melajukan mobilnya menuju apotik sebab ia ingin membeli tespek.


Setelah membeli tespek ia langsung pulang ia sudah tidak sabar lagi ingin segera mengetahui ia hamil atau tidak.

__ADS_1


Setibanya mobil Saras di halaman rumahnya ia langsung masuk kedalam kamar. Ia langsung masuk kedalam kamar mandi ia menampung urin kedalam wadah kecil, lalu ia mencelupkan tespek tersebut.


Setelah beberapa menit muncullah dua garis merah yang sudah sangat jelas, Saras terjatuh di lantai sambil memegang tespek tersebut.


"Tidak mungkin aku hamil hiks ... hiks... "Saras menangis tersedu-sedu ia meningkat kalau ia sudah dua bulan tidak datang tamu bulan.


.


.


Kenan berada di jalan menuju rumahnya dan ia melihat warung yang menjual rujak segar ia berhenti dan membeli dua porsi rujak tersebut.


Setelah Kenan sampai rumah ia langsung menuju kamarnya, sesampainya ia didalam kamar terlihat Alice sedang menyisir rambut Kenan langsung menghampiri Alice dan mencium kening Alice.


"Mas sudah pulang, mandi sana bau asem ... "ucap Alice dengan sangat manja.


"Baiklah, ini rujak buah segar Mas belikan untuk mu ... "ucap Kenan yang memberikan dua porsi rujak buah untuk Alice.


Alice mengambil rujak tersebut dan ia melihat mengapa Kenan membelikannya dua porsi pikirnya.


"Mas, mengapa dua porsi satunya lagi buat siapa?"ucap Alice.


"Untuk anak-anak kita sayang, mereka kan ada dua."ucap Kenan dengan senyuman manisnya ia langsung masuk kedalam kamar mandi.


Dasar om Kenan ada-ada aja, masa aku harus ngabisin rujak sebanyak ini sih ... Batin Alice.


Alice menyiapkan baju untuk Kenan setelah selesai ia keluar sambil membawa rujak buah dari Kenan tadi, ia menaruh rujak tersebut kedalam piring lalu ia duduk di bangku dan mulai memakannya.


Setelah ia selesai menghabiskan rujak tersebut ia merasa sangat kenyang dan ia susah untuk berjalan.


"Aduh susah sekali ingin berjalan, perut ini terasa sangat besar."ucap Alice yang mengelus perut buncitnya.


"Kenapa sayang?"ucap Kenan yang baru sampai meja makan.


"Alice mau bangun Mas, tapi tidak bisa sebab Alice sangat kenyang."ucap Alice malu-malu.


Kenan langsung terkekeh mendengarkan ucapan Alice Kenan perlahan membantu Alice berjalan. Alice melihat Kenan meledeknya ia memasang wajah masam Kenan membantu Alice berjalan menuju kamar mereka.


Sesampainya mereka didalam kamar Alice mendudukkan bokongnya di bibir ranjang sedangkan Kenan ia memilih duduk di sofa.


"Kenapa Mas masih saja tertawa."ucap kesal Alice.


"Tidak kok Mas tidak tertawa."ucap Kenan yang menahan tawanya.


"Katakan saja tidak usah berbohong, apa karena Alice tidak sanggup berjalan makanya Mas tertawa terus?"ucap Alice jutek.


"Tidak sayang, hanya saja mas sangat lucu melihatmu tubuhmu kecil dan perutmu sangat besar."ucap Kenan yang di susul gelak tawanya.

__ADS_1


Alice mendengarkan perkataan Kenan ia langsung cemberut ia sangat sakit hati dengan ucapan Kenan.


"Sayang jangan marah, Mas hanya bercanda saja."ucap Kenan yang mendekati Alice.


Alice tidak menjawab ia hanya diam saja dan cuek terhadap Kenan, perlahan Kenan memeluk Alice dan mencium berulang-ulang pipi Alice.


"Sudah lepaskan mas Alice jijik."ucap ketus Alice. Sontak Kenan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Alice.


Mau ketawa takut dia semakin merajuk, tidak ketawa tapi sangat lucu melihatnya seperti itu ... Batin Kenan.


.


.


Bastian berada di kamarnya ia menidurkan tubuhnya di tempat tidurnya ia menatap langit-langit kamarnya.


"Apa benar dia hamil, dan aku sempat meragukan kehamilannya tapi, sudahlah besok aku akan menemuinya lagi."ucap Bastian lirih.


Bastian merasa bingung sebab ia berada didalam situasi yang salah saat ini, kalau ia memilih mamanya makah ia harus melepaskan Saras, namun kalau ia harus memilih Saras mamanya tidak akan suka dengan hubungan mereka.


Bastian masih merasakan sakit hati mamanya pada Saras ia sudah mengetahui bahwa Saras yang mencoba membunuh Amira. Bastain sudah bertekad akan membalas perbuatan Saras terhadap mamanya.


.


.


Azi berada di hotel bersama seorang gadis cantik yang baru ia pacari beberapa bulan lalu, ia sengaja membawa gadis tersebut ke hotel bersama dengannya.


"Sayang duduklah disini, Om ingin mencium bibir mu ... "ucap Azi yang meminum segelas Bir.


"Maaf Om Riska takut, Riska pulang saja ya Om ... "ucap Riska yang merasa takut kepada Azi.


"Tidak usah takut sayang, Om tidak akan menyentuhmu Om hanya ingin bermain-main saja."ucap Azi dengan keadaan yang sudah tidak sadar lagi.


Mati gue bisa-bisanya gue di tipu, gimana ni kalau om Azi memperkosa gue ... Batin Riska.


Riska sudah beberapa bula berpacaran dengan Azi sebab Azi sering kali memberinya sejumlah uang, namun Riska takut saat Azi hendak menyentuh tubuhnya seperti waktu mereka berada di villa Azi.


.


.


.


Bersambung.


Hay, teman-teman jangan lupa untuk Like Vote Favorit Komentar jika ada saran dan kritikan komen saja.

__ADS_1


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.


Salam manis untuk kalian semua.😘


__ADS_2