Menikahi Calon Mertua

Menikahi Calon Mertua
88


__ADS_3

Malam hari sudah tiba. Namun Azi gak kunjung pulang, membuat Riska sangat kesal akan suaminya itu. Dia pun bergegas pergi dari rumah mencari suaminya yang entah di mana.


Riska terus menyusuri setiap jalan dan melihat mobil-mobil yang terparkir di depan rumah dan gedung. Namun, tidak ada mobil milik suaminya.


"Sial! Apa semua ini? Kenapa aku tidak bisa menemukannya?!" tanya Riska kesal.


Wanita itu pun bergegas pergi menuju hotel, karena ia menebak suaminya menginap bersama selingkuhan di sana. Setelah tiba, dia pun berjalan menuju parkiran.


Namun, tidak ada mobil suamimu, dia pun tidak putus asah, dan mencari keberadaan suaminya di hotel lain. Lagi-lagi hasilnya sama, Azi tidak ada di beberapa hotel terdekat dari taman yang ia datangi pagi tadi.


"Sebenarnya mereka dimana sih? Aku harus mencari tahu hubungan mereka sudah sampai mana. Tapi, sepertinya sudah sangat jauh, sebab om Azi itu bandot!" gram Riska.


Riska langsung naik ke atas motor, saat hendak melaju, tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundaknya dari belakang. Sontak membuat dia sangat terkejut.


"Astaga kau!" pekik Riska.


Miko tersenyum, karena benar dugaannya kalau yang ada di parkiran adalah wanita yang ia temui di taman tadi.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Miko lembut.


Riska menceritakan kalau dia mencari seseorang dan Miko pun langsung membawa gadis itu masuk, sebab dia adalah anak pemilik hotel tersebut. Jadi, bisa melihat CCTV yang terpasang di area parkiran.


"Miko, apa tidak masalah kita masuk?" tanya Riska cemas.


Sebab, semua karyawan hotel itu melihat mereka dari ujung rambut hingga kaki. Sedangkan Miko, sudah terbiasa akan tatapan tersebut.


"Tidak masalah, aku adalah pemilik hotel ini. Jadi, siapa yang akan marah terkecuali papaku," jawab Miko lembut.


Riska tersenyum dan mereka berdua masuk ke dalam ruangan CCTV, dan Miko mulai mencari apa yang tengah dicari Riska. Gadis itu terdiam membisu.


Karena melihat suaminya bersama wanita lain masuk ke dalam hotel dengan sangat mesra, Sedangkan Miko hanya menebak apa yang terjadi pada wanita yang ada di sampingnya.


'Siapa pria tua itu? Apa dia ayahnya Riska, dan dia sedih ibunya dikhianati?' batin Miko sambil berpikir.


Riska menangis tersedu-sedu, tanpa sadar dia memeluk Miko dengan erat, sebab dirinya sangat rapuh dan hancur saat ini. Pria yang sangat dia cintai tega selingkuh dengan wanita lain yang lebih cantik darinya.

__ADS_1


Ya walaupun dia juga cantik. Namun, wanita itu pandai merawat diri, sebab memang pekerjaannya menjual diri.


"Ris, kamu tidak apa?" tanya Miko lembut.


Riska langsung melepaskan pelukannya, karena dia baru sadar memeluk pria lain. Sedangkan Miko biasa saja.


"Aku tidak apa, terima kasih sudah membantuku mencari bukti ini. Aku tidak menyangka kalau om Azi benar ke sini," ucap Riska lirih.


Miko tersenyum, karena dugaannya benar kalau pria tua itu adalah ayah Riska, dan dia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Riska.


"Sabar ya, ini adalah bukti kamu bisa simpan sampai waktunya tepat," ucap Miko lembut.


"Terima kasih banyak," jawab Riska lembut.


Miko tersenyum, kemudian Riska bergegas pergi dari sana. Namun, sebelum dia pergi, Miko bertukar nomor ponsel denganya, agar mereka lebih mudah berkomunikasi bila ada sesuatu hal yang penting.


"Asik, dapat nomor telepon dia!" teriak Miko girang di ruangan CCTV.


. . .


Hal itu membuat Lidiya sedih, karena harus berpisah dari kedua cucunya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Lagi pula dia masih bisa berkunjung ke kota A untuk menghampiri mereka.


"Aku benci Mama dan Papa kalian, karena pulang terlalu cepat. Jadi, oma sendirian di sini.Ya walaupun masih ada aunty Aliya," ucap Lidiya pada sang cucu.


Sontak, membuat Alice diam, karena dia juga belum mau pulang. Namun, mau bagaimana lagi, suaminya ada pertemuan penting yang tidak bisa ditunda.


"Mama, jangan bicara seperti itu. Kami masih bisa datang lagi ke sini," ucap Alice lembut.


"Iya," sahut Lidiya.


Wanita paruh baya itu terlihat jelas tidak suka sang anak pulang sangat cepat, sebab dia masih rindu pada mereka semua, yang sangat jarang bertemu.


"Tidak apa Oma, karena di sini masih ada Aliya dan Joni," ucap Aliya yang baru saja tiba.


Membuat Alice langsung menoleh, begitu juga dengan Lidiya, karena sang anak datang tiba-tiba langsung berucap seperti itu.

__ADS_1


"Iya, oma akan senang bersama Aunty Aliya," jawab Lidiya lembut.


Aliya langsung menghampiri sang mama dan langsung mengambil Dilan dari tangan mamanya. Sebab, dia sedih harus berpisah dari keponakan yang sangat dia sayangi, karena mereka sudah bersama selama satu tahun ini.


Sedih rasanya. Namun, Aliya tidak akan tinggal di kota A lagi dengan sang ayah yang tidak berpihak pada hubungannya dan Joni. Padahal dia sudah betah di sana.


"Jika kami rindu Kembar D, maka kami akan ke sana," ucap Aliya lembut.


"Datanglah, karena pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian semua," sahut Alice pelan.


Lidiya mengambil bajunya yang masih baru belum ia kenakan, untuk Alice, sebab dia tidak ingin mengunakan baju yang terlihat seperti anak remaja.


"Astaga! Baju ini milik Mama?" tanya Alice.


Alice terkejut sang mama banyak sekali baju anak remaja yang berusia 20 tahun. Namun, dia masih bisa menggunakan baju tersebut.


"Sebenarnya itu adalah pekerjaan Aliya, dia sengaja membuat mama malu," sahut Lidiya sambil menatap tajam ke arah Aliya.


Sontak, membuat Aliya diam karena semua yang diucapkan mamanya memang benar adanya. Aliya sengaja mengirimkan baju anak muda agar mamanya malu dihadapan papa sambungnya.


"Astaga Aliya! Kenapa tidak kamu saja yang pakai?" tanya Alice lembut.


"Aku tidak mau, terlihat sangat muda," kekeh Aliya.


Lidiya langsung menghampiri Aliya dan menoyor kepala anaknya, sebab sudah sangat jahil, pasalnya dia sudah tertipu dan sangat malu pada suaminya. Alice hanya diam sambil menahan tawa melihat kejahilan adiknya.


"Maaf Ma, itu hanya kejutan untuk papa. Bukankah papa menyukai mama?" tanya Aliya lembut.


"Suka sekali, sampai dia ingin mengusir mama," jawab Lidiya.


Alice dan Aliya saling pandang dan keduanya tertawa lepas mendengar hal itu, sebab merasa lucu hanya karena baju remaja Terry mau mengusir mama mereka.


"Aliya, aku mohon jangan buat ulah seperti itu lagi ya. Aku tidak tahan ingin tertawa selalu," ucap Alice lembut.


Aliya semakin tertawa, karena itu hanya rencananya yang tidak ada akhlaknya, sebab kesal sang mama tidak mau menjenguk dia ya tengah sakit beberapa bulan lalu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2