
Setelah sampai di rumah, Kenan langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan, melihat kedua anak kembarnya tengah minum susu. Pria itu langsung menghampiri kedua anaknya.
"Anak papa, apa tidak merindukan papa kalian ini?" tanya Kenan lembut.
"Tidak!" sahut Alice.
Kenan langsung menghampiri sang istri, kemudian mencium gadis itu dengan bertubi-tubi, dia sama sekali tidak peduli adanya Beby sister Dilan dan Dilara.
"Tuan, saya bawa mereka ke kamar ya? Karena, ini waktunya mereka makan malam?" tanya Beby sister.
"Baiklah," jawab Kenan.
Baby sitter itu langsung membawa kedua anak kembar itu menuju kamar mereka yang ada di lantai bawah. Sedangkan Kenan, langsung memeluk istrinya dengan lembut.
"Mas, lepaskan! Nanti ada yang lihat," ucap Alice lembut.
Kenan sama sekali tidak mendengar ucapan sang istri, karena dia merindukan Alice sejak tadi di kantor dan, ingin menyalurkan hobi bermain dengan gua lele yang penuh kenikmatan surgawi.
"Mas, Alice datang bulan," ucap Alice lembut.
Sontak, membuat Kenan langsung terjatuh lemas, sebab tidak bisa bermain dengan sang istri yang tengah datang bulan. Padahal dia sudah menyiapkan gaya baru untuk mereka.
Pisang Ambon yang tadinya sudah berdiri tegak, kini sudah jatuh kemas karena mendengar kabar buruk dari sang istri barusan.
"Maaf ya Mas, mungkin bisa satu Minggu kemudian," ucap Alice.
Sontak, membuat Kenan semakin lemas, akibat ucapan sang istri barusan. Sedangkan Alice hanya bisa tersenyum, sebab dia tidak bisa berbuat apa-apa karena bulan itu datang tanpa diundang.
"Sabar ya Mas, semua akan indah pada waktunya," ucap Alice lembut.
Namun, dengan nada mengejek sang suami, membuat Kenan semakin lemas dan, dia tidak mau bangun sampai sang istri yang membangunkannya.
"Aku tidak ingin puasa begitu lamanya," ucap Kenan lema.
Pria itu menitihkan air mata, karena dia sedih harus puasa. Hal itu membuat Alice tertawa keras, karena merasa lucu akan tingkah sang suami.
"Ya ampun Mas, hanya karena bulan kamu begini?" kekeh Alice.
. . .
__ADS_1
Azi baru sampai di rumah, karena tadi dia ada meeting penting bersama rekannya di cafe dan, hal itu membuat dia benar-benar sangat lelah ingin segera beristirahat. Namun, ia sangat terkejut, saat sang istri memperlihatkan alat tes kehamilan bergaris dua merah.
"Apa ini?" tanya Azi sambil memegang alat tersebut.
"Riska hamil lagi, Om."
Riska menjawab dengan lirih, karena dia sedih hamil lagi dan, anaknya masih membutuhkan asi dan kasih sayang darinya dengan utuh.
"Sayang, tidak masalah kamu hamil lagi. Jangan sedih! Sebab, aku tidak akan marah," ucap Azi lembut.
Riska tersenyum dan, memeluk sang suami dengan lembut sambil mencium pipi suaminya dengan lembut.
"Terima kasih Om, karena sudah mengerti keadaan Riska," ucap Riska lembut.
Azi langsung melepaskan pelukannya, kemudian dia tersenyum, karena keadaan sang istri yang sekarang, dialah pelakunya, membuat sang istri hamil. Padahal anak mereka masih kecil.
"Jangan bicara seperti itu, karena aku yang membuat kamu hamil," ucap Azi lembut.
Riska tersenyum dan, mereka saling berpelukan dengan sangat mesra dan lembut. Hingga Azi tersadar kalau Aliya belum pulang ke rumah.
"Apa Aliya tadi ada pulang?" tanya Azi lembut.
"Jika dia kembali, beritahu aku ya. Aku ingin mandi," ucap Azi lembut.
Riska menganggukan kepalanya, karena dia juga mencemaskan keadaan Aliya yang sejak pagi tidak pulang. Sedangkan orang yang dicemaskan tengah melakukan olahraga panas.
"Sedikit lagi sayang, tahan ya," ucap Joni yang tengah melajukan perjalanan menuju gua lele yang lembut.
"Sakit sayang," ucap Aliya lirih.
Joni menyeburkan lahar panas ke dalam gua lele Aliya dan, dia memeluk sang istri dengan lembut sambil mengecup keningnya.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Joni lembut.
"Aku juga sangat mencintai kamu," jawab Aliya.
Saat mereka tengah melampiaskan nafsu, tiba-tiba ponsel Aliya berdering, ternyata Azi yang menelpon. Dengan cepat dia langsung menjawab panggilan dari sang ayah.
Azi: Pulang sekarang!
__ADS_1
Aliya langsung bangun, karena sang ayah terdengar sangat marah padanya, membuat Joni bingung. Sebab, dia tidak ingin istrinya terkena amara mertuanya.
"Sayang, maafkan aku ya, ini semua karena aku meminta kamu menemani aku seharian," ucap Joni lembut.
"Tidak masalah sayang, lagi pula kita jarang bertemu. Kalau hari ini karena kamu mengambil cuti, maka-nya kita bisa bersama," jawab Aliya bijak.
Joni tersenyum, karena dia senang bisa memiliki istri yang pengertian padanya. Dia sengaja mengambil cuti, karena mereka hanya bertemu malam hari dan, hanya sebentar. Karena hal itu, dia ingin satu harian menghabiskan waktu dengan istrinya.
Setelah sampai di rumah, Aliya langsung bergegas masuk ke dalam dengan keadaan yang segar juga rambut yang basah. Gadis itu berjalan menghampiri sang ayah yang ada di ruang tamu.
"Duduk!" Azi menepuk ruang kosong disampingnya, agar Aliya duduk.
Aliya langsung duduk dan, menatap wajah sang ayah yang terlihat sangat marah padanya, sebab tadi pagi dia pergi dari rumah tanpa izin dari ayahnya. Sebab, dia pergi jam empat pagi.
"Ayah selalu melihatmu pergi dari rumah. Bahkan sering juga kamu tidak pulang ke rumah. Apa yang sebenarnya terjadi?!" tanya Azi dengan emosi.
Sontak, membuat Aliya takut dan, dia langsung menangis tersedu-sedu. Kemudian meminta pulang ke rumah ibunya.
"Aliya mau pulang, hiks ... hiks ..." Aliya tak henti menangis.
Membuat Azi merasa sangat bersalah atas apa yang ia ucapkan tadi, karena dia tahu anaknya tidak nakal sepertinya. Yang akan mencari mangsa bila diluar rumah.
"Aliya, ayah minta maaf, ayah berjanji tidak akan marah padamu lagi," ucap Azi lembut.
Aliya langsung berhenti menangis, kemudian dia bergegas pergi menuju kamarnya yang ada dilantai atas. Sedangkan Azi masih terdiam, memikirkan anaknya itu.
"Aneh, biasanya jika aku marah, Aliya tidak akan menangis. Apa yang terjadi padanya?" gumam Azi penasaran.
. . .
Aliya langsung menelepon sang suami dan, mengatakan pernikaha mereka harus dibicarakan, sebab sudah beberapa bulan lamanya Pernikahan mereka yang rahasia seperti sekarang. Bahkan, akan menjadi salah paham, bila orang tidak tahu mereka sudah menikah.
Joni: Sayang, aku berjanji akan memberitahu ayahmu. Tapi, tidak sekarang, sebab aku butuh waktu.
Aliya: Aku memberikan kamu waktu satu Minggu, kalau masih saja seperti ini. Aku akan pulang!
Aliya memutuskan sambungan telepon secara sepihak, karena dia kesal pada suaminya, yang tidak mau berterus terang tentang Pernikahan mereka pada semua keluarga.
Sebab, Aliya takut menjadi masalah jika mereka terus-menerus bersembunyi. Apa lagi kalau dia sampai hamil. Apa keluarganya bisa terima, karena mengetahui dia masih gadis. Padahal sudah menikah siri.
__ADS_1
BERSAMBUNG.