Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 17


__ADS_3

Perlahan, kedua mata itu terbuka. Mikha harus mengerutkan keningnya untuk menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke pupil matanya.


Rupanya hari sudah pagi. Entah sudah berapa jam lamanya Mikha tak sadarkan diri.


Kepalanya terasa berat. Tangan kirinya pun terasa sedikit nyeri. Saat Mikha memperhatikan tangannya, ternyata ada jarum infus yang tertancap di punggung tangannya.


"Mau ngapain?"


Mikha tersentak saat mendengar Gavin menegurnya. Mikha hanya melirik sekilas, lalu kembali berusaha untuk melepas jarum infus tersebut.


"Jangan kayak di sinetron, deh, pakai lepas infus sendiri. Kamu nggak ngerti gimana prosedurnya."


"Lepas, Kak. Jangan halangi aku!" Mikha berusaha untuk melepaskan tangannya yang sudah digenggam erat oleh Gavin.


"Nurut kenapa, sih? Tubuh kamu sedang meminta haknya, Mikha. Biarkan dia beristirahat sebentar saja."


Mendengar ucapan Gavin, Mikha menunduk lesu. Matanya memanas seiring dengan buliran bening yang menetes di pipinya. "Aku capek, Kak."


"Iya. Kakak paham, kok." Gavin mendekati Mikha, memeluknya dengan erat. Membiarkan Mikha menumpahkan tangisnya di dalam pelukannya.


Di sela isakannya, Mikha mendongak menatap wajah Gavin. "Kakak masih hutang penjelasan. Jelasin apa hubungan kalian dengan kakakku."


Gavin diam. Sebenarnya dia tidak ingin lagi mengingat masa itu. Tapi Gavin rasa, Mikha berhak tau. Dan saat ini mungkin sudah saatnya Mikha tau semuanya.


"Kak..." desak Mikha.


"Iya, nanti diceritain. Tapi harus makan dulu terus minum obat."


Mikha merengut kesal. Rasa ingin taunya sangat besar. Tapi Gavin harus memintanya untuk makan terlebih dahulu.


"Ini yang nginfus tangan aku siapa?"


"Temanku. Dia dokter. Aku minta dia buat datang ke sini untuk memeriksa kamu."


"Sampaikan terimakasihku ke dia ya, Kak."


Gavin menganggukkan kepalanya. "Iya. Sekarang makan dulu."


Meskipun terpaksa dan rasanya tidak ingin memasukkan sedikitpun makanan ke dalam mulutnya, Mikha tetap menerima suapan dari Gavin.


***


"Dari mana kakak bisa mengenal Kak Maulida?"

__ADS_1


"Kami kenal karena dulu kami satu tempat beladiri. Usia bukan sebuah masalah ketika kita menemukan kenyamanan untuk mengobrol. Nyambung dan asik saat mengobrol dengan Uli."


Mikha percaya soal itu. Uli, tipe orang yang mudah mengakrabkan diri dengan orang lain. Tapi, Mikha merasa cemburu ketika Gavin mengatakan kalau dia nyaman bersama Uli.


Meskipun yang dia cemburui sudah tidak ada di dunia, tapi tetap saja rasanya sedikit sakit di hatinya.


"Kita sering jalan-jalan berdua setelah selesai latihan. Hanya sekedar makan cilok di taman saja dia sudah senang. Tapi semua berubah semenjak dia bertemu dengan Gilang."


"Kenapa?"


"Dia jatuh cinta sama Gilang."


"Dan kakak cemburu?"


"Ya." Gavin mengangguk pasti. Tidak memungkiri kalau saat itu dia memang cemburu dengan kedekatan Uli dan Gilang. "Aku mengakui kalau saat itu aku cemburu dan tidak suka melihatnya bersama Gilang. Setiap pulang latihan, dia bertemu dengan Gilang."


"Kakak pernah bilang suka ke kak Uli?" Mikha menyiapkan hatinya kalau saja jawaban Gavin akhirnya akan memancing kecemburuannya lagi.


Gavin mengangguk mengiyakan. "Pernah."


Mikha menarik napas dalam-dalam, meredakan sesak yang mendadak dia rasakan mendengar jawaban Gavin. Padahal, dia sudah menyiapkan hatinya. Kenyataannya tetap sakit yang dia rasakan.


"Tapi dia malah jodohin aku sama kamu karena dia lebih memilih Gilang. Karena kamu saat itu masih terlalu kecil, aku nggak menganggap hal itu serius."


"Bukan. Demi Allah bukan seperti itu, Mikha. Aku ketemu kamu lagi di saat kamu sudah dewasa. Tentu kamu bisa membedakan rasa untuk seorang anak kecil, dan untuk orang yang sudah dewasa."


Mikha menggelengkan kepalanya. "Lupakan hal itu! Sekarang bagaimana hubungan kakakku dengan Gilang sebelum akhirnya kakakku meninggal? Kakakku bunuh diri. Dulu aku nggak tau kenapa kakakku meninggal secara tiba-tiba. Tapi setelah dewasa, akhirnya aku tau kalau saat itu kakakku meninggal karena bunuh diri."


Gavin menatap lekat kedua mata Mikha yang menatapnya dengan penuh harap. Berharap Gavin menceritakan semuanya secara tuntas tanpa ada yang disembunyikan sedikitpun.


"Ceritakan semuanya! Tanpa ada yang ditutupi sedikitpun."


"Hubungan Uli dan Gilang terlalu jauh."


"Maksudnya?"


"Mereka sudah melampaui batas hingga pernah menghabiskan malam berdua di puncak."


"Apa?" Mikha mendesah tak percaya. Rasanya tidak mungkin jika kakaknya yang terlihat baik itu bisa sampai melakukan hal seperti itu dengan Gilang.


"Uli hamil. Tapi Gilang tidak mau tanggungjawab dan memilih pergi ke luar negeri untuk melanjutkan sekolahnya. Sekaligus menghindari tanggungjawabnya."


"Kurang ajar!" Mikha menggeram kesal. Tangannya terkepal erat. Andai Gilang ada di sini, pasti sudah melayangkan kepalan tangannya ke wajah Gilang.

__ADS_1


"Tadinya, aku yang akan bertanggungjawab jika seandainya Gilang tak kembali. Tapi Uli tidak mau. Aku nggak tau kalau sampai Uli memilih untuk mengakhiri hidupnya."


Wajah Mikha sudah berlinang air mata. Saat ini, dia tidak tau apa yang dia rasakan. Semua bercampur menjadi satu. Sedih, marah, kecewa.


Bahkan rasa bencinya terhadap Gilang tambah berkali-kali lipat.


"Bagaimana bisa orangtuaku menerima Gilang untuk menjadi suamiku setelah apa yang Gilang lakukan ke kakakku? Kak Gavin pasti juga tau akan hal ini? Jangan bilang kalau orangtuaku nggak tau apa-apa!"


"Wasiat perjodohan diantara kalian itu memang ada. Tapi tidak ada yang tau kalau Gilang dan Uli itu menjalin hubungan. Orangtuaku pun tau setelah aku yang menceritakan semuanya, setelah Gilang pergi ke luar negeri. Seandainya Uli masih ada, mungkin Uli yang akan menjadi istri Gilang. Saat itu Gilang juga sempat menolak. Tapi Papa dan Mama mengancam Gilang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kalau dia menolak perjodohan dengan kamu. Papa mama tidak ingin hubungan keluarga yang sudah terjalin sejak lama hancur."


Keluarga mereka memang sudah dekat sejak para kakek masih ada. Tapi dulu Mikha tak pernah diajak untuk bertemu dengan keluarga Gilang. Karena itu masa kecilnya tak mengenal siapa Gilang dan Gavin.


"Jahat! Kalian semua jahat! Kalian sudah menghancurkan hidup kakakku, hidupku, dan juga papa mamaku. Mereka harus tau soal ini."


Tak peduli lagi akan dirinya sendiri, Mikha benar-benar mencabut jarum infus di tangannya. Membuat darah segar mengalir dari tangannya.


"Kamu mau kemana, Mikha? Kondisi kamu belum pulih."


"Jangan sentuh gue!" Mikha menepis tangan Gavin dengan kasar. Gaya bicaranya pun sudah berubah. "Kalian udah jahat ke keluarga gue. Dan Lo, Kak." Mikha menunjuk Gavin dengan satu jarinya. "Lo juga jahat ke gue. Lo cuma jadiin gue pelampiasan karena perasaan Lo yang nggak pernah diterima kakak gue. Lo sama Gilang sama aja. Kedatangan kalian di hidup gue cuma buat menghancurkan gue. Gue benci sama Lo!"


"Nggak gitu, Sayang. Dengar penjelasan aku dulu."


"Apa lagi?" teriak Mikha penuh amarah. "Penjelasan apa lagi? Selama ini gue hidup sama orang yang udah menghancurkan kebahagiaan keluarga gue. Dan Lo berharap gue masih mau terima penjelasan Lo? Kalau Lo beneran sayang sama gue, harusnya Lo ceritain ini sejak awal agar gue bisa lepas dari Gilang. Tapi apa? Kenyataannya Lo malah diam. Bahkan sempat nggak mau bantu gue buat cari jalan keluar biar gue bisa lepas dari Gilang."


Mikha melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Gavin.


Gavin tak menyusul Mikha. Saat ini Mikha butuh waktu untuk sendiri.


Jika saat ini Gavin nekat mengejar Mikha, Gavin rasa akan percuma. Karena setiap penjelasan yang dia berikan pasti akan dimentahkan oleh Mikha.


Meskipun begitu, diam-diam Gavin mengikuti Mikha yang saat ini sudah masuk ke dalam taksi.


Dia harus memastikan Mikha selamat sampai rumah karena kondisi tubuhnya yang belum membaik.


Selama ini Gavin diam, bukan berarti membiarkan Mikha hidup bersama orang yang menghancurkan keluarganya.


Ada hal lain yang membuatnya tidak bisa bicara dan mengharuskannya untuk diam.


Permintaan papa dan mamanya agar tak membahas apapun yang sudah dilakukan Gilang demi menjaga sebuah hubungan keluarga agar tidak terputus yang membuat Gavin selama ini diam.


Tidak mudah untuk hal itu. Hatinya juga sakit melihat orang yang dia cintai menderita, hidup dengan orang yang sama sekali tidak mencintainya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Gimana? makin benci sama Gilang enggak?


__ADS_2