Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 78


__ADS_3

Perasaan Mikha campur aduk rasanya. Di sisi lain, dia amat sangat bahagia karena pagi ini hasil testpack menunjukkan garis dua. Terlihat sangat jelas.


Ajakan Mikha untuk bulan madu kedua ke Turki ternyata tak sia-sia. Belum ada tiga Minggu pulang dari sana, Mikha sudah mendapatkan hasil positif dari test yang dia lakukan lagi ini yang dia lakukan secara diam-diam.


Tapi di sisi lain, Mikha takut. Takut dengan reaksi yang akan ditunjukkan oleh Gavin nantinya jika Gavin tahu dirinya tengah hamil tanpa seijinnya.


Rasanya sangat bingung. Apalagi Mikha tidak mungkin berlama-lama menyembunyikan kehamilannya ini dari Gavin.


Cepat atau lambat Gavin pasti akan tahu juga. Entah dari postur tubuh Mikha, atau karena Gavin menyadari Mikha tak kunjung mendapatkan tamu bulanannya.


Mikha membersihkan testpack tersebut lalu mengantonginya untuk dia simpan dulu di tempat yang aman. Tempat yang tidak diketahui oleh Gavin.


Mikha segera keluar dari kamar mandi sebelum Gavin terbangun.


"Apa hasilnya?"


"Astaghfirullah..." Mikha terperanjat saat dia baru membuka pintu kamar mandi, Gavin sudah berdiri di depan pintu.


"Kakak udah bangun?" Mikha mengalihkan pembicaraan.


"Hasilnya apa?"


"Hasil apa?"


Mikha merasa takut dengan tatapan Gavin yang begitu tajam. Wajahnya juga terlihat sangat marah. Mikha rasa, Gavin sudah menyadari ada yang aneh dari dalam tubuh Mikha.


Dengan kasar Gavin memasukkan tangannya ke dalam kantong piyama Mikha. Mengambil testpack tersebut, lalu melihatnya sebentar sebelum akhirnya Gavin membuang testpack tersebut dengan kasar.


"Kak..."


"Kamu membantahku, Mikha. Harus berapa kali aku bilang kalau aku tidak ingin kamu hamil lagi, hah? Kamu udah nggak mau nurut sama aku? Mau seenak kamu sendiri? Diam-diam melepas alat KB dan diam-diam merencanakan kehamilan? Aku sudah menyadari hal ini semenjak kamu belum juga mendapatkan tamu bulanan kamu, Mikha. Ternyata dugaanku benar. Kamu hamil!"


Tangan Mikha bergetar mendengar bentakan demi bentakan yang keluar dari bibir Gavin. Kedua lengannya terasa sakit akibat cengkeraman tangan Gavin yang begitu kencang.


Tapi dari semua itu, hatinya lebih sakit mendengar penolakan Gavin atas anak yang Mikha kandung sekarang.


Dia bukan anak hasil hubungan gelap. Bukan juga anak hasil diluar nikah. Yang Mikha kandung adalah anak Gavin sendiri. Tapi kenapa sampai seperti ini penolakan yang diberikan oleh Gavin?


Gavin melepaskan lengan Mikha dengan kasar. Lalu pergi meninggalkan kamar mereka begitu saja. Meninggalkan Mikha yang tengah berderai air mata.


🌹🌹🌹


Gavin belum bisa melawan ketakutannya. Saat dimana dia hampir kehilangan Mikha saat melahirkan ketiga anaknya masih teringat jelas di kepala Gavin.

__ADS_1


Dia tak ingin hal tersebut terulang kembali. Gavin begitu takut kehilangan Mikha.


Tapi jika sudah seperti ini, lantas apa yang harus Gavin lakukan? Bukankah tidak ada yang bisa dia lakukan selain menerima?


Di tengah kekalutannya, tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka dengan kasar. Di ambang pintu, sudah ada Bella yang berdiri dan menatapnya dengan tatapan marah.


"Kurang ajar banget Lo, Vin. Lo itu seorang suami. Lo juga udah jadi ayah. Tapi bisa-bisanya Lo nggak mau terima anak yang Mikha kandung. Mau Lo apa, sih?"


Gavin menghela napas dengan kasar. "Lo nggak usah ikut campur urusan gue, bisa?"


"Gue nggak akan ikut campur kalau saja Mikha nggak minta resep obat buat menggugurkan kandungannya."


Ucapan Bella membuat Gavin membelalakkan matanya. "Maksud Lo apa?"


Bella tertawa sinis. "Lucu banget Lo masih tanya apa maksud gue! Mikha minta resep obat buat menggugurkan kandungan dia."


"Dan Lo kasih resepnya?"


"Lo pikir gue gila? Gue sebagai dokter nggak akan mungkin melakukan hal itu, Gavin. Tapi Mikha ngotot mau gugurin kandungan dia karena Lo nggak mau terima anak itu. Gila, ya? Ada suami sekaligus bapak macam Lo gini. Yang Mikha kandung itu benih Lo, hasil perbuatan Lo. Tapi bisa-bisanya Lo nggak mau terima anak itu."


"Lo tau gue masih trauma waktu Mikha lahirin triplet, Bel. Gue cuma nggak mau Mikha kenapa-kenapa. Itu aja."


Bella mengibaskan tangannya. "Aduh, udah, deh. Gue nggak mau dengar alasan apapun dari Lo. Gue rasa Lo juga nggak punya banyak waktu sekarang kalau Lo masih mau Mikha sama janinnya selamat."


"Dia emang nggak dapat resep dari gue. Tapi dia akan melakukan segala cara untuk melenyapkan janin itu, Vin. Gue nggak punya banyak waktu buat cegah dia karena gue juga mesti kerja. Permisi!"


Bella pergi meninggalkan Gavin yang masih terdiam dan bingung harus melakukan apa.


🌹🌹🌹


Prang!!!


Mikha begitu terkejut saat piring di tangannya melayang begitu saja setelah Gavin menampiknya dengan kasar.


Tanpa berucap apapun, Mikha hanya memandang Gavin dengan tatapan datarnya, lalu membereskan pecahan piring sebelum ketiga anaknya berlarian di sekitarnya dan menginjak pecahan tersebut.


Piring itu semula berisi potongan buah nanas muda dan buah durian kupas. Gavin dan Mikha tentu tahu bahwa buah itu merupakan pantangan bagi ibu hamil muda seperti Mikha karena beresiko bisa menggugurkan janin.


Gavin mencengkeram tangan Mikha sebelum Mikha berhasil menyentuh pecahan piring tersebut.


"Mbok Sumi, tolong bersihkan ini, ya!"


"Baik, tuan."

__ADS_1


Gavin segera membawa Mikha pergi dari sana lalu naik ke lantai tiga untuk masuk ke kamar mereka.


***


"Maksud kamu apa mau makan buah-buah itu?"


"Apa peduli kamu? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu tidak mau aku hamil lagi?"


"Mau menggugurkan kandungan kamu? Iya?"


"Itu kan, yang kamu mau? Kamu tetap nggak mau aku hamil. Sekarang dia udah terlanjur ada di dalam rahim aku. Lalu apa yang harus aku lakukan selain menggugurkan dia, hah?"


Gavin mengusap wajahnya dengan kasar. Menjambak rambutnya dengan kuat agar pening di kepalanya sedikit reda.


"Kamu tau? Bentakan kamu, perlakuan kasar kamu pagi tadi, itu nggak lebih menyakitkan daripada kamu menolak kehamilan aku. Lawan rasa takutmu, kak! Bahkan aku yang mengandung dan melahirkannya pun tidak pernah takut jika harus kehilangan nyawa demi melahirkan ketiga anak kita dan janin ini nantinya. Karena apa? Karena aku percaya kamu akan menjadi ayah yang sangat baik buat mereka. Aku yakin kamu akan memberikan yang tebaik buat mereka meskipun tanpa aku. Tapi kalau sikap kamu seperti ini, siapa lagi yang akan aku percaya untuk melakukan itu semua?" Mikha mengusap air matanya dengan kasar.


"Hamil dan melahirkan, itu udah kodratnya perempuan. Melahirkan memang pertarungan antara hidup dan mati. Tapi kami sebagai wanita tidak pernah takut akan hal itu, kak. Meskipun rasa khawatir siapa yang akan mengurus mereka ketika aku tidak ada itu begitu besar."


"Lantas kenapa sejak awal kamu ngotot mau hamil lagi? Bukankah sudah aku katakan kalau kita cukup dengan tiga anak?"


"Tapi aku mau lebih. Itu juga yang udah kita bicarakan di awal saat aku tanya kamu mau berapa anak dari aku. Aku mau kita punya banyak anak."


"Tapi aku nggak bisa kalau lihat kamu seperti saat melahirkan ketiga anak kita, Mikha."


"Dan kamu harus melawan rasa takut kamu. Sampai kapan kamu kayak gini? Ucapan itu adalah doa. Baik buruknya akan kembali pada diri sendiri. Yang aku butuhkan hanya kamu, kak. Sama seperti saat aku hamil Kenzo, Keenan dan Kenzie. Tapi kayaknya sekarang kamu udah nggak mau lagi nemenin aku kayak aku hamil pertama dulu, kak. Semua karena keegoisan kamu yang nggak mau melawan rasa takut kamu."


Mikha yang semula terduduk lemas di atas ranjang kini mulai beranjak. Mengusap kembali air matanya, lalu menatap Gavin dengan tajam. "Terserah kamu, Kak. Terserah kamu mau apa. Aku akan mempertahankan kehamilan aku, dengan atau tanpa persetujuan kamu. Tapi ingat! Ketika dia lahir, jangan berharap kamu bisa bertemu dengan dia, atau dengan aku sekalipun. Aku harap saat itu kamu tau diri bahwa kamu yang nggak pernah mengharapkan dia ada di dunia ini."


Mikha meninggalkan Gavin sendiri di dalam kamar. Kali ini Mikha akan benar-benar pergi dari rumah untuk sementara waktu.


Saat ini dia tidak bisa kalau harus berada dalam satu atap dengan Gavin. Terlalu menyakitkan. Mikha rasa menenangkan diri akan lebih baik untuk dirinya dan kesehatan janinnya.


"Maafkan Mami ya, triple Ken. Mami pergi untuk sementara waktu. Semoga kalian baik-baik aja sama suster. Yang nurut ya, Nak. Mami janji nggak akan lama. Semoga Papi kalian cepat sadar akan kesalahannya," ucap Mikha sambil menjalankan mobilnya dengan kencang.


Mikha pergi tanpa berpamitan langsung pada anak-anaknya karena Mikha tahu pasti mereka akan menangis menahan Mikha atau justru ingin ikut bersama Mikha.


***


Bab-bab terakhir yang membagongkan ye, kan? 😂 pagi ini upload. nanti sore InsyaaAllah lagi.


besok tinggal part terakhir. kalau nggak khilaf bikin extra part. 😂😂


Habis dari sini kita ke Mas Gilang sama Mas Satya, ya. tapi mungkin bakalan rutin update akhir bulan mei.

__ADS_1


Lama kali, Thor? iya. karena author mau liburan dulu biar otaknya enak lagi buat diajak mikir. ☺️☺️☺️


__ADS_2