Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 36


__ADS_3

Malam semakin larut, tapi Mikha belum juga beranjak dari restoran yang ada di sebuah penginapan dekat Bromo. Hawa dingin tak membuat Mikha ingin segera masuk ke kamar.


Satu jam lalu dia sudah membooking kamar tapi belum masuk ke dalamnya. Mikha lebih memilih untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Meskipun patah hati, dia tetap memikirkan tubuhnya. Rasanya tidak lucu kalau sampai dia sakit karena patah hati.


Cukup kejadian di pantai kemarin menjadi yang pertama dan terakhir. Kali ini tidak lagi.


Meskipun tetap berusaha baik-baik saja, kenyataannya Mikha tak bisa melupakan apa yang sudah Gavin lakukan pada dirinya.


Gavin membawanya terbang tinggi. Lalu menjatuhkannya ke jurang yang paling dalam. Hancur.


Mikha masih tak habis pikir kenapa Gavin bisa setega itu kepada dirinya. Apa salah Mikha? Apa yang kurang dari Mikha selama ini?


Tempat seindah Bromo, kenapa Gavin jadikan tempat untuk menghancurkan dirinya?


Kalau hanya ingin memutuskan hubungan, tidak perlu jauh-jauh ke Bromo. Tidak perlu menciptakan kenangan buruk di tempat yang indah seperti ini.


"Halo, Ma." Mikha mengangkat telepon dari Feni. Dengan nada seceria mungkin agar Feni tak curiga dengan keadaannya sekarang.


"Kamu di mana, Mikha? Ini udah malam, loh. Kenapa belum pulang?"


Mikha tersenyum miris. Setelah sekian lama, baru kali ini Feni menelepon Mikha hanya untuk menanyakan dimana keberadaan Mikha. Kenapa Mikha belum juga pulang.


"Aku di Bromo, Ma."


"Jauh banget. Sama siapa kamu di sana? Gavin?"


"Enggak, Ma. Nggak ada dia di sini. Aku pergi sendiri. Maaf nggak ijin dulu sama Mama."


"Jangan bohong, Mikha. Kamu sama Gavin, kan?"


"Enggak, Ma. Aku berani sumpah. Di sini nggak ada dia. Lagipula aku udah nggak ada hubungan apa-apa sama dia."


"Beneran? Syukurlah kalau hubungan kamu sama dia sudah berakhir. Mama senang dengarnya."


'Karena memang itu yang Mama dan Papa mau,' sahut Mikha dalam hati.


"Kapan kamu pulang, Sayang?"


"Belum tau, Ma. Mungkin besok atau lusa. Masih pengen jalan-jalan di sini."


"Healing?"


"Hmm," jawab Mikha sekenanya.


"Oke. Hati-hati ya, Sayang. Jaga diri kamu baik-baik. Cepat pulang, ya."


"Iya, Ma."


Mikha meletakkan handphonenya dengan kasar ke atas meja setelah sambungan telepon dengan mamanya terputus.


Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Mikha berpikir, sepertinya memang hanya dirinya yang tersakiti di sini. Sedangkan Gavin dan kedua orangtua Mikha sendiri bahagia dengan berakhirnya hubungan Mikha dengan Gavin.


"Dasar laki-laki nggak tanggungjawab. Dia yang bawa gue kesini, eh malah ditelantarin kayak gini. Gue yakin kalau Papa gue tahu kalau anaknya diperlakukan kayak gini, tu laki bakalan dibunuh."

__ADS_1


Mikha menggerutu kesal. Melangkahkan kakinya meninggalkan restoran dan masuk ke dalam kamar yang sudah dia pesan.


***


Pagi ini Mikha melakukan perjalan dari hotel menuju bandara Juanda. Pesawatnya menuju Jakarta akan berangkat jam sebelas siang nanti.


Sampai pagi ini, Mikha masih belum tau dimana keberadaan Gavin. Bahkan dengan teganya dia tidak menelpon Mikha mencari tahu dimana keberadaan Mikha dan bagaimana keadaannya. Sudah makan atau belum. Semalam menginap dimana. Gavin tidak peduli akan hal itu.


Mikha marah, kesal dan kecewa. Sampai kapanpun dia tidak akan memaafkannya Gavin atas segala perbuatan dia.


Cukup tau bahwa Gavin bukanlah orang yang pantas untuk dia cintai. Gavin juga sudah tidak mencintai dirinya lagi.


Restu kedua orangtua Mikha yang menjadi penghalang hubungan mereka mungkin hanya akal-akalan Gavin saja. Bisa jadi Gavin sudah menemukan orang yang jauh lebih baik dari Mikha.


"Mikha bukan, ya?"


"Siapa?" Mikha memandang seorang perempuan seusianya yang tiba-tiba menegurnya saat duduk di ruang tunggu bandara.


"Masa lupa sama aku? Aku Acha. Kita satu kelas waktu kelas tiga SMP."


"Acha?"


Acha mengangguk meyakinkan.


"Oh, Acha yang pas mau lulus ditembak cowok, terus malah nangis gara-gara nggak mau pacaran dan bingung nolaknya gimana karena ditembak di depan satu sekolah?"


"Ih, nggak usah diperjelas gitu, dong." Acha berpura-pura kesal. Membuat Mikha tertawa kecil.


"Lo darimana apa mau kemana, nih?"


"Aku mau pulang ke Jakarta. Kemarin habis dari rumah saudara aku. Terus kita bareng-bareng mendaki Semeru."


"Oh, ya? Seru,dong? Kapan-kapan ajak gue mendaki, dong. Katanya puncak Semeru bagus banget, ya? Negeri di atas awan kalau gue baca di internet."


Acha mengangguk membenarkan. "Bener. Kapan-kapan aku ajak kamu mendaki ke sana, ya."


Mikha mengangguk antusias.


"Gimana kuliah kamu?"


"Tinggal nunggu sidang Minggu depan."


"Wah, Alhamdulillah. Mau lanjut S2 atau langsung masuk perusahaan Papa kamu, nih?"


Mikha tertawa kecil. "Memang harus ke perusahaan Papa gue, ya?"


"Ya, kan, papa sendiri punya perusahaan. Masa mau majuin perusahaan orang lain?"


Mikha tertawa kecil. Sejenak dia lupa kalau sedang patah hati. Pertemuan dengan Acha, temannya semasa SMP yang waktu itu terkenal polosnya, menjadi hiburan tersendiri bagi Mikha.


Ditambah lagi, mereka satu pesawat menuju Jakarta. Dan kebetulan tempat duduk mereka pun berdekatan.


"Bisa kebetulan begini, ya?"

__ADS_1


Acha tertawa kecil. "Iya, ya. Jodoh kali."


"Ih, gue masih normal."


Acha tertawa lagi.


Terlalu asyik mengobrol dengan Acha, Mikha sampai tak sadar kalau Gavin berada di dekatnya.


Dia mengikuti kemanapun Mikha pergi demi memastikan Mikha baik-baik saja sampai Jakarta nanti.


Bahkan, Gavin yang semula akan pulang ke Jakarta menggunakan maskapai biru, rela membayar mahal agar bisa menukar tiketnya dengan tiket milik satu orang penumpang pesawat batik agar dia bisa satu pesawat dengan Mikha.


Semua bisa Gavin lakukan untuk Mikha. Tapi tidak dengan mempertahankan Mikha agar tetap di sisinya.


🌹🌹🌹


Flashback


Gavin merasa gugup saat tiba-tiba saja Feni datang ke kantornya, untuk pertama kalinya. Gavin pun sudah bisa menebak apa tujuan Mikha untuk datang.


"Silahkan duduk, Tante. Tante mau minum apa?"


"Tidak usah repot-repot, Gavin. Saya tidak akan lama di sini."


Gavin mengangguk dan tersenyum sungkan.


"Ada perlu apa, Tante? Harusnya Tante cukup telepon saya, biar saya yang datang."


Feni mengulas senyum ramah. "Sekalian ingin tahu kantor kamu. Papa mama kamu sehat?" Pertanyaan yang terdengar sangat basa-basi dari Feni. Dalam hati dia sudah tidak peduli lagi dengan Anton sekeluarga.


"Alhamdulillah, Tante. Mereka sehat. Semoga Om Wira dan Tante juga sehat."


"To the point saja, Vin. Saya minta tolong sama kamu, agar kamu mau meninggalkan anak saya."


Sesuai dengan dugaannya. Kedatangan Feni ke kantornya hanya untuk memintanya untuk meninggalkan Mikha.


"Saya tahu kamu sayang sama anak saya. Tapi saya mohon, tinggalkan dia. Sudah cukup kami disakiti keluarga kamu, Vin. Kami tidak ingin berurusan lagi dengan kalian."


"Tapi saya sangat mencintai Mikha, Tan. Saya berjanji tidak akan menyakiti Mikha."


"Oh, ya? Lalu kejadian kemarin sampai anak saya hampir meregang nyawa karena tenggelam di laut itu karena siapa kalau bukan karena kamu? Mikha memang tidak bercerita apapun. Tapi saya dan suami saya bisa tahu semuanya, Gavin."


Gavin kalah telak. Kejadian Mikha tenggelam kemarin sembilan puluh persen adalah kesalahan Gavin.


"Saya minta maaf untuk itu, Tante. Tapi saya janji tidak akan menyakiti Mikha lagi."


Feni tersenyum tipis. "Bayangkan jika keluarga kamu ada di posisi keluarga saya, Gavin. Saya yakin kamu akan melakukan hal yang sama dengan apa yang saya dan suami saya lakukan. Biarkan Mikha bahagia tanpa harus bersama kami dan berada di antara keluarga kamu. Tolong, Gavin! Tinggalkan Mikha kalau kamu memang menyayanginya. Saya permisi dulu. Selamat siang."


Feni beranjak meninggalkan ruangan Gavin tanpa Gavin sempat memperjuangkan cintanya di hadapan Feni.


Haruskah Gavin menyalahkan Gilang dalam hal ini?


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2