Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 76


__ADS_3

Sebesar apapun masalah yang ada di luar rumah, akan Mikha anggap tidak ada ketika dia mulai masuk ke dalam rumah.


Semua demi triplet. Mikha tak ingin terlihat sedih di hadapan ketiga anaknya.


"Anak-anak dimana, sus?" tanyanya pada Leni. Suster yang bertugas memegang Kenzie.


"Sedang tidur siang, Bu."


"Semuanya?"


Leni menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu."


Mikha mengangguk dan tersenyum tipis.


Mikha segera naik ke lantai tiga untuk masuk ke kamarnya, membersihkan diri lalu beristirahat. Mungkin akan lebih baik daripada dia harus melampiaskan rasa kecewanya pada Gavin dengan marah-marah.


Rasanya sulit untuk percaya kalau Gavin bermain api di belakangnya. Tapi kenapa dengan wanita itu dia bisa tertawa sebahagia itu? Sedangkan di rumah saja dia mendiamkan istrinya.


Kepala Mikha mulai berdenyut memikirkan semuanya. Dia memejamkan matanya, berharap bisa tidur sebentar saja agar pusing di kepalanya mereda.


***


Mikha tak sadar berapa lama dia tertidur. Rasanya sudah sangat lama sekali sehingga tubuhnya terasa berat untuk beranjak dari tempat tidur. Matanya seperti dioles perekat hingga sulit untuk terbuka.


Perlahan Mikha mencoba untuk membuka kedua matanya saat merasakan keningnya dicium dengan lekat.


"Bangun, Sayang, sudah sore. Jalan-jalan sama anak-anak yuk."


Setelah kedua matanya terbuka sempurna, Mikha menatap Gavin sebentar lalu memalingkan wajahnya. Hatinya kembali sakit setiap mengingat Gavin tertawa lepas bersama wanita lain.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Mikha menyingkirkan tangan Gavin yang melingkar di perutnya lalu bangun dari tidurnya.


"Sayang, kakak minta maaf. Tadi_"


Ucapan Gavin terhenti saat Mikha lebih memilih berdiri dan meninggalkan Gavin sendiri di atas ranjang.


Mikha masuk ke kamar mandi lalu menutup pintunya dengan sedikit kasar hingga membuat Gavin tersentak.


***


Diamnya Mikha membuat Gavin tak tenang. Lebih baik Gavin mendengar Mikha mengomel sepanjang hari daripada didiamkan seperti ini.


Mikha selalu menghindar setiap Gavin berusaha mendekat. Tak merespon apapun yang diucapkan atau dilakukan Gavin.


Mikha hanya memberinya lirikan sekilas, lalu kembali memalingkan wajahnya tanpa berucap apapun.

__ADS_1


Dalam hal melayani Gavin, Mikha masih melakukannya. Mengambilkan makanan untuk Gavin, hingga menyiapkan pakaian tidur Gavin dan dia letakkan di atas ranjang.


Setelahnya Mikha masuk ke kamar anak-anaknya dan berniat untuk tidur di sana.


Malam ini Mikha tak ingin berada di atas ranjang yang sama dengan Gavin.


Tak tahan dengan sikap Mikha yang terus menerus mendiamkan dirinya, Gavin segera masuk ke kamar anak-anaknya.


Dilihatnya Mikha yang tengah tertidur lelap di dekat Kenzo. Tanpa membangunkan Mikha, Gavin mengangkat tubuh Mikha dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar mereka.


"Enghh..." Lenguhan kecil terdengar dari bibir Mikha saat Gavin membaringkan tubuh Mikha ke atas ranjang. Lalu Gavin menyusul, membaringkan tubuhnya ke atas ranjang juga dan memeluk Mikha dengan erat.


Mikha langsung membuka mata. Saat itu wajah Gavin tepat berada di hadapannya. Begitu dekat hingga membuat Mikha terkejut.


Mikha hanya mencoba menghindar dan mencoba melepaskan diri tanpa bersuara sedikitpun.


"Mau kemana, sayang, hm?"


"Tolong lepaskan aku," ujar Mikha dingin.


"Kakak minta maaf. Dia_"


"Jadi alasan kamu nggak mau punya anak lagi dari aku karena kamu maunya punya anak dari wanita lain, kan?"


"Sejak semalam kamu mendiamkan aku. Pergi kerja juga pergi gitu aja nggak pamitan sama aku, sama anak-anak juga. Kalau sama aku, okelah kalau nggak mau pamitan. Tapi sama anak-anak aja nggak loh. Kamu pergi gitu aja. Bahkan nggak ada hubungin aku sampai siang. Tau-tau kamu udah ketawa-ketawa sama wanita lain padahal di rumah kamu diamkan istri kamu sendiri."


Gavin mengambil napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan mendengar ucapan panjang istrinya. Bahkan Mikha terus saja menyela Gavin yang belum sempat menyelesaikan ucapannya.


"Dengarkan dulu penjelasan kakak bisa? Jangan dipotong terus omongan kakak."


"Apa? Kamu mau bilang, ini salah paham. Ini nggak kayak yang kamu pikirkan. Dia bukan siapa-siapa, kok. Dia cuma rekan bisnis, kok. Ah, basi banget penjelasan kayak gitu."


"Tapi emang gitu yang mau kakak jelaskan, sayang. Cuma dia bukan rekan bisnis kakak."


"Tuh, kaannn... Dia pasti selingkuhan kamu. Makanya kamu bisa bahagia banget sama dia sampai-sampai nggak mau lagi punya anak dari aku. Kamu nggak ingat sama anak istri kamu. Emang jahat banget ya, kamu. Kurang aku apa coba sampai kamu tega selingkuhin aku kayak gini?" Mikha menangis sesenggukan.


Hatinya terasa sakit jika apa yang dia pikirkan tentang Gavin itu benar adanya.


"Dengar dulu, sayang. Jangan menyela kalau kakak belum selesai bicara, oke? Biar kamu nggak sibuk berperang sama pikiran kamu sendiri."


Ucapan Gavin yang terdengar tegas membuat Mikha diam.


"Dia Hani, sepupu kakak yang baru pulang dari Jerman. Dia anak dari adiknya almarhum Papa Wilson."


"Bohong! Kamu nggak pernah cerita kalau punya sepupu bernama Hani itu. Nggak usah ngarang, ya."

__ADS_1


"Kakak nggak ngarang, Sayang. Kakak pernah kenalin dia ke kamu, kok."


"Kapan coba? Orang aku nggak kenal sama dia."


"Berarti kamu beneran lupa," ucap Gavin sesuai dengan apa yang Gavin pikirkan. Mikha lupa dengan Hani. "Hani datang ke pernikahan kita waktu itu. Saat itu juga kakak ngenalin dia ke kamu. Tapi mungkin karena banyaknya tamu yang datang membuat kamu tak begitu mengingat wajah Hani."


Mikha memalingkan wajahnya memandang ke arah lain. Mulai menyadari kesalahannya yang mementingkan amarah daripada mendengarkan penjelasan.


Lagipula, siapa yang tidak salah paham jika berada di posisi Mikha? Sejak semalam didiamkan suaminya, pergi tanpa pamit dan tidak menghubungi Mikha sama sekali, lalu siangnya melihat Gavin tertawa dengan wanita yang tidak dia kenali.


"Terus kenapa pagi tadi pergi gitu aja nggak pamitan? Kalaupun buru-buru pasti juga nyempetin banget buat ketemu sama anak-anak dulu."


"Maafkan kakak, sayang. Itu karena kakak masih sedikit kesal karena semalam kamu membicarakan hal yang kakak nggak suka."


Mikha memberanikan diri untuk menatap kedua mata Gavin.


"Kakak harap kamu tidak akan bertanya kenapa, sayang. Kamu tau alasannya dan jawaban kakak tetap sama. Kamu tidak akan hamil lagi. Tiga anak cukup. Kakak sayang sama kamu. Kakak seperti itu bukan karena kakak nggak mau lagi punya anak dari kamu. Kakak mau. Sangat mau, sayang. Tapi kakak lebih mikirin keselamatan kamu. Kakak dan anak-anak butuh kamu, Sayang. Kakak nggak tau gimana jadinya kami kalau tanpa kamu," ujar Gavin panjang sebelum Mikha mempertanyakan lagi apa alasan Gavin tak ingin Mikha kembali hamil.


Meskipun Mikha tahu jawabannya akan tetap sama, tapi Mikha berharap sekali saja Gavin akan mengucapkan iya untuk keinginan Mikha yang satu itu.


"Kamu mau maafin kakak, kan? Kakak sangat mencintai kamu, Sayang. Kakak nggak akan mungkin berpaling ke lain hati. Semua yang kakak cari sudah ada pada dirimu. Kakak nggak butuh orang lain lagi selain kamu."


Gavin mencoba memeluk Mikha lagi meskipun Mikha masih sedikit jual mahal. Sok-sokan menyingkirkan tangan Gavin padahal dalam hati ingin Gavin lebih mengencangkan pelukannya.


"Udah nggak marah lagi, kan, Sayang?"


"Siapa bilang?" sahut Mikha dengan ketus.


"Coba sini. Kalau nggak nolak berarti udah nggak marah."


Mikha masih berusaha memberontak namun tenaganya masih kalah dengan Gavin.


Mikha hanya bisa berpasrah saat Gavin memeluk tubuh Mikha dengan erat dan mulai mencium bibir Mikha. Tak kuasa Mikha untuk menolaknya saat Gavin menggerakkan tangannya, menginginkan hal lebih dari tubuh Mikha.


Tak bisa Mikha pungkiri bahwa dia merindukan sentuhan Gavin. Dia merindukan pelukan Gavin.


"I miss you so much, Mikha. I love you," ucap Gavin diantara napasnya yang tersengal usai kegiatan panas mereka malam ini.


Mikha tak membalas. Tapi eratnya pelukan tangannya pada tubuh Gavin sudah menjadi tanda bahwa Mikha tak ingin berpisah dengan Gavin.


Tubuh Mikha sama lelahnya dengan Gavin setelah melewati beberapa ronde. Tapi tangan Gavin masih memberi kode bahwa dia ingin mengulangnya lagi.


Bercin*a setelah bertengkar memang berbeda rasanya. Lebih nikmat, lebih panas, lebih menggebu dan lebih memuaskan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2