Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 74


__ADS_3

"Kamu pasang KB aja, sayang. Habis ini udah, nggak usah hamil lagi. Udah dapat tiga anak juga, kan?"


"Aku masih pengen hamil, kak. Kalau bisa anak perempuan."


Ucapan Mikha dibalas dengan tatapan lekat oleh Gavin. "Kakak nggak mau kejadian seperti kemarin itu terulang lagi, Yang. Apalagi dokter mengatakan kalau kamu hamil lagi, kemungkinan besar juga akan kembar lagi karena ada gen kembar dalam diri aku. Nggak ada hamil lagi, Sayang. Cukup kemarin kamu buat kakak hampir mati karena kondisi kamu."


Mikha diam tak membalas ucapan panjang Gavin.


Gavin yang sudah menceritakan apa yang ada di dalam mimpinya membuat Mikha paham betul dengan apa yang Gavin rasakan.


Semua itu semata-mata karena Gavin tidak ingin kehilangan dirinya. Dan kejadian kemarin terulang untuk yang kedua kalinya.


Baiklah Mikha mengalah. Setelah selesai nifas nanti, dia akan segera memasang alat KB agar dia tidak hamil lagi. Dalam waktu dekat mungkin.


Mikha masih akan terus berusaha membujuk Gavin agar mereka nanti bisa punya anak lagi. Dua, atau tiga lagi tidak masalah bagi Mikha.


***


Gavin mendorong pelan stroller berisi ketiga anak mereka yang terlelap. Setelah enam hari lamanya menjalani perawatan di rumah sakit, Mikha dan ketiga anaknya sudah diijinkan untuk pulang ke rumah.


Kondisi ketiga anaknya yang semula kekurangan berat badan kini sudah bertambah dan mendekati normal.


Minggu depan mereka harus kembali check up ke rumah sakit untuk memeriksakan perkembangan mereka.


"Welcome home!!!"


Keempat orangtua mereka, ada Gilang dan istrinya, Bella dan kedua anaknya serta suaminya, juga Sena yang sedang hamil besar dan suaminya turut hadir untuk menyambut kepulangan Mikha, Gavin, dan triplet.


Ratusan balon tersebar di lantai rumahnya. Balon berwarna kuning bertuliskan welcome home tertempel di ruang tamu rumah mereka sebagai sambutan.


"I'm so happy, Mikha. Akhirnya kalian pulang juga," Sena memeluk erat Mikha.


Mikha tak dapat menahan air matanya mengingat kemarin Mikha sempat koma setelah melahirkan ketiga jagoannya.


Pikirannya pun sama dengan yang lain, takut kehilangan Mikha. Berusaha untuk berpikir positif, tapi ketakutan itu tetap ada.


Syukurlah Mikha bisa bertahan dengan semuanya hingga kini mereka bisa berkumpul bersama. Mikha juga sudah terlihat lebih sehat sekarang.


"Thank you, Sen. Aku juga bersyukur masih diberikan kesempatan untuk mengasuh ketiga anakku."


Gavin mengajak Mikha dan anak-anaknya ke kamar agar bisa beristirahat.


Kamar Mikha dan Gavin yang sebelumnya ada di lantai bawah sudah berpindah ke lantai tiga. Kamar ketiga anaknya pun ada di samping kamar mereka.


Mereka menaiki lift yang ada di rumah tersebut untuk menuju lantai tiga. Sengaja Gavin memilih rumah yang ada lift-nya mengingat Mikha yang kemarin hamil besar dan kasian jika harus naik turun tangga.


Dan yang pasti juga memudahkan aktivitas mereka hingga tidak terlalu lelah naik turun tangga. Apalagi sekarang mereka memiliki tiga bayi yang pasti akan sangat kerepotan jika membawa mereka naik turun tangga.

__ADS_1


"Selamat datang, Mami triplet. Semoga nyaman dengan kamar barunya, ya."


Kedua mata Mikha berbinar melihat kamar barunya yang didominasi dengan warna lilac. Warna yang beberapa bulan ini menjadi warna kesukaannya.


Gavin rela menurunkan jiwa kemachoannya demi menyenangkan Mikha. Lelaki pecinta warna gelap itupun rela merubah warna kamar mereka sesuai dengan warna kesukaan wanita yang sangat dia cintai.


"Kapan kakak siapkan ini semua?"


"Beberapa hari yang lalu. Kakak menyuruh Rio untuk mencari pekerja sekaligus designer interior. Mereka kerja lembur agar selesai tepat waktu dan hari ini bisa dipakai. Kita ke kamar anak-anak, yuk. Ada connecting door di sini."


Kekaguman Mikha tak sampai di situ saja. Ternyata Gavin juga mendesign kamar mereka dengan sebuah connecting door.


Kamar triplet di desain dengan sederhana, tapi terlihat begitu mewah dilengkapi dengan lemari besar berisi perlengkapan bayi mereka dengan lengkap.


"Kakak kamu buka baby shop di sini?" sindir Mikha saat melihat peralatan triplet yang di susun seperti di sebuah baby shop.


"Boleh, sayang. Tapi khusus untuk anak-anak kita sendiri."


Mikha tertawa kecil. Hal seperti itu bukan suatu perkara yang sulit bagi Gavin.


Seandainya hari ini Mikha benar-benar meminta Gavin membuatkannya baby shop, Mikha yakin besok semua sudah tersedia dan siap dipakai.


Mikha mendekati Gavin. Memeluknya dan menyandarkan kepalanya pada dada Gavin. "Kak... Terimakasih sudah berusaha memberikan yang terbaik buat aku. Aku bahagia memiliki kakak dalam hidupku," ucap Mikha dengan mengeratkan pelukannya.


Gavin mengusap kepala Mikha dengan lembut. Menciumi puncak kepala Mikha berkali-kali. "Seharusnya kakak yang berterimakasih sama kamu, Sayang. Apa yang kakak berikan saat ini nggak sebanding dengan perjuangan kamu untuk hamil dan melahirkan anak-anak kita. Kamu mempertaruhkan nyawamu untuk mereka. Itu nggak sebanding dengan semua ini, sayangku..."


🌹🌹🌹


"Jadi namanya siapa? Kan, nggak enak panggilnya kakak, adik satu dan adik dua begitu."


Yang lainnya tertawa kecil mendengar ucapan Anton. Sedangkan Gavin dan Mikha berpandangan mendengar pertanyaan Anton. Lalu mereka pun turut tertawa setelahnya.


"Yang pertama namanya Kenzie, yang kedua namanya Keenan, dan yang ketiga namanya Kenzo. Nama panjangnya semuanya Rakandra," ucap Gavin membaut mereka semua tersenyum.


Masih sulit membedakan mana yang anak pertama, mana kedua dan mana yang ketiga karena mereka kembar identik.


Tapi, Gavin dan Mikha langsung bisa membedakan di antara mereka. Padahal yang lebih dulu sering melihat triplet adalah kakek neneknya.


Mikha beberapa hari koma, sedangkan Gavin selalu menjaga Mikha dan jarang meninggalkan Mikha pada saat Mikha koma.


Mungkin bukan hal yang aneh jika Gavin dan Mikha langsung bisa mengenali. Mereka Papi Maminya. Nalurinya pasti kuat untuk bisa membedakan mereka.


Dari perbedaan yang mereka dapatkan, Kenzie bibirnya lebih mirip Mikha. Keenan matanya lebih sipit daripada dua saudaranya. Dan Kenzie memiliki hidung paling mancung dan matanya sangat mirip dengan mata Gavin.


Perpaduan yang lengkap. Pasti Mikha dan Gavin berusaha keras pada saat membuat adonan triplet hingga masing-masing dari ketiganya mewarisi wajah Mikha dan Gavin. Adonan yang sempurna hingga menjadi bayi lucu-lucu seperti Kenzie, Keenan dan Kenzo.


***

__ADS_1


Hari selanjutnya, mereka disibukkan dengan acara aqiqah triple baby K. Lantai satu didekorasi dengan seindah mungkin karena akan ada anak-anak yatim yang datang sore nanti.


Mikha tak diijinkan untuk terlibat dalam acara aqiqah. Sebab itu dia berada di kamar bersama ketiga anaknya. Duduk santai sambil menyusui ketiga anaknya secara bergantian.


Jika mereka menangis bersamaan, mereka meminum ASI yang sudah dipompa dan dimasukkan ke dalam freezer.


Sebagai seorang ibu, Mikha sadar bahwa dia harus memberikan nutrisi yang terbaik untuk anak-anaknya.


Dan usaha yang Mikha lakukan adalah minum suplemen pelancar ASI agar dia bisa memberikan ASI eksklusif, paling tidak sampai umur mereka enam bulan. Banyak makan sayur dan buah. Dan terutama perasaannya harus selalu bahagia agar ASI bisa tetap lancar.


Karena ibu yang stress, banyak pikiran dan tekanan akan berefek buruk pada produksi ASI.


"Kak, aku masih gendut banget, ya? Ukuran baju aku sekarang XL."


Mikha berdiri di depan cermin. Memperhatikan bayangannya yang terpantul di dalam cermin.


Sebelum melahirkan, berat badan Mikha mencapai delapan puluh kilogram. Itu berarti berat badannya naik tiga puluh kilogram. Dan terakhir sebelum pulang kemarin, berat badannya masih diangka enam puluh sembilan.


"Kata siapa kamu gendut, Sayang?" Gavin memeluk Mikha dari belakang. "Bukannya kakak pernah bilang kalau kamu itu semakin seksi kalau seperti ini, hm? Kalau dipeluk gini enak banget, Sayang," imbuhnya mesra demi membuang rasa ketidakpercayaan diri pada Mikha.


Mikha mengerucutkan bibirnya. "Kira-kira bisa kayak dulu lagi nggak, ya, Kak? Kalau enggak nanti bisa-bisa kak Gavin lirik cewek lain yang lebih seksi, dong."


"Siapa yang bilang kayak gitu. Nggak, ah, ngomongnya jangan aneh-aneh. Kamu tau rasa sayang dan cinta kakak ke kamu itu sangat besar. Kakak tidak mempermasalahkan bagaimana bentuk tubuh kamu, Sayang. Kamu seperti ini juga karena mengandung anak-anak kita. Yang terpenting adalah kamu sehat, anak-anak juga sehat. Nggak usah terlalu memikirkan berat badan kamu, Sayang."


Menyadari Gavin tidak suka dengan ucapannya, Mikha segera membalikkan tubuhnya dan memeluk Gavin dengan erat untuk menenangkan Gavin yang mungkin saja sudah emosi tapi dia tetap menahannya.


"Maafkan aku, kak," ucap Mikha pelan.


"Iya, sayang. Buang jauh-jauh pikiran buruk itu, ya." Gavin memegang dagu Mikha, lalu sedikit mengangkatnya hingga Mikha mendongak dan menatap kedua mata Gavin. "Sampai kapanpun, hingga tua nanti, cuma kamu yang akan ada di dalam cerita hidup kakak. Kita akan menua bersama."


Mikha mengangguk dan tersenyum. Kedua mata Mikha terpejam saat Gavin mulai mencium bibir Mikha.


Hampir saja Gavin hilang kendali andai saja tangisan Keenan tidak menghentikan aksi Papi Maminya. Anak bayi itu sepertinya tahu betul kalau Papi Maminya sedang bermesraan.


Mikha dan Gavin tertawa kecil. Mikha langsung mendekati Keenan dan mengecek apa penyebab Keenan menangis.


"Aduh, tau aja kalau Papi Mami mau bermesraan, Nak. Dia buang air, Kak," ucap Mikha.


"Kamu duduk aja, Sayang, biar kakak yang bersihkan."


"Oke, deh."


Mikha tak perlu lagi mengajari Gavin karena saat di rumah sakit, Gavin juga sudah ikut belajar mengurus bayi.


Kebahagiaan Mikha begitu besar bisa memiliki Gavin yang bisa Mikha sebut, dia begitu sempurna sebagai seorang anak, suami, serta kini menjadi seorang ayah.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2