
Gavin tersulut api cemburu saat baru saja dia datang, tapi sudah melihat Mikha berbincang dan tertawa renyah dengan seorang lelaki yang mungkin usianya tak jauh dari Mikha.
Gavin segera turun dari mobil dan mendekati Mikha. Memeluk pinggang Mikha dan menarik tubuh Mikha agar menempal pada tubuhnya.
"Siapa, sayang?" tanya Gavin dengan menekankan kata sayang. Menunjukkan pada lelaki tersebut bahwa Mikha adalah miliknya.
"Kenalin, Kak. Dia Arkan. Dia pemilik mobil yang semalam aku tabrak. Yang bawa mobilnya itu sopirnya ternyata."
"Terus ngapain dia ke sini?" Gavin masih terlihat sangat tidak suka dengan keberadaan Arkan.
Sebagai sesama lelaki, tentu Gavin paham kalau diam-diam tatapan Arkan itu tengah mengagumi kecantikan Mikha.
"Dia ngembaliin KTP aku, Kak. Semalam aku kasih KTP aku buat jaminan."
"Terus urusannya gimana? Udah selesai? Pak Arkan, mobilnya sudah teratasi? Biaya perbaikannya kurang?"
"Kak?" tegur Mikha. Merasa tak enak hati atas pertanyaan beruntun yang dilontarkan Gavin.
"Sudah. Kami sepakat untuk damai. Mobil sama-sama rusak jadi memutuskan untuk membiayai sendiri-sendiri perbaikannya. Mikha, dahinya beneran nggak apa-apa itu?" tanya Arkan pada Mikha. Membuat Gavin diam-diam mengepalkan tangannya.
"Enggak_"
"Istri saya nggak kenapa-kenapa, kok. Aman. Ayo, Sayang. Kita jadi pergi hari ini, kan?" Gavin dengan cepat menyela Mikha yang hendak menjawab pertanyaan dari Arkan.
Sekaligus memberi kode pada Arkan agar dia sadar diri dan segera meninggalkan rumah Mikha.
"Kak?" Mikha memberi tatapan protes.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Mikha. Dan..." Arkan menggantung ucapannya.
"Gavin," terang Gavin dengan jelas. Mengerti bahwa Arkan bermaksud bertanya siapa namanya.
"Oh, Pak Gavin. Saya permisi dulu."
"Iya. Hati-hati," balas Mikha. Sedangkan Gavin hanya mengangguk samar tanpa ekspresi.
Setelah kepergian Arkan, Mikha langsung menatap Gavin dan tersenyum usil. "Ciyee... Yang cemburu. Pakai bilang istri segala. Padahal belum sah."
"Jangan salah. Sore ini kakak bawa ustadz buat nikahin kita secara agama dulu. Baru ngurus berkas terus resmi negara," ucap Gavin membuat Mikha tercengang.
Gavin langsung masuk begitu saja ke rumah Mikha. Sudah seperti rumahnya sendiri saja masuk tanpa permisi. Bahkan meninggalkan tuan rumah yang masih terdiam karena ulahnya. Mikha masih sangat terkejut dengan ucapan Gavin barusan.
"Itu orang udah ngebet banget kali, ya," ujarnya pelan lalu mengikuti gavin masuk ke dalam rumah.
***
"Ma, masa kak Gavin nanti mau bawa ustadz biar nikahin kita secara agama. Ngebet banget nggak, sih, dia?" Mikha mengadu pada Feni. Di sana juga ada Gavin yang dengan santainya menggigit potongan brownies yang dia ambil dari meja makan.
Sejak kapan dia bisa sebebas ini di rumah? Batin Mikha bertanya.
"Kayaknya tadi pagi Gavin udah telepon Papa, ya, soal ini?"
Gavin mengangguk membenarkan. "Iya, Tante. Om Wira, sih, setuju aja katanya."
"What?" Mikha memekik terkejut. "Kakak nggak bahas ini dulu ke aku? Nggak tanya aku setuju apa enggak?"
"Memangnya kamu nggak setuju?" tanya Feni pada Mikha.
Giliran Mikha yang terdiam. Sebenarnya setuju saja dia dan Gavin menikah cepat. Mikha hanya terlalu terkejut dengan rencana Gavin sama sekali tidak diketahui oleh Mikha.
Menikah sore ini?
Berarti nanti malam bisa...?
__ADS_1
Mikha segera mengerjapkan matanya. Mengusir bayangan yang tidak senonoh yang melintas begitu saja di otaknya.
🌹🌹🌹
Siang ini, Gavin dan Mikha akan pergi ke makam Nathan. Keduanya ingin mengatakan pada Nathan kalau mereka akan segera menikah.
Gavin akan memenuhi janjinya pada Nathan untuk menjaga dan membahagiakan Mikha. Dan Mikha akan memenuhi permintaan Nathan agar dirinya selalu bahagia.
Meskipun mereka yakin Nathan sudah melihat mereka, tapi tidak ada salahnya untuk berziarah dan mengatakan pada Nathan.
Berbicara soal makam, Mikha belum sempat bertanya makam siapa yang didatangi Gavin waktu itu.
"Kak.."
"Ya?"
"Aku mau kakak jujur sama aku."
Gavin menoleh sekilas. Lalu kembali fokus pada jalanan di hadapannya. "Jujur soal apa, Sayang?"
"Gisella itu siapa?"
Gavin mengerem mobilnya mendadak. Untung tubuh Mikha tertahan seat belt. Jadi aman. Tidak ada benturan lagi di kepalanya karena mobil Gavin yang semula melaju cukup kencang tiba-tiba terhenti begitu saja.
"Kak? Bisa hati-hati nggak?"
"Maaf. Maaf, Sayang. Kamu nggak apa-apa, kan?"
Mikha menggeleng kuat. "Enggak apa-apa. Siapa, sih, dia? Kakak sampai segitunya waktu aku nyinggung soal dia?"
Terdengar hembusan napas berat Gavin. Bibirnya tersenyum tipis dan menatap Mikha lekat. "Nanti kita kenalan sama dia, ya," ucapnya lalu kembali melajukan mobilnya.
***
"Tanggal lahir kalian sama."
"Kita kembar."
Mikha mengangguk paham. Kedua matanya kembali membaca nama yang terukir di atas nisan. Gisela Revalina Wilson.
"Dia sakit?"
Gavin menggeleng pelan. Matanya menyiratkan luka yang dalam. Selalu begitu setiap Gavin mengingat tentang Gisella yang meninggal di usia sembilan tahun.
"Tertabrak truk."
"Innalillahi..." Mikha menutup bibirnya mendengar kenyataan yang baru di ketahui.
Flashback
"Ini kucing siapa, sih? Kucing buluk kayak gini kenapa bisa masuk ke sini?" Dengan jijik Gilang mengangkat kucing tersebut.
"Kucingnya mau dibawa kemana, Gilang?" teriak Gisella panik. Hewan kesayangannya diangkat dengan cara yang kasar seperti yang dilakukan Gilang.
"Ini Kak Gisella yang bawa?"
"Iya. Mau kamu bawa kemana? Dia mau makan dulu."
"Ini kotor banget, Kak. Buang aja. Minta beli yang bersih kalau emang mau pelihara kucing."
"Jangan, Gilang! Biar dia makan dulu."
"Ah, bikin kotor." Gilang tak peduli dengan permohonan Gisella yang meminta Gilang untuk melepaskan kucing tersebut.
__ADS_1
Gilang justru berlari membawa kucing tersebut ke jalan raya depan pos satpam kompleks rumah mereka.
Gisella terus mengejar.
Saat itu Gavin yang baru pulang bermain bola ikut mengejar Gisella karena melihat Gisella mengejar Gilang yang terus berlari dan tak mau berhenti menyerahkan kucing tersebut pada Gisella.
"Gilang, kasian kucingnya. Lepasin!"
"Jelek, Kak. Buang aja!"
"Jangan Gilang! Kasian. Gilang!"
Gisella berteriak panik saat melihat kucing tersebut dilepaskan ke tengah jalan oleh Gilang.
Tak ingin kucing itu celaka, Gisella berniat untuk menyelamatkan kucing tersebut tanpa melihat ke kanan dan ke kiri.
Hingga akhirnya ada sebuah truk melaju dengan kecepatan cukup tinggi menabrak tubuh Gisella hingga terlempar beberapa meter.
"Gisella!" Gavin berteriak memanggil Gisella. Segera dia hampiri tubuh Gisella yang bersimbah darah. Gavin terlambat menyelamatkan Gisella agar tidak tertabrak.
"Bangun, Sel! Bangun!" Gavin berusaha membangunkan Gisella yang sudah tidak sadarkan diri dan bersimbah darah. Tapi tak ada respon apapun, membuat Gavin berteriak histeris.
Sedangkan pelaku utama yang membuat Gisella turun ke jalan, yaitu Gilang, dia hanya menatap bingung pada orang-orang yang berkerumun.
Dia merasa bersalah, tentu saja. Tapi dia tidak mau kalau Papa dan mamanya menyalahkan Gilang atas kejadian ini.
Sebab itu dia memohon pada Gavin untuk tidak mengatakan apapun pada kedua orangtua mereka. Gilang meminta Gavin untuk mengatakan bahwa semua adalah kecelakaan.
Hingga sampai sekarangpun, tak ada yang tahu tentang kejadian yang sebenarnya.
Orang-orang yang ada di sekitar kejadian pun enggan dimintai saksi karena takut akan ikut berurusan dengan kepolisian.
Dan sejak saat itu pula, Gavin marah pada Gilang. Bahkan tidak lagi menganggap Gilang sebagai adiknya meskipun mereka lahir dari rahim yang sama walaupun dengan ayah yang berbeda.
Flashback end
"Jadi Gilang udah licik sejak kecil." Mikha membatin.
Pantas saja Gilang tidak pernah jera dengan apa yang dia lakukan. Kelicikannya sudah terlatih sejak kecil.
Mikha jadi ragu, apakah Gilang yang bijak yang dia temui di Paris dulu itu hanya sebuah kamuflase saja? Pada dasarnya Gilang masih tetap sama. Tidak pernah berubah.
Ah, sudahlah! Mikha sendiri tak mau memikirkan soal Gilang lagi.
"Jadi ini yang menyebabkan kak Gavin dan Gilang nggak pernah terlihat akur?"
Gavin mengangguk membenarkan.
"Kakak nggak ada rencana buat bilang soal ini ke Mama Yunita dan Papa Anton?"
"Kakak tidak ingin mereka marah pada Gilang. Apalagi Mama. Kakak nggak bisa bayangin gimana hancurnya Mama kalau Mama tahu soal ini. Biar kakak saja yang tahu semuanya. Diam seperti ini lebih baik daripada membuka luka lama, Sayang."
Ternyata bukan hanya Maulida yang hidupnya berakhir karena ulah Gilang. Kakaknya sendiri pun meregang nyawa akibat ulah Gilang.
"Aku ikut sedih, Kak. Maaf aku sudah membuka luka lama Kak Gavin. Aku tahu ini nggak mudah dan sangat menyakitkan."
Gavin tersenyum dan mencium kening Mikha dengan lekat. "Kamu nggak salah, sayang. Kamu berhak tahu soal ini."
Mikha tersenyum lebar mendengarnya.
🌹🌹🌹
Selamat pagi, selamat berpuasa bagi yang menjalankannya! Ada yang ngebet nih. di post nggak ya malam pertamanya? 😂😂 lagi puasa nih soalnya. 🤪🤪
__ADS_1