Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 75


__ADS_3

Usia anak-anak Mikha dan Gavin sudah mulai masuk bulan ke empat. Sudah mulai bisa tengkurap dan tertawa ketika diajak bercanda.


Mikha bersyukur perkembangan anak-anaknya begitu bagus. Mereka juga anak-anak yang baik. Jarang rewel kecuali jika badannya panas setiap selesai imunisasi.


Mikha juga beruntung Gavin selalu membantunya untuk mengurus anak-anak.


Meskipun dari masing-masing anak memiliki baby sitter sendiri, tapi Mikha juga turun tangan langsung untuk mengurus mereka.


Termasuk saat malam hari. Mungkin banyak yang mengandalkan baby sitter untuk mengurus mereka jika menangis secara bersamaan.


Tapi Mikha dan Gavin selalu terbangun dan bahu membahu untuk mengurus ketiganya. Tak peduli selelah apa mereka di siang hari. Selelah apa mereka setelah melakukan olahraga malam yang sampai saat ini selalu rutin setiap malam diminta oleh Gavin. Kecuali kalau Mikha sedang datang bulan.


Mikha juga sudah mulai kembali bekerja. Hanya sampai siang saja karena Mikha tak betah jika harus berlama-lama berjauhan dengan triplet kesayangannya.


"Sayang, sini biar kakak aja yang gendong Kenzie." Malam ini Kenzie tidak ingin lepas dari gendongan. Sejak imunisasi dua hari yang lalu, Kenzie yang masih rewel setiap malam. Sedangkan yang lainnya sudah aman terkendali.


Mikha tersenyum. "Udah mulai tidur, kok. Nanti kalau dipindah gendongan malah bangun. Mending kakak duduk sini aja. Aku sandaran di punggung kakak boleh?"


"Tentu saja, Sayang. Sini."


Gavin duduk di atas ranjang. Mikha pun mengikutinya, lalu menyandarkan punggungnya pada punggung Gavin.


Di saat seperti ini, mereka bisa lebih dekat lagi. Kadang mereka juga bercerita banyak hal. Terutama membicarakan masa depan triplet.


"Kayaknya kalau punya anak cewek seru, Pi. Mami jadi ada temennya. Punya anak tiga cowok semua. Kalau kelakuannya sama kayak Papinya, nanti Mami yang pusing," canda Mikha.


"Emangnya Papinya gimana?" tanya Gavin.


"Dulu Papi suka ngasih harapan palsu ke Mami. Semoga anak-anak nanti nggak kayak gitu, ya. Mami yang pusing ngurus cewek-cewek yang ngadu ke Mami karena jadi korban harapan palsu anak-anak Mami.", Mikha tertawa kecil di akhir ucapannya.


"Mana ada yang begitu, Mami? Yang dulu nggak usah diingat lagi, deh."


Mikha tertawa kecil mendengar suara Gavin yang terdengar kasian setiap kali Mikha menyinggung kesalahan Gavin dulu meskipun hanya untuk candaan saja.


Rasa bersalah di hati Gavin pasti muncul lagi setiap Mikha membahasnya.


"Maaf, Papi. Nggak bermaksud, kok. Lagian, kan, Papi sekarang udah nggak kayak gitu. Romantisnya nggak ketulungan kalau sekarang."


"Emang iya?"


"Iya." Mikha menganggukkan kepala meskipun Gavin tidak melihatnya. "Makanya, punya anak cewek yuk. Bukannya seru, ya, dikelilingi cewek-cewek cantik nantinya? Nanti Papi juga akan menjadi cinta pertama untuk anak cewek kita nanti. Seneng banget bayangin romantisnya Papi sama anak cewek kita nanti." Mikha masih berusaha untuk mengajukan proposal untuk hamil lagi meskipun masih harus menunggu triplet minimal usia tiga tahun.


"Sayang, jangan mulai lagi, ya. Kakak tetap nggak mau kamu hamil lagi. Tiga anak cukup, kok. Kakak nggak mau lihat kamu kayak kemarin lagi. Cukup sekali aja, sayang, kamu buat kakak hampir mati karena melihat keadaan kamu." Gavin sendiri masih kekeh dengan keputusannya.


"Tapi aku pengen punya anak banyak, Kak. Aku nggak apa-apa, kok, kalau_"


"Sudah. Kenzie udah tidur, kan?" Gavin memotong pembicaraan Mikha dan berdiri begitu saja tanpa aba-aba. Membuat Mikha hampir terjengkang karena kehilangan sandarannya.

__ADS_1


Dengan hati-hati, Gavin mengambil Kenzie dari gendongan Mikha dan membawanya ke kamar lalu ditidurkan bersama dua saudaranya yang lain.


"Kak aku, kan_"


"Tidur, Mikha. Sudah malam. Besok kakak harus kerja dan kamu juga."


Gavin mengambil posisi membelakangi Mikha. Apalagi baru saja Gavin memanggil dirinya hanya dengan nama saja. Satu hal yang tak pernah Gavin lakukan kecuali saat Gavin marah saat dulu Mikha nekat meminta Gilang membelikan apa yang dia inginkan.


Mikha menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Dadanya mulai sesak seiring dengan matanya yang mulai memanas.


Semakin Mikha menahan air matanya agar tidak terjatuh, dadanya juga terasa semakin sesak.


Gavin benar-benar tidak ingin Mikha hamil lagi. Mikha pun paham akan ketakutan yang Gavin rasakan.


Tapi bukankah itu semua sudah takdir? Mikha percaya hal itu tidak akan terulang lagi nantinya.


Jika Mikha hamil lagi, Mikha tidak akan memaksakan dirinya sendiri untuk melahirkan secara normal. Mikha bisa mengambil jalan operasi meskipun setiap proses pasti ada resikonya.


Mikha turut berbaring di samping Gavin. Dia pun turut membelakangi Gavin. Malam ini dia tidur tanpa pelukan Gavin. Padahal sebelum Kenzie rewel mereka saling berbagi kehangatan dan mencari kepuasan satu sama lain.


ðŸŒđðŸŒđðŸŒđ


Sampai pagi harinya, Gavin masih mendiamkan Mikha. Tak ada kecupan mesra di saat Mikha membuka matanya. Tak ada senyum manis yang Mikha lihat yang menyambutnya saat terbangun.


Semua terasa dingin. Gavin masih marah sepertinya. Mikha pun tak berani untuk memulai percakapan.


Dengan wajah sedih yang berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan ketiga anaknya, Mikha mengganti baju Keenan yang baru saja selesai mandi.


"Keenan udah wangi, nih. Mau kemana, sih, ganteng?"


Pertanyaan Mikha disambut oleh tawa dan ocehan kecil dari Keenan. Hal seperti itu saja sudah bisa membuat Mikha bahagia di tengah kekalutan hatinya.


Kenzo yang berada di samping Keenan dan belum mandi pun turut tertawa sambil memasukkan tangannya ke dalam mulut.


Saat Mikha tengah mengurus anak-anaknya, terdengar suara mobil Gavin yang meninggalkan rumah mereka begitu saja.


Tanpa berpamitan pada Mikha, ataupun pada anak-anaknya. Padahal tak pernah sekalipun Gavin melewatkan hal ini setiap paginya.


Air mata Mikha akhirnya jatuh juga. Sejak semalam dia menahannya dan pagi ini pun dia sudah tidak bisa menahan lagi.


Apakah permintaannya untuk hamil lagi itu sesuatu yang tidak bisa dimaafkan sampai Gavin begitu marah padanya?


Tak ingin terlihat sedih, Mikha segera menghapus air matanya dan lanjut memakaikan baju kepada Kenzie yang baru saja selesai dimandikan oleh susternya.


ðŸŒđðŸŒđðŸŒđ


Mikha bukan tipe orang yang suka menceritakan masalahnya pada orang lain sekalipun itu pada Sena, atau orangtuanya.

__ADS_1


Mikha terbiasa memendam semuanya sendiri, berperang dengan isi kepala sendiri. Sakit sendiri, dan dia juga akan sembuh dengan sendirinya.


Bibir Mikha yang selalu tersenyum saat memimpin meeting pagi menjelang siang ini. Tak ada yang tahu jika kondisi hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Mikha begitu pandai menyembunyikan lukanya.


Gavin yang biasanya juga rutin menghubunginya setiap lima belas menit atau setengah jam sekali pun sampai detik ini tidak Gavin lakukan.


Oleh karena itu, Mikha memutuskan untuk mendatangi kantor Gavin. Meminta maaf lebih dulu tidak apa asalkan Gavin tidak mendiamkannya seperti ini.


"Bapak ada?" tanyanya pada Riska, resepsionis di kantor Gavin.


"Pak Gavin sedang meeting di luar, Bu. Sepertinya setelah makan siang baru kembali."


Mikha melirik jam di tangannya. Hampir mendekati makan siang. Menunggu setengah jam sampai satu jam sepertinya tidak masalah bagi Mikha.


"Saya tunggu di ruangannya saja."


"Baik, Bu."


Mikha tak menunggu di ruangan Gavin. Melainkan di ruang tamu yang ada di sebelah ruangan Gavin. Ruangan terbuka dengan banyak sofa yang membentuk huruf L. Ruangan yang biasa digunakan untuk menerima tamu-tamu penting yang ingin suasana mengobrol lebih santai dengan view kota Jakarta dari ketinggian.


Tak terasa sudah satu jam lamanya Mikha menunggu Gavin. Saat itu juga, suara lift yang berhenti membuat Mikha tersenyum dan berdiri untuk menyambut kedatangan Gavin.


Tapi senyum di bibir Mikha memudar begitu saja saat melihat Gavin keluar dari dalam lift bersama Rio dan seorang wanita cantik.


Gavin dan wanita itu tertawa bersama. Bahkan seperti tak ada beban dalam tawa yang ditunjukkan Gavin. Seolah dia lupa kalau pagi tadi dia meninggalkan rumah dalam keadaan marah pada Mikha.


Bahkan untuk berpamitan kepada Mikha dan anak-anak pun tidak Gavin lakukan.


Mikha menatap tajam Gavin yang mulai menyadari keberadaan Mikha.


Gavin mematung. Seperti merasa tidak menyangka kalau ada Mikha di kantornya. "Sayang, kamu di sini?"


Mikha melengos sinis mendengar Gavin memanggilnya sayang. Entah dari hati, atau hanya untuk menutupi kesalahannya hari ini.


Tanpa berkata apapun, Mikha mengusap air matanya yang turun di pipinya dengan kasar. Lalu meninggalkan Gavin begitu saja.


"Sayang, kamu mau kemana?"


Mikha tak menghiraukan panggilan Gavin. Beruntung lift segera terbuka. Mikha segara masuk ke dalamnya dan pintu lift tertutup lagi di saat yang tepat. Sebelum Gavin berhasil mengejar Mikha.


ðŸŒđðŸŒđðŸŒđ


Enek apa maning Iki... 😂😂


Di rumah tangganya Gavin Mikha di kasih konflik dikit-dikit boleh lah, ya... Biar nggak manis mulu karena kenyataannya dalam rumah tangga itu pasti akan ada konfilk. Besar atau kecil konfliknya. Iya, kan???

__ADS_1


Katanya jangan dulu tamat. 😂😂 Tak turutin nih. ðŸĪŠðŸĪŠ


__ADS_2