Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 64


__ADS_3

Ada benarnya juga apa yang dikatakan Mikha. Jika sikapnya pada Gilang masih tetap sama saja, bukan tidak mungkin kalau perlahan Yunita akan tahu apa yang selama ini mereka sembunyikan.


Gavin tak ingin melihat Yunita kembali bersedih jika dia tahu semuanya. Tidak ingin juga Yunita juga marah pada Gilang karena kesalahan Gilang di masa lalu.


Sudah. Gavin ingin menyudahi drama di keluarganya yang disebabkan oleh Gilang.


Pernikahannya dengan Mikha sudah memberikan kebahagiaan untuk Anton dan Yunita. Gavin tak ingin merusak kebahagiaan mereka lagi.


Meskipun terasa canggung, Gavin mencoba memperbaiki interaksinya dengan Gilang.


Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama itu juga Gavin terus bersikap dingin pada Gilang. Sayang, Gilang tak pernah menyadari apa kesalahannya. Itu yang membuat Gavin semakin kesal.


Gilang justru semakin berulah. Sikapnya tak pernah berubah hingga dia menghancurkan kebahagiaan keluarganya sendiri.


Kata Mikha Gilang sudah berubah. Entah memang sudah berubah atau hanya kamuflase saja. Gavin harap memang Gilang sudah berubah menjadi lebih baik.


Bagaimanapun juga dia adalah adiknya. Lahir dari rahim yang sama. Sebagai seorang kakak tentu berharap Gilang bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


🌹🌹🌹


Gavin dan Mikha tak diijinkan untuk kembali ke apartemen karena sudah terlalu malam.


Wajah Gavin terlihat sangat keberatan sebab siang tadi Mikha sudah selesai datang bulan.


Tidak perlu ditanya kenapa, karena tentu saja Gavin ingin mengambil jatahnya yang diliburkan selama lima hari lamanya.


Andai tidak sedang bekerja dan pulang kerja tidak diminta papanya untuk datang ke rumah, sudah sejak siang tadi juga Gavin mengurung Mikha di dalam kamar.


Mikha tertawa geli melihat wajah suaminya yang tertekuk kesal.


"Kalau tahu bakalan gini, ini kamar kakak pasang peredam suara, Sayang."


"Biar apa?" tanya Mikha berpura-pura tidak paham dengan maksud Mikha.


"Kamu tahu betapa berisiknya kita kalau lagi begituan, Sayang. Apalagi kamu. Kalau udah keenakan nggak bisa kontrol suara." Gavin mencubit pipi Mikha pelan dengan perasaan gemas. Mulai merindukan suara Mikha yang semakin membuat dirinya terpancing untuk melakukan lebih saat mereka tengah bercin*a.


"Habis gimana, dong? Apa kita kabur aja ke apartemen?" Mikha memberi usul.


"Yang ada Mama marah-marah besok kalau tahu kita nekat pulang ke apartemen."


Mikha tertawa kecil. "Nekat ajalah. Kamar Mama sama Papa di bawah, kan?"


"Kamu nantang kakak, sayang?"


"Enggak. Cuma menawarkan. Katanya kalau istri yang meminta duluan itu pahalanya besar. Aku cuma praktek aja, sih, Kak," ucap Mikha pelan. Tangannya bermain di atas dada bidang milik Gavin membuat Gavin tak tahan lagi.


"Kamu mulai nakal, sayang."


"Kakak suka, kan?"


"Tentu saja. Rasakan ini!"


Selanjutnya, Gavin yang lebih mendominasi.

__ADS_1


Kerinduannya terbayar sudah malam ini dengan beberapa ronde hingga membuat Mikha lemas kelelahan.


***


Gilang berusaha untuk tetap fokus bekerja di tengah berisiknya dua manusia yang berada di kamar sebelah.


Gilang rasa mereka sengaja melakukannya untuk memanas-manasi Gilang yang pasti sudah sangat cemburu.


Membayangkan betapa panasnya percintaan mereka di setiap malam hanya dengan mendengar desa**n Mikha yang terdengar merdu di telinga Gilang.


Konsentrasi Gilang pecah setiap mendengar Mikha mend*s*h.


"Harusnya denganku kamu seperti itu, Mikha. Aku mungkin lebih kuat dari Gavin," ucap Gilang frustasi.


Tanpa dia sadari, miliknya kembali bereaksi. Jika sudah seperti ini, menuntaskannya sendiri tidak akan pernah cukup bagi Gilang.


Gilang segera mengambil jaket dan kunci mobilnya. Dia harus ke suatu tempat untuk menuntaskan apa yang bergejolak di dalam dirinya.


🌹🌹🌹


"Dari mana, Gilang? Semalam kamu pergi kemana?" Pertanyaan Anton menghentikan langkah kaki Gilang yang hendak naik ke lantai dua.


Gilang melihat ke arah meja makan dimana Papanya, Mama, serta Gavin dan Mikha ada di sana. "Pergi, Pa. Kamar sebelah berisik banget," ucap Gilang menyindir Mikha dan Gavin.


Mikha dan Gavin saling berpandangan. Lantas Mikha menundukkan kepalanya saat Anton dan Yunita melihat mereka dengan senyuman menggoda.


"Pergi kemana? Nggak ke tempat aneh-aneh, kan?"


Gilang terdiam sebentar mendengar pertanyaan Yunita.


"Mama nggak mau kamu aneh-aneh lagi, Gilang. Belajar dari kesalahan-kesalahan kamu di masa lalu."


Gilang mengangguk paham.


"Sarapan dulu."


"Iya, Ma."


***


"Kak Gavin."


Gavin terdiam sebentar mendengar suara Gilang mendengar namanya dengan sebutan "Kak".


"Lo panggil gue apa?" Gavin berusaha memastikan dia tidak salah dengar.


"Kakak. Memangnya salah?"


Gavin menggelengkan kepalanya. "Ada apa?"


"Lo nggak nyuruh gue masuk?"


"Biasanya Lo juga masuk gitu aja tanpa ijin tanpa disuruh."

__ADS_1


Gavin berjalan memasuki ruangannya. Diikuti dengan Gilang di belakangnya.


"Gue mau minta maaf sama Lo."


"Atas?"


"Semua yang sudah pernah gue lakukan yang mungkin membuat Lo marah. Termasuk dengan kematian Gisella, dan gue minta Lo buat merahasiakan hal itu dari Mama dan Papa. Gue akan jujur sama mereka soal itu."


Ucapan Gilang membuat Gavin membelalakkan matanya. "Saran gue nggak usah."


"Kenapa?"


"Lo lihat keluarga kita udah baik-baik aja. Mama juga udah ikhlas dengan kepergian Gisella. Mama pikir kecelakaan itu sudah takdir Gisella. Kalau seandainya Lo ngomong sama Mama dan Papa soal hal ini, gue yakin Mama akan sangat terpukul. Saran gue nggak perlu. Lo cukup perbaiki diri Lo sendiri. Gue juga udah maafin Lo."


Gilang pikir apa yang dikatakan Gavin ada benarnya juga. Gilang tidak ingin merusak kebahagiaan keluarga mereka saat ini.


Yang harus dia lakukan adalah memperbaiki dirinya sendiri agar menjadi lebih baik. Agar kedua orangtuanya juga bisa bahagia karena dirinya. Bukan hanya karena Gavin dan Mikha saja.


"Oh, iya. Move on, ya!" ujar Gavin membuat Gilang memicingkan kedua matanya. "Gue tau kalau Lo belum bisa berhenti mencintai istri gue. Saran gue, Lo buka hati Lo buat orang lain. Gue yakin kalau Lo mau, ada banyak di luar sana yang terbaik buat Lo."


Gilang tertawa renyah. Menertawakan dirinya sendiri yang memang belum bisa move on dari Mikha.


"Gue emang belum bisa move on dari Mikha. Tapi gue juga nggak berniat buat merebut Mikha dari Lo, kak."


"Bagus, deh, kalau gitu."


🌹🌹🌹


Gavin merenggangkan dasinya, merasa gerah setelah membuka isi pesan dari Mikha yang saat ini sudah berada di apartemen.


Mikha mengirimkan sebuah foto dirinya memakai gaun tidur berwarna merah menyala.



[Cepat pulang, Sayang. Udah siap nih.]


Kulit putihnya terlihat begitu menggoda berpadu dengan warna merah, seolah meminta untuk segera disentuh.


Padahal, Gavin sedang melakukan meeting akhir bulan dengan beberapa karyawannya.


Hal itu membuat Gavin tidak nyaman. Dan terpaksa mengakhiri meeting dengan cepat.


"Maaf, saya tidak enak badan. Kita lanjut besok pagi saja meetingnya. Saya permisi dulu."


Orang-orang di dalam ruang meeting tersebut saling berpandangan. Namun langsung paham bahwa sebenarnya bos mereka pulang cepat bukan karena sedang tidak enak badan. Tapi karena sedang merindukan istrinya.


Mereka awalnya tidak menyangka kalau Mikha yang dulu adalah adik ipar Gavin, sekarang menjadi istri Gavin.


Beberapa dari mereka tentu mengenal Mikha dengan baik. Sempat beberapa magang di kantor Gavin.


Kecurigaan mereka dulu tentang hubungan Gavin dan Mikha sekarang sudah terbukti benar.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Coming soon cerita Gilang, ya. Udah dapat 1 part, sih. tapi postnya nunggu ini tamat dulu. 😜😜


__ADS_2