Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 62


__ADS_3

Kedatangan Sena ke rumah Mikha sepertinya harus disesali oleh dirinya sendiri.


Baru juga masuk, Sena sudah disambut dengan Mikha dan Gavin yang tengah asyik berciuman di ruang tamu.


Andai Sena tak berdeham menegur mereka, mungkin Gavin sudah melanjutkan aksinya yang hampir saja membuka pakaian Mikha.


Keduanya memandang ke arah Sena dengan tatapan tanpa dosa. Seolah apa yang mereka lakukan bukanlah suatu hal yang membuatnya panik ketika diketahui orang lain.


Namanya juga sudah sah. Mau apapun bebas. Di rumah sendiri juga. Sepi pula.


Kedua orangtua Mikha sedang bekerja. Sedangkan asisten rumah tangganya sedang cuti beberapa hari.


"Apa, ya, yang gue nggak tau?" ujar Sena sarkasme.


Mikha dan Gavin saling melempar pandangan. Lalu tertawa kecil mengingat kemarin mereka baru saja mengerjai Sena soal foto yang mereka posting kemarin.


"Lo ganggu aja, sih, Sen. Orang lagi mau produksi juga. Masuk nggak pakai salam lagi. Ketuk pintu dulu bisa kali..." ujar Mikha sambil merebahkan tubuhnya ke atas sofa.


Gavin segera menyusul dan menyandarkan kepalanya di bahu Mikha. Kedua tangannya memeluk pinggang Mikha dari samping.


Sena melengos sinis melihat kemesraan mereka.


"Gue udah panggil nama Lo berulangkali, Mikha. Lo aja yang lagi asyik sampai nggak denger suara gue."


"Iya, ya? Gue nggak denger. Sorry, deh. Maklum, pengantin baru, ya, gini. Dunia kayak milik berdua aja, ya, kak." Mikha terkekeh pelan.


"Pengantin baru? Kapan nikahnya?"


"Kemarin malam. Baru nikah secara agama, sih. Tapi lagi proses ke KUA juga. Resepsi sebulan lagi."


"Tunggu, tunggu, tunggu! Gue masih nggak paham. Kok, bisa, sih?"


"Ya bisalah, Sena. Rencana kita waktu itu berhasil. Saya lupa ngabarin kamu karena terlalu menikmati jadi suami," timpal Gavin yang semakin mengeratkan pelukannya pada Mikha.


Seolah memberi kode agar Sena pergi dulu, menunda dulu urusannya dengan Mikha karena ada yang jauh lebih penting dari itu.


Sena menghela napas jengah melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Mikha dan Gavin. Bukan iri atau tidak suka. Tapi Sena juga ingin bermesraan begitu dengan kekasihnya.


Sayang, pernikahannya masih dua bulan lagi. Masih sangat lama dan Sena harus sabar. Apalagi ditengah gempuran kemesraan yang ditunjukkan oleh sahabatnya.


"Gue ikut seneng, Mikha. Serius! Gue seneng banget akhirnya kalian bisa bersatu gini. Kayaknya gue pulang aja, ya. Kak Gavin kayaknya udah nggak bisa nahan banget itu."


"Bagus, deh, kalau menyadari." Bukan Mikha, tapi Gavin yang bersuara.


Membuat Mikha tertawa keras sekaligus merasa tak enak hati karena secara tidak langsung diusir oleh Gavin.


"Nanti aja, kak. Aku sama Sena dulu, ya."


"Sayang?"


"Nanti tiga ronde," bisik Mikha lalu mengerlingkan matanya dengan genit.


"Beneran, ya?"


"Beneran. Lepas dulu tangannya!"


Gavin melepaskan pelukannya pada Mikha dengan perasaan enggan. Membiarkan Mikha bersama Sena terlebih dahulu.

__ADS_1


***


"Kak Gavin udah nggak tahan banget, ya, sampai saat itu juga nikahin kamu?"


"Lo pahamlah. Sejak dulu dia udah nahan banget buat nggak nyentuh gue sebelum jadi istrinya. Dia nggak mau nunggu lagi, katanya."


"Orangtua Lo sama mertua Lo udah baikan?"


Mikha mengangguk mengiyakan. "Gue seneng akhirnya mereka bisa seperti dulu. Karena memang tidak ada yang bisa menyembuhkan sakit hati kecuali dengan keikhlasan. Papa sama Mama gue berusaha untuk mengikhlaskan semuanya demi kebahagiaan gue. Tapi akhirnya mereka juga bahagia ketika tidak lagi mengingat kesalahan mertua gue."


"Gue terharu banget sama perjalanan cinta kalian, Mikha. Gue seneng akhirnya Lo bisa bahagia dengan Kak Gavin."


"Kalau bukan karena Lo yang marah-marah ke gue waktu itu, mungkin hari ini gue nggak sebahagia ini, Sen. Thanks, ya. Gue sayang banget sama Lo."


"Aaaa..." Sena merengek terharu. Merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Mikha. "Gue juga sayang sama Lo, Mikha," ucapnya.


"Btw, Kha. Gimana rasanya diunboxing?"


Mendengar pertanyaan Sena, pipi Mikha memerah. Dia ingat betul bagaimana rasanya, tapi malu untuk menjelaskan semua itu pada Sena.


Meskipun sakit diawal, tapi Gavin bisa membuatnya melayang. Terbuai dengan setiap sentuhannya.


"Ah, jadi kangen Kak Gavin," ucap Mikha dalam hati. Padahal, Gavin tengah berada di kamar Mikha. Menunggu Mikha selesai bicara dengan Sena.


"Hey! Gue tanya rasanya, ya. Bukan nyuruh Lo bayangin yang iya-iya sama Kak Gavin," ucap Sena membuyarkan lamunan Mikha.


"Nanti juga Lo ngerasain sendiri. Kalau gue ceritain ntar nggak seru, dong."


"Iyain aja, deh."


🌹🌹🌹


Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya pernikahan Gavin dan Mikha resmi tercatat di negara.


Keduanya harus menyerahkan beberapa persyaratan dan surat pernyataan bahwa mereka telah menikah siri sebelumnya.


Beberapa saksi, termasuk ustadz yang menikahkan mereka turut dihadirkan untuk menjadi saksi di KUA setempat.


Sebenarnya mereka tak perlu mengulang akad nikah. Tapi di dalam agama juga tidak dilarang jika akan dilakukan akad nikah lagi.


Apalagi saat mereka menikah hanya beberapa orang saja yang datang. Daripada terjadi fitnah dan hal-hal yang tidak diinginkan, mereka akan kembali melakukan akad nikah di hari yang sama dengan hari resepsi mereka nanti.


Mengulangi akad dalam pernikahan dan perkara lainnya juga tidak merusak akad yang pertama.


Kini mereka tinggal fokus mengurus persiapan resepsi yang akan di gelar dua Minggu lagi.


Bukan hal yang sulit bagi mereka untuk mempersiapkan pesta besar dalam waktu singkat.


Semua teratasi dengan mudah. Termasuk gaun yang akan dipakai oleh Mikha.


Pegawai Tante Cristy akan bekerja lembur demi menyelesaikan gaun yang diinginkan oleh Mikha.


"Berarti rencana kita waktu itu sukses, ya, Vin. Tante ikut seneng, loh."


"Rencana apa, Tante?" Mikha memandang Christy dan Gavin dengan penuh tanya.


Christy dan Gavin tertaw kecil. "Ya waktu kakak datang ke sini dan berpura-pura mau tunangan, Sayang. Semua sudah tersusun dengan rapi, kan?"

__ADS_1


Mikha mengangguk membenarkan. Dia tak sanggup berkata-kata lagi saat tahu kalau ternyata Christy pun turut terlibat dalam rencana itu.


Saat tengah melakukan fitting, Mikha merasa ada yang tidak nyaman di dalam dirinya. Gavin menyadari hal tersebut. Segera dia mendekati Mikha dan bertanya ada apa dengan dirinya.


"Kenapa, sayang? Kamu sakit?"


Mikha menggelengkan kepalanya. "Aku ke kamar mandi dulu," pamitnya.


Gavin mengikuti Mikha ke kamar mandi. Menunggu Mikha di luar sampai Mikha selesai dengan urusannya.


"Kamu kenapa?" tanya Gavin saat Mikha keluar dari kamar mandi.


"Aku boleh minta tolong, kak?"


"Apa, Sayang?"


"Beliin aku pembal*t."


"Kamu?" Gavin menatap Mikha penuh tanya.


Mikha mengangguk membenarkan. Seolah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Gavin.


"Malam ini nggak dapat jatah, dong?"


Mikha mengangguk lagi.


"Lima hari?"


Sekali lagi Mikha mengangguk.


Gavin masih ingat saja berapa lama biasanya Mikha kedatangan tamu bulanannya.


"Bulan ini gagal positif, dong?"


"Masih ada bulan depan, kakak sayang. Udah, ya, beliin dulu di maret-maret depan. Udah nggak nyaman banget nih."


"Iya, sayang. Sebentar, ya."


Mikha mengangguk dan tersenyum lebar.


🌹🌹🌹


Gavin terlihat cuek saat beberapa orang tersenyum melihat dirinya membawa satu kotak roti bersayap yang biasa Mikha pakai.


Sudah dua tahun lebih, tapi Gavin tak pernah lupa apa saja dari Mikha. Termasuk hal sekecil ini pun tidak pernah dilupakan oleh Gavin.


Mungkin mereka heran, lelaki setampan Gavin, bisa-bisanya mau membelikan barang seperti itu.


Lagipula kenapa? Bukankah hal itu sangat manis?


Perempuan yang lelakinya mau membelikan benda tersebut pasti sangat beruntung.


Mereka mau mengesampingkan rasa malunya demi wanitanya.


🌹🌹🌹


Sepi banget cerita ini 😭😭 kayaknya udah mau end aja, deh. gimana, ya, orang bisa nulis part sampe ratusan. aku segini aja udah mentok terus idenya. 😌😌

__ADS_1


__ADS_2