
Butuh waktu semalaman bagi Mikha untuk menguatkan tekadnya untuk menemui Gavin. Mikha takut hatinya belum kuat untuk berhadapan dengan Gavin.
Bagaimanapun juga, Gavin pernah mengukir kenangan indah untuk dirinya. Meskipun harus berakhir dengan hal yang menyakitkan.
Saat pintu lift terbuka di lantai dasar, orang yang pertama kali Mikha lihat adalah Gavin yang sedang duduk. Tubuhnya bersandar pada sandaran sofa dan kepalanya terpejam.
Wajahnya terlihat sangat lelah dan pucat membuat Mikha sedikit merasa bersalah. Entah sejak kapan dia ada di sana sampai sepagi ini Gavin sudah menunggunya lagi. Atau sejak semalam dia tidak pulang?
Mikha rasa tidak mungkin. Security tidak mungkin membiarkan orang asing berlama-lama di sana.
"Kak..." ucap Mikha dengan mengguncang bahu Gavin pelan. Tapi anehnya, Gavin tak terusik sama sekali.
Apa dia tidur?
"Bangun, kak."
Khawatir karena Gavin tak juga meresponnya, Mikha memegang kening Gavin. Panas. Gavin demam tinggi.
"Ya Allah, Kak Gavin. Kak Gavin demam."
"Hey!" Suara Gavin yang lembut dan sedikit serak membuat Mikha terdiam. Gavin segera membenarkan posisi duduknya dan tersenyum lebar ke arah Mikha.
"Lo demam. Sejak kapan ada di sini?"
"Belum lama juga, sih. Tapi ketiduran karena kepala pusing banget. Tapi kakak senang kalau akhirnya kamu mau ketemu sama kakak."
"Nggak harus menyiksa diri sendiri juga. Kuat jalan nggak? Kita naik sarapan sama minum obat dulu."
"Kuat, kok."
"Yakin?"
Gavin mengangguk yakin.
Meskipun sedikit pusing dan mual jika berjalan, tapi dia menguatkan langkahnya untuk mengikuti Mikha.
Sebenci apapun Mikha pada seseorang, dia tidak mungkin membiarkan orang itu dalam keadaan sulit dan sakit.
Mikha harus berperang dengan ego dan pikirannya sendiri. Ingin membenci, tapi juga tidak tega melihat Gavin seperti ini.
Sesampainya di apartemen Mikha, Mikha meminta Gavin untuk duduk di meja makan.
Dengan cekatan, Mikha menyiapkan sepiring nasi beserta lauknya untuk Gavin.
"Cuma ada ini. Mbak Mia belum sempat masak," kata Mikha sambil menyerahkan piring berisi nasi, ayam goreng, dan tumis kacang panjang.
"Enggak apa-apa." Gavin tersenyum senang menerimanya.
Air putih saja akan terasa spesial jika Mikha yang memberikannya.
__ADS_1
"Biasanya minum obat apa? Gue cuma ada ini."
Mikha menunjukkan beberapa obat pribadinya. Obat herbal cair, obat pusing, penurun panas.
Dan Gavin pun memilih salah satunya untuk dia konsumsi. Kebetulan hampir sama dengan apa yang sering dia minum ketika dia merasa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.
"Terimakasih, ya, udah peduli sama kakak."
Mendengarnya, Mikha menatap Gavin sekejap. "Sama-sama," balasnya lalu mengembalikan obat-obat tersebut pada tempatnya.
"Habis ini istirahat_"
"Bisa kita bicara sebentar?" sela Gavin.
"Gue ada kuliah sampai jam sebelas."
"Oh. Oke." Wajah Gavin terlihat kecewa mendengar ucapan Mikha yang terlihat kembali menghindari percakapan diantara mereka.
"Kakak tunggu di sini aja boleh? Please, Mikha, kakak butuh bicara dengan kamu sebentar saja."
Mikha menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar. "Terserah Lo. Kalau mau di sini, gue bilang sama Mbak Mia biar dia nggak ke sini."
Gavin tersenyum senang. "Thanks."
"Hmm. Gue kuliah dulu. Lo bisa istirahat dimana aja asalkan nggak di kamar gue."
"Iya. Hati-hati, ya."
Setelah berada di luar, barulah Mikha bisa menghembuskan napas dengan lega. Jantungnya bisa berdetak dengan normal lagi setelah dia bekerja lebih keras saat Mikha berdekatan dengan Gavin.
Mikha ingin membodohi dirinya sendiri karena sudah mengijinkan Gavin ada di apartemennya sampai dia pulang.
Bukankah ini terlalu berelebihan?
Tapi Mikha juga manusia berperasaan. Mana mungkin dia tega mengusir orang yang sedang sakit? Iya kalau dia selamat sampai tempat dia menginap. Kalau ada apa-apa di jalan, mungkin dirinya juga nanti yang akan repot dan merasa bersalah.
Lagipula memang niat Mikha sejak awal sudah ingin memberi waktu pada Gavin untuk bicara.
***
Selama di kampus, Mikha terkuat tidak tenang. Bagaimana dia bisa tenang sedangkan di apartemennya ada lelaki yang selama ini Mikha berusaha mati-matian untuk bisa melupakan dia?
"Gelisah banget. Kenapa?" tanya Ajeng. Kegelisahan Mikha membuatnya penasaran ingin bertanya.
Mikha menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa. Tapi kayaknya gue harus cepet pulang."
"Tumben? Biasanya kalau kuliahnya cuma sampai jam sebelas kamu di perpustakaan dulu sampai sore."
"Pengen pulang aja. Belajar di rumah. Pengen rebahan."
__ADS_1
"Haha, dasar! Ya udah, hati-hati, ya."
"Hmm. Kamu juga. Bye!"
***
Sesampainya di apartemen, dia sudah disambut oleh Gavin yang tersenyum lebar melihat Mikha sudah kembali ke apartemen.
Mikha pikir Gavin akan pergi. Tapi dia benar-benar serius dengan ucapannya yang ingin menunggu Mikha datang.
"Gimana kuliahnya? Lancar?"
"Lancar," jawab Mikha singkat.
"Tadi Mia dan Sandy ke sini buat antar makanan."
"Iya. Kayaknya Lo udah baikan, ya? Lo mau ngomong apa?" Mikha tak ingin berbasa-basi lagi. Keberadaan Gavin di dekatnya tidak aman untuk kinerja jantungnya.
"Lelaki itu siapa?"
"Gue nggak pernah mengungkit kehidupan Lo dengan perempuan itu. Jadi Lo juga nggak perlu tau siapa lelaki itu. Lagipula, buat apa Lo ke sini? Lo nggak menghargai perasaan cewek Lo? Cukup gue yang Lo sakitin. Nggak perlu banyak cewek yang Lo sakitin juga."
"Dia cuma sahabat, nggak lebih."
Mikha tertawa sinis. Dia tak percaya kalau wanita itu hanya sahabat.
"Kakak cuma minta tolong ke dia untuk berpura-pura menjadi pacar kakak biar kamu benci sama kakak."
Mikha terperangah mendengarnya. "Buat apa? Buat apa Lo ngelakuin kayak gitu? Lo udah berhasil buat gue benci sama Lo, kak. Setelah Lo buat gue merasa jadi perempuan paling bahagia karena Lo cintai, Lo buat gue biar benci sama Lo. Buat apa? Lo mainin perasaan gue, kak. Kalau Lo emang nggak pernah serius sejak awal, kenapa Lo harus buat gue cinta sama Lo? Andai Lo nggak deketin gue waktu gue masih jadi adik ipar Lo, pasti cerita hidup gue nggak akan kayak gini, Kak. Gue bisa bahagia tanpa capek-capek berusaha ngelupain Lo dan rasa sakit yang udah Lo kasih."
Amarah Mikha memuncak. Napasnya memburu karena emosi yang baru saja dia keluarkan.
"Maaf. Kakak minta maaf, Mikha. Tapi kakak terpaksa. Mama kamu datang dan memohon supaya kakak menjauhi kamu dan meninggalkan kamu. Mama kamu nggak mengijinkan kakak untuk memperjuangkan kamu dengan mengatakan semua kesalahan keluarga kakak dan juga kesalahan kakak yang udah buat kamu tenggelam di laut waktu itu."
Mikha mendengus sinis. "Bagus. Sekarang Lo nyalahin Mama gue buat nutupin kebusukan Lo, kak. Pembicaraan kita selesai sampai di sini. Gue minta sekarang Lo pergi dari sini, Kak."
"Mikha. Tapi_"
"Gue nggak mau denger apapun lagi," sela Mikha.
Air matanya tak bisa dia bendung lagi. Setelah sekian lama memendam apa yang dia rasakan, akhirnya dia bisa mengungkapkan semuanya di hadapan Gavin.
"Kenapa Lo harus datang lagi di hidup gue udah membaik, Kak? Harusnya Lo nggak perlu datang lagi. Apapun alasan Lo dulu ngelakuin hal itu, gue nggak perlu tahu. Itu lebih baik daripada Lo datang dan luka gue kembali menganga lebar."
"Kakak minta maaf, Mikha. Kakak benar-benar sayang sama kamu. Bahkan kakak nggak rela melihat kamu dengan lelaki lain."
"Pergi! Pergi dari sini. Ini yang terakhir kita ketemu. Gue udah maafin Lo. Itu cukup, kan? Gue udah maafin Lo. Lo bisa pergi sekarang. Jangan ganggu hidup gue lagi."
Mikha masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Meninggalkan Gavin begitu saja.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Puasaaa.... tahan emosinya ya... 🤗🤗