
"Mikha! Ya Allah..."
Sena berlari menghampiri sahabatnya yang mulai tak sadarkan diri. Rambut panjang Mikha masih dalam cengkeraman Gilang.
Saat Gilang melepaskan rambut Mikha, beberapa helainya tertinggal di antara jemari Gilang.
"Lo apain sahabat gue. Ya Allah, Mikha. Bangun."
Berulangkali Sena menepuk pipi Mikha, tapi Mikha tak kunjung membuka matanya.
"Angkat, Gilang! Bawa ke kamar atau ke sofa kek. Jangan diam aja!"
Ditengah kekalutannya, Gilang segera mengangkat tubuh Mikha dan menidurkannya di atas sofa bed yang ada di ruang keluarga rumah mereka.
"Ya Allah, Mikha. Untung gue datang cepat. Jadi apa Lo seandainya gue nggak cepat datang. Awas Lo, Lang. Gue akan laporin Lo ke polisi kalau sampai ada apa-apa sama Mikha."
Niat hati ingin mengerjakan tugas kuliah mereka bersama. Siapa sangka kalau Sena justru melihat sendiri Gilang menyiksa Sena.
Teriakan kesakitan Mikha membuat Sena segera masuk ke dalam rumah. Saat itu Sena melihat Mikha sudah tak sadarkan diri dengan rambutnya yang masih dicengkeram erat oleh Gilang.
Sena masih terus berusaha membangunkan Mikha. Tapi tak ada tanda-tanda Mikha akan segera sadar. Sena semakin panik.
"Kha, bangun! Maafin gue."
"Jangan coba sentuh Mikha! Jauhkan tangan kotor Lo itu dari tubuh Mikha!" bentak Sena saat Gilang hendak menyentuh pipi Mikha.
Memang tak seharusnya Sena ikut campur dalam urusan rumah tangga sahabatnya. Tapi Sena tak bisa melihat Mikha seperti ini. Di siksa di depan matanya sendiri.
Sena hanya bisa meneteskan air matanya melihat Mikha tak kunjung membuka mata. Dia tak tahu harus meminta bantuan siapa. Ingin mengabari Gavin pun Sena tidak bisa karena tidak memiliki nomor handphone kakak ipar kesayangan sahabatnya itu.
"Ssshh..." Sena tersentak saat mendengar Mikha mendesis pelan.
"Mikha? Lo udah bangun? Lo dengar gue, kan?"
"Kepala gue sakit, Na."
"Mana? Mana yang sakit, Kha? Kita ke rumah sakit, ya?"
Mikha menggeleng. Masih merasakan pusing sekaligus perih di setiap akar rambutnya. "Bantu gue buat kemasin barang-barang gue, Na."
Sena menganggukkan kepalanya. "Iya. Kita bereskan barang-barang Lo, Na. Tapi biar pusingnya sembuh dulu, ya. Lo mau minum?"
Mikha mengangguk, mengiyakan tawaran Sena untuk minum.
Sena meninggalkan Mikha untuk mengambil air putih untuk Mikha. "Awas, Lo! Jangan berani-berani sentuh Mikha lagi!" ancamnya kepada Gilang sebelum Sena berlalu dari hadapannya.
Gilang hanya bisa terdiam sambil memandang Mikha yang memijat kepalanya.
Melihat Mikha pingsan bahkan masih kesakitan saat dia membuka matanya, Gilang baru merasa bersalah dan menyesal.
__ADS_1
Dia terlalu nekat untuk melakukan kekerasan dan mengancam Mikha tanpa memikirkan apa akibatnya.
***
"Jangan pergi, Mikha. Aku minta maaf sama kamu. Tapi tolong, jangan pergi dari rumah ini."
Mikha tak menanggapi ucapan Gilang. Permintaan maafnya yang entah sudah berapa kali dia ucapkan.
Mikha dan Sena masih terus memasukkan semua barang-barang Mikha ke dalam koper dan tas-tas besar milik Mikha.
Rumah itu sudah tidak aman lagi bagi Mikha. Mikha harus segera pergi dari sana. Bukan tidak mungkin Gilang akan kembali melakukan hal kasar kepadanya.
"Mikha... Please!" Bahkan Gilang sampai harus berlutut di kaki Mikha agar Mikha mengurungkan niatnya.
"Lo nggak perlu melakukan hal seperti ini, Lang. Karena apapun yang Lo lakukan, itu nggak akan membuat keputusan gue berubah," ucap Mikha tanpa ekspresi. Wajahnya yang pucat terlihat begitu dingin. Kedua matanya enggan melihat wajah Gilang lagi.
"Jangan ikuti gue! Atau gue benar-benar akan melaporkan tindakan penganiayaan ke gue yang udah Lo lakuin," ancam Mikha saat tahu Gilang mengikutinya dari belakang.
Seketika Gilang menghentikan langkahnya. Dia tidak ingin mendekam di penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
🌹🌹🌹
Kedatangan Mikha, tadinya disambut bahagia oleh Feni yang kebetulan hari itu ada di rumah. Tapi setelah melihat wajah pucat dan kedua mata Mikha yang sembab membuat senyum di bibir Feni memudar.
Bukan Mikha menangisi perpisahannya dengan Gilang karena memang hal ini yang dia harapkan sejak lama.
Tapi Mikha menangisi takdir hidupnya yang dia rasa begitu rumit dan menyakitkan. Andai waktu bisa di putar, Mikha tak ingin mengenal keluarga Gilang.
"Mikha? Kamu kenapa, Sayang?"
Mikha tak bersuara. Hanya tatapannya begitu datar. Dan Mikha pun langsung masuk ke kamarnya tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Sena, Mikha kenapa?" Feni mencari jawaban dari Sena atas sikap yang ditunjukkan Mikha.
"Untuk menjelaskan semuanya, saya rasa itu bukan kapasitas saya, Tante. Tante bisa tanya sendiri ke Mikha. Tapi nanti dulu, jangan sekarang. Biarkan Mikha menenangkan dirinya dulu, ya, Tante. Saya hanya mengantar Mikha karena saya tidak bisa membiarkan Mikha menyetir sendiri mobilnya dalam keadaan seperti ini. Barang-barang Mikha semuanya ada di dalam, Tante. Saya permisi dulu."
Sena pergi begitu saja setelah berbicara panjang lebar. Bahkan tak mengijinkan Feni bertanya lebih kepadanya tentang Mikha yang pulang dalam keadaan berantakan. Juga membawa semua barang-barangnya.
Saat Feni menyusul Mikha ke kamarnya, pintu kamar Mikha terkunci rapat.
Seperti kata Sena, Feni membiarkan Mikha menenangkan dirinya terlebih dahulu tanpa berniat untuk mengganggunya.
Mungkin lebih baik Feni mengabari Wira tentang apa yang terjadi pada Mikha saat ini.
***
"Aku mau versi dari Gilang, Pa, Ma."
Ucapan Mikha membuat Feni dan Wira terkejut. Selama ini mereka melihat rumah tangga Gilang dan Mikha baik-baik saja. Tapi sekarang tiba-tiba Mikha mengatakan bahwa dia ingin bercerai dengan Gilang.
__ADS_1
"Kenapa? Bukannya selama ini kalian baik-baik saja?"
Mikha tertawa sinis. Kedua orangtuanya pun tak pernah peka dengan keadaan anaknya. Mereka tak bisa merasakan kepura-puraan yang selama ini Mikha tunjukkan.
"Gilang selingkuh dari aku."
"Benarkah? Ini sulit dipercaya, Kha. Kalian selama ini terlihat saling mencintai."
"Jangan hanya menilai sebuah buku hanya dari covernya aja, Ma, Pa. Kalian nggak pernah tau bagaimana rumah tangga kami. Keharmonisan yang kami tunjukkan di hadapan kalian hanyalah sebuah kamuflase. Cuma pura-pura."
Wira menatap lekat putri satu-satunya yang dia miliki. Putrinya yang ternyata begitu pandai menyembunyikan semuanya. "Kamu ada bukti kalau dia selingkuh, Kha?"
Mikha mengangguk pasti. "Ada. Papa sama mau lihat bagaimana Gilang bercumbu dan berhubungan badan dengan sekretarisnya? Aku ada videonya kalau kalian nggak jijik lihat hal seperti itu."
Mikha meletakkan handphonenya ke atas meja. Layarnya sudah menunjukkan sebuah video yang belum diputar.
"Nggak cuma itu, Pa, Ma. Gilang adalah satu-satunya orang yang menyebabkan Kak Uli mengakhiri hidupnya."
Wira dan Feni kompak memandang Mikha dengan penuh tanya. "Apa maksud kamu, Mikha? Kakak kamu meninggal karena sakit. Bukan bunuh diri."
"Jangan membohongi aku lagi, Ma. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa percaya gitu aja saat kalian bilang kak Uli itu sakit. Bukan bunuh diri. Kalau seandainya papa dan mama nggak menolak autopsi pada jasad kak Uli, papa dan mama akan tahu satu kenyataan yang tak pernah kalian sangka hal itu akan terjadi pada Kak Uli."
"Apa maksud kamu, Sayang? Jangan buat papa dan Mama semakin bingung."
Mikha memejamkan matanya. Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Rasanya begitu sakit mengingat apa yang sudah Gilang lakukan pada kakaknya dulu.
"Saat itu Kak Uli hamil." Lagi-lagi ucapan Mikha membuat Wira dan Feni terkejut.
"Dan kalian tau siapa pelakunya?"
Kedua orangtua Mikha terdiam dengan rasa penasaran.
"Pelakunya adalah Gilang."
"Jangan sembarangan menuduh tanpa bukti, Mikha!"
"Aku nggak akan bicara kalau aku nggak punya bukti, Pa. Saat itu Gilang nggak mau tanggungjawab dan memilih kabur ke luar negeri. Mungkin kak Uli nggak mau bikin kalian malu sampai dia memilih mengakhiri hidupnya. Ini foto-foto kebersamaan Gilang dan kak Uli, Pa, Ma. Bahkan di situ juga ada foto dan potongan video saat mereka melakukan hubungan terlarang itu."
Tangan Wira bergetar saat mengusap foto demi foto tersebut. Matanya memanas mengetahui beban pikiran yang dirasakan Uli saat itu.
Feni sudah terisak. Menepuk-nepuk dadanya meredakan sesak yang dia rasakan. "Ya Allah, anak kita, Pa."
"Kurang ajar si Gilang!" umpat Wira dengan amarah yang sudah memuncak.
"Parahnya, Pa. Kedua orangtuanya sudah tahu ini sejak awal. Tapi mereka menutupi semuanya karena perjodohan konyol ini harus terjadi."
Tangan Wira terkepal erat mendengar kenyataan yang sebenarnya.
Jika seperti ini kenyataannya, Wira tak akan menghalangi Mikha untuk berpisah dengan Gilang. Dia dukung sepenuhnya apa yang sudah menjadi keputusan Mikha.
__ADS_1
Dan memang sudah seharusnya Mikha berpisah dengan Gilang. Wira tak akan membiarkan anak satu-satunya yang dia miliki hidup dengan lelaki yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarga Wira.
🌹🌹🌹