Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 60


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Mikhayla Wiratmaja binti Wiratmaja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


Gavin dan Mikha bernapas lega saat saksi-saksi yang dihadirkan, juga ketua RT setempat mengucapkan kata sah setelah Gavin mengucapkan ijab qobul dalam satu tarikan napas. Sangat tegas dan lancar.


Meskipun baru menikah secara agama, tapi tak sedikitpun mengurangi kebahagiaan di antara mereka.


Mereka telah resmi menjadi suami istri. Setelah sekian banyak rintangan dalam hubungan mereka. Harus merasakan sakit yang luar biasa terlebih dahulu.


Tapi mereka sangat bahagia akhirnya mereka menjadi sepasang suami istri. Tinggal mengumpulkan berkas-berkas yang diperlukan dan didaftarkan ke KUA setempat agar pernikahan mereka juga resmi secara negara.


Sedangkan resepsi pernikahan mereka akan dilaksanakan sebulan dari sekarang.


Suasana di kediaman Mikha begitu hangat. Wira sudah sepenuhnya memaafkan kesalahan keluarga Anton. Yang sudah terjadi, itu adalah takdir. Mau marah pun tak akan mengembalikan semuanya menjadi baik-baik saja seperti dulu.


Dunia seperti milik berdua saat Mikha dan Gavin tak melepaskan gandengan tangan mereka.


Di jari manis keduanya, sudah melingkar cincin pernikahan yang Gavin beli pagi tadi sebelum pergi ke rumah Mikha.


Mikha tersenyum malu saat Gavin mengerlingkan matanya ke arah Mikha. Tak biasanya Mikha merasa seperti ini. Biasanya juga Mikha biasa saja mau bagaimanapun cara Gavin menatapnya. Gugup, tapi tak segugup kali ini.


Malam ini, semua terasa aneh karena status mereka juga yang sudah resmi menikah.


Jantung Mikha berdegup kencang. Membayangkan apa yang akan terjadi malam ini.


Hey! Mereka bukan pasangan muda-mudi yang polos. Gavin buru-buru menikah Mikha karena apa kalau bukan karena agar Gavin bebas menyentuh Mikha dan bisa bersama dengan Mikha setiap waktu?


"Ngebet banget nikah. Takut udah nggak berfungsi, ya?" ujar Gilang dengan sinis.


Rasanya sangat cemburu melihat kemesraan Gavin dan Mikha. Mereka semakin menjadi saja setelah resmi menikah. Sama sekali tidak memikirkan perasaan Gilang.


Mikha dan Gavin saling berpandangan. Lalu menghela napas kecil dan tidak memperdulikan Gilang.


Mikha yang sempat merasa respect atas perubahan Gilang kini mulai hilang rasa lagi setelah mendengar cerita Gavin tentang masa lalu mereka.


Kok, ada orang seperti itu? batin Mikha bermonolog.


Mikha lebih memilih menghubungi kedua orangtua Nathan untuk mengabarkan pernikahannya dengan Gavin.


"Mama ikut bahagia atas pernikahan kalian, ya, sayang. Maaf, Mama sama papa nggak bisa datang ke sana," ucap Elisa melalui panggilan video. Elisa meminta Mikha untuk memanggil dirinya dan Bima dengan sebutan Mama dan Papa.


Bagi Bima dan Elisa, Mikha sudah seperti anaknya sendiri semenjak Nathan sering menceritakan tentang Mikha. Bercerita bagaimana dia begitu mencintai Mikha.


Bahkan Elisa dan Bima pun tahu kalau dalam hati Mikha belum sepenuhnya bisa mencintai Nathan karena separuh hati Mikha ada bersama Gavin.


Kasian Nathan. Tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah takdir yang maha kuasa.


Mikha mengusap air matanya. Terharu karena kebaikan Elisa dan Bima kepadanya. Mikha dengan cepat menambatkan hatinya pada Gavin lagi. Padahal belum ada lima bulan Mikha menangisi kepergian Nathan.


"Maaf, ya, Ma, kalau Mikha terlalu cepat memutuskan untuk menikah. Padahal Nathan belum lama perginya."


"Semua sudah jalannya begini, Sayang. Nggak usah merasa bersalah begitu. Nathan pasti bahagia melihat kamu bahagia seperti ini. Mama sama Papa juga bahagia melihat kamu bahagia, Sayang."


"Mama sama Papa sehat-sehat, ya, di sana. Nanti kalau kak Gavin ada waktu, Mikha sama kak Gavin datang ke sana."


"Iya, Sayang."

__ADS_1


Elisa dan Bima memutuskan untuk menetap di Singapura bersama adik Nathan yang juga tengah kuliah di sana.


🌹🌹🌹


"Yuk."


"Kemana?"


Mikha menatap Gavin penuh tanya. Perbincangan antara Wira dan Anton belum selesai. Yunita dan Feni pun sibuk mempersiapkan acara resepsi pernikahan Mikha dan Gavin.


Tapi Gavin tiba-tiba menggenggam tangan Mikha dan mengajak Mikha pergi.


"Ke apartemen," bisik Gavin tepat di telinga Mikha.


Wajah Mikha memanas seketika. Dia tentu tahu apa yang diinginkan Gavin jika sudah sah seperti ini.


Sudah sejak lama Gavin menahan untuk tidak menyentuh Mikha secara berlebihan. Sudah sah begini, tidak mungkin akan Gavin sia-siakan. Gavin juga tidak bisa lagi menunggu nanti. Terlalu lama hanya akan membuatnya semakin pusing menahan sesuatu.


"Papa sama Mama lagi pada sibuk juga."


"Itu urusan mereka. Kita terima jadi aja, udah."


Tanpa berpamitan, Gavin menarik pelan tangan Mikha dan mengajaknya keluar rumah dan masuk ke dalam mobil Gavin.


Gavin segera menjalankan mobilnya menuju apartemen miliknya.


Sepanjang perjalanan, tak sekalipun Gavin melepaskan genggaman tangannya pada tangan Mikha. Sedangkan dia menyetir mobil hanya menggunakan satu tangannya saja.


Sesekali mereka saling berpandangan lalu tersenyum lebar. Mikha sampai salah tingkah dibuatnya. Tatapan mata Gavin terlihat begitu mendamba dirinya.


🌹🌹🌹


Gavin tak sabaran.


Baru saja menutup pintu apartemen, Gavin sudah menyerbu bibir Mikha dengan rakusnya. Mencium lekat bibir Mikha yang menjadi candu untuknya.


Mikha sampai kewalahan dibuatnya. Tangannya menepuk pelan dada bidang milik Gavin saat dirasa mulai kehabisan oksigen.


Dengan napas terengah, Mikha menatap Gavin lekat dan tersenyum lebar. "Sabar sedikit kenapa, sih?" Mikha mengusap pipi Gavin.


"Nunggu apa lagi, Sayang?" ujar Gavin dengan gusar. Ada sesuatu yang berharap untuk segera dituntaskan.


"Bersih-bersih dulu, Kak. Jangan grusa-grusu begini. Gerah banget aku. Mau bersih-bersih dulu."


Akhirnya Gavin pun mengangguk setuju. Mengijinkan Mikha untuk mempersiapkan dirinya terlebih dahulu.


"Pakai baju yang sudah aku siapkan di atas ranjang, ya, sayang," ucap Gavin sedikit berteriak karena Mikha sudah masuk ke dalam kamar.


Perasaan Mikha mulai tak enak. Pasti baju aneh-aneh yang sudah disiapkan untuk Mikha.


Benar saja. Di atas ranjang sudah ada sebuah kotak berisi pakaian halal di depan suami berwarna merah menyala dan juga hitam.


"Yang bener aja aku disuruh pakai baju begini? Dapat dari mana pula dia baju beginian?"


Mikha masih memandangi dan membolak-balik baju tersebut saat Gavin masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Kenapa cuma dilihatin aja, Sayang? Dipakai, dong!"


"Harus?"


Gavin mengangguk pasti. "Kakak di kamar mandi kamar sebelah, sayang. Kakak masuk ke sini harus sudah siap, ya."


Jantung Mikha berdegup kencang.


Meskipun dia pernah menikah, tapi hal seperti ini adalah pengalaman baru untuknya.


Dulu di hadapan Gilang, Mikha tak pernah seperti ini. Berniat menggoda Gilang pun tidak dengan pakaian setipis yang disiapkan Gavin.


Mikha mempersiapkan dirinya dengan jantung yang terus berdebar dengan kencang.


Saat keluar dari kamar mandi, dia sudah melihat Gavin berdiri di depan cermin tanpa mengenakan kaos. Memperlihatkan tubuhnya yang kekar dan sixpack.


Mikha menelan ludahnya. "Kenapa harus dia duluan, sih, yang selesai?" ucap Mikha dalam hati.


"You're so beautiful, honey. Come here!"


Gavin merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Mikha dalam pelukan. Mikha yang berjalan pelan ke arah Gavin membuat Gavin menelan ludah.


Mikha sangat cantik malam ini...


***


"So cute!" tulis Gavin di story instagram miliknya. Bersamaan dengan foto Mikha yang terlelap setelah permainan panas keduanya.



Pagi harinya, gantian Mikha yang memasang foto mereka berdua di story instagram miliknya.


Foto mereka di depan cermin. Mereka baru saja selesai mandi. Gavin masih memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya.


Mikha masih memakai handuk kimono dan rambutnya dililit dengan handuk berwarna putih.


Gavin memeluk Mikha dari belakang dan mencium bibir Mikha. Sayang, di foto itu wajah keduanya tertutupi oleh handphone Mikha.



Foto-foto mereka mengundang tanya bagi teman-teman mereka terutama Sena.


Sena : [Jelasin foto kalian yang ada di story instagram kalian, Mikha! Bisa-bisanya belum nikah udah begituan.]


Mikha tertawa kecil membaca isi pesan dari Sena.


Mikha berniat untuk mengerjai Sena. Sepertinya itu akan sangat lucu. Hitung-hitung sebagai balas dendam karena Sena sudah mengerjai dirinya dengan bekerjasama dengan Gavin.


^^^[Iya, nih, Sena. Kalau gue hamil gimana, dong? Mana tunangan orang lagi. 😭😭]^^^


[Lagian Lo ceroboh banget, sih, Mikha. Bisa-bisanya kalian begituan. Mana di-posting lagi. Kalian sengaja, ya, biar dapat restu? Nggak gitu juga, Mikha! 😌]


Gavin dan Mikha tertawa keras membaca pesan Sena. Di sini mengetik pesan sambil tertawa, di sana membaca dan mengetik balasannya sambil marah-marah.


🌹🌹🌹

__ADS_1


mau ngintip mereka nggak? 😂😂


__ADS_2