
Tepat pukul lima pagi, Mikha berhasil melahirkan ketiga buah hatinya yang semuanya berjenis kelamin laki-laki.
Kembar identik itu lahir dengan selamat dan sehat, serta normal semuanya. Hanya saja berat badan mereka masih kurang dan harus masuk ke dalam inkubator untuk sementara waktu.
Mikha terlihat masih lemah. Setelah sholat subuh dan mengadzani ketiga jagoannya, Gavin kembali menemani Mikha yang masih menjalani pembersihan rahim untuk mengeluarkan plasenta.
Tapi ada yang aneh dari dalam diri Mikha. Mikha semakin lemah dan kesadarannya menurun.
Gavin terlihat begitu panik. Segera dia beritahukan pada dokter Vega untuk kembali mengecek kondisi Mikha.
"Dok, pasien mengalami pendarahan." Seorang perawat yang memeriksa Mikha berucap panik.
Dokter segera mengambil tindakan untuk mengatasi pendarahan yang terjadi pada Mikha.
"Pasien mulai kehilangan kesadarannya, Dok. Denyut nadinya melemah."
Dunia Gavin terasa runtuh saat itu juga saat mendengar dokter dan beberapa perawat itu mengatakan kondisi Mikha sekarang.
"Sayang?" Gavin mencoba untuk menarik kesadaran Mikha. Sayang, Mikha terlebih dulu kehilangan kesadarannya membuat Gavin terlihat begitu panik.
"Pak Gavin bisa tunggu di luar. Kami akan melakukan tindakan untuk Bu Mikha."
"Saya mau menemani istri saya, Dok."
"Ada kami di sini yang sedang berusaha menangani Bu Mikha."
"Mikha Sayang. Kamu harus bangun demi anak-anak kita. Jangan tinggalkan kakak dan anak-anak kita, sayang. Kamu harus bertahan."
Gavin mencium kening Mikha dengan lekat sebelum dia meninggalkan ruangan, sesuai dengan perintah perawat tadi.
***
"Rahim gagal kontraksi setelah melahirkan. Dimana, kontraksi ini diperlukan untuk mengeluarkan plasenta yang masih tertinggal di dalam rahim. Kami akan segera melakukan kuret untuk mengeluarkan jaringan plasenta tersebut, Pak."
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok."
Gavin tak bisa berpikir apapun saat ini selain keselamatan Mikha. Dia tak bisa jika kehilangan Mikha. Belahan jiwanya, separuh napasnya.
Apapun akan Gavin lakukan asalkan Mikha kembali membuka matanya, segera pulih, dan bisa merawat dan membesarkan anak-anak mereka.
"Kamu harus bertahan, Sayang. Demi aku dan anak-anak kita," gumamnya dengan air mata yang tak berhenti menetes.
Di tengah kekalutannya, Feni datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri Gavin yang tertunduk lesu sambil sesekali mengusap sudut matanya.
"Vin, katanya Mikha melahirkan? Gimana keadaannya?"
"Mama?" Gavin segera memeluk ibu mertuanya, wanita yang telah melahirkan wanita yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
Feni terlihat bingung. "Kenapa? Mikha baik-baik saja, kan? Cucu-cucu Mama?"
"Mikha pendarahan, Ma. Dia nggak sadarkan diri dan sekarang lagi ditangani dokter."
Kaki Feni terasa lemas saat itu juga mendengar kondisi anak semata wayangnya. "Mikha, ya Allah..."
Feni terduduk lemas di atas kursi. Gavin berlutut di hadapannya, menggenggam tangan Feni dan menciumnya berulangkali. "Maaf, Ma. Maafkan Gavin yang nggak bisa menjaga Mikha, Ma. Maafkan Gavin."
Feni mengusap bahu Gavin dengan lembut. Sejauh ini dia melihat dan tahu usaha keras Gavin dalam membahagiakan Mikha.
Dia menjadikan Mikha seorang ratu di dalam hidupnya. Apapun yang Mikha mau Gavin berusaha memenuhinya. Tak pernah sekalipun Feni mendengar Mikha mengeluh dengan perlakuan Gavin. Yang dia ceritakan selalu kebaikan Gavin dengan wajah sumringahnya.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Vin. Kamu suami dan ayah yang hebat. Ini ujian. Berdoa untuk Mikha semoga dia baik-baik saja setelah ini. Mama mau mengabari Papa dan Mama kamu dulu, Vin. Kalau Papa sudah perjalanan ke sini, katanya."
Gavin mengangguk, lalu duduk di samping Feni. Pandangannya kosong. Pikirannya terus tertuju pada Mikha yang berada di dalam ruangan tindakan kuretase.
***
"Sarapan dulu, ya, Vin. Mama bawa bubur buat kamu."
"Gimana aku bisa makan, Ma, kalau aku saja belum tau keadaan Mikha?"
"Jangan egois, Vin. Tubuh kamu juga butuh haknya. Kalau sampai kamu kenapa-kenapa, siapa yang akan menjaga Mikha? Anak-anak kamu gimana? Mama tau ini nggak mudah. Kami semua di sini sedih dengan keadaan Mikha. Tapi nggak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa."
"Tunggu sampai Mikha keluar ya, Ma. Habis itu Gavin baru makan."
Semua orang terdiam menunggu keluarnya dokter yang menangani Mikha.
"Keluarga Bu Mikha."
Gavin segera beranjak saat dokter Vega keluar dari dalam ruangan.
"Istri saya bagaimana, Dok? Dia sudah sadar, kan? Kondisinya sudah baik-baik saja?"
Dokter Vega memasang wajah prihatin. Senyumannya tak selebar biasanya saat memeriksa kandungan Mikha, atau seperti tadi subuh saat menyambut keluarnya anak Gavin yang pertama.
"Bu Mikha masih belum sadarkan diri meskipun pendarahan sudah berhasil kami hentikan. Semoga dalam waktu satu kali dua puluh empat jam, Bu Mikha sudah sadar. Jika tidak..."
"Jika tidak akan terjadi apa, Dok?" Gavin menyela dengan cepat.
"Kami menyatakan Bu Mikha dalam keadaan koma."
Jantung Gavin seperti berhenti berdetak saat itu juga. Kakinya lemas. Tubuhnya terduduk lesu di atas lantai dan bersandar pada tembok. "Mikha... Sayangku." Air matanya berjatuhan.
Sedangkan para Mama sudah menangis histeris di pelukan suami mereka.
Bukan seperti ini yang mereka harapkan setelah kelahiran anak-anak Mikha dan Gavin.
__ADS_1
"Mikha... Anak Mama," ucap Feni sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.
***
Suasana terasa begitu sunyi. Hanya ada suara pendeteksi detak jantung yang memecah kesunyian di ruang ICU dimana Mikha di rawat.
Sudah hampir dua kali dua puluh empat jam. Tapi Mikha belum juga membuka matanya. Itu artinya, Mikha koma.
Gavin masih tak mengerti kenapa ini semua bisa terjadi. Selama kehamilannya, Mikha baik-baik saja. Tak ada keluhan apapun yang dirasakan Mikha mengenai kesehatannya.
Tensi normal, HB normal, dan semuanya normal. Dan dokter pun menyatakan bahwa Mikha siap untuk melahirkan ketiga anaknya secara normal.
Tapi kenapa hal ini bisa terjadi? Kenapa semuanya berujung dengan Mikha yang harus koma?
Harusnya saat ini Mikha bisa memeluk anak-anaknya yang kondisinya sangat baik. Memberikan mereka ASI pertama yang sangat bagus untuk kekebalan tubuh anak-anaknya. Bisa memberikan kehangatan untuk ketiga anak mereka.
Dunia Gavin tak menarik lagi tanpa senyum dan tawa Mikha. Yang dia lakukan hanya menunggu Mikha di dalam ruang ICU, di depan ruang ICU jika waktu menjenguk sudah berakhir. Lalu ke ruang bayi untuk melihat ketiga jagoannya.
"Sayang, dari tadi si sulung tidak mau minum susu formula. Segala macam merk sudah diberikan tapi dia menolaknya. Kamu harus bangun untuk memberinya ASI, sayang. Mungkin dia rindu dengan Maminya," ucap Gavin dengan mengusap tangan Mikha.
Berharap Mikha mendengarnya, lalu membuka kedua matanya dan kembali ke dalam pelukan Gavin.
"Jangan menyiksaku seperti ini, Sayang. Kamu tahu aku tidak bisa hidup tanpa kamu."
Gavin kembali meneteskan air matanya. Tak peduli dia dianggap cengeng. Yang dia inginkan hanya Mikha kembali sadar dan tertawa bersamanya seperti biasanya.
***
Malam harinya, dokter ahli dan beberapa perawat sibuk keluar masuk ke dalam ruang ICU dengan terburu-buru.
Gavin sadar ada yang tidak beres dengan keadaan Mikha. Yang dia tahu, yang terbaring di dalam ruang ICU tersebut hanya Mikha.
"Suster, istri saya kenapa?" tanya Gavin dengan menghentikan salah satu suster yang semula keluar dengan terburu-buru, dan kini akan kembali masuk dengan terburu-buru pula.
Suster tersebut memandang Gavin dengan tatapan prihatin. "Bapak bantu doa, ya. Kondisi Bu Mikha mengalami penurunan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin."
Ucapan suster tersebut menyatakan seluruh tubuh Gavin terasa kaku. "Mikha..." ucapnya lemah. Tubuhnya kembali terduduk lemas di atas lantai.
🌹🌹🌹
Mohon maaf apalagi ada kesalahan dalam penulisan istilah kesehatan dsb. Itu juga udah browsing sebenarnya. Tapi ya mampunya begitu.
Mau sad/happy ending nih? 🥲
Setelah kegaduhan yang saya buat ini, tolong jangan teror saya lewat komentar atau DM Ig, ya. Saya mau menghilang sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. 🥲🙈🙈
Selamat menikmati kesedihan ini. Maafkan author yang jahat ini. 🥲😌
__ADS_1