
Awan gelap menyelimuti langit Jakarta siang ini. Segelap hati keluarga dan pelayat yang mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhirnya.
Gavin tak kuasa membendung air matanya saat memasukkan jenazah sang istri ke liang lahat.
Semua seperti mimpi. Bahkan kehilangan Mikha pun dia harap hanya sebuah mimpi.
Kebahagiaan yang mereka rasakan belum seberapa. Belum lama mereka bersama setelah sekian tahun berpisah.
Tapi sekarang mereka kembali dipisahkan. Bukan satu tahun atau dua tahun. Melainkan selamanya.
Perpisahan terberat adalah sebuah kematian. Dimana hanya doa yang bisa dipanjatkan ketika merindukan. Tak dapat mengobati rindu itu, bahkan rasanya semakin bertambah.
Triplet butuh kedua orangtuanya untuk menemani, merawat, mendidik mereka hingga dewasa.
Triplet belum sempat merasakan hangat pelukan Mikha. Mereka tak sempat menatap mata teduh Mikha.
Gavin patah arang. Tak tahu lagi harus apa dan bagaimana setelah ini. Hidupnya tak indah lagi tanpa Mikha. Dunianya tak lagi menarik setelah kepergian Mikha.
Gavin tak kuasa menahan tubuhnya untuk tetap berdiri tegak saat tanah itu mulai mengubur tubuh Mikha.
Belahan jiwanya telah pergi. Separuh napasnya telah tiada. Mikha pergi membawa seluruh cinta dan hati yang Gavin miliki.
Mungkin, Gavin tak lagi bisa mencintai. Seluruh hatinya telah terkubur bersama jasad Mikha.
***
Selesai pemakaman, Gavin masih mengurung diri di dalam kamar. Ikhlas dan sabar. Dua kata yang mudah untuk diucapkan tapi sulit untuk dilakukan.
Gavin berusaha ikhlas meskipun sulit. Kepergian Mikha tentu membuat lubang yang sangat dalam di dalam hatinya.
Gavin masih berharap apa yang terjadi saat ini adalah sebuah mimpi. Gavin ingin segera kembali ke dunia nyata, dan Mikha tersenyum lebar menyambutnya.
Memeluknya dengan erat lalu saling mengungkapkan rasa rindu. Menggendong anak-anak mereka dan bermain bersama.
Bahkan aroma wangi dari parfum yang selalu Mikha pakai sebelum tidur pun masih tercium menempel di bantal dan tempat tidur mereka.
Air mata Gavin lagi-lagi turun membayangkan itu semua. Dia peluk foto pernikahannya bersama Mikha. Dimana Mikha tengah tersenyum lebar sambil memeluk Gavin.
Rasanya baru kemarin mereka berbahagia bisa menikah, resepsi mewah, lalu mengetahui kehamilan Mikha yang ternyata hamil anak kembar.
Hampir sembilan bulan lamanya mereka menanti kelahiran anak-anak mereka. Menyiapkan segala keperluannya bersama-sama.
Merangkai mimpi indah dengan anak-anak mereka nanti.
Rasanya ini tidak adil bagi Gavin dan Mikha, juga anak-anak mereka.
Triplet harus kehilangan ibunya, bahkan di saat mereka belum pernah bersentuhan sekali saja.
"Vin, kita jemput triplet, ya. Mereka sudah bisa dibawa pulang."
Lagi, Gavin semakin sesenggukan. Tak bisa membayangkan rumah ini tanpa kehadiran Mikha.
"Harusnya aku dan Mikha yang menjemput mereka, Ma. Harusnya mereka bisa memeluk Maminya sekarang."
__ADS_1
Yunita mengusap air matanya. Melihat Gavin rapuh dan hancur begini, tentu membuatnya sangat terluka. Dia pun kehilangan Mikha. Anak baik itu harus lebih dulu menghadap yang maha kuasa.
Yunita segera memeluk Gavin. Saat ini hanya dukungan yang bisa diberikan untuk Gavin. Meminta sabar dan ikhlas, tentu Gavin tengah berusaha untuk hal itu.
"Mama tau ini berat, Nak. Tapi Mikha pasti sedih kalau kamu mengabaikan triplet. Mereka butuh kamu sekarang."
Gavin mengangguk paham dan mengerti. Benar. Ada triplet yang harus dia pikirkan. Gavin harus memberikan yang terbaik untuk mereka. Bagian dari Mikha yang masih tersisa dengan nyata.
"Kita jemput mereka sekarang, Ma."
Yunita tersenyum lebar. Dia segera keluar untuk memerintahkan asisten rumah tangga Gavin untuk membersihkan dan menyiapkan kamar triplet karena mereka akan segera pulang ke rumah.
***
Kedatangan tiga bayi yang masih merah itu disambut bahagia oleh keluarga.
Tetap saja ada yang kurang tanpa kehadiran Mikha. Mereka hanya mencoba untuk tetap tersenyum di hadapan triplet padahal hati mereka sangat terluka.
"Jadi nama mereka siapa, Vin?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Gavin terdiam tak menjawab apapun.
Dulu Mikha dan Gavin sepakat untuk mencari nama setelah anak-anaknya lahir karena yang satu belum diketahui jenis kelaminnya.
Tapi sekarang, bahkan Gavin tak bisa berpikir nama apa yang akan dia berikan pada ketiga anaknya.
"Belum sempat cari nama, Pa. Nanti Gavin pikirkan dulu nama yang pas untuk mereka."
Wira mengangguk paham.
🌹🌹🌹
"Kak, anak-anak nangis, nih."
Gavin masih nyaman dengan tidurnya.
"Kak, bantuin aku. Anak-anak nangisnya barangan gini."
Gavin tersentak. Suara Mikha terdengar begitu nyata di telinganya.
Saat membuka kedua matanya, Gavin bernapas lega setelah melihat Mikha duduk berdiri di hadapannya dengan menggendong satu bayi mereka.
"Kakak tidur apa pingsan, sih?"
Beberapa kali Gavin mengerjapkan matanya. Tak langsung menjawab pertanyaan Mikha. Gavin masih sibuk meredakan jantungnya yang berdegup kencang.
Mimpinya terlihat seperti nyata sampai sesak yang Gavin rasakan pun terbawa sampai ke dunia nyata.
"Kakak baik-baik aja?"
Mikha duduk di sampingnya.
Gavin memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Mikha. Menyentuh tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
Terasa nyata.
Gavin juga menatap kedua mamanya yang tengah menggendong anak-anaknya.
Kedua mamanya menatap Gavin dengan tajam. Bisa-bisanya dia tertidur lelap di saat ketiga anaknya menangis bersamaan.
Gavin segera memeluk Mikha dengan erat. Bahkan sampai dia menangis di bahu Mikha.
Mikha sampai keheranan. Menatap Yunita dan Feni secara bergantian. Kedua mamanya mengendikkan bahu mereka pertanda mereka juga tidak paham dengan apa yang terjadi pada Gavin.
"Jangan pernah tinggalkan kakak, ya, Sayang. Jangan pernah coba-coba untuk pergi dari kakak."
"Kakak kenapa, sih? Aku ada di sini. Lagi gendong triplet, nih. Kenapa bangun-bangun kayak gini?"
Mikha mengusap pipi Gavin dan menatapnya dengan lembut. "Kakak mimpi buruk, ya?"
"Sangat buruk."
"Aku di sini, kak. Ada untuk kamu dan anak-anak."
Gavin kembali memeluk Mikha dan menciumi wajahnya berulangkali.
🌹🌹🌹
Flashback
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit dengan perasaan takut, khawatir Mikha kenapa-kenapa, dokter akhirnya keluar dengan membawa kabar bahagia.
Mikha telah sadar dan sudah bisa diajak berkomunikasi.
Perasaan Gavin lega luar biasa. Air mata bahagia menetes di pipinya. Segera dia temui Mikha dan memeluknya dengan erat.
Sangat bersyukur mereka masih diberikan kesempatan untuk bersama.
"Terimakasih sudah bertahan, Sayang," ucapnya yang disambut dengan ciuman manis di pipi Gavin.
"Kakak makin kurus. Ini juga..." Mikha mengusap rahang Gavin yang mulai ditumbuhi rambut. "Nggak dirawat pasti. Kayak gini bahaya kalau cium anak-anak, Papi. Bisa merah-merah pipi mereka nanti."
"Bagaimana kakak bisa mengurus diri kakak sendiri sedangkan kamu di sini berjuang antara hidup dan mati, sayang. Kakak nggak punya waktu untuk hal itu."
Mikha tertawa kecil. "Anak-anak sehat? Gimana perkembangan mereka?"
Gavin mengangguk pasti. "Anak-anak sehat. Berat badan mereka semua sudah bertambah. Si sulung tadi pagi sampai siang rewel karena nggak mau minum susu formula. Tapi Alhamdulillah siang tadi sudah mau minum susu."
"Kita jenguk mereka yuk, Kak. Aku pengen kasih mereka ASI."
"Besok, ya, Sayang. Malam ini kalian istirahat dulu."
Malam itu juga, Mikha dipindahkan ke ruang rawat. Meninggalkan ruang ICU yang menurut Gavin adalah ruangan yang begitu menegangkan.
Di dalam ruang ICU, Gavin merasa tempat itu adalah tempat untuk berperang dengan malaikat maut. Tidak masuk akal memang. Tapi hal tersebut yang ada di pikiran Gavin.
Flashback end
__ADS_1
🌹🌹🌹