Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 57


__ADS_3

"Lo ngaku, deh! Lo masih cinta, kan, sama kak Gavin? Cemburu, kan, Lo, denger Kak Gavin mau tunangan? Munafik, sih, Lo. Bilangnya, udah... Jauhin gue, jangan lagi ganggu gue. Eh, giliran orangnya mau tunangan situ patah hati sendiri. Nyesel kan, Lo, bilang kayak gitu ke Kak Gavin? Jual mahal, sih, Lo!"


"Berisik!!!"


Mikha menyumpal kedua telinganya menggunakan headset. Menaikkan volume full pada musik yang dia dengarkan demi menghindari suara Sena yang terdengar begitu berisik.


Sedikit menyesal Mikha memilih menceritakan apa yang dia rasakan pada Sena saat tahu Gavin akan tunangan dengan perempuan lain.


Tanpa Sena bicara seperti itu, Mikha sudah menyadarinya. Salah dia sendiri meminta Gavin untuk menjauh. Giliran dikabulkan oleh Gavin, dia sendiri yang kalang kabut karena merasa cemburu.


"Masih ada waktu kalau Lo mau gantian memperjuangkan cinta Lo." Sena berucap dengan berteriak agar Mikha mendengar ucapannya meskipun tak seberapa.


"Udah nggak minat!"


"Kalau cinta itu ya memperjuangkan. Nggak cuma nunggu diperjuangkan dan Lo nggak menghargai perjuangan dia."


Khawatir suara Sena akan terdengar sampai mana-mana, Mikha melepas headset dari kedua telinganya.


"Eh, Lo lupa, Sena? Dia dulu buang gue gitu aja di saat gue berjuang di hadapan orangtua gue buat dia."


"Lo juga lupa kalau Mama Lo yang minta dia buat ninggalin Lo?"


"Ya terus dia nurutin kemauan Mama gue gitu aja tanpa mikirin perasaan gue, kan?"


"Ya Lo pikir dong, Mikha. Mama Lo datang ke sana mohon-mohon biar Kak Gavin ninggalin Lo. Pakai cerita soal kesalahan-kesalahan yang udah diperbuat keluarga Kak Gavin pula. Pastinya Kak Gavin sadar diri atas kesalahan dia, dong, diungkit-ungkit begitu."


"Tau dari mana Lo?" Mikha memicingkan kedua matanya.


"Dari kak Gavin-lah. Lo pikir gue dukun bisa tahu semuanya sendiri?" balas Sena dengan sengit. Lama-lama Sena gregetan sendiri melihat perjalanan cinta Mikha dan Gavin.


Mikha dianggap terlalu jual mahal dan tidak menghargai usaha dan perasaan Gavin. Padahal Sena tahu kalau hati kecil Mikha sebenarnya masih mencintai Gavin meskipun Mikha mengelak saat ditanya akan hal itu.


Sena tahu Mikha sangat kehilangan Nathan. Tapi Sena rasa itu hanya sebuah bentuk penyesalan karena selama bersama Nathan, hati Mikha belum sepenuhnya mencintai Nathan.


"Lo lupa manusia punya batas kesabaran, Mikha. Termasuk Kak Gavin. Lo sakit hati atas perbuatan dia. Dia sendiri juga kecewa sama dirinya sendiri karena keputusan yang waktu itu dia ambil. Dia pergi juga bukan kemauan dia, Mikha. Tapi karena permintaan kedua orangtua Lo. Tapi dia juga udah membayar tuntas semua dengan kehilangan Lo juga. Lihat Lo sama laki-laki lain. Dia punya kesempatan untuk memperjuangkan Lo lagi tapi Lo sia-siakan gitu aja. Jangan merasa Lo paling dicintai. Secinta-cintanya orang, dia akan lebih mencintai dirinya sendiri saat perjuangannya nggak dihargai. Mungkin itu yang dirasakan Kak Gavin. Acara dia malam ini jam delapan. Kalau Lo mau menurunkan ego Lo untuk memperjuangkan dia sekali lagi, masih ada waktu."


Sena keluar dari kamar Mikha begitu saja. Meninggalkan Mikha yang masih terdiam merenungi rangkaian ucapan Sena yang panjang. Ucapan yang sanggu membuat Mikha berpikir dalam tentang kesalahannya sendiri.


🌹🌹🌹


"Ma, aku mau tanya boleh?"


"Boleh, dong. Tanya apa, Mikha?"


"Dulu Mama bilang apa ke kak Gavin supaya dia mau ninggalin aku?"


Sebenarnya Mikha sudah tidak mempermasalahkan apapun yang Feni ucapkan pada Gavin agar Gavin meninggalkan dirinya.


Bagaimana pun semua sudah terjadi. Waktu tidak bisa diputar kembali demi memperbaiki keadaan agar apa yang Mikha alami saat ini tidak pernah dia rasakan.


Mikha hanya ingin tahu. Itu saja. Sebab dia butuh sedikit lagi keyakinan untuk mengambil hati Gavin kembali seandainya masih ada kesempatan.


Benar kata Sena, Mikha keterlaluan. Harusnya dia tidak sekeras itu pada Gavin. Padahal dia sendiri tahu kalau hatinya masih ada pada Gavin. Gavin-lah pemilik seluruh hatinya.


Bukan berarti juga dia tidak mencintai Nathan. Dia cinta Nathan, dia sedih kehilangan Nathan. Tapi tak sesakit saat Mikha tahu kalau Gavin akan bertunangan dengan wanita lain.


Wira dan Feni saling berpandangan. Mereka tahu kalau hal ini akan dipertanyakan oleh Mikha.


"Mama minta dia untuk meninggalkan kamu. Kesalahan dia dan keluarganya kepada kita itu sudah sangat besar. Jadi Mama memintanya untuk sadar diri, dan pergi dari kehidupan kamu," jawab Feni dengan jujur, tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Mama sadar kan, kalau ditinggalkan Kak Gavin nyatanya nggak membuat hidupku baik-baik saja? Bahkan sampai saat ini, Ma."

__ADS_1


"Papa sama Mama minta maaf, Mikha," sahut Wira. "Saat itu kami hanya ingin yang terbaik buat kamu. Bahagia kamu nggak harus dengan Gavin."


"Yang terbaik menurut Papa dan mama belum tentu terbaik buat aku, Pa," ujar Mikha pelan.


Ingin marah, tapi dia rasa juga percuma. Hanya buang-buang tenaga.


"Kami minta maaf, Nak. Karena itu, untuk menebus semua kesalahan kami, kami mengijinkan Gavin untuk mendekati kamu lagi."


"Sudah terlambat," batin Mikha berteriak kesal. "Semua sudah terlambat," lanjut Mikha dalam hati.


🌹🌹🌹


Mikha mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan kota Jakarta yang tidak terlalu ramai malam ini.


Jam delapan kurang lima menit. Padahal masih butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di hotel yang Sena sebutkan tadi.


Mikha sudah memutuskan untuk memperjuangkan cintanya seandainya masih ada kesempatan.


Braakkk!


"Awh." Mikha memekik kesakitan saat kepalanya terbentur setir mobilnya.


Mikha mengendari mobilnya dalam kecepatan tinggi hingga tak ada waktu lagi untuk menghindar saat bertabrakan dengan mobil dari arah berlawanan.


Kaca mobilnya diketuk berkali-kali oleh orang-orang yang berniat untuk menolongnya.


"Nggak apa-apa, Neng? Ada yang sakit?" tanya salah seorang bapak dengan begitu panik.


Mikha menggeleng pelan. Padahal kepalanya terasa sangat nyeri. "Enggak apa-apa, Pak. Yang saya tabrak mobilnya rusak parah, ya?"


Tak lama kemudian muncul pengemudi mobil yang Mikha tabrak meminta pertanggungjawaban.


Mikha menyerahkan sejumlah uang, kartu nama dan KTP miliknya. "Saya buru-buru, Pak. Besok bapak bisa datang ke rumah saya, atau ke kantor. Alamatnya ada di situ. Saya minta maaf, ya, Pak. Saya permisi dulu."


Tak dia pedulikan kepalanya yang terasa nyeri dan penampilannya yang mungkin sangat berantakan.


Hanya memakai celana panjang dan hoodie. Mikha tak seperti orang yang akan mendatangi sebuah acara pertunangan.


"Maaf, Mbak. Anda tidak bisa masuk." Cegah seorang satpam, menahan Mikha yang akan masuk ke dalam ballroom hotel.


Satpam tersebut memperhatikan penampilan Mikha yang berantakan.


"Saya mau masuk, Pak. Sebentar aja, Pak. Nggak lama, kok."


"Ada barcode undangannya?"


Mikha langsung terdiam. Menyadari kalau dia tidak memiliki undangan pertunangan tersebut.


"Tanpa undangan bisa, kan, Pak? Sebentar saja. Nggak akan lama, kok."


"Kami minta maaf, Mbak. Tapi tidak bisa masuk tanpa ada undangannya."


Mikha menghembuskan napas berat. Air matanya berjatuhan. Dia tak lagi memiliki kesempatan untuk bersama dengan Gavin karena kesalahannya sendiri.


Semua sudah terlambat. Dia benar-benar kehilangan Gavin sekarang.


Mikha terduduk lesu di halaman hotel. Matanya menatap pintu hotel, berharap Gavin keluar dari dalam sana.


Tapi saat sadar bahwa acara ini milik Gavin dan Gavin tidak mungkin keluar dari sana, harapan Mikha terputus begitu saja.


***

__ADS_1


"Hai!"


Mikha mendongak mendengar suara Gavin menyapanya.


Benar itu Gavin. Dia tengah berdiri di hadapan Mikha dan tersenyum lebar menatap Mikha.


Mikha segera menghapus air matanya, berdiri, lalu sedikit menjauh dari Gavin.


"Kak Gavin? Selamat, ya?"


Gavin mengerutkan keningnya. "Selamat buat apa?"


"Untuk pertunangan kak Gavin. Maaf, gue balik dulu."


"Hey!" Gavin menahan tangan Mikha saat Mikha mulai melangkahkan kakinya.


"Ini kenapa?" Gavin mengusap dahi Mikha.


"Aduh," keluh Mikha merasakan nyeri saat kepalanya yang terbentur disentuh oleh Gavin.


"Kenapa?" tanya Gavin dengan panik.


"Lepasin tangan gue, kak. Takut tunangan kak Gavin lihat. Gue nggak mau dibilang perebut tunangan orang."


"Jawab dulu ini kenapa!"


"Bukan urusan Lo, Kak. Gue balik dulu. Sekali lagi selamat atas pertunangannya."


"Kalau mau kasih selamat, masuk ke sana! Ngucapinnya langsung ke yang tunangan."


"Maksud Kak Gavin apa?"


Gavin melepaskan genggamannya pada tangan Mikha. Tapi setelah itu dia langsung memeluk erat tubuh Mikha. "Bukan kakak yang bertunangan," bisik Gavin membuat Mikha membelalakkan matanya. "Kamu datang ke sini karena takut kehilangan kakak, kan? Ayo, ngaku!" Gavin tertawa pelan.


Cubitan keras Gavin dapatkan di pinggangnya membuat Gavin berteriak kesakitan. "Sakit, Mikha, aduh!"


"Jahat banget udah bohongin gue!"


"Siapa yang bohong? Kakak, kan, nggak pernah bilang kalau mau tunangan."


"Fitting baju di butik Tante Cristy. Sena bilang acara pertunangan Kak Gavin jam delapan. Itu apa kalau nggak bohongin gue?"


"Kakak nggak ada bilang mau tunangan. Akal-akalan si Sena aja itu."


"Iihhh, kesel!"


Mikha berteriak kesal sebelum Gavin kembali memeluknya.


Air mata Mikha menetes. Antara kesal, bahagia dan lega karena bukan Gavin yang bertunangan. Mungkin setelah ini dia harus memberi pelajaran Sena karena sudah membohonginya seperti ini.


"Aku pikir aku akan kehilangan Kak Gavin lagi," ucap mikha di sela isakannya.


Gavin tersenyum bahagia. "Itu nggak akan terjadi, Sayang. Terimakasih sudah mau mengakui kalau kamu nggak mau kehilangan kakak."


Mikha dan Gavin saling mengeratkan pelukan.


Malam ini adalah malam yang paling membahagiakan bagi Gavin. Tidak sia-sia dia mengikuti semua rencana yang sudah disusun rapi oleh Sena.


Mungkin, hadiah honeymoon untuk Sena dan suaminya itu adalah hadiah yang cocok sebagai bentuk rasa terimakasihnya pada Sena.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Tadinya mau upload siang aja. dan sebenarnya belum mau publish part Gavin nemuin Mikha. tapi takut diserbu reader yang nggak sabaran. 😂😂


Masih sepi, ya? 😌 ramein, dong, biar semangat nulisnya. 🥱🥱


__ADS_2