Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 23


__ADS_3

"Bagaimana hubungan antara kamu dan Mikha yang sebenarnya?"


Anton bertanya pada Gilang dengan perasaan yang penuh dengan kekecewaan. Dia pikir Gilang sudah berubah setelah menikah dengan Mikha. Kenyataannya tidak.


Gilang masih saja berhubungan dengan Viona. Padahal, setau Anton, Viona adalah calon menantu partner kerjanya.


Sebab itu Anton percaya Gilang dan Viona tak lagi menjalin hubungan meskipun Viona masih menjadi sekretaris Gilang.


Ternyata semua hanya kamuflase untuk menutupi hubungan gelap mereka. Hubungan Viona dengan lelaki lain dan kemesraan palsu yang ditunjukkan Mikha dan Gilang hanya sebagai alat untuk menutupi hubungan antara Gilang dan Viona.


"Apa Mikha tahu soal kelakuan kamu ini?"


Gilang menarik napas dan mengangguk lesu. "Mikha tau, Pa."


"Kurang ajar!"


Anton melayangkan pukulan keras ke pipi Gilang. Meninggalkan bekas merah kebiruan di sana.


"Sudah baik Papa mau melindungi kamu dari kesalahan yang pernah kamu perbuat, Gilang. Sekarang, papa sudah nggak peduli lagi seandainya Mikha dan orangtuanya tau apa yang sudah kamu lakukan ke kakaknya."


Mendengarnya, Gilang begitu panik. "Pa, tolong jangan begini, Pa. Aku nggak mau mereka tau tentang kesalahan masa lalu aku ke Uli."


"Salah kamu sendiri. Kamu mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Tapi apa yang kamu lakukan, hah? Mengkhianati pernikahan kamu dengan Mikha. Tidak juga merubah sifat kamu yang suka main perempuan."


"Mikha juga ada hubungan dengan Gavin, Pa. Bukan cuma aku yang selingkuh."


"Lalu kamu membenarkan apa yang kamu lakukan? Jika Mikha dan Gavin ada hubungan, akan ada waktunya mereka Papa interogasi. Saat ini yang ada di sini adalah kamu. Kamu yang lagi-lagi buat masalah."


Anton menghembuskan napasnya dengan kasar. Membayangkan bagaimana marahnya Wira ketika tau Gilang yang menyebabkan Uli mengakhiri hidupnya, juga Mikha yang dikhianati di dalam pernikahannya dengan Gilang.


Kedua anaknya menjadi korban Gilang.


Seandainya tidak ada wasiat perjodohan itu, Anton tak akan menikahkan Gilang dengan Mikha.


Memilih Gavin yang menikahi Mikha pun dia tidak bisa karena Gavin bukan anak kandungnya.


Yang menikah dengan anak Wira harus cucu kandung dari Suryo. Sedangkan Gavin bukan cucu kandung dari Suryo.


Ancaman yang dia berikan pada Gilang dulu ternyata tak membuat Gilang takut. Atau memang Gilang tak peduli akan hal itu sehingga dia masih nekat menjalin hubungan dengan Viona.


Gilang melirik Yunita. Menatapnya dengan tatapan memohon agar Yunita bersedia membantu Gilang.


Dengan tatapan datarnya, Yunita menggelengkan kepalanya pelan.


Kali ini dia tak akan membantu Gilang lagi. Kesalahan Gilang sudah begitu besar. Dia sudah sangat keterlaluan.


"Papa akan bicarakan ini dengan Wira."


Ucapan Anton mengundang tatapan terkejut dari Gilang. "Jangan, Pa."


"Kenapa? Kamu pikir Papa akan tetap melindungi kamu? Tidak, Gilang! Papa tidak akan membiarkan Mikha menjadi korban kamu lagi."


"Kami sedang berusaha memperbaiki hubungan kami, Pa?"


"Usaha?" Anton tertawa sinis. "Kamu tidak berusaha, Gilang. Kalau kamu berusaha, harusnya kamu tinggalkan Viona sejak lama. Kamu hanya takut Mikha akan menuntut cerai dari kamu. Apa yang Papa katakan salah, Gilang?"


Gilang diam. Tidak ada yang salah dari ucapan Anton. Semua benar.


Dia hanya takut Mikha akan meminta cerai darinya, dan akhirnya papanya pun akan mengatakan pada Wira bahwa Gilang-lah yang menghancurkan hidup Uli. Seperti ancaman papanya dulu saat Gilang berusaha menolak perjodohannya dengan Mikha.

__ADS_1


Saat ini Gilang hanya bisa pasrah sembari memikirkan bagaimana caranya agar bisa meluluhkan hati Mikha agar Mikha tak menuntut cerai darinya.


Juga menghalangi setiap langkah yang Mikha ambil untuk mengetahui siapa orang yang menghancurkan hidup kakaknya.


🌹🌹🌹


Mikha sudah tidak tahan lagi jika harus dipaksa untuk menjalani pernikahannya dengan Gilang.


Sudah cukup selama ini dia berpura-pura bahagia dengan pernikahannya.


Bukan karena dia ingin segera bisa bersatu dengan Gavin. Tapi ingin mengungkap semua kebusukan Gilang.


Berkas perceraian dan bukti perselingkuhan Gilang sudah dia berikan kepada pengacara yang disiapkan Gavin untuk diserahkan ke pengadilan.


Hanya bukti perselingkuhan yang dia tunjukkan. Sedangkan bukti-bukti bahwa Gilang pernah ada hubungan dengan Uli sampai hidup Uli hancur tidak dia cantumkan di sana.


Menurutnya, itu sudah berada di luar urusan rumah tangganya. Hal itu merupakan urusan Gilang dengan Papa dan Mama Mikha.


"Gimana, Kak? Handphonenya udah bisa nyala?"


"Udah bisa."


"Foto-fotonya masih lengkap?"


"Masih. Perlu aku kirim ke handphone kamu?"


"Boleh. Ada chat antara Gilang dan Uli nggak, kak?"


"Nggak ada. Kayaknya dulu udah sempat dihapus sama Gilang."


"Kenapa fotonya nggak dihapus juga coba untuk menghilangkan jejak?"


"Saat itu Gilang panik. Dia langsung membuang handphonenya ke bawah ranjang saat papa masuk ke kamarnya dan menghajarnya."


"Gilang itu anak mama banget. Dia nggak bisa nyembunyiin sesuatu dari mama. Kegelisahan dia waktu Uli mengatakan kalau dia hamil itu nggak bisa ditutupi dari mama. Mama sendiri nggak mungkin juga, kan, menutupi masalah sebesar itu dari papa?"


Mikha mengangguk setuju meskipun Gavin tak tau bagaimana ekspresi wajah Mikha saat ini.


"Kakak kamu nggak nyimpan chatnya sama Gilang?"


"Aku nggak tau, Kak. Handphone Kak Uli nggak ada di kotak itu."


"Udah coba kamu cari?"


"Belum. Nanti coba aku ke kamar kak Uli lagi buat cari handphonenya."


"Iya. Semoga masih ada biar bukti semakin kuat."


"Aamiin. Makasih, ya, Kak."


"Iya, sama-sama. Hati-hati ya, kamu. Kakak nggak bisa jagain kamu setiap saat."


"Iya, Kak. Aku bakalan jaga diri aku dengan baik."


Setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Gavin, tak berapa lama kemudian Mikha menerima foto-foto Gilang dan Uli ke handphonenya.


Mikha melihat satu persatu foto tersebut. Gilang dan Uli sama-sama menatap ke kamera. Di dalam foto tersebut, Uli terlihat sangat bahagia bersama Gilang.


Senyuman lebarnya terlihat natural tanpa dibuat-buat.

__ADS_1


Sampai ke beberapa foto terakhir, foto dimana keduanya tanpa busana sedang berada di sebuah kamar.


Hati Mikha sakit melihatnya. Kenapa bisa kakaknya diperdaya oleh Gilang sampai mau melakukan hal itu.


Bahkan Mikha tak sanggup melihat video perbuatan mereka yang juga dikirimkan oleh Gavin.


"Bodoh kamu, Kak!" Mikha memaki kakaknya meskipun kakaknya tak lagi mendengar makiannya.


"Kak Uli kenapa bodoh banget, sih, bisa terjebak sama lelaki kayak gitu?"


Mikha semakin yakin untuk segera berpisah dari Gilang. Tak akan dia tunda lagi.


🌹🌹🌹


"Maksud Lo apa, Mikha?"


"Apa?" Mikha mengerutkan keningnya. Menatap Gilang penuh tanya.


"Apa maksud Lo soal ini." Gilang menyerahkan surat gugatan cerai dari pengadilan. "Bukankah gue udah beritikad baik untuk memperbaiki pernikahan ini?"


Mikha tertawa sinis. "Lo udah terlambat, Lang."


"Terlambat bagaimana? Gue udah ninggalin Viona demi Lo, Mikha."


"Oh, terimakasih, ya, Lang. Makasih udah berkorban dengan ninggalin selingkuhan Lo itu demi gue. Sayangnya permasalah di sini bukan hanya soal Lo yang selingkuh."


"Lalu apa lagi? Lo yang selingkuh? Lo minta cerai biar bisa menjalin hubungan dengan Gavin, iya?"


"Nggak ada urusannya sama Kak Gavin. Semua murni karena kesalahan yang udah Lo perbuat."


"Kesalahan apa lagi?"


"Lo apain kakak gue sampai dia bunuh diri, Lang?"


Gilang terperangah mendengar ucapan Mikha. Seolah tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Maksud Lo apa?"


"Jangan pura-pura lagi, Lang. Gue tau semua yang Lo lakuin ke kakak gue. Emang dasar baji***n!!"


"Gue nggak tau apa-ap_"


"Diam!!!" Mikha berteriak dengan marah. Rasanya muak mendengar Gilang terus saja berkilah dan bersikap seolah dia tidak bersalah. "Lo hamilin kakak gue, Lo tinggalin dia tanpa mau bertanggungjawab. Dan akhirnya kakak gue bunuh diri. Semua karena Lo, Gilang! Gue kehilangan kakak gue karena Lo dan Lo masih nggak mau ngaku kalau Lo bersalah?" Tawa sinis kembali keluar dari bibir Mikha. "Hebat Lo, Lang. Lelaki pengecut yang bisanya cuma lari dari masalah dan tanggungjawab! Gue pastiin Lo akan mempertanggungjawabkan perbuatan Lo ini, Gilang. Semoga bukti yang gue punya bisa buat Lo mendekam di penjara."


Mikha melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Gilang yang masih terdiam di tempatnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Mungkin sedang menata pikirannya karena hal ini terlalu mengejutkan untuknya.


Langkah Mikha dihentikan oleh tarikan kuat Gilang pada rambut panjangnya. Membuatnya menjerit kesakitan. Namun tak dihiraukan oleh Gilang.


"Lang, sakit!"


"Gue nggak akan lepasin Lo sampai Lo mau membatalkan gugatan cerai ini."


"Nggak akan gue lakukan_ahh, sakit!" Mikha semakin kesakitan saat Gilang semakin kuat menarik rambutnya.


Rasanya kulitnya hampir terlepas saking kuatnya tarikan Gilang. "Batalkan, atau gue juga akan melakukan hal yang sama seperti ke kakak Lo, Mikha! Jangan main-main sama gue!"


Mikha tak bisa lagi melawan. Tangan kakinya terasa lemas karena sakit yang dia rasakan.


Hingga pandangan matanya mulai kabur dan menggelap seketika.

__ADS_1


Mikha tak sadarkan diri.


🌹🌹🌹


__ADS_2