Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 54


__ADS_3

Aku udah pernah Spil nama panjang Gavin sama nama perusahaannya belum, ya?


Kalau udah, ada yang ingat di part berapa? Tolong kasih tau, ya, biar aku edit. ☺️☺️


Happy reading...


🌹🌹🌹


Segala sesuatu yang menjadi pertanyaan bagi Mikha soal Gavin, hanya bisa Mikha pendam sendiri tanpa bisa menanyakannya pada Gavin.


Mikha rasa itu bukan urusannya. Jadi mungkin dia tidak berhak tau. Dulu hingga sekarang. Kalau Gavin berniat memberitahu soal itu, pasti sudah dari dulu Gavin mengatakannya.


Mikha menghembuskan napas panjang, teringat akan satu hal. Gavin sendiri bisa menyembunyikan hal sebesar itu dari Mikha. Andai Mikha tidak mencari tahu, mungkin selamanya Gavin akan tetap menyembunyikan semua tentang Maulida.


Jadi tidak heran kalau Gavin tidak pernah bercerita soal makam siapa yang dia datangi itu.


Hari-hari Mikha terasa sangat kosong. Mikha belum tahu harus apa setelah ini. Padahal, sebelum dia mengetahui kalau Nathan sudah tidak ada, ada banyak hal yang sudah dia rancang untuk hidupnya bersama Nathan.


Namun, manusia hanya bisa berharap dan berencana. Yang menentukan tetap yang maha kuasa.


Harusnya hari ini dia dan Nathan sedang melangsungkan lamaran. Selangkah lebih dekat lagi untuk sebuah pernikahan.


Mikha mengusap wajahnya dengan kasar. Mau tidak mau Mikha harus menerima takdir hidupnya. Terus menerus meratapi juga tidak akan membuat Nathan kembali.


Hidupnya masih harus tetap berjalan, bukan? Biar Nathan hidup dalam kenangan. Sedangkan Mikha akan terus melangkah ke depan, meraih masa depan.


***


"Cantik sekali anak Mama."


Feni dan Wira tersenyum bahagia melihat Mikha pagi ini. Wajahnya terlihat lebih segar. Penampilannya begitu cantik dan dewasa dalam setelan kerjanya.



Mendengar Mikha akan mulai bekerja di kantor Wira, keduanya begitu senang mendengarnya.


Mikha tak lagi terpuruk dan mulai bangkit dari rasa kehilangannya atas kepergian Nathan.


"Sudah siap kerja, ya, hari ini?"


"Siap, dong, Pa."


Wira dan Feni kembali tersenyum bahagia. Setelah ini mereka akan mengupayakan apapun asalkan Mikha bahagia.


***


Semua mata tertuju pada Mikha yang berjalan berdampingan dengan Wira. Bibir Mikha menyunggingkan senyuman untuk menyapa karyawan Papanya. Dan sebentar lagi juga akan menjadi karyawannya.


Sebenarnya Mikha ingin memulai dari bawah mengingat minimnya pengalaman kerja yang dia miliki.


Tapi Wira tentu tidak mau mengabulkannya. Wira menempatkan Mikha sebagai wakil direktur. Menurut Wira, Mikha akan belajar dengan cepat dalam mengurus perusahaan.


"Selamat pagi, semuanya." Wira berdiri di dekat meja resepsionis, menyapa karyawannya yang baru datang.


"Pagi, Pak."

__ADS_1


"Perkenalkan, di samping saya sekarang ini adalah anak semata wayang saya. Namanya Mikhayla Wiratmaja. Mulai hari ini, dia adalah wakil saya di kantor ini."


"Selamat pagi, Bu Mikha. Selamat bergabung," ucap Budi, staf HRD, mewakili rekan-rekan kerjanya.


Mikha menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. "Terimakasih, Pak."


Ternyata, tak sulit bagi Mikha untuk mempelajari hal-hal baru yang dia temui di kantor Wira. Mikha belajar dengan cepat dan mulai paham dengan cara kerja yang harus dia lakukan.


🌹🌹🌹


Malam harinya, Mikha ikut dengan Wira dan Feni untuk menghadiri acara ajang penghargaan yang akan diberikan pada para pengusaha-pengusaha sukses.


Mikha terlihat menawan dan begitu elegan dengan gaun v-neck berwarna hitam dengan panjang selutut. Rambutnya panjangnya di gerai, membuatnya terlihat sangat cantik meskipun penampilannya terlihat sangat sederhana.



Tak sedikit orang yang sering curi-curi pandang terhadap Mikha. Tak terkecuali Gavin yang keberadaannya belum disadari oleh Mikha.


Wira dan Feni dengan bangga memperkenalkan Mikha pada rekan-rekan bisnisnya yang turut hadir.


"Saya dengar baru saja lulus S2 dari Paris, ya?"


Mikha tersenyum dan mengangguk membenarkan. "Betul, Tante."


"Wah, hebat, ya. Saya suka sama anak muda yang memiliki semangat belajar seperti Mikha ini."


"Terimakasih, Tante."


"Hebat lho jeng Feni sama Mas Wira ini. Anaknya sudah cantik, pintar, sopan. Masih mudah sudah S2. Kita jodohkan saja anak kita, jeng."


Mendengar ucapan wanita seusia Feni yang bernama Siska itu, Mikha tersenyum canggung. Baru kenal saja sudah menyinggung soal perjodohan.


"Kalau soal itu, biar Mikha sendiri yang menentukan, jeng Siska. Saya tidak bisa mengaturnya lagi karena sudah dewasa," balas Feni dengan hati-hati mengatur ucapannya. Salah bicara sedikit, Feni takut menyinggung perasaan Siska.


"Ah, iya. Betul itu, jeng. Kapan-kapan kenalan sama anak Tante, ya. Dia sekarang lagi kuliah di Kanada."


"Iya, Tante." Mikha mengangguk mengiyakan meskipun dalam hati sama sekali tak berminat.


Acara dimulai tepat pukul delapan. Diawali dengan hiburan dari beberapa artis ternama. Lalu sambutan demi sambutan dari orang-orang penting yang terlibat langsung dalam terselenggaranya acara malam ini.


Sebelumnya Mikha tak begitu memperhatikan siapa saja dan kategori apa saja yang diberi penghargaan.


Hingga saat pembawa acara membacakan penghargaan kali ini akan diberikan kepada pengusaha muda yang sukses dan inspiratif, Mikha baru fokus ke arah panggung.


"Penghargaan pengusaha muda yang sukses dan inspiratif jatuh kepada Gavin Wilson Rakandra."


"Kak Gavin?" gumam Mikha terkejut.


Mikha sama sekali tidak kepikiran kalau saat ini Gavin berada di tempat yang sama dengan dirinya.


Pandangan Mikha tertuju pada Gavin yang berjalan dengan begitu gagah dan mempesona menuju ke atas panggung.



Jantung Mikha berdetak kencang. Sejak dulu pesona Gavin memang tidak pernah luntur. Mikha selalu terpesona setiap melihat Gavin mengenakan jas hitam seperti itu. Ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.

__ADS_1


Mikha berdeham kecil untuk menutupi kegugupannya sendiri. Gavin yang mendapatkan penghargaan, tapi Mikha yang jantungnya berlompatan.


"Selamat malam, semuanya."


Suara berat Gavin menyapa tamu undangan.


"Yang pertama, saya sangat bersyukur kepada Allah karena telah mengijinkan saya untuk berada di titik ini sekarang. Terimakasih juga untuk kedua orangtua saya yang tak henti-hentinya mendukung dan mendoakan saya. Rekan-rekan yang bernaung di bawah Wilson's Group. Tanpa kalian mungkin saat ini saya tidak akan bisa berdiri di sini."


Mata Mikha dan Gavin tak sengaja bertemu. Dari atas panggung, Gavin memandang Mikha dengan lekat dan dalam. Mikha sampai salah tingkah dibuatnya.


"Saya juga ingin mengucapkan terimakasih kepada wanita yang sampai saat ini masih dan akan terus saya cintai. Terimakasih sudah menjadi bagian dari hidup saya. Penghargaan ini saya persembahkan untuk dia."


Mikha tidak ingin merasa percaya diri dengan ucapan Gavin. Tapi pandangan Gavin terus mengarah pada dirinya. Mikha mencoba melihat ke sekelilingnya atau belakangnya, tapi yang ada hanya pasangan suami istri semuanya. Sekalipun ada yang masih muda, dia juga laki-laki.


Jadi, apakah yang dimaksud Gavin adalah dirinya? batin Mikha terus bertanya.


🌹🌹🌹


"Hai!"


Mikha menggeser sedikit tubuhnya saat tiba-tiba saja Gavin sudah duduk di sampingnya.


Mikha mengangguk dan tersenyum tipis membalas sapaan Gavin.


"Apa kabar?"


"Baik."


"Kakak dengar kamu sudah mulai kerja hari ini."


Mikha mengangguk membenarkan.


"Lancar?"


"Lancar."


"Ada kesulitan?"


"Sampai saat ini, belum ada."


"Syukurlah."


Keduanya saling diam. Gavin tak tahu harus bertanya apa lagi agar mereka bisa mengobrol sedikit lebih lama.


Hingga kedatangan Wira dan Feni membuat Gavin harus rela pertemuannya malam ini dengan Mikha berakhir dengan cepat.


"Mikha, ayo pulang," ajak Feni.


Gavin berinisiatif untuk menyalami dan mencium tangan Wira dan Feni. Mereka pun tak menolak. Hanya tak ada sedikitpun basa-basi sekalipun itu ucapan selamat atas penghargaan yang Gavin raih.


Gavin tak berhenti memandang Mikha yang berjalan di belakang kedua orangtuanya.


Mikha sempat menoleh sebentar. Namun kembali mengalihkan pandangannya saat Gavin tersenyum dan melambaikan tangannya pada Mikha.


🌹🌹🌹

__ADS_1



Jadi Gavin cocok nggak, sih, Mas refal Hady ini? πŸ˜‚πŸ˜ Meresahkan banget mas brewok satu ini πŸ€­πŸ˜‚


__ADS_2