Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 43


__ADS_3

Sebuah mantel diberikan Nathan kepada Mikha sebagai tanda perkenalan, kata Nathan.


Meskipun Mikha rasa itu tidak perlu, tapi Mikha tetap menerimanya demi menghargai Nathan.


"Mau jalan-jalan sama aku sebentar aja nggak?"


Mikha mengangguk setuju. "Boleh."


"Kakak kamu?"


Mikha mengangkat kedua alisnya mendengar Nathan menyebut kakak. Mikha lupa kalau kemanapun Mikha akan pergi, dia harus ijin pada Mia atau Sandy.


"Aku telponin, tapi kamu yang ijin, ya," usul Mikha.


"Siap."


Dengan cepat Mikha mencari nama Mia di daftar kontaknya. Setelah tersambung, Mikha menyerahkan handphonenya kepada Nathan.


"Assalamualaikum, Mikha. Ada apa?" Mia bersuara di ujung sana.


"Waalaikumsalam. Ini Nathan, kak."


"Nathan? Kok, bisa di kamu handphone Mikha? Mikha-nya mana?"


Nathan terkekeh pelan. "Mikha ada, kak. Ini cuma mau minta ijin buat ngajak Mikha jalan-jalan sebentar sebelum saya balik ke Jakarta. Nggak jauh, kok. Sekitar sini aja."


"Boleh, ya, Mbak? Sebentar aja, kok," sambung Mikha.


"Ya udah. Tapi jangan macam-macam,ya."


"Siap, kak. Saya janji, Mikha akan pulang dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Mungkin malah tambah satu."


"Maksud kamu apa?"


Mikha turut bertanya pada Nathan lewat tatapan mata dan kernyitan di keningnya.


"Tambah bahagia, Kak."


Helaan napas lega terdengar dari bibir Mikha. Dia pikir akan tambah apa? Ternyata tambah bahagia. Pipi Mikha jadi bersemu merah mendengarnya. Bibirnya terlipat menahan senyuman.


"Awas kalau sampai kamu macam-macam."


"Iya, Kak. Ijin bawa Mikha sebentar, ya."


"Iya," balas Mia.


Mikha dan Nathan tertawa kecil setelah sambungan telepon dengan Mia terputus.


"Jadi kita mau kemana?" tanya Mikha setelah masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Nathan sendiri.


"Sekarang ke Eiffel dulu aja, ya. Aku nggak punya banyak waktu."


"Aku habis dari sana kemarin."


"Kan, beda. Kemarin kamu ke sana sama kakak kamu, kan? Sekarang sama aku. Setiap dua bulan sekali aku kesini. Nanti aku ajak kamu ke tempat yang bagus lainnya."

__ADS_1


Mikha tersenyum dan mengangguk antusias. "Oke."


***


Tempatnya sama. Yang dilewati juga sama. Tapi rasanya berbeda ketika datang bersama dengan orang yang berbeda pula.


Kemarin Mikha seperti obat nyamuk karena datang bersama pengantin lama yang masih merasa pengantin baru itu.


Tapi kali ini Mikha datang bersama Nathan. Orang yang baru dia kenal, tapi membuat Mikha nyaman berada di dekatnya.


"Kamu anaknya Pak Wira, ya?"


"Kok, kamu tau? Stalking, ya?"


Nathan tertawa keras. "Mana ada aku stalking kamu. Belum sempat. Pak Wira itu partner bisnisku. Kemarin beliau telepon dan bilang kalau anaknya juga di Paris. Namanya Mikhayla Wiratmaja. Terus beliau kirim foto kamu."


"Buat apa coba? Ih, Papa. Suka nyebarin foto anak sendiri."


"Terus kalau kamu posting foto di Instagram itu bukan nyebarin foto juga, ya?"


Mikha tertawa kecil. "Iya juga, sih. Kenal Papa udah lama?"


Nathan menggelengkan kepalanya. "Belum. Baru tiga bulanan lah. Menyenangkan memiliki partner senior seperti Pak Wira. Dan ternyata anaknya pun nggak kalah menyenangkan."


"Maksudnya?"


"No! Ayo ke sana, aku fotoin kamu."


Nathan berjalan mendahului Mikha untuk lebih dekat dengan menara Eiffel dan meminta Mikha untuk bergaya agar Nathan bisa mengambil foto Mikha.


Pertanyaan Mikha sontak membuat Nathan tertawa terbahak. "Di sini mana ada basreng di jual pakai gerobak gitu, Mikha. Aneh-aneh aja kamu."


"Memangnya kalau yang dijual nggak pakai gerobak ada?"


"Belum tau juga, sih. Selama ini belum nemuin kayak gitu di sini."


"God, aku nggak kangen sama Mama dan Papa tapi aku kangen cilok, cilor, basreng, telur gulung dan kawan-kawannya."


"Besok aku balik sini aku ajak Mamang yang biasa buat makanan yang kamu sebutkan tadi. Sekalian bahan-bahannya dibawa dari Indonesia biar rasanya nggak berbeda."


"Serius?" Mata Mikha berbinar mendengarnya.


Nathan mengangguk pasti. "Serius."


"Aaaa... Thank you, Nathan." Reflek Mikha memeluk Nathan.


Seperti tidak ada hal yang lebih membahagiakan lagi bagi Mikha selain bisa menikmati makanan yang dia anggap makanan surga dunia.


Nathan pun tertawa kecil. Keterkejutannya atas pelukan dari Mikha sudah menghilang. Berganti dengan rasa gugup karena dirinya sedekat ini dengan Mikha.


"Mikha."


Dengan cepat Mikha melepaskan pelukannya. "Eh, sorry," ucapnya salah tingkah. Membuang pandangannya asal tak memandang Nathan. Malu rasanya karena dia tiba-tiba memeluk Nathan tanpa permisi.


"Enggak apa-apa."

__ADS_1


Mendadak suasana terasa canggung.


Mikha menghindari Nathan dengan berpura-pura melihat ke sekeliling menara Eiffel yang masuk ke salah satu keajaiban dunia.


Di saat itulah, kesempatan bagi Nathan untuk mengabadikan Mikha di dalam handphonenya secara candid.


🌹🌹🌹


Mikha sudah aktif berkuliah setelah dua bulan lebih berada di Paris.


Banyak tugas dan hampir tak punya waktu untuk dirinya sendiri, sudah mulai menjadi hal yang biasa bagi Mikha. Mau mengeluh pun rasanya tidak ada gunanya karena itu sudah konsekuensinya.


Yang bisa Mikha lakukan adalah mensyukuri, menikmati dan menjalaninya.


Banyak orang menginginkan posisi Mikha. Yaitu bisa kuliah di luar negeri tanpa kesulitan biaya dan lain sebagainya.


Sebab itu Mikha tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang dia miliki saat ini.


Rasa rindunya kepada kedua orangtuanya sudah terobati karena seminggu yang lalu mereka datang untuk menjenguk Mikha.


Sayang, kerinduannya pada cilor dan kawan-kawannya belum terobati.


Orang yang berjanji akan datang dan mengajak orang yang bisa memasak makanan itupun belum juga datang. Dan entah kapan dia akan datang ke Paris lagi.


Sudah lebih dari dua bulan dari waktu yang dia janjikan.


"Ah, semua cowok sama aja. Omongannya nggak ada yang bisa dipegang," gerutu Mikha yang tengah melangkah dengan gontai menuju apartemennya.


Sudah jam delapan malam tapi Mikha baru pulang. Dia baru selesai menyelesaikan tugas dengan temannya dari Indonesia yang baru dia kenal saat pertama kali masuk kuliah. Ajeng dan Fahri namanya.


Mikha membuka pintu apartemennya. Terasa sepi. Tak biasanya begini karena Sandy dan Mia biasa menunggu Mikha pulang. Setelah Mikha pulang, baru mereka akan turun ke apartemennya sendiri.


"Mbak Mia, Kak Sandy? Sepi banget, sih. Nggak ada orang, ya? Tapi bau telur goreng. Di dapur kali, ya."


Mikha melangkahkan kakinya menuju dapur. Saat itu dia dikejutkan dengan sebuah teriakan kompak dari beberapa orang yang ada di sana.


"Surprise!"


Ada Sandy dan Mia. Ada juga Nathan dan satu orang laki-laki berusia paruh baya yang Mikha tidak kenal itu siapa.


Tapi kedua mata Mikha fokus pada makanan yang ada di atas meja. Semua makanan kesukaannya yang dulu dia katakan pada Nathan. Mikha tertawa bahagia melihatnya.


"Nathan, kamu beneran menghadirkan surga di sini. Thank you..." Mikha sudah menghampiri Nathan untuk memeluknya. Tapi dengan cepat Sandy menghadang Mikha dan menggelengkan kepalanya. "No!" ucapnya tegas.


Mikha tertawa keras dan memundurkan langkahnya. "Oke, Kak. Santai. Aku makan ini, ya."


Tanpa menunggu persetujuan, Mikha langsung duduk dan menikmati satu persatu jajanan pinggir jalan yang bagi Mikha itu enaknya tidak ada obat.


"Kapan datang, Nath? Aku nungguin. Aku kira kamu bohong soal ini."


Nathan terkekeh kecil. "Kemarin. Tapi Mang Asep harus istirahat dulu karena nggak biasa perjalanan jauh. Jadi baru hari ini ke sini dan masak ini semua buat kamu dibantu Mbak Mia dan Kak Sandy. Sengaja nggak kabarin kamu dulu, biar jadi kejutan."


"Oke. Terimakasih banget pokoknya. Next kalau ke sini, ajak Mang Asep lagi. Tiket aku yang bayar nggak apa-apa. Ini enak banget.... Kangen banget sama makanan ini," ucapnya lalu memasukkan butiran cimol ke dalam mulutnya.


Tingkah Mikha membuat Nathan tak berkedip melihatnya. Rasanya sangat bahagia ketika melihat Mikha bahagia. Apalagi bahagia Mikha sesederhana ini.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2