
"Kayaknya rencana kita gagal, Kak."
"Kenapa?"
"Sampai sekarang dia nggak ada hubungin aku, tanya aku dimana. Parah banget nggak, sih, kak? Aku udah nggak ada artinya lagi buat dia kayaknya. Aku hamil anak dia loh, Kak. Bukan anak laki-laki lain."
Pembicaraan Mikha dan Bella yang hanya lewat telepon membuat Bella tidak bisa menenangkan Mikha secara langsung.
"Mikha, aku rasa Gavin cuma butuh waktu aja, kok. Aku yakin dia akan menerima anak itu. Dia nggak sejahat itu, kan? Kamu pasti lebih tau. Pertama, mungkin dia kecewa karena kamu melepas alat KB tanpa sepengetahuan dia. Lalu merencanakan sendiri kehamilan kamu padahal kamu tau dia sangat takut kehilangan kamu. Dia sangat takut kalau apa yang terjadi dulu itu terulang kembali. Bukan maksudku menyalahkan kamu, Mikha."
"Aku paham, kok, Kak. Salah aku juga mungkin karena memilih melangkah sendiri."
"Jangan terlalu stress, ya. Kasian janin kamu. Udah periksa belum?"
"Belum, kak. Aku pengennya sama kak Gavin aja."
"Ya sudah. Jaga diri baik-baik, ya. Semoga kalian cepat baikan. Kasian anak-anak yang jadi korbannya."
"Iya, kak. Terimakasih, ya."
"Iya, sama-sama."
Mikha segera meletakkan handphonenya ke atas meja. Saat itu juga, rasa mual kembali menderanya.
Sejak kemarin Mikha selalu saja mual dan muntah. Seperti saat hamil pertama dulu, kali ini Mikha juga tidak bisa menelan apapun untuk dimasukkan ke dalam perutnya.
Mikha takut tidak bisa bertahan lama jika seperti ini. Tidak ada yang bisa dia mintai pertolongan karena Mikha takut permasalahannya dengan Gavin diketahui banyak orang.
Apalagi kalau sampai kedua orangtuanya atau kedua mertuanya tahu. Pasti mereka akan merasa sedih dengan permasalahan ini.
Mikha mencoba membuat teh lemon hangat. Barangkali bisa meredakan rasa mualnya. Tapi ternyata hanya mencium uapnya saja sudah membuat Mikha ingin kembali memuntahkan isi perutnya yang Mikha rasa sudah kosong tak ada isinya.
Karena hanya rasa pahit di mulut yang dia rasakan karena tak ada apapun lagi yang bisa dikeluarkan dari dalam perut Mikha.
Mikha meneteskan air matanya. Dulu, di saat seperti ini ada Gavin yang selalu sabar menemani dirinya. Memijat tengkuk dan kepala Mikha pelan agar Mikha merasa sedikit lebih nyaman.
Tapi sekarang dia sendiri. Sepertinya Gavin pun sudah tidak peduli dengan dirinya.
"Bersahabatlah, Nak. Kita cuma berdua di sini," ucap Mikha sebelum rasa ingin muntah kembali dia rasakan.
Hoek!
Hoek!
"Ada Papi, kok."
Mikha tersentak saat mendengar suara Gavin yang terdengar lembut, disertai dengan pijatan lembut di pundak Mikha.
Mikha segera membalikkan tubuhnya.
Serasa seperti sebuah mimpi. Gavin berdiri di hadapannya dengan tersenyum lembut serta tatapan matanya yang penuh dengan kekhawatiran.
"Kak?"
"Maafin kakak, sayang. Kakak memang egois. Tapi akhirnya kakak sadar, ini rejeki dari Allah. Kita tidak boleh menolaknya."
Mikha tersenyum dan air matanya pun menetes di pipinya lagi. Kali ini air mata bahagia.
__ADS_1
Akhirnya Gavin menyadari semuanya dan membuat Mikha merasa lega.
"Janji, ya, kalau kalian harus baik-baik saja! Kita harus membesarkan anak-anak kita sama-sama."
Tanpa ragu Mikha menganggukkan kepalanya. "Aku janji, kak. Aku janji akan baik-baik saja."
Keduanya berpelukan dengan erat. Hal ini sangat membahagiakan Mikha. Gavinnya telah kembali seperti dulu lagi.
Mikha semakin dibuat terharu saat Gavin berlutut dihadapannya, mensejajarkan kepalanya dengan perut Mikha lalu mengusap perut Mikha dan menciumnya dengan lekat. "Assalamualaikum, Nak. Maafkan Papi yang udah jahat sama kamu dan Mami kamu, ya. Papi janji akan terus menjaga kalian."
Tak ada lagi hal yang lebih membahagiakan bagi Mikha selain momen ini. Momen yang dia tunggu-tunggu sejak pertama kali Mikha tau dirinya kembali hamil.
***
"Anak-anak nyariin kamu, Sayang."
"Terus kakak bilang apa?"
"Kakak bilang Mami sedang ada kerjaan di luar kota."
"Kakak kenapa nggak hubungin aku? Aku pikir kakak udah nggak peduli lagi sama aku."
"Siapa yang nggak mencoba buat hubungi kamu, sayang? Nomorku yang kamu blokir."
"Oh, ya?" Kali ini Mikha baru tersadar kalau sebelum dia meninggalkan rumah, nomor Gavin sudah dia blokir agar Gavin tak bisa menghubunginya.
Mikha pikir karena Gavin sudah tidak peduli lagi dengannya. Tapi ternyata dia sendiri yang sudah memutuskan akses komunikasi dengan Gavin.
"Lantas apa yang membuat kakak mencariku?"
"Karena kakak nggak bisa hidup tanpa kamu, sayang. Baru satu jam kamu pergi, kakak sudah kalang kabut nyariin kamu. Padahal kakak tau kalau kamu butuh waktu untuk sendiri karena kekecewaan kamu sama kakak. Ditambah lagi anak-anak nangis nyariin Maminya. Kakak jadi merasa bodoh dan gagal menjadi seorang ayah untuk anak-anak dan seorang suami buat kamu."
Gavin menghembuskan napas pelan. Dia rasa tidak mungkin dia menceritakan mimpinya semalam.
Dimana di dalam mimpi tersebut, Gavin kembali kehilangan Mikha. Bukan karena melahirkan, tapi karena Mikha nekat menggugurkan janin mereka.
Saat itu rasa kehilangan yang dirasakan Gavin justru semakin besar karena bukan hanya kehilangan Mikha saja. Tapi juga kehilangan calon anaknya.
"Kan, memang itu anak kakak, sayang."
"Dih, nggak ingat kemarin situ nolak sampai bentak-bentak aku? Aku masih kesel, ya, Kak. Masih marah juga. Tega banget sama aku sama anak sendiri. Ini anak kamu, bukan anak laki-laki lain."
Gavin mengeratkan pelukannya. "Maaf, sayang. Maafkan kakak. Kakak salah, kakak yang bodoh. Kakak menyesal sudah membentak kamu bahkan menolak anak kita. Kakak menyesal, sayang."
Mikha tak menjawab. Tapi pelukannya di tubuh Gavin menandakan bahwa Mikha sudah memaafkan semua kesalahan Gavin.
Tantangan terbesar Mikha untuk membuat Gavin menerima dirinya kembali hamil kini sudah terselesaikan. Sekarang hanya tinggal menyiapkan diri dan keberanian untuk menghadapi persalinan nanti. Semoga tidak seperti saat melahirkan ketiga anaknya dulu.
"Terus darimana kakak tau aku ada di sini?"
"Mencari keberadaan kamu itu bukan hal yang sulit, sayang."
Ya, Mikha percaya.
"Cuma kemarin lagi panik aja jadi nggak ada yang bener yang kakak kerjain. Nyari kamu juga terasa susah saking paniknya. Tapi pas kakak berusaha untuk tenang, anak-anak udah tenang, kakak baru bisa fokus cari kamu."
Mikha tertawa kecil. Sejauh apapun Mikha pergi dan sembunyi, Gavin akan tetap bisa menemukan dirinya.
__ADS_1
Apalagi Mikha hanya pergi ke Bandung, dan tinggal untuk sementara waktu di villa milik Papanya.
🌹🌹🌹
Hiperemesis yang Mikha alami di kehamilan keduanya kali ini ternyata lebih parah dari saat hamil triplet.
Mikha harus beberapa kali mendapatkan perawatan di rumah sakit karena khawatir akan dehidrasi sebab tidak ada minuman atau makanan apapun yang bisa diterima oleh perut Mikha.
Terhitung sudah tiga kali menjalani perawatan, padahal usia kehamilan Mikha baru memasuki usia tiga belas Minggu.
Hamil untuk kedua kalinya, Mikha kembali mengandung janin kembar. Seperti yang sudah diprediksikan oleh dokter karena ada gen kembar yang kuat dari Gavin.
Ketiga anaknya pun terlihat begitu antusias mengetahui Mikha sedang hamil adik mereka.
Mereka menjadi lebih perhatian pada Mikha. Sering mengambilkan makanan dan minuman untuk Mikha yang lebih banyak berada di atas tempat tidur. Ya meskipun makanan dan minuman itu harus berakhir di wastafel kamar mandi karena perut Mikha tidak bisa menerima keduanya.
Belum usai dengan Hiperemesis yang dialami Mikha, Gavin harus terima nasib ketika Mikha tidak bisa berdekatan dengan dirinya.
Mendadak Mikha merasa sangat mual setiap mencium aroma tubuh Gavin. Entah dari parfum Gavin, atau aroma tubuh Gavin yang bercampur dengan parfumnya.
Padahal, selama ini Mikha tidak pernah bisa tidur jika tidak mencium aroma tubuh Gavin sekalipun itu aroma ketek Gavin.
"Kak Keenan habis minta gendong Papi, ya?"
Keenan mengangguk membenarkan. Matanya menatap Mikha penuh tanya. Sedangkan Gavin sendiri yang berdiri di ambang pintu mulai merasa tidak enak dengan apa yang terjadi selanjutnya.
"Ganti baju ya, kak. Minta tolong sama suster, ya."
"Kenapa, Mami? Keenan habis mandi. Baru aja bajunya ganti."
"Bajunya bau Papi, sayang. Mami mual kalau cium baunya Papi."
"Oke, Mami. Keenan ganti baju dulu, ya."
"Maafin Mami, ya, sayang."
"It's okey, Mami."
Dugaan Gavin benar. Mikha meminta Keenan untuk mengganti bajunya hanya karena ada parfum Gavin yang menempel di baju Keenan.
Mikha kemudian menatap Gavin dengan tatapan penuh permohonan maaf meskipun hanya dari kejauhan mereka saja.
"Kak, maaf..."
Gavin mengulas sebuah senyuman. "Enggak apa-apa, Sayang. Kakak cuma kangen sama kamu."
Maklum, sejak terakhir di Bandung, Gavin tidak pernah lagi mendapatkan jatah malamnya dari Mikha. Bahkan sekarang pun Gavin hanya bisa memandang Mikha dari kejauhan tanpa bisa menyentuhnya meskipun hanya sekedar pelukan saja.
Dulu karena kondisi Mikha yang tidak memungkinkan. Sekarang ditambah lagi dengan Mikha yang tidak bisa berdekatan dengannya.
"Hukuman dua dedek bayi buat Papinya nggak main-main, ya, sayang? Udah delapan Minggu kakak nggak dapat jatah malam dari kamu."
"Kakak mau sekarang?" Mikha pun merindukan Gavin. Tapi ada daya jika tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama.
"Kakak nggak akan meniduri istri yang sedang tidak baik-baik saja, sayang. Yang penting kamu dan anak-anak sehat. Itu sudah cukup bagi kakak."
Ingin memeluk, ingin mencium, ingin tidur di pelukan Gavin, tapi tidak bisa Mikha lakukan.
__ADS_1
Sampai kapan, ya Allah? erang Mikha dalam hati.
🌹🌹🌹