Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 48


__ADS_3

Hanya mendengar helaan napas Mia dan tatapan Mia dengan penuh intimidasi. Tak peduli jika Mia hanya orang lain. Dia sudah mendapatkan amanah dari Feni dan Wira agar bisa membawa Mikha ke jalan yang lebih baik.


Meskipun terlihat kesal dan enggan untuk beranjak dari tempat duduknya, Mikha terpaksa keluar dari kamar untuk menemui Bella dan Raka.


Dengan wajah malas tanpa menatap Bella dan Raka sedikitpun, Mikha duduk di hadapan keduanya.


"Ada apa?" tanya Mikha tanpa basa-basi.


Bella tersenyum senang akhirnya Mikha mau menemui mereka. "Aku mau minta maaf, Mikha."


"Udah gue maafin," sela Mikha. Berharap Bella akan segera keluar dari apartemennya.


"Aku dan Gavin tidak pernah ada hubungan apa-apa."


"Ya sudah. Bukan urusan gue, kok."


"Tapi aku nggak bisa kalau ada kesalahpahaman diantara kita. Sebelumnya aku nggak begitu kenal kamu sebelum akhirnya aku rawat kamu waktu kamu sakit di apartemen Gavin waktu itu."


"Oh, jadi kalian berdua udah ada hubungan sejak saat itu? Bagus, ya?" Mikha ingat saat bangun tangannya sudah dalam keadaan diinfus. Dan bisa-bisanya dia tidak merasa kalau ada jarum menancap di tangannya.


Saat Mikha bertanya pada Gavin siapa yang memasang infus tersebut, Gavin hanya menjawab temannya yang memasang. Tidak tau kalau ternyata dia adalah Bella.


Mendengar balasan Mikha, Bella menghela napas sabar. "Sama sekali tidak. Kami tidak ada hubungan apapun. Sejak kapan pun itu. Kita pure bersahabat. Tidak ada perasaan lebih. Oke, aku akui, dulu aku memang pernah suka pada Gavin."


"Honey?" Ucapan Bella mendapatkan protes dari Raka.


"Dulu, Baby. Dengarkan aku dulu kenapa, sih?"


Mendengar perdebatan pasutri di hadapannya, Mikha melengos malas. Harus, ya, bermesraan di hadapan Mikha seperti ini? batin Mikha kesal.


Mia dan Sandy, Bella dan suaminya, bisa-bisanya mereka pamer kemesraan di hadapan Mikha yang menjalani LDR dengan Nathan.


"Aku dulu pernah suka pada Gavin. Kita berteman sejak SMP, bersahabat. Mustahil kalau salah satu diantaranya tidak ada perasaan lebih. Tapi saat itu dia memilih mencintai gadis lain. Di saat yang bersamaan, gadis tersebut justru mencintai Gilang. Gavin mengalah. Dia berusaha berhenti mencintai gadis itu."


"Terus hubungannya apa sama masalah yang pernah terjadi antara gue sama Gavin?"


"Dia nggak pernah pacaran atau menjalin hubungan dengan seorang wanita, Mikha. Jadi wajar kalau dia masih bingung bagaimana cara mempertahankan kamu. Ya karena dia nggak pernah memperjuangkan wanita. Buktinya waktu gebetannya suka sama adiknya aja dia ngalah. Dan dia lebih memilih untuk tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun sampai akhirnya dia jatuh cinta sama kamu. Jadi bisa dibilang, Gavin bodoh dalam urusan cinta."


Penjelasan Bella membuat Mikha tak tahu harus bagaimana. Sepintas wajah Gavin yang tengah tersenyum padanya, menyambutnya dengan pelukan, melintas di kepalanya.


Mendadak rasa rindu itu hadir. Dan Mikha bersikeras untuk mengenyahkan perasaan tersebut.

__ADS_1


Sudah ada Nathan di hidupnya. Dia tidak akan berpaling dari Nathan hanya karena hatinya sudah sedikit menerima permintaan maaf dari Gavin dan juga Bella.


Mikha sudah pernah merasakan disakiti, diduakan, ditinggalkan tanpa alasan jelas seperti yang pernah dilakukan Gavin.


Sebab itu dia tidak akan melakukan hal yang sama pada Nathan. Hal itu menyakitkan.


"Kondisi dia semakin buruk sewaktu pulang dari Paris."


Mikha terkejut mendengarnya. "Gue pikir dia tidak langsung pulang ke Indonesia."


"Hari pertama dia dirawat, aku masih ada di sana. Mungkin sekarang udah pulang. Aku nggak menghubungi dia soalnya."


Mikha mengangguk paham. "Salam aja buat dia."


Bella tersenyum senang. "Aku yakin dia langsung sembuh dapat dalam dari kamu."


Mikha hanya tersenyum tipis tanpa minat.


"Jadi, kamu udah maafin aku belum?"


"Udah," jawab Mikha menganggukkan kepalanya. Mengabaikan hatinya yang masih merasa sedikit kesal jika mengingat kejadian itu.


"Terimakasih, ya. Aku bisa tenang sekarang. Dari dulu aku pengen ketemu sama kamu buat minta maaf. Tapi baru sekarang bisa kesampaian."


Hingga mereka pamit undur diri, Mikha masih banyak diam. Dia enggan mengakrabkan diri dengan Bella. Cukup selesainya masalah diantara mereka. Tidak perlu harus berteman pula.


Lagipula, usia mereka terpaut jauh seperti usianya dengan Gavin. Mikha rasa tidak akan nyambung jika dia bersahabat atau hanya berteman saja dengan Bella.


🌹🌹🌹


Waktu berlalu begitu cepat hingga tidak terasa tinggal setengah tahun lagi Mikha ada di Paris.


Sudah dia lupakan semua hal yang membuatnya patah. Dia hanya fokus dengan studinya, dan juga Nathan yang mengatakan kalau dia akan segera melamar Mikha jika Mikha sudah kembali ke Indonesia.


Mikha menerimanya dengan senang hati. Jika memang ada yang memperjuangkan dirinya, tentu akan senang. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Kamu belum kenal keluarganya. Kamu benar-benar yakin?"


Mikha mengangguk menjawab pertanyaan Mia. "Papa sama Mama udah kenal sama Nathan dan keluarganya. Baik, kok, kata Papa," ucapnya sambil mengaduk sup ayam yang hampir matang.


Beberapa bulan ini dia sudah terbiasa memasak. Sebab Mia yang sejak hamil muda sampai sekarang usia kandungannya empat bulan, dia tidak bisa mencium aroma dapur sama sekali.

__ADS_1


Karena itu Mikha harus bisa mengurus sendiri urusan perutnya. Hal yang selalu dikerjakan Mia karena keterbatasan kemampuan Mikha dalam memasak.


Kini, perlahan kemampuannya memasak diasah oleh keadaan. Istilahnya, dia bisa karena mulai terbiasa. Atau bisa juga karena terpaksa.


"Kamu belum dikenalin sama orangtuanya, kan?"


"Ya belum, sih. Akunya yang nggak mau. Malu kalau harus bicara lewat telepon. Mending nanti langsung ketemu aja."


"Yakin direstui?"


Mikha mengangguk yakin. Pertemuan antara kedua orangtuanya dan orangtua Nathan sudah pernah dilakukan. Dan Mikha hanya mendapatkan foto kebersamaan mereka saja.


"Mbak cuma bisa doain yang terbaik buat kamu, Mikha. Semoga yang kali ini kalian bisa bahagia selamanya, ya."


Mikha tersenyum lebar. "Aamiin yang banyak, Mbak." Bibirnya tertawa kecil.


Doanya pun sama. Semoga Nathan yang membuatnya bahagia. Semoga hadirnya Nathan memberi warna di hidupnya.


🌹🌹🌹


Dua orang lelaki dewasa duduk saling berhadapan di sebuah cafe ternama di Jakarta. Dua lelaki yang mencintai wanita yang sama di dalam hidup mereka.


Sayang, salah satunya harus merelakan Mikha bersanding dengan lelaki yang berhadapan dengannya.


Gavin.


Gavin harus merelakan Mikha bersanding dengan Nathan. Meskipun hatinya berkata tidak rela, tapi takdir Tuhan berkata Mikha bukan untuknya.


Gavin tak bisa membayangkan saat mereka bersanding di atas pelaminan nanti.


Hal yang sempat dia mimpikan bersama Mikha, tapi harus berakhir karena kebodohannya sendiri.


Tapi, masih menjadi pertanyaan besar kenapa Nathan tiba-tiba menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu.


Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Gavin.


Apa yang akan Nathan katakan?


Apakah dia meminta Gavin untuk melupakan Mikha?


Apakah dia meminta Gavin untuk tidak lagi hadir di kehidupan Mikha?

__ADS_1


Hanya Nathan yang tau jawabannya. Dan Gavin hanya bisa menerka-nerka dan menunggu Nathan bicara.


🌹🌹🌹


__ADS_2